Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Kilas Balik


__ADS_3

Zzzzziiipp.....


Entah apa yang terjadi, namun tiba-tiba datanglah sebuah cahaya terang benderang muncul di tengah kerumunan para tamu undangan, sehingga mereka memekik sesaat dengan pandangan heran yang tak lazim, pasalnya di balik cahaya tersebut muncullah dua orang sosok manusia yang keduanya bak seorang peri yang turun dari langit.


Lelakinya mempunyai perawakan tenang dengan nuansa ketegasan dari setiap sudut pandangannya, dia juga mempunyai rambut panjang lurus berbatas sepinggang dan berwarna hitam pekat yang menambah kesan misterius. Sedangkan wanita yang berada di sisinya mempunyai kesan lembut dan menggoda, dia punya rambut coklat bergelombang ombak, dan bermata biru, sehingga kecantikannya mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya.


Hei..dari mana datangnya manusia seperti ini?


Sontak musik pun terhenti untuk sesaat, orang saling menatap dan beradu bandang. Tak ada kejelasan yang bisa menjelaskan fenomena aneh ini.


namun pasangan muda mudi itu berjalan mendekat dan menyapa kedua mempelai pengantin.


"****, pen pamer!" Ucap Archie mencemoh pasangan muda-mudi bak peri tersebut.


"Kamu kenal?" Tanyaku bergeser di dekatnya dengan setengah berbisik.


"Gak kenal sama sekali!" Jawab Archie dengan pandangan mencemooh.


"Lah terus?"


"Tanya authornya aja ntar, gua juga gak ngerti!" Jawab Archie menggandeng tanganku untuk berada di pinggir ruangan.


"Yang nyasar ada banyak!" Ucap Archie sambil mengangkat gelas piala nya ke atas dengan pandangan dingin, saat kedua pasangan yang turun dari langit tersebut tanpa sengaja beradu pandang dengan kami berdua.


"Yang nyasar?" Tanyaku yang bingung.


"Kek ada sekumpulan orang-orang yang gak berfaedah lagi gabungin kita dalam satu cerita." Jelasnya sambil melirik semua Pasangan bule yang tadi bergabung dalam pembicaraan nya.


"Maksudnya?" Tanyaku lebih-lebih tak mengerti.


"Kalau gua jelasin nanti lu malah tambah bingung!" Jawab sarkas tapi lembut.


"Iya, tinggal jelasin seadanya aja kan!!"


Archie menatapku dengan pandangan risih sembari mengusap tengkuknya sendiri.


"Ngotot banget, gak penting juga!" Jawabnya tambah kesal.


"Jadi..." Sambungnya sambil melihat sekitar.

__ADS_1


"Authornya itu lagi kerjasama dengan orang-orang manusia sejenisnya. Mereka lagi gabung-gabungin kita dalam satu cerita buat proyek kerja sama." Jelasnya memutar bola matanya saat salah satu dari mereka menyapa ku.


"Jadi kita ini, sebenarnya lagi hidup dalam cerita novel, gitu maksudmu?" Tanyaku lagi sembari membalas sapaan mereka dengan lambaian tangan.


"Astaga, baru nyadar!" Jawabnya menyemburku. "Udah lah gosah ngomongin dia. Dah gua bilang ga penting." Lanjutnya kehausan sambil meneguk cocktail tanpa alkohol yang berada di atas meja.


Tak lama berselang tiba-tiba pandangan ku terlihat buram sehingga tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di hadapanku. Dengan spontan aku langsung memeluk Archie dan bersandar di lengannya.


"Anya?" Panggil nya kalang kabut sambil menopang tubuh ku yang lemah dan hampir roboh.


*************


Saat aku membuka mataku, entah apa yang telah terjadi, tanda ku duga aku sudah berada di kamarku sendiri, dan terbangun dalam keadaan sudah berganti pakaian.


Archie yang baru saja datang dan berada di ambang pintu langsung menghampiri ku dengan membawa segelas air putih.


Dia tak mengatakan apa pun kepada ku dengan keadaan bingung, tapi langsung mengusap wajahku dengan lembut sembari meletakkan gelas yang berisi air di atas meja.


