Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Berabe Part 2


__ADS_3

"Kamu kenapa?" Tanyaku memandangi seorang anak laki-laki bule berumur 7 tahun yang sedari tadi duduk menangis di bawah pohon jambu mente.


"Yamero やめろ!!" Ucap anak lelaki tersebut sambil menunjukan sikap waspada dengan merapatkan kedua lengannya di hadapan wajahnya.


*Translate, Jangan, hentikan, pergi.


"Kau tidak apa-apa?" Sapa ku heran.


Berlahan dia menunjukan wajahnya setelah mendengar suaraku.


"Aku arel, kamu siapa?" Sapa ku sambil menunjukan tangan mungilku padanya, dan dengan sabar menunggunya menjabat tanganku agar dia berhenti menangis.


"Jame shinaide 邪魔しないで!!" Ujarnya yang tak mau bicara padaku sambil menutup seluruh wajahnya dengan lutut.


*Translate, pergi, jangan ganggu aku.


"Muka kamu bule tapi kok ngomongnya pake bahasa cina!" Ujarku sambil duduk di hadapannya.


Semua bahasa yang mengandung logat seperti itu dalam pandangan melayu adalah bahasa cina.


"Doko ka ni itte どこかに行って!" Pekiknya lagi sambil terus menangis.


*Translate, Ku mohon pergilah.


Aku yang berumur 5 tahun tak mengerti sedikitpun dengan kondisinya, apalagi mengerti dengan bahasa yang dia ucapkan.


Karena sifat ilmiah balita adalah ingin tahu dan merasa tertarik dengan hal-hal baru di sekelilingnya, aku pun langsung berempati tanpa alasan.


"Apa kau menangis karena lapar!?" Ucapku sambil merogoh kantong celana balonku dan mengeluarkan 3 bungkus mie kremes. Yang cara makannya pun ribet pake banget, mesti di taburi bumbu terlebih dahulu, di remas-remas, lalu di kocok-kocok.


Dia membuka ringkukukannya dan memandangi makanan ringan yang ku sodorkan.


Dengan cepat dia menerima pemberianku dan langsung melahap nya sekaligus.


"Kamu ini bule, tapi kok gembel!" Ucapku memandanginya yang kumal di penuhi kotoran di seluruh tubuhnya.


Dia hanya memandangiku sambil terus memakan snack yang ku berikan, disamping karena kelaparan, dia juga tak mengerti sedikitpun apa yang aku ucapkan.


"Apa kau mau kerumah ku!" Tanyaku padanya meskipun dia tak mengerti apa yang aku tanyakan.


Dia hanya menatapku diam, sambil terus makan.


"Nanti sesampai di rumah, aku akan menyuruh bapakku untuk memandikanmu, karena kau terlihat kotor dan penuh kuman." Ucapku antusias.


Dia memandangiku yang terus mengoceh, lalu berdiri sambil menunjuk jalan raya.


"Did you know, police office near over here?" Ucapnya antusias sambil mengganti bahasanya agar aku mengerti.


Aku menggeleng, karena benar-benar tak mengerti dengan apa yang dia katakan.


"Aku gak ngerti bahasa cina!" Balasku menggeleng.


Dia terlihat pasrah dengan wajah hampir menangis, lalu menyandar di pohon jambu mente.


"Ahh..iya!!" Ujarku sambil memegang pergelangan tangannya. "Ayo ke rumahku, mungkin saja bapak mengerti bahasa cina."


***********


Berlahan ku buka mataku.


Hal pertama yang kulihat adalah kami berdua tertidur pulas saling berpelukan berbalut selimut, di pojok kamarnya hingga pagi menjelang.


"Mimpi!" Gumamku sambil memegangi kepalaku sendiri dan melepaskan lenganku yang melingkar di tubuh Archie yang sedang tertidur pulas.


Terlihat air matanya yang telah mengering di kedua sisi pipi mulusnya, dan juga muka lelahnya yang terlihat jelas dari sudut matanya yang terpejam.


Kenapa aku selalu memimpikan mimpi yang sama setiap harinya, mimpi seorang anak bule yang tersesat.


