Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Escape Part 16


__ADS_3

Besoknya tepat pada pukul 13.00 WITA saat semua orang sedang beristirahat karena kelelahan atau sedang mencerna hasil dari makan siang, kami diam-diam beraksi dan menjalankan rencananya.


"Tok tok tok, pak bukain pintunya dong, gua pengen pipis nih!!" Pekik aku dan Laila sambil menggedor tak sabar.


"Pak..cepetan pak, gila udah mau keluar ni!!" Laila mendramatisir sambil berjingkrak-jingkar menahan pipis, tapi sepertinya dia benar-benar ingin pipis.


Kriiieeett.....


Pintu pun terbuka, dan kedua penjaga yang pernah ku temui di tempat Sabiru waktu itu menggiring kami ke luar.


"Kalian masih ingat aku." Kelakar ku pada mereka berdua sambil berjalan.


Si kuncir kuda melirik ke arahku, si botak tak perduli dan fokus menjaga kami berdua.


"Bagaimana keadaan istrimu?" Tanyaku kepada si kuncir kuda.


Dia mengalihkan tatapannya dan melihat ku dengan pandangan sejurus.


"Apakah keadaannya baik-baik saja, lalu bayimu laki-laki apa perempuan?" Tanyaku lagi.


"Laki-laki!!" Ucapnya spontan dengan mimik muka bahagia yang sukar untuk di sembunyikan oleh orang yang sedang bersuka cita. Seketika wajahnya bersemu merah, pikirannya sedang berkejaran di suatu tempat, dan senyum merekah yang terlukis di wajahnya adalah gambaran sakral seorang ayah.


Sontak temannya yang berkepala botak menghamburkan pandangannya dan menatap sejurus kepada si kuncir kuda. Diam-diam si botak juga tersenyum, dia ikut merasakan selebrasi itu dalam dirinya. Karena dia juga seorang ayah.

__ADS_1


Sampailah kami di tepi hutan, saat aku berjalan agak menjauh dari bangunan dan menemani Laila mencari semak-semak untuk membuang hajat, saat itulah aku tersadar.


Kalau tempat ini merupakan daerah yang tak jauh dari danau tempat kami berkemping, tepatnya ujung aliran danau yang mengarah ke rawa-rawa gelap, ini adalah tempat yang waktu itu di larang untuk ku dekati, yang ternyata adalah tempat ini. Dari sini aku bisa melihat aliran danau, dan berjarak dua kilo meter dari sini kami sudah sampai di tempat berkemping.


"Lakukan dengan hati-hati dan jangan menarik perhatian, aku akan mengecoh mereka berdua!!" Bisikku sambil memberikannya kain perca warna merah, dan menepuk pundaknya.


"Ok, serahin semuanya ke gua!!" Balasnya sambil menepuk balik pundakku.


Laila langsung melesat masuk ke dalam hutan. Dia adalah pelari sprint 100 meter, dan kekuatan fisiknya juga tak bisa di remehkan. Selain karena pergerakannya cepat, Laila juga punya kelebihan lain yang amat menggangguku selama ini. Yaitu, saat dia berlari atau berjalan, kadang kala langkah kaki nya tak terdengar seperti berjalan diatas angin atau kakinya seringan bulu yang membuatnya seperti tidak menapaki tanah. Itu bisa di katakan kelebihan yang membagongkan, dan Laila sering kali menggunakannya untuk menjahiliku.


"Mana temanmu?!" Tanya si kepala botak.


Aku membalikkan badanku dan melihat ke arah belakang. "Sebenarnya, Laila itu dari kecil ga bisa minum susu sapi atau sejenisnya!!" Balasku. "Bawaannya suka mencret-mencret bahkan bisa ampe 3 hari ga berenti-berenti. Mangkanya dari bayi, emaknya bilang kalau dia cuma di kasih air tajin, bukan karena orang tuanya pelit ngasihin dia susu, tapi karena perut anaknya aja yang belagu." Ucapku membahas Laila.


