
Kami berdