Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Di Balik Layar


__ADS_3

"Kok bau lu beda!" Tanya Archie mengendus leherku.


Tentu saja beda, di tempat Laila, sabun mandinya sama dengan yang biasa dia pakai untuk membersihkan kebutuhan lainnya, yah dengan kata lain sabun mandi yang ku pakai adalah sabun batangan yang di pakai untuk mencuci baju-baju nya sehingga terciumlah bau tubuh khas seperti bau minyak keset dan sedikit bau karbol.


Aku tak merespon nya sama sekali dan membiarkannya untuk terus berada di sekitar tubuhku.


Namun tiba-tiba bayangan nya yang sedang berada di dalam kamar hotel, dengan banyak wanita di sekelilingnya membuat ku terkesiap dan dengan spontan langsung mendorong tubuhnya menjauh dari ku.


Melihat respon ku yang secara tiba-tiba bersikap tak biasa, Archie langsung mengerutkan kening dan mengerjapkan matanya berlahan. Dia heran dengan perilaku ku yang seperti sedang menolaknya mentah-mentah.


"What's wrong?" Tanyanya yang masih merangkul tubuhku dalam lingkaran tangannya.


Bayangan ku yang terbangun di kamar Dimas di sertai wajah Dimas yang tertidur dengan pulas di sampingku, melintas begitu saja di kepalaku.


Sehingga pertanyaan Archie yang mempertanyakan tentang kelakuan aneh ku, membuatku tambah gusar.


Bayang-bayangan itu membuatku tak bisa berfikir jernih, namun karena rasa terdesak dengan reflek aku langsung memeluk nya dengan erat sampai seluruh wajah ku terbenam di dada nya.


"Apa sih?" Respon Archie sambil tertawa kecil menyisir lembut rambutku dengan jari jemari nya. "Lu kangen berat ama gua ya?" Tanyanya menciumi ubun-ubun ku secara beruntun.


Ku balas pertanyaannya dengan anggukan berat di dekapan dadanya.


Dia kembali tertawa kecil dan menyusuri rambutku hingga berhenti ke arah tengkuk.


"Maaf ya selama sebulan ini gua gak ngabarin lu!" Ucapnya,"Gua benar-benar lagi sibuk nyelesain masalah yang terjadi di luar, ampe gua gak sempat buat sekedar ngasihin kabar!" Lanjutnya penuh percaya diri, mengatakan kalau dia benar-benar sibuk dengan pekerjaan nya dan bukan sibuk bersama para selirnya.


Seketika tanganku yang memeluk tubuhnya berubah menjadi cengkraman yang kuat, dan seluruh otot-otot tubuhku menegang karena menahan rasa sakit yang tertanam di dadaku.


Di satu sisi aku ingin mengatakan semua yang telah ku lihat di malam itu saat dia sedang di dalam hotel bersama para wanitanya, namun di sisi lain aku juga tidak bisa mengatakan apa yang terjadi padaku saat terbangun di kamar Dimas.


DEG...


Tiba-tiba aku ingat sesuatu?


"Archie?" Panggilku melepaskan pelukanku dari tubuhnya.


"Kau bilang, kau tidak pernah menghubungiku sama sekali, benarkan?" Tanyaku menatap nya yang khusyuk membelai rambutku.


"Bener!" Jawabnya singkat.


"Jadi, kau.." Aku langsung berfikir keras sambil termenung menatapnya,


Lalu siapa yang menghubungiku dan menyuruh ku ke hotel malam itu, kalau bukan dia lalu siapa


Suaranya terdengar sangat mirip dengan Archie, dari cara bicaranya, pelafalan kata-katanya, ciri khas nada bicaranya, semuanya terdengar sangat mirip.


Oohh..ya ampun?


Apakah ini hanya kebetulan atau memang ada dalang di balik semua peristiwa ini. Terlebih lagi, mana mungkin Archie memberitahu kan ku, dimana tempat dia yang sedang melakukan pesta menjijikkan dengan para wanita nya.


Lalu kejadian yang terjadi di tempat Dimas, dimana dipagi harinya aku terbangun di dalam kamarnya. Meskipun aku tak tahu apa yang terjadi walau sekeras apa pun aku mengingat nya. Tapi aku yakin, Dimas pasti ada hubungannya dengan kejadian ini.


Kenapa selama ini aku tidak berfikir sejauh itu, dan malah meringkuk di tahanan menyalahkan diri sendiri dengan apa yang telah terjadi tanpa mengusut nya langsung.


"Kenapa lu?" Tanya Archie yang mendaratkan telapak tangannya menyentuh wajahku, sehingga lamunanku terbuyar.


"Aku mau ijin keluar bentar!" Ucapku sambil setengah duduk dan melepaskan lengannya yang masih melingkar di pinggangku.


