Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Umpan


__ADS_3

"Maafkan saya Nyonya!" Jawab Hendri yang langsung menundukan kepalanya di hadapanku.


"Dari dulu, kenapa hanya aku yang tahu belakangan," Ucapku dengan suara bergetar. "Kenapa begitu banyak hal yang tak ku ketahui, sampai-sampai aku sendiri yang harus bertindak."


"Nyonya bukan maksud saya, tapi..."


"Aku mengerti..." Potong ku secara spontan memotong perkataan Hendri dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua di meja makan.


**************


Tok tok tok.....


"Kakak, aku masuk ya!" Seru Sakurai dari balik pintu ruang belajar. "Kakak masih marah ya?" Tanyanya dengan polos sambil melewati pintu masuk.


"Sakurai pergilah, aku sedang belajar!" Ucapku yang langsung mengusirnya karena jengah.


"Kenapa, apa Sakurai juga di benci!" Pungkirnya tiba-tiba.


"Aa-apa?" Respon ku kaget dan mengangkat pandanganku. "Bu-bukan, bukan begitu maksudku!!"


Seketika saja, aku mendapati Sakurai yang hampir saja menangis dengan kedua matanya yang sedang berkaca-kaca.


"Salah Sakurai apa?" Ucapnya dengan nada lirih dan hampir meneteskan air mata.


Aaaggghhhh.....sial, kenapa lagi anak ini.


"Kenapa kak Anya tiba-tiba membenciku, memangnya Sakurai salah apa?" Ucapnya tambah menyedihkan.


"Bukan begitu..." Aku langsung beranjak dan menghampirinya, "Kau boleh masuk, tapi jangan mengajakku bicara, karena sekarang aku sedang konsentrasi belajar." Jelasku agar dia tak salah paham.


"Hhhuuuuhhmmmm....!!" Balasnya menunjukan wajah merajuk, "Aku kan hanya datang menyapa bukan untuk mengganggu."


Hentikan, aku tak tahan lagi ingin tertawa. Kenapa Sakurai memasang wajah marah yang teramat imut seperti ini. Tuhan, kenapa engkau menaruh mahluk ini di dekatku.


"Maaf ya, Sakurai. Jangan marah." Ucapku berusaha membujuknya.


Namun, neraka.

__ADS_1


Saat dia berada di dekatku, ternyata anak ini lebih menyebalkan dari apa yang ku kira.


Hampir 3 menit sekali dia menanyakan sesuatu yang membuatku tak bisa berkonsetrasi belajar, dia akan terus mengoceh dan mengoceh tanpa henti sampai seluruh pertanyaannya terbalas olehku.


Mulai dari pertanyaan yang tak bermakna, leluconan kuno nan garing, sampai main tebak-tebakan yang tak ada satupun dariku yang bisa menebak jawabannya.


"Kakak tau gak warna CD yang sedang ku kenakan!" Tanyanya terlihat sangat bahagia melihatku yang risih setengah mati.


Mana ku tahu gobl*k, memangnnya kau pikir aku mengintipmu berganti pakaian dalam.


"Tidak, tentu saja tidak." Jawabku dengan raut wajah melelahkan.


"Jawabannya adalah.." spontan dia mengangkat bajunya dan dengan santainya meregangkan karet celana olahraga yang sedang ia kenakan.


Aahhhhgggggg....sinting, dasar bocah sinting. Untungnya aku berhasil mengalihkan tatapanku sebelum dia melonggarkan celananya.


"Abu-abu!!" Pekiknya dengan bahagia.


Siapa yang peduli sialan, memangnya dia harus sesenang itu memberitahuku warna pakaian dalamnya.


Sekilas aku melupakan kejadian yang terjadi kemarin, dimana untuk pertama kalinya aku melihat seseorang yang begitu lihai memegang senjata api, seakan benda itu adalah bagian dari tubuhnya, terlebih lagi, aku tak bisa melupakan tatapannya itu. Tatapan dengan mata pemburu kijang yang bersemangat, tanpa berkedip, dan tanpa merasa ragu sekalipun dia membunuh manusia dengan keji tanpa merasa bersalah.


Di akhir ocehannya, dia kembali menunjukan sifat lain yang ada di dalama dirinya, dan mulai berbicara dengan nada tenang dengan tatapan sejurus.


"Aku sudah berbicara dengan Hendri," Ucapnya dengan raut wajah datar menghadapku. "Ku pikir, tidak baik kalau kakak tidak tahu apa-apa soal ini, jadi aku memintanya agar aku saja yang mengatakan semuanya kepada kakak."


Aku duduk di dekatnya dan mulai mendengarkan penjelasan langsung darinya.


"Baik, katakanlah padaku!" Ujarku bersiap menyimak dengan hikmat.


"Kakak selama ini pasti sudah banyak menderita karena perbuatan orang-orang yang selalu berbuat jahat tanpa mempunyai maksud dan tujuan yang jelas, terlebih lagi saat aku tahu kalau kakak melalui banyak hal yang membuat kakak kesusahan." Ucapnya dengan tatapan sedih yang memberikan kehangatan.


"Apa kau sudah tau semua yang terjadi padaku?" Tanyakku memastikan.


