Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Kontradiksi End


__ADS_3

Libiru tiba-tiba mengeluarkan pistol dari balik tubuhnya.


Di detik dia menarik pelatuk DA (Double Action, semacam kuncian pertama untuk melepaskan tembakan) di belakang lehernya. Semua orang panik dengan gerakan frezz menatap takut ke arahnya.


Aku bisa merasakan nya sendiri, perasaan seolah dunia berhenti berputar saat dengan gamblang Libiru mengacungkan pistol itu tepat kehadapanku dan menarik pelatuk nya sekaligus tanpa mempertimbangkan apapun yang ada di dalam kepalanya.


Di detik berikutnya, samar-samar ku dengar semua orang di dalam ruangan ini berteriak dengan nada tercekat.


Doooorr....


Saat aku menyadari suara itu menggema memekakan telingaku, sekelebat bayangan mendorong tubuhku hingga terjerembab di atas tumpukan papan kayu yang telah lapuk dengan paku berkarat di sekitarnya. Dan di saat itulah aku menyadari jika seseorang telah menyelamatkanku dengan segenap keberanian di dalam nyawanya.


"Sakurai!!"


Aku panik memandanginya yang menahan sakit memegangi tubuhku.


Tidak. Tidak.


Apakah dia tadi terkena tembakan setelah menyelamatkan ku.


Sakurai tak menjawab ku, tapi wajahnya terus meringis menahan sakit.


"Anya!!" Pekik Archie tergopoh berlari menyabangi kami berdua yang terkapar di lantai.


Libiru mematung di tempatnya, dia mengidar pandang ke sana kemari setelah melepaskan tembakan yang membuat seisi ruangan ini menjadi waspada.


Archie buru-buru memisahkan kami berdua, lalu meraba-raba tubuh kami secara bergantian. Mata nya yang liar dengan panik mencari kesana kemari sesuatu yang tak di temukannya.


"Kakak, aku tidak apa-apa!!" Ujar Sakurai yang spontan menghentikan Archie meraba tubuhnya.


"Gimana bisa lu ga papa, gua liat sendiri tadi kalian..."


Bruuukkkk.....


Kami semua terdiam dalam keheningan.


"Laila!!" Ucap Dafa dengan gugup.


"Hei, Laila!!" Dimas memegangi tubuhnya yang roboh.


Laila menatap searah tanpa berkedip, dia tiba-tiba roboh dengan memegangi perutnya yang mengucur mengeluarkan darah segar.


Tiiiiiiinnnnnn......


Suara dengunggan seperti sebuah mikrofon yang terjatuh sontak memenuhi isi kepalaku, melumpuhkan pendengaranku.

__ADS_1


Aku membeku di tempatku.


Dunia ku dalam sekejab tiba-tiba saja runtuh hanya berselang beberapa detik.


Aku melihat Arya yang potang-panting dari sudut sana meneriakan nama nya dengan lantang bahkan sempat terjerambab beberapa kali berdesakan dengan bekas bangunan. Bahkan suara Arya tak terdengar di telingaku, gerakannya pun terlihat lamban seperti sedang di slow-moo dengan efektifitas paling lambat.


Semua orang histeris dan merubungi tubuhnya yang tak berdaya. Luka tembak yang membekas di perutnya terus mengeluarkan darah hingga berceceran memenuhi lantai.


Tapi aku tak bisa bergerak, seluruh tubuhku tak bisa menerima kenyataan ini. Otakku masih berada di saat 30 detik yang lalu. Di saat semua ini masih belum terjadi.


Namun saat air mataku mengalir dengan sendirinya dan membasahi seluruh wajah dan jiwa ku.


Barulah aku tersadar, jika aku sedang tidak bermimpi.


"Laila!!" Pekik ku yang langsung berlari menuju kearahnya.


Laila megap-megap memegangi tubuh Dimas yang menopang tubuhnya. Matanya tak fokus melihat kesana kemari, air matanya berjatuhan. Dia mulai merasakan sakit menguasai tubuhnya. Keadaan panik yang di akibatkan anak-anak yang menghawatirkannya, membuatnya semangkin kalap.


"Laila. Tidak. Tidak!!" Pekik Arya menangis sejadi-jadinya sambil memegangi kepalanya sendiri.


Laila memandangi Arya tapi tak mampu mengatakan apapun, seakan mulutnya sedang di gerakkan oleh seribu macam perkataan, namun tak bisa dia kendalikan.


"Laila, ku mohon. Tidak!!" Arya memegangi wajah Laila yang tak berhenti mengeluarkan air mata.


"Laila!!" Aku berlutut di sampingnya. "Tidak. Ini gak mungkin terjadi. Ini gak mungkin!!" Aku histeris.