"Lah, kok bisa gitu ya mas!!" Responku masuk ke dalam percakapan.


Namun di tengah-tengah percakapan itu, aku melirik ke gedung sebelah timur yang ada rooftop nya, dan di sanalah ku lirik Arya dan Dimas sudah mencapai atas dan menunggu sinyal dari Laila.


"Owalah Rasya ternyata anaknya lucu juga ya, Kok bisa mencret-mencret gitu kalau minum susu sapi." Balas si kuncir kuda meresapi percakapan itu dan tak tahu menahu dengan apa yang terjadi di belakangnya.


"Ya, ga tau juga kenapa. Mungkin dari kecil dia udah biasa di kasih air tajin!!" Jawab si botak lagi sambil tertawa.


Aku melirik lagi ke timur, dan mereka sudah mendapatkan sinyal dari Laila berupa pita merah yang di ikatkan kepada dua pohon kayu besar, yang nantinya akan di gunakan sebagai tujuan pendaratan.

__ADS_1


"Kalau anak saya sih, minum susu ibunya lah, tapi dokter nya ga nyaranin." Bahas si kuncir kuda yang mulai terbawa suasana dan bersikap santai.


"Lah kenapa mas, memangnya ada masalah sama asi nya?" Tanyaku menyamarkan keadaan dan bersikap profesional.


"Iya, Nyonya." Dia menghadap ke padaku, "Kan istri saya itu pekerja malam,dia kalau pengen narik pelanggan kan, di suntik tuh biar gede gitu, biar berisi anu nya itu. Jadi kan kata dokter ga bagus buat bayinya kalau minum susu dari situ." Ujarnya serius menerangkannya.


"Ooowhhh..gitu ya mas!!" Respon ku sambil diam-diam melirik.


Dan sekarang Arya dan dimas sudah melemparkan pemberat berupa batu ataupun besi batangan yang di ikatkan ke ujung tali perca lalu nantinya mereka akan melemparkannya ke cabang pohon yang sudah di tandai oleh Laila.


"Wah, gawat itu. Padahal kan kalau dari susu ibunya bakalan lebih murah dan hemat biaya. Jadi sekarang gimana, mau ganti ke susu formula atau mau tetap lanjut ngasih asi!?" Tanya si botak antusias.


"Ya sebagai orang tua, masa sih ga mau ngasih yang terbaik buat anaknya, tapi ya gimana susu formula kan ga murah, dapat biayanya juga dari mana. Lagipula, duitnya juga udah abis buat di pakai nikahan anak tertua ku kemarin." Matanya yang sangar dan tajam terlihat sayu saat mengatakan kepedihannya.


Aku menatap mereka berdua dalam diam, dan hampir tak mengidahkan anak-anak yang telah berhasil membuat jalur ke cabang pohon. Mereka berdua bukan orang jahat, melainkan orang yang tak tahu kalau mereka jahat oleh keadaan yang kejam, selebihnya mereka hanya bertahan hidup, dan pertempuran ini, masalahku, dan rasa sakitku, bukan urusan mereka. Mereka hanya di tugaskan dan mendapatkan upah.


"Apapun yang terjadi ke depannya kita harus terus bersyukur dan semangat, kalau bukan karena beliau kita pasti masih terkurung di tempat itu." Ucap si botak membesarkan hati masing-masing.


"Kau juga ya, jangan putus asa. Semoga Rasya jadi anak yang baik!!" Balas si kuncir.


Aku tersenyum memandangi kebesaran hati mereka. Namun di lain sisi aku juga tersenyum untuk keberhasilan rencana kami. Karena saat ini, hampir seluruh anak-anak telah berhasil keluar dari tempat itu dengan cara menautkan tali perca serupa flying fox dan mendarat sempurna menuju cabang-cabang pohon besar.


Sekarang, tinggal sentuhan akhirnya, karena saat ini yang tersisa di dalam bangunan itu hanya Archie seorang.

__ADS_1


__ADS_2