"Kapan kita pulang?" Tanyaku menatapnya yang masih memandangi ku dengan matanya yang sayu.


"Abis lu pinsan dari acara kondangan, kita langsung balik!" Jawab Archie sambil tersenyum dan duduk di hadapan ku.


Dia hanya mengangguk pelan dan melempar padangan melamun menatapku.


"Oh ya!" Ucapnya dengan masih setengah melamun dan mengidar pandang ke sembarang arah."Gua ada urusan. Ntar ada Hendri yang bakalan jagain lu kok." Ucapnya sambil beranjak dari hadapan ku.


"Archie!" Panggilku sambil memegang lengannya.


Dia membalikkan tubuhnya sembari duduk lagi di hadapan ku.


"Iya, kenapa?"


Banyak yang ingin ku katakan kepadanya jika sedang berduaan seperti ini, tapi apa aku akan siap menerima semua balasan yang akan dia lontarkan.


"Gak kenapa-napa!" Ucapku membuang tatapanku yang di liputi oleh rasa sesak.


**************


Sayup-sayup terdengar di telinga ku, dua orang yang sedang berbincang dengan suara pelan dan hati-hati menuju kamarku.

__ADS_1


Tok tok tok...


"Nyonya, boleh saya masuk!" Ucap Hendri di balik pintu kamarku.


"Masuklah!" Jawabku sambil menyibak setengah dari selimut yang menutupi tubuhku.


Saat Hendri masuk ke kamarku, dia membawa seorang lelaki berusia senja dengan perawakan yang tak asing. Beliau langsung membungkuk kepadaku saat kami beradu pandang.


"Dokter Edmund!" Sapa ku yang tak asing lagi kepada dokter yang sudah merawatku selama 3 bulan di rumah sakit.


"Nyonya Yuaga!" Sapanya balik sambil berdiri di ambang pintu masuk.


"Silahkan Dokter!" Ucap Hendri mempersilahkan Dokter Edmund untuk masuk ke kamar ku dan duduk di atas sofa.


Aku beradu pandang kepada Hendri yang bergeming berdiri di antara ambang pintu dan meja belajar, lalu dia membungkukkan tubuhnya dan mengangkat kembali tatapannya.


"Saya mengajak Dokter Edmund untuk bertemu langsung dengan Nyonya!!" Ucapnya sambil menunjuk Dokter Edmund dengan ujung telapak tangannya.


"Hal ini bertujuan untuk menjeleskan secara signifikan semua masalah yang terus terjadi akhir-akhir ini!" Lanjut Hendri sambil menjelaskannya dengan mimik wajahnya ramah.


Aku menatap bergantian antara Hendri dan Dokter Edmund.


"Masalah?" Tanyaku balik kepada Hendri dengan wajah bingung.


"Lebih tepatnya kesalahpahaman yang selama ini terjadi antara Nyonya dan Tuan!" Jawab Hendri sambil membungkukkan tubuhnya lagi padaku.


Hendri balik menatap Dokter Edmund, mengisyaratkan untuk mengambil alih pembicaraan.


"Nyonya begini!" Ucap Dokter Edmund dengan wajahnya yang lembut dan terlihat segar meskipun di usia senja.


"Saya tak tahu menahu, apa alasan Tuan Archie yang tak mengatakan apapun kepada Nyonya, dengan apa yang sedang dia derita saat ini!" Ujar nya mengarahkan padangannya kepadaku.


Aku hanya merespon dengan tatapan sejurus menunggu kata perkata yang ingin beliau ucapkan.


"Tapi saya rasa Tuan Archie sengaja memanggil saya langsung menemui Nyonya, untuk menjelaskan semua yang terjadi selama ini!" Lanjutnya membalas tatapan ku yang sejurus.


Aku menyibak selimut yang menutupi keseluruhan tubuhku dan berjalan setengah tergesah menghampiri Dokter Edmund.


"Maksud Dokter?" Tanyaku duduk di sofa bersama nya.

__ADS_1


"Baiklah saya akan menjelaskan semuanya secara menyeluruh!" Ucap Dokter Edmund dengan wajah serius.


__ADS_2