Laila melirikku dari sudut matanya, lalu dengan cepat menyambar tanganku seperti sedang memberitahukan rasa sakit dan kesedihannya melalui telapak tangannya yang dingin.


"Ku mohon. Tidak. Ku mohon aku tidak ingin ini terjadi. Laila. Ku mohon!!" Ucapku yang menangis di punggung tangannya.


Pada saat kami semua tengah di rundung duka dalam perasaan berkecamuk yang tak dapat di jelaskan. Libiru menghilang dari ruangan itu, dan mengembil kesempatan untuk melarikan diri.


Dia berhasil keluar dari jendal pecah yang ada di dekat nya.


Sakurai dan Hendri langsung pergi ke luar dan menyusul Libiru yang melarikan diri, di susul oleh Paisee yang menyiagakan senjata api nya untuk memburu Libiru.


"Minggir, minggir!!" Sayang tiba-tiba menerobos keramaian dan berada di samping Laila.


Dia membuka paksa Hodie milik Dafa, merobeknya menjadi dua bagian, lalu membentuk sebuah gumpalan dan meletakkannya di bagian perut Laila yang terluka, kemudian menggunakan sisanya untuk mengebat luka tersebut untuk menghentikan pendarahan.


"Baringkan dia. Jangan angkat kepalanya, posisikan lukanya harus lebih tinggi dari pada jantung!!" Sayang mengintruksi Dimas agar melepaskan Laila.


Laila mangkin megap-megap seperti seseorang yang susah menarik napas.


"Kita harus secepatnya membawanya pergi dari sini. Bawa dia kerumah sakit terdekat!!" Ucap Sayang lagi sambil menatap kami satu persatu.

__ADS_1


Tapi Arya tak sedikitpun beranjak dari tempatnya, dia membeku di samping Laila dengan terus menangis.


"Lu lagi ngapain, hah. Cepat bawa Laila ke rumah sakit. Dia benar-benar udah ga punya waktu lagi!!" Ucap Sayang menepuk pundak Arya.


Tapi Arya tak beranjak sedikitpun dari tempatnya dia mematung di sana dengan tangis yang mangkin menjadi.


"Arya, lu ngapain?" Tanya Dafa berbisik di dekatnya.


"Hei, bawa Laila pergi. Kita udah ga punya waktu lagi!!" Tambah yang lain.


Tapi Arya diam saja tanpa beranjak sedikitpun.


"ARYA!!" Pekik Archie geram.


"Sial*n!!" Ucap Arya tiba-tiba berteriak sambil menangis.


Mereka semua bungkam bahkan tak ada satupun yang berani membuka suara.


"Kalian semua yang ada di sini tau, jika akses jalanan ke tempat ini sangat susah bahkan butuh waktu selama 4 jam untuk sampai di desa terdekat!!"


Anak-anak bungkam dan menatapnya dengan pandangan putus asa.


"Dan untuk sampai di perkotaan dengan peralatan rumah sakit yang memadai, kita butuh waktu 3 jam lagi untuk sampai dan itu pun harus dengan kecepatan 80 km!" Ucap Arya dengan tangis.


Suasana berubah menjadi hening.


"Apakah masih sempat dengan kondisi nya yang sekarang. Apa lu pikir kita masih bisa membawanya tepat waktu!!" Arya meneriaki Sayang dengan wajah putus asa.


Tiba-tiba Laila menarik tanganku ke arah tubuhnya dan mengerjap berlahan-lahan menahan sakit yang semangkin menguasai tubuhnya. Dia menampakan wajah sakit yang tak dapat di lukiskan dengan kata-kata. Namun tak barang sepatah katapun dia mengungkapkan rasa sakitnya bahkan sekedar untuk merintih.


"Laila!!" Panggilku lirih sambil mengelap peluh di sekujur wajahnya.


Sayang berjalan ke arah Arya dan spontan mengangkat kerah bajunya, hingga pandangan mereka sejajar.


"Gua pernah berada di posisi lu. Gua pernah kehilangan orang yang paling gua sayang gara-gara memasrahkan keadaan lalu membiarkan dia mati di depan mata gua." Ucap Sayang dengan penekanan.


Arya mentapa Sayang tanpa berkedip.


"Itu yang lu inginkan, hah. Lu mau biarin cewek lu mati gitu aja di depan mata lu, sedangkan lu masih punya harapan!!"


Arya menundukan tatapannya.


"Apa lu mau berakhir seperti yang gua alami, apa lu mau memasrahkan keadaan sedangkan cewek lu masih punya kesempatan untuk bertahan hidup!!"


Arya menatap Laila yang melotot menahan sakit. Tapi seperti yang ku katakan, tak barang sepatah katapun Laila bersuara.

__ADS_1


"Ayo kita bawa dia pergi dari sini, selamatkan dia!!" Ucap Sayang memegang kuat bahu Arya.


__ADS_2