Sakurai mengangguk ringan dengan pelan, "Aku tahu segalanya." Jawabnya. "Aku tahu kenapa kakak menikah dengan kakakku, atau kenapa kakakku mengalami penyakit psikologis aneh yang sukar di sembuhkan, juga kesalahpahaman yang terjadi di antara kalian, sampai semua kasus kecelakaan yang menimpa kalian berdua."


Aku hanya diam dengan mulutku yang terbuka lebar karena mustahil dia bisa tahu, "Kau, ba-bagaimana bisa?" Tanyaku gagap.

__ADS_1


"Tak ada yang tak bisa ku lakukan, seluruh informasi yang terkait dengan kalian akan sampai ke padaku hanya dalam hitungan detik." Jawabnya, semakin membuatku kehabisan kata-kata. "Aku langsung saja ke intinya.."


Sakurai mengeluarkan ponselnya dan menunjukan gambar seorang pria yang memakai setelan pramusaji kepadaku. Pria itu berperawakan tinggi dengan kulit sawo matang, berambut hitam lebat, dan juga bermata tajam.


"Apa kakak tidak asing dengan tempat ini?" Tanyanya.


Aku berfikir dengan tenang, dan mengingat dengan seksama di mana terakhir kalinya aku menemukan tempat itu dan juga seragam yang senada dengan pramusaji itu. Lalu saat aku melihat gelas minuman unik yang di bawa oleh pramusaji itu barulah aku teringat.


"Cafe pinggir jalan milik sepupu Arya." Ucap ku dengan pasti.


"Yah tepat sekali, pria ini lah yang mencampurkan obat tidur dalam minuman yang kakak dan teman kakak minum, dan juga.." dia lalu menggeser kembali sorot layar HPnya dan berganti menjadi seorang pria yang memakai pakaian serbah putih khas petugas rumah sakit dengan memakai masker yang sedang berada di ruangan kebidanan, lalu gambar berikutnya adalah pria itu menguntitku yang sedang menuju hotel tempat perkaraku dan Archie di mulai.


"Dia melakukan semuanya seorang diri." Ucapku yang langsung bermuka pucat dengan nada bergetar.


"Yah, pria ini cukup tangguh sampai-sampai melakukan semuanya seorang diri, namun bukan hanya itu..dia juga yang telah masuk ke apartemen ini dan membobol sistem keamanan."


Terbesit dalam sekejab dalam ingatanku, kalau aku pernah sekali berpapasan dengan pria ini setidaknya sekali dalam hidupku. Tapi, dimana.


"Satu-satunya hal yang tak bisa kami semua katakan kepada kakak adalah mengenai hal ini." Ucap Sakurai menatap tajam padaku, "Kakakku berencana mengeluarkannya dari tempat persembunyian dan menangkapnya secara hidup-hidup, namun selama ini kakakku tak punya kesempatan yang bagus untuk melakukan rencana itu karena pria ini tak kan menunjukan dirinya jika kakakku masih berada di sekitar kak Anya. Oleh karena itu kakakku mengutusku untuk berada di samping kak Anya, dan untuk menyempurnakan rencananya, kakakku memutuskan untuk pergi ke jepang agar mangsa yakin dengan pasti kalau kak Anya sedang sendirian." Jelasnya dengan pandangan serius.


"Ternyata itu yang terjadi?" Ucapku karena kaget. "Hal sepenting ini, kalian malah merahasiakan ini kepadaku!!" Sambungku agak kesal.


"Rencana kami adalah ingin membuat kakak menjadi umpan segar dan memaksa pria itu untuk muncul kembali, tapi seperti yang kakak lihat kemarin, yang mengincar kakak bukan hanya pria itu, namun sekumpulan orang-orang yang tergerak untuk langsung melenyapkan kakak."


Aku duduk terdiam dengan lutut lemas dan badan gemetar. Saat mengingat kembali kejadian kemarin yang hampir membuatku kehilangan nyawa, sampai-sampai setiap detik perasaan itu hampir membuatku gila dan bermimpi buruk.


"Sepertinya, yang mengincar kakak bukan hanya satu orang tapi ada beberapa organisasi yang bertekad melenyapkan keberadaan kakak, tapi bisa saja orang-orang yang menyerang kita kemarin juga bagian dari pria itu, yang jadi kebimbanganku adalah kenapa polisi juga ikut andil dalam rencana jahanam itu." Ujarnya mengangkat pandangannya dengan mata serius.


"Mungkinkah mereka melakukakan ini karena ingatanku yang belum pulih tentang pria yang menyakitiku waktu kecil." Tangaku langsung gemetar saat mengucapkannya.


"Benar!!" Tegas Sakurai yang langsung menjawab pertanyaanku, "Semua hal buruk yang terjadi selama ini karena kakak mengetahui wajah pria itu."


"Apa...apa aku akan mati!!" Ujarku dengan suara bergetar penuh ketakutan.


"Itu tak akan terjadi!" Balas Sakurai yang langsung menyambar pernyataanku. "Selama aku hidup, aku tak kan membiarkan milik kakakku di rusak orang. Bahkan seujung jari." Pungkasnya dengan intonasi yang penuh penekanan.


Aku langsung berpaling dan menatapnya yang dengan serius mengatakannya. Sakurai, apakah dia sesayang itu kepada Archie sampai-sampai dia rela melakukan ini, atau dia punya maksud lain. Saat melihat tindakannnya kemarin, aku tak lagi percaya kalau dia merupakan bocah polos yang hobi menggambar.

__ADS_1


__ADS_2