Mimpi tersebut seperti nyata, tapi sekuat apapun aku mengingatnya aku hanya menemukan kenyataan kalau itu hanyalah mimpi yang ku buat sendiri.


Archie mendengus berlahan dan menggerakkan tubuhnya yang masih merangkul tubuhku di dalam dekapannya. Kemudian dia membuka matanya pelan-pelan dan melihatku yang berada dihadapannya dengan tatapan yang sama.


"Anya!" Panggilnya sambil mengerjapkan matanya sekali lagi dan menatapku.

__ADS_1


Dia tidak memanggilku dengan sebutan Arel, atau memang semalam aku salah dengar saat dia memanggilku dengan sebutan ku waktu kecil.


"Kita abis ngapain?" Tanyanya memeluk erat tubuhku dalam satu lingkaran lengannya dan mendudukkan tubuhku di antara kedua pahanya.


"Kamu gak ingat kejadian semalam?" Tanyaku.


"Semalam?" Tanyanya balik sambil berfikir.


Aku menunggu dengan sabar saat dia mencoba mengingat apa yang terjadi selama itu, siapa tahu dia akan mengatakannya sendiri apa yang dia ketahui.


"Gak ingat apa-apa tuh!" Jawabnya setelah lama berfikir.


Lalu dia mengangkat tubuhku dan berjalan menuju kasurnya.


"Archie!" Pekik ku sambil melingkarkan tanganku di lehernya.


Dia lalu merebahkan tubuhku bersamanya di atas kasur yang berbau manis seperti buah-buahan dan berbaur dengan bau rokok yang menyengat.


"Ngantuk!" Ujarnya sambil memeluk tubuhku dari belakang dan membenamkan wajahnya di tengkuk ku.


"Ka-kamu gak boleh tidur. Pagi ini kita ada jadwal pertemuan tim." Ucapku yang berusaha tenang saat napas hangatnya9l merajai seluruh leherku.


"Bentar lagi!" Jawabnya membenamkan kepalanya semakin dalam menyusup masuk ke tengkuk ku.


****!!


Aku benar-benar tak mampu menolaknya.


"A-archie!" Panggilku menggenggam tangannya yang memelukku.


"Hhhmmm..." Jawabnya.


"Aku mau nanya sesuatu!"


"Iya!" Jawabnya mengangkat kepalanya dari tengkuk ku.


"Kamu semalam..."


"Gua ingat!" Jawabnya langsung tanpa basa-basi."Gua ingat semuanya!"


"Enggak, jangan di bahas." Potongnya."Gua ingat semua kejadian semalam. Tapi gua gak mau lu bahas kejadian itu." Ujarnya sambil mendaratkan beberapa kecupan ringan di leherku.


"Kenapa?" Tanyaku sambil menatap kosong.


"Gua gak punya alasan buat ngasih tau lu!" Jawabnya sambil terus mencium lembut leherku.


"Arel!" Ujar ku.


Seketika dia menghentikan ciumannya pada leherku dan diam tak bergerak.


"Kau memanggilku Arel semalam!"


Pelukannya pada tubuhku semakin erat saat aku memberitahukan hal tersebut kepadanya.


"Kamu juga teriak..." Aku semakin memegang erat jari-jemarinya yang memelukku."Jangan mati!" Ujar ku merendahkan suaraku untuk sedikit mengambil nafas karena pelukannya yang semakin erat.


"Apa dulu kita...uummhhh!"


Dia langsung membalikan tubuhku kearahnya dan dengan beringas mencumbu ku secara spontan.


"Jangan ngomong!!" Ujarnya melepaskan cumbuan nya pada ku. "Udah gua bilang jangan!!"


Aku hanya menatap balik mata nya saat dia dengan serius mengatakan kalau dia tak ingin membahas soal ini.


"Keingintahuan lu itu bakal ngerusak lu sendiri!" Bisiknya di telingaku.


Aku mengerjap berlahan, memandangi lekat kedua bola matanya yang bergerak-gerak mengikuti arah bola mataku, ini bukan pertama kalinya kami berdua saling beradu pandang seperti ini, tapi entah mengapa rasanya seperti kali pertamanya kami berdua memiliki padangan yang mencerminkan perasaan yang sama persis.


"Kenapa kamu selalu membicarakan sesuatu yang tak bisa ku mengerti!" Ujarku sambil menyingirkan tangannya dari bibirku.


Dia hanya tersenyum memandangi kedua bola mataku, lalu mendekapku kembali dalam pelukannnya.


"Ngantuk!" Ucapnya sambil meletakkan wajahku berhadapan dengan lehernya sampai wajahku bertabrakan dengan jakunnya.

__ADS_1


"Archie!" Pekik ku di dalam dekapannya. "Kita berdua sedang bicara!!"


Dia melonggarkan pelukannya dan menautkan dahinya pada dahiku.


"Lu masih belum puas, kalau cuman gua cium!" Bisiknya lirih di depan wajahku.


Aku langsung terdiam dengan mata melototi jakunnya.


"Anya?" Panggilnya lirih sambil membelai lembut pipiku dengan kedua tangannya. "Boleh kan?"


DEG...


Lidah ku tiba-tiba keluh, rahangku mengapit rapat seperti di satukan dengan ikat, tenggorokanku seperti tertahan oleh sesuatu yang mengganjal.


Itulah respon tubuhku saat mendengarnya meminta izin kepadaku untuk meminta hak nya.


Ku kumpulkan keberanian yang bertumpu pada akal sehat yang mulai menghilang, seiring nafas hangatnya yang membuat ku melayang, serta tubuh besar nya yang membuatku nyaman.


Bersatu dalam tubuhnya dan memulai ikatan yang sedari dulu terjalin adalah sebuah keharusan. Aku menarik napas panjang dan meremas pinggiran bajunya yang ada di dalam genggamanku.


"Bo-boleh!" Ucapku sambil mengerjapkan mata.


Archie mendorong tubuhku dengan kedua tangannya dan menatap lekat kedua mataku.


"Beneran!!" Ujarnya yang tak bisa berkata-kata lagi.


Aku mengangguk.


"Lu ngizinin gua!" Ucapnya lagi dengan


semangat yang menggebu.


Ahh..aku tersipu malu, benar-benar saat yang mendebarkan.


"Duh. Ok gua mulai!" Dia salah tingkah.


Dia langsung duduk di hadapanku dan membalik tubuhku kearahnya. dan tanpa permisi langsung membuka kancing bajuku.


"Wait!" Ujarku menghentikannya."Kayaknya urutan nya salah, masa langsung.." Aku berhenti berbicara dan menutup wajahku sendiri karena malu.


"Gak. Sorry, la-lanjutin!!" Pekikku dibalik kedua tangan yang menutupi wajahku.


"Lah, jadi urutan yang benar dari mana. Gua kan gak pengalaman yang ginian!!" Dia ikutan menololkan diri sendiri.


"Gak usah sok polos deh Shie. La-lanjutin!!" Ujar ku di balik wajahku yang masih tertutupi oleh kedua tangan.


"Yah, duh. Gua harus ngapain lu dulu ni!"


"Biasanya kan kamu nyosor aja gak pake permisi, kenapa sekarang malah bingung!" Pekik ku yang kehilangan kesabaran.


"Lu sih, ngijinin gua ngapa-ngapain lu, makannya grogi kan, gua jadi lupa urutannya mau ngapain!" Pekiknya juga tak mau kalah.


"Cepetan!" Teriakku gemas.


"Lah gua bingung!" balasnya tolol.


"Kan biasanya kamu jago ginian!"


"Lu sih pada ngijinin gua segala!" Cecarnya sambil memegangi kepalanya sendiri.


"Lah, kan kamu yang minta izin."


"Harusnya lu gak usah ngijinin gua kayak biasanya!" Balasnya pening.


"Duh, cepetan!" Ujarku yang tidak sabaran.


"Bentar, gua mikir!"


"Ngapain mikir!" Balasku yang benar-benar kehilangan kesabaran.


"Diem dulu, gua lagi konsentrasi!"


"Konsentrasi apaan?" Teriakku yang sudah kesal.

__ADS_1


Begitulah seterusnya,kami berdua ribut mempersalahkan urutan nganu dan izin nganu, sampai matahari terbit dan kami berdua pun gagal menganu.


__ADS_2