"Loh kemana. Bukannya lu baru aja balik, nah gua di tinggal sendirian nih." Ujar nya yang masih memegang lembut lenganku, tak rela jika ku tinggalkan begitu saja.


"Bentar aja?" Pekik ku yang sudah di pintu keluar ruangan baca.


*************


Dimas sudah berada di kursi taman memegang tas tenteng berbahan karton yang dia jinjing di antara juntaian kakinya.


Saat melihat ku datang, dia langsung berdiri dan menatap wajahku lekat.


"Anya?" Panggilnya sambil memberikan ku tas tentengan berbahan karton tersebut kepadaku.

__ADS_1


Dan saat ku terima ternyata isinya adalah semua barang-barang ku yang ku tinggalkan di rumahnya waktu itu, seperti sepatu, outer, tas jinjing, dan juga HP.


"Kak Dimas, aku mau ngomong!" Ucap ku setelah melihat isi yang ada di dalam nya.


Dia hanya manggut-manggut setuju dan kemudian duduk kembali ke kursi taman.


"Kak.."


"Anya..."


Kami berdua serentak ingin sama-sama memulai pembicaraan sehingga bertabrakan dan berakhir tak sempat melanjutkan pembicaraan masing-masing.


"Kakak duluan deh!" Ucapku dengan nada canggung.


Dimas terlihat menahan nafas yang kemudian mengepalkan kedua tangannya untuk menghilangkan ketegangan.


"Maaf untuk kejadian yang terjadi di hari itu!" Ujar nya memulai pembicaraannya.


Aku hanya diam tak berani merespon perkataan nya dengan memperhatikan gerak-gerik nya yang terlihat gelisah.


"Gua gak terlalu ingat apa yang terjadi, tapi yang gua ingat terakhir kalinya adalah lu yang pinsan di cafe sepupu gua, abis itu lu, gua bawa pulang.." Jawabnya sambil memandangiku.


Sebelum aku merespon perkataannya barusan, dia langsung buru-buru mengayunkan tangannya di hadapanku, mengisyaratkan dia belum selesai bicara.


"Tapi maksud gua bukan bawa lu balik kerumah gua!" Tepis nya spontan dengan wajah kalut.


"Jadi yang sebenarnya terjadi, pas lu pinsan. Gua memutuskan buat bawa lu balik ke tempatnya Nyokap lu, tapi di tengah perjalanan tiba-tiba gua juga berasa pusing dan udah keliyengan parah, dari pada gua juga tiba-tiba pinsan dan kita bedua di lempar orang kejalanan jadinya gua memutuskan buat bawa lu balik ke kosan gua! Daaan..." Dia menjeda penjelasan sambil melihat respon ku yang menatapnya dengan khusyuk.


"Gua gak tau kalau ternyata kita berdua bisa sekamar bareng. Dan gua juga kaget sama kayak lu, karena waktu itu, gua juga gak ingat apa-apa setelah gua bawa lu pulang ke kosan, sumpah!" Ucapnya setengah memekik dan menunjukan dua jarinya padaku.


Dimas terdiam cukup lama setelah mengatakan hal itu, dan termenung memandangi lampu taman.


Seperti yang terlihat, ku rasa Dimas tidak berbohong, dan dia memang mengatakan yang sebenarnya terjadi padaku tempo hari.


Namun tetap saja aneh, maksudku Kenapa kami berdua bisa merasakan pusing dan pinsan di waktu yang bersamaan. Tidak mungkin karena keracunan susu kocok.


Dimas terlihat kaget dan memandangi ku yang tiba-tiba berteriak susu kocok.


"Kak Dimas, Kakak sadar gak sih, kalau Kakak juga ngerasa pusing abis minum susu kocok yang kita minum berbarengan waktu di cafe?" Tanyaku yang akhirnya menyadari sesuatu yang membuat kejadian ini semakin aneh dan di buat-buat.


"Kayak nya, apa yang lu bilang barusan ada benernya!" Jawabnya setuju.


"Udah ku duga, pasti dibalik semua ini ada seseorang yang emang sengaja pengen ngenjebak kita!" Asumsiku.


"Ngenjebak?" Dia penuh tanda tanya.


Aku buru-buru berpaling dan menjelaskannya. "Aku sebenarnya gak bisa ngasih tau detilnya, tapi emang ada orang-orang tertentu yang mau manfaatin situasi ini demi kepentingan pribadi nya mereka!" Jawabku sambil menyibak rambut yang menutupi jidatku.


"Orang-orang yang mau manfaatin situasi ini?" Dia mangkin penasaran.


