Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Orang Asing


__ADS_3

Suara keriuhan dan bising terdengar sayup-sayup di telingaku, dengan mata terpejam antara setengah tidur dan setengah sadar ku raba gundukan di dalam selimut yang menyeka tubuhku.


Mungkin Archie masih tidur dan tak terganggu sama sekali dengan suara bising yang berasal dari luar.


"Hufft.." Ujar ku sambil berhenti meraba dan menyingkirkan tangan ku, saat aku tahu yang sedang ku sentuh ternyata hanya tumpukan bantal.


"Dia sudah pergi." Gumam ku membenamkan wajahku ke dalam selimutnya sambil menghela nafas.


Ternyata gundukan yang menyeka tubuhku semalaman hanyalah tumpukan bantal yang memeluk ku.


Suara riuh dari luar kamar ini terdengar lagi, dan suaranya semakin bertambah bising dari sebelumnya.


"Tckk.." Decak ku yang terganggu dengan suara bising tersebut sembari bangun dari tempat tidur dengan berjalan sempoyongan menghampiri keluar.


"Selamat pagi Nyonya!" Sapa Hendri melihatku keluar dari kamar Archie dengan mataku yang masih setengah terpejam.


"Ada ribut-ribut apa?" Tanyaku yang belum dapat melihat dengan jelas dan mengucak kedua mataku.


"Maaf sudah membangunkan tidur anda. Tuan memerintahkan kami untuk mengganti seluruh furniture yang ada di dalam kamar Nyonya dan membuang yang lama." Jelas Hendri sambil mengawasi orang-orang yang keluar masuk dari dalam kamar ku dan membawa serta merta furniture baru dan mengganti yang sudah lama.


"Memangnya kenapa, bukannya semua furniture di kamar ku masih baru."


"Tuan mengganti seluruh furniture yang ada di dalam kamar Nyonya dengan maksud agar Nyonya melupakan kejadian semalam dan menggantinya dengan suasana baru." Jelas Hendri agar aku paham maksudnya.


Aku mengangguk mengerti, ternyata Archie memperhatikan detil sekecil ini untuk membuatku nyaman.


"Kapan dia berangkat dari rumah!" Tanyaku.


"Sepertinya Tuan sudah beranjak dari rumah sejak menidurkan Nyonya di kamar tadi malam, Tuan sedang pergi menyelidiki kasus ini sampai tuntas."


"Hendri!!" Panggilku sambil mengepalkan tangan.


"Mengenai kejadian semalam. Apa kau tahu sesuatu?"


"Maaf Nyonya, saya di perintah kan oleh Tuan agar tak memberitahukan apa pun yang menyangkut kejadian semalam kepada Nyonya dan saya tak berani berasumsi macam-macam sebelum kasus ini selesai." Jawabnya sembari membungkuk.


"Apakah orang itu berniat untuk mencelakaiku." Tanyaku lagi memancingnya agar membuka mulut.


"Saya tidak berani menarik kesimpulan sendiri Nyonya." Balasnya tetap kekeh.


"Hendri, kau pasti tahu sesuatu kan. Kenapa kau tutup mulut!!" Desak ku memaksanya bicara.


"Saya tidak bisa memberitahu Nyonya, saya tidak bisa berasumsi!!" Tegas nya balik kalau dia tetap pada pendiriannya.


"Hhhh..menyebalkan!" Aku kesal.


"Saya benar-benar tidak bisa mengatakan apapun!" Ujar nya membungkuk lagi.


Ternyata Hendri lebih keras pendiriannya lebih dari apa yang ku bayangkan.


"Ya sudah lah, aku mau pergi belanja!"


"Nyonya tunggu sebentar!" Tahannya sebelum aku meninggalkan nya. "Tuan berpesan untuk tak membiarkan Nyonya pergi kemanapun dalam keadaan sendirian. Jadi untuk itu saya akan menemani kemana pun Nyonya pergi."


"Aku hanya pergi ke Endomaret di depan kok, kamu gak usah ikut." Jelas ku.


"Perintah tetap perintah, saya tetap tak bisa membiarkan nyonya keluar sendirian." Jawabnya tak ingin ku tolak.


"Ya ampun!" Kepalaku pening.


***********


"Sosis, susu, roti, ebi kering, kecap ikan, jamur enoki, gandum, telur, dan whipe cream." Gumam ku sambil memberikan catatan kecil pada Hendri.


"Kamu cari semua ini di bagian makanan. Aku akan membeli perlengkapan lainnya di bagian pembersih." Perintahku sambil membawa kereta dorong.


"Baiklah Nyonya!" Jawab Hendri sigap.


Saking sibuknya, aku sampai melupakan belanja bulanan yang rutin di lakukan sebelum barang-barang konsumsi sehari-hari habis.

__ADS_1


"Sabun pencuci piring sudah, pembersih toilet sudah, sabun mandi cair.." Gumam ku sambil mencari sabun mandi yang sedang ku pakai.


"Ahhh, ini dia, uuupss.." Ujar ku menarik tangan ku karena kaget ada orang lain di sampingku juga berniat untuk mengambil sabun mandi yang sama.


"Ahh maaf, silahkan anda duluan." Ujar ku merendah.


"Anya!" Panggil orang tersebut mengenal ku.


"Kak Dimas!" Ujar ku kaget karena tidak menyangka akan bertemu dengannya di tempat seperti ini.


"Lu kok belanja disini, bukannya rumah lu jauh ya dari tempat ini!!" Tanya nya mengheran.


"Ahh, aku sebenarnya lagi mampir di dekat sini nemenin sepupu ku belanja." Jawabku berbohong.


"Ooh, gitu!"


"Kakak sendiri ngapain disini?" Tanya ku.


"Kontrakan gua kan ada daerah sini. Kebetulan banget bisa ketemu lagi ama lu, chat gua semalem kok gak di bales."


Bukan gak di balas, tapi aku memang menghindarinya agar tak terlalu dekat.


"Ooh, tidur di awal soalnya. Jadi gak tau kalau kakak ngechat." Jawabku berbohong.


"Mau gua temenin belanja gak, sekalian abis ini jalan-jalan." Ucapnya basa-basi.


"Ooohh, kayak nya gak dulu deh. Aku lagi bareng sepupu ku!"


"Sekalian aja ajak sepupu kamu!" dia merayu.


"Maaf kak gak bisa sekarang!"


"Bentar aja padahal, kita kan udah lama gak ketemu." Ucap nya bersikeras merayuku.


"Maaf lain kali aja. Aku kesana yah, soalnya mau beli barang diskonan!" Ujar ku cepat-cepat beranjak dari hadapannya.


"Anya tunggu." Tahan nya agar aku tak pergi. "Kamu kok sekarang kayak lagi menghindari gua sih, apa karena gua udah punya pacar makannya lu ga mau deket-deket gua."


"Padahal lu dulu gak pernah kayak gini ke gua. Kenapa sekarang lu nganggap gua seolah orang asing!" dia mempertanyakan sifat ku yang memang sangat terang-terangan ingin menghindarinya.


"Kita emang orang asing kok. lagian aku gak mau nanti ada yang lihat kita bareng kayak gini, terus jadi salah paham!" Jawab ku dan bergegas meninggalkan nya.


"Anya tunggu!" Teriak nya menyusul ku kemudian memegang erat pergelangan tangan ku.


"Apaan sih kak!" Tukas ku kesal karena perlakuan nya.


"Lu kenapa jadi berubah gini!" Teriak nya tak puas jika aku belum memberikan jawaban yang benar.


Tap...


Tiba-tiba Hendri datang dari belakang dan langsung memegangi pergelangan tangan Dimas yang tak mau melepaskan pergelangan tangan ku.


"Lepasin!" Ujar Hendri dengan tatapan horor kepada Dimas.


"Siapa lu?" Tanya Dimas yang tak terima jika ada orang lain yang ikut campur.


"Lepasin, atau tangan lu patah!" Ancam Hendri dengan tatapan mengerikan.


Tapi Dimas tak menggubris dan tetap tak mau melepaskan tangan ku.


"Awwhhhhggg..." Dimas mengerang kesakitan setelah Hendri memakai tenagannya untuk meremukkan pergelangan tangan Dimas.


Seketika saja Dimas langsung melepaskan tangan ku, dan mengelus pergelangan tangannya sendiri setelah hampir remuk.


"Hendri!" Seru ku, kemudian memegang tangannya dan pergi beranjak dari sana.


"Nyonya tidak apa-apa?" Tanya nya khawatir.


"Gak apa-apa!!" Jawabku mengusap pergelangan tanganku.

__ADS_1


"Orang itu kenalan Nyonya!" Tanya nya.


"Iya dia teman lamaku. tapi udah lah, gak penting juga." Jawab ku mengalihkan pembicaraan.


"Saya tidak suka dengannya, saya harap nyonya menghindarinya sebelum Tuan Archie tau." Hendri mengancamkum


"Yah, aku juga bakalan ngehindar dia terus kok, kamu tenang aja. Udah lah jangan di bahas lagi, ini beneran kamu cuman ngeliatin aja, aku lagi angkat belanjaan!"


"Maaf Nyonya!" Jawab nya sambil bergegas memasukan belanjaan dari keranjang ke bagasi mobil.


Dddrrtt ddrrt...


"Halo!" Jawab ku yang menerima panggilan masuk.


"Gua udah ngelakuin apa yang lu suruh! Gua udah kontak semua anak dari design interior yang masuk di tim 13. Nah mereka ngajakin lu janjian jam 3 sore di kampus jangan gak dateng ya, soalnya anggota lu ni semuanya terdiri dari kumpulan manusia langka!"


"Manusia langka, selangka apa?"


"Entar lu juga bakalan tau sendiri. Udah ya, gua lagi ada kelas. Bye" Ujar Arya sambil mengakhiri panggilan telepon.


Perkataan Arya membuat ku kepikiran, memangnya kenapa dengan anggota kelompokku.


*********


"Eehhmmm..." Ujar ku mendehem, meluruskan rasa tertahan di tenggorokan ku agar bicara lancar.


"Hallo." Sapaku sambil tersenyum.


mereka juga tersenyum bahkan melambaikan tangan.


"Namaku Anya Arelista semester IV, aku adalah ketua kelompok kalian dalam acara kolaborasi." Sapa ku sedikit kikuk saat berbicara di antara para jamet yang melototi ku.


"Hai.." Sapa mereka bersamaan membalas sapaan ku.


"Ooh! Okeh, salam kenal yah broh, mohon bimbingannya." Sahut senior ku bernama Gima yang berpenampilan nyentrik paling vintage seperti pengemis yang meminta duit recehan.


"Udah, punya pacar belum dek!" Sapa Roland senior ku yang berbadan gempal namun memakai style ala boyband korea dengan celana ketat di pahanya yang seperti kayu bulin berusia 70 tahun.


"Salken juga, lu punya akun ep ep gak." Ujar Dafa sibuk mabar tak melepas HP nya, anak nolep yang bisa tertebak dari penampilannya kalau dia adalah masternya mager.


"Semangat Nya!!" Teriak Arya Mengejekku.


Ternyata ini yang dia maksud dengan manusia langka saat berbicara di dalam telpon tadi pagi.


Apa yang ada di pikiran pak Retno sampai membuatku berada dalam grup lawak ini. Ini tak lain dan tak bukan seperti pribahasa menaikkan air ke gurun, bagaimana aku bisa membuat mereka bekerja sama sedangkan aku sendiri bingung harus mengapakan mereka dulu.


"Jadi abang-abang sekalian udah tau kan, kalau kita kolab sama anak film dan anak arsitek." Tanyaku memastikan jika mereka sudah tahu tujuan pertemuan ini.


"Udah tau lah broh!" Jawab Kak Gima menjetikan jari nya padaku, isyarat yang terkesan cool padahal norak.


"Tumben yah, anak film ngajakin kita kolab, biasanya mereka ngajakin jurusan yang sejalan di bidang dunia hiburan." Timpal kak Roland membetulkan posisi duduknya agar lemak perutnya tidak mencuat keluar.


"Yah, kali aja mereka mau jadiin kita semua artis dadakan. Woei, paan lu anjeng, dah gua bilang jangan ngebug! " Sambung Dafa yang gak nyambung.


"Ini awal yang bagus buat karir kita kedepannya. Susah banget buat kolab dengan anak film, lagi pula ketua tim kita itu kan Archie." Celetuk Arya, satu-satunya anggotaku yang normal.


"Ooh, bule jepun itu ya. Dik Anya gak apa-apa kan, katanya Archie itu kalau kerja totalitas banget." Tukas kak Roland menatap ku khawatir.


"Gak kok. Kita kan disini emang harus mengerahkan seluruh kemampuan agar bisa di lirik di tempat magang terkenal. Makannya kalau soal totalitas, kita anak design interior yang lebih tau." Ujar ku agar semangat para kroco ini bangkit.


"Mabar dulu kuy!"


"Duh, Gua malam ini makan apa ya?"


"Saranghae dik Anya!"


"Hahaha..yang sabar ya lu!"


Respon mereka semua setelah mendengar pidato ku yang menggebu.

__ADS_1


Kayaknya aku memang benar-benar masuk ke kelompok yang salah.


__ADS_2