
Zzzrraaahhh......
Dentingan suara rintik hujan yang menjatuhi atap baja bangunan tanpa dek membangunkan ku yang tengah tak sadarkan diri.
Terdengar suara guntur yang berbisik pelan dari kejauhan, dan skelebat cahaya terang yang berlangsung singkat dari kelopak mata ku yang tertutup.
Berlahan ku buka sebagian mataku dan menggerakan sedikit tubuhku yang sedang terbaring di atas matras dengan selimut usang.
Ku pegangi leherku yang berasa perih di sertai rasa sakit seperti tergores oleh sebuah kuku manusia.
"Gudang!" Gumamku sambil mengidarkan pandangan, menatap sekitar yang gelap gulita dan hanya di terangi cahaya rembulan yang meredup mengintip dari lubang-lubang ventilasi.
Ku pegangi kepalaku sendiri sembari berfikir keras mengingat apa yang terjadi padaku untuk terakhir kalinya.
Kenapa aku bisa berada di dalam gudang dan terbaring di atas matras dengan selimut usang?
Bbraakkk...
Suara benda-benda berjatuhan di pojok dinding bangunan membuatku terperanjat dan dengan reflek tubuhku langsung berdiri karena kaget.
Jangan bilang, aku di culik genderuwo lalu di bawa ke gudang ini?
Lalu dia akan menjadikan ku pengantinnya sebelum aku sempat menikah dengan lelaki yang ku cintai.
Lalu saat aku sudah menikah, suamiku itu malah tak percaya kalau malam pertamaku sudah di renggut oleh genderuwo, kemudian suami ku itu mengusirku keluar dari rumah dan mengganggap ku setres, dan kemudiaan....
Ahh...k*mpret, ngapain harus genderuwo, ngapa gak cogan aja!!
Bbrraakkk....
Suara benda berjatuhan itu terdengar kembali.
Aku meraih sebuah kayu yang berasal dari kaki kursi yang sudah patah, dan mengangkatnya tinggi-tinggi supaya jika genderuwo itu mendekat, kayu ini akan menjadi saksi bisu pertemuan pertama kami yang menyakitkan, jika mempan!
Berlahan aku mendekat ke arah suara tersebut dan memperhatikan langkahku agar tak tersandung dengan barang-barang yang ada di gudang.
Suara guntur yang menggelegar di iringi suara bising dari jatuhnya air hujan yang menerpa genteng, kemudian di dramatisir oleh minimnya cahaya yang ada didalam gudang, serta suara berderit yang di keluarkan oleh langkah kakiku sendiri. Membuat suasana di dalam gudang ini semakin mencekam.
Sampai lah aku ke arah sumber suara tersebut yang ternyata berada di sebuah sudut ruangan gedung yang tak terlalu banyak barang yang menumpuk.
Hingga langkahku terhenti di saat mendengar suara gumaman yang tak jelas seperti meracau menggunakan bahasa asing, mirip bahasa jepang namun terdengar juga logat jerman.
"Si-siapa?" Tanyaku dengan suara lantang memegang erat kayu tersebut dan mendekat kearah pojokan.
Suara racauan tersebut semakin terdengar saat aku bergerak selangkah lebih maju dan melihat siluet sebuah bayangan hitam di bawah pojok bangunan tersebut.
Gggraaahhh..dooorr....
Cahaya petir yang di susul oleh suara guntur yang menggelegar masuk ke dalam gudang yang gelap gulita, sehingga dalam sekejab menampakan sesosok tubuh manusia yang sedang meringkuk menunjukan punggungnya padaku.
Wajahnya menghadap kearah tembok, kedua tangannya menjambak rambut serta daun telingannya, suara racauan itu kini terdengar sangat jelas setelah suara guntur dan kilat yang di susul hujan angin yang menjatuhi atap genteng.
Pppraang...
Dengan sendirinya tongkat kayu tersebut terlepas dari tanganku, saat menatap siluet manusia yang berada di pojokan dengan posisi meringkuk.
Beberapa detik kemudian baru lah aku menyadari, kalau dia lah yang membuatku berada di sini hingga tak sadarkan diri dan terbangun dengan leher yang di penuhi bekas kuku yang menghujam masuk kedalam kulit leher ku.
__ADS_1
************
Entah apa yang terjadi setelah itu?
Saat aku membuka mataku kembali, aku sudah berada di dalam ruangan sebuah rumah sakit dengan sungkup oksigen dan tangan terpasang infus.
Salah satu perawat yang telah melihatku membuka mata, langsung bergegas berlari keluar ruangan dengan mata melotot kaget.
Belum satu menit berselang datanglah berduyun-duyun 3 orang dokter serta beberapa perawat yang memenuhi ruangan ku, salah satu dokter tersebut membelakan mata ku dengan sebuah senter kecil yang mirip pulpen.
Aku ingin mengetahui apa yang terjadi, dan berbicara dengan orang-orang yang memakai pakaian serba putih yang telah mengerubungi keberadaanku.
Akan tetapi entah mengapa seluruh tubuhku kaku tak bisa bergerak, rahangku terkunci rapat, lidah ku kelu tak bisa di angkat, suara ku bahkan tertahan tidak keluar.
Aku melihat dan mendengar serta menyadari semua yang terjadi di ruangan ini, tetapi seluruh tubuhku seola kaku tak mampu untuk di gerakan. Hanya kelopak mataku yang bergerak turun naik dan merespon cahaya yang dipantulkan oleh senter yang di arahkan ke mataku.
"Panggil orang tuanya!!" Ujar salah satu dokter yang berjanggut tebal dan bertubuh kurus tinggi dengan usia yang sudah tak muda lagi sambil mematikan senter kecil dan berhenti menyorot kedua mataku.
Tak lama kemudian datanglah ibu dan bapakku memakai baju dinas kenegaraan mereka dan langsung menangis di tubuhku yang tak bisa bergerak, tangisan mereka berdua melukiskan kebahagian dan juga kepiluan dalam waktu yang bersamaan.
Ibu ku beberapa kali bersujud di lantai sambil menyerukan keesaan allah sembari berucap sukur yang tak henti-hentinya dia layangkan dari mulutnya, sedangkan bapak ku terus menangis terisak, dan memegangi tanganku yang kaku sembari meraup wajahnya sendiri yang sudah di penuhi air mata haru dan juga peluh yang menggenangi pelipisnya.
***************
"Orang tuanya Anya Arelista!" Panggil dokter yang tadi menyenteri mata ku masuk kedalam ruangan.
Kedua orang tua ku beranjak dari tempatnya dan menghampiri dokter tersebut.
"Puji tuhan, anak bapak dan ibu akhirnya keluar dari masa kritis!" Ujar dokter tersebut sembari menatap lekat wajah kedua orang tua ku.
"Mari kita bicarakan hal ini di luar. Anya harus banyak istirahat untuk mengembalikan kondisinya agar segera pulih seperti semula!" Ucap dokter tersebut menggiring kedua orangtua ku keluar ruangan.
Akan tetapi pembicaraan mereka yang berada di luar ruangan masih terdengar oleh telingaku, bahkan pembicaraan mereka terdengar sangat jelas seolah-olah sedang berbicara di hadapanku.
"Trauma situasional yang berkepanjangan akan mengakibatkan kerusakan pada sebagai fungsi otaknya sehingga anak ibu dan bapak akan mengalami kelumpuhan total untuk sementara waktu!" Ucap dokter tersebut secara jelas terdengar oleh telingaku.
"Ini hanya soal waktu!" Sambung Dokter tersebut dengan suara bergetar seperti sedang menenangkan kedua orang tua ku.
"Untuk saat ini Anya di diagnosa mengalami Post-Traumatic Strees Disorder Atau yang umum di kenal masyarakat luas dengan sebutan PTSD seperti yang saya sampai kan pertama kali kepada bapak dan ibu kemarin, kalau kondisi yang di derita oleh Anya di akibatkan oleh tragedi menyakitkan yang membuat penderita merasakan sakit secara fisik maupun mental!"
Beberapa menit kemudian sudah tak terdengar lagi suara pembicaraan mereka dan hanya terdengar isak tangis yang berasal dari ibu ku.
"Menilik dari rekam medis yang saya terima, Anya sudah 2 kali mengalami kejadian seperti ini, dan hal itu menandakan kalau kondisinya akan semakin parah jika tidak di lakukan tindakan dan penanganan yang tepat. Maka dari itu saya sebagai dokter pribadi yang bertanggung jawab menangani kasus langka seperti ini, menyarankan untuk melakukan pelatihan psikis mobilisasi dan terapi hipnotis."
Suara hening kembali dan hanya terdengar suara ibuku yang masih terisak.
"Apa pun dok. Lakukan apa pun untuk kesembuhan anak kami!" Balas suara ayahku yang parau.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak bapak!" Jawab dokter tersebut.
"Hanya saja, kemungkinan durasi pengobatan ini akan lama dan memakan waktu hingga berbulan-bulan. Hal ini juga di pengaruhi oleh sebagaimana tekad dan motivasi diri Anya untuk segera sembuh. Maka dari itu, saya harapkan Ibu dan bapak untuk terus memberikan dukungan kepada Anya dari segi psikis dan psikologis!!" Ujar dokter tersebut diringi suara hangat yang menentramkan.
***********
3 bulan kemudian.
"Anya!" Panggil Libiru sambil menghampiriku yang sedang mengurus administrasi kampus dan segala materi ketertinggalannya.
__ADS_1
"Gimana keadaan lu. Kaki lu udah bisa di pake jalan kan." Tanya Libiru mengiri langkahku.
"Udah, makasih udah khawatir!!" Jawab ku singkat sambil tersenyum.
Tak ada yang mengetahui kejadian yang terjadi di gudang sekolah, bagaimana kelanjutannya, apa yang terjadi setelah itu, dan bagaimana aku tiba-tiba bisa berada di rumah sakit.
Tak ada yang tahu kisah itu, bahkan aku sendiri pun tak ingat.
Saat aku bertanya kepada siapapun yang mungkin mengetahui kenapa aku bisa berada di rumah sakit, dan bagaimana keadaanya setelah keluar dari gudang, mereka memilih bungkam dan tak berbicara.
Bahkan seminggu sebelum aku di nyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit dengan tubuh normal dengan sehat walafiat, beberapa perawat memberitahukan kalau kejadian ini tak banyak orang yang tahu selain beberapa orang yang mengurusku dan sebagian dari dokter yang menanganiku.
Perawat itu bilang, kejadian yang telah menimpa ku di isukan sebagai kecelakaan lalu lintas yang membuat kaki ku cedera sehingga harus di gift, hal itu juga yang menyebabkan larangan kunjungan dari siapa pun selain orang tua ku yang datang menjenguk ku.
Seolah kejadian tersebut telah di kunci rapat dan tak ada yang menyadarinya selain yang terlibat di dalamnya.
Meskipun situasinya terasa aneh dan tidak wajar, perawat tersebut tetap bungkam dan tak mengatakan apa pun alasan kenapa kasus seperti ini malah di sembunyikan, hingga aku tak punya pilihan lain selain bekerja sama dengan situasi ini, dan membiarkan orang lain menganggap ku pernah mengalami kecelakaan lakalantas.
DEG....
Jalan ku terhenti saat secara tidak sengaja berjalan berpapasan dengan Kak Archie. Dan kami beradu pandang.
Ekspresi kami berdua sama-sama kikuk dan sama-sama kaget, dengan mata membulat membesar, serta kedua tangan yang mengepal.
Dia terlihat baik-baik saja, tak ada yang terjadi padanya. Bahkan tubuhnya terlihat lebih energik dan segar, yang berbanding terbalik dengan ku yang lemas dan kurang bertenaga paska pemulihan.
Tanpa pikir panjang, aku langsung berbalik dari jalan ku dan pergi dari hadapannya dengan berlari.
Andai kan saja, ada bagian potongan ingatan ku yang ingin di hapus. Pasti aku akan menghapus kenangan yang pernah terjadi tentangnya, namun terlanjur membekas, seperti halnya pakaian yang ternodai oleh tinta permanen, di cuci pun akan tetap meninggalkan noda.
Sesering apa pun aku melakukan sesi hipnoterapi yang di lakukan padaku, kenangan bersamanya di dalam gudang yang masih terus ku ingat sampai seluruh tubuhku mengejang.
Hal itu lah yang membuatku terus merasakan sakit, hingga harus memakan waktu berbulan-bulan agar terbiasa menghancurkan spekulasi kalau hal itu hanya sebagian dari masa lalu menyakitkan dari perjalanan hidupku.
Sampai aku benar-benar melupakannya, dan keadaanku berangsur membaik.
************
2 tahun kemudian.
"Nikah?" Ucapku membeku di ruang tamu sambil menatap lekat kedua orang tua ku yang tersenyum bahagia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maksudnya apaan. Nikah, hah yang benar aja!!" Ujar ku yang panik sendiri sambil menjambak rambutku.
Aku tak percaya kalau orang tua ku berniat untuk menikahkan ku sesegera mungkin.
"Calonnya udah ada. Kamu tinggal pake baju pengantin dan duduk di pelaminan." Jawab Bapak ku sumringah dan mengedipkan matanya pada Ibu ku.
Brraakkk...
Aku menampar meja, tapi kedua orang tua ku malah tak kaget dan terus tersenyum menatapku.
"La tegile, nikah dari mane. Ikam piker kite ne idup de jaman Siti Nurbaya, nak harus dejudoek dari urang tue dan idup kat Datung Maringgi. Nukonen gilak nunton nak uba-uba!" Bahasa daerah ku yang bar-bar pun keluar, di saat kondisi yang sengit seperti ini terjadi.
*Translate; F*ck, nikah apaan. Kalian pikir kita ini hidup di jaman Situ Nurbaya, yang musti di jodohin dari orang tua terus hidup bareng ama Datuk Maringgi. Jangan ngadi-ngadi deh, mangkanya gak usah nonton yang aneh-aneh!!
Mereka berdua hanya tersenyum melihat tingkahku yang ngegas, dan saling menautkan pandangan sambil menaikan alis.
__ADS_1