"Yah, gitu deh. pokoknya aku makasih banget karena kakak udah mau ngomong yang sejujurnya saat ini!!"Ucapku sambil berdiri dari kursi taman dan berniat untuk beranjak dari sana.


"Anya tunggu!" Ucapnya menghentikan ku.


Aku berhenti dan menatapnya.


"Walaupun gua gak ingat apapun yang udah terjadi di malam itu," Ucapnya sambil mendekat selangkah ke arahku. "Tapi gua siap nanggung semua kesalahan yang udah gua lakuin ama lu di malam itu. Gua siap bertanggung jawab atas segala yang udah terjadi." Ucap Dimas sambil mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar serius dengan perkataannya.


Aku hanya tersenyum getir menanggapi nya sambil berjalan selangkah mendekatinya.


"Makasih kak!" Ucapku sambil menepuk bahunya.


"Tapi, aku harap kita lupain aja semua ini. Aku bakalan senang kalau kakak gak ngungkit masalah ini lagi ke permukaan." Balasku yang kemudian pergi dari hadapan nya.


Meskipun aku juga merasa telah menyakiti perasaan Dimas dengan kejam, tapi aku harus tegar. Karena ada masalah lain yang menunggu ku saat ini.


************


Langkahku terhenti saat mendengar suara Hendri yang sedang berada di ruang belajar bersama Archie sambil berdiskusi.

__ADS_1


Namun dengan cepat Hendri menyadari keberadaan ku dan memandangiku dari balik gorden yang menutupi setengah dari tubuhku.


"Udah pulang?" Tanya Archie yang ternyata juga menyadari kehadiranku.


"Udah, hari ini gak ada kelas!" Jawabku sambil meletakan buku-buku pelajaranku di atas meja.


"Lanjut?" Ucap Archie pada Hendri yang berdiri di hadapan nya sedang membaca kan jadwal keseharian Archie sampai minggu depan.


"Besok ada negosiasi dari bank Century yang di jadwalkan jam 14.00 wib. Lusa nya ada peresmian di sebuah cabang kantor baru yang akan di operasi kan mulai februari mendatang!!" Hendri terlihat membalik kertas dan mengeluarkan secarik kertas undangan di atas meja kerja.



"Hari Sabtu ada undangan yang berasal dari sponsor yang mendalangi proyek kerja sama tim kampus, yang berlokasi di hotel wellness surabaya yang masih merupakan hotel yang Tuan besar kelola atas nama Tuan." Ujar Hendri menjelaskannya.


Aku langsung mengambil undangan tersebut dan membuka isinya.


"Anaknya yang cowok kan, berarti dia dokter dong!" Ucapku membaca isinya.


"Istrinya cantik!" Timpal Hendri.


Sontak kami berdua serempak menoleh ke arah Hendri yang sekarang menekuk wajahnya karena malu.


"Surabaya. Kek nya ga bisa, gua ada jadwal syuting di akhir pekan!" Jawab Archie sambil terus berkutik di depan laptop nya.


"Aku gak pernah ke Surabaya!" Ucapku sambil membolak-balik kertas undangan tersebut.


Archie sontak menghentikan pekerjaannya dan menatapku yang sekarang sedang berkonsentrasi membolak-balik kertas undangan.


"Hendri!" Panggilnya.


"Ya tuan!" Jawab Hendri lugas.


"Kosongkan jadwal gua di akhir pekan. Terus urus semua keperluan yang di butuhkan dari mulai keberangkatan sampai penginapan."Ujarnya.


"Baik!!"Jawab Hendri.


Archie mendekat ke arahku sambil merebut undangan yang masih ku pegang.


"Gua mau ngajakin istri gua tampil perdana di hadapan orang-orang!!" Sambungnya sambil mengibaskan kartu undangan tersebut ke wajahnya.


"Hhuh, wait what?" Ucapku bingung.


Aku tak percaya dengan apa yang barusan tadi ku dengar. Karena selama ini, Archie selalu berusaha untuk menyembunyikan ku agar tak terlihat oleh siapa pun, namun kali ini dia malah mengajakku untuk menghadiri resepsi pernikahan dari salah satu partner bisnisnya.


-


-


-


-


Eyoo jadi ini adalah eps kolaborasi antar author. kelanjutannya di resepsi bisa kalian lihat di Novel kk N sari yang ini



Nah jadi di next chapter novel kk ini ada Anya ama Archie yang nimbrung disitu. Reader ku tersayang kalau kepo bisa buka Next Chapter novel ini, kalau pen tau kisah selengkapnya mereka ngapain aja di resepsian orang.


nah happy reading..


ni sambungan yang tadi pagi belom kelar!


jan ngambek kalau ceritanya gantung, karena ngenggantung adalah bakatnya author.


wkwkwk..


Bye bye..


🙈

__ADS_1


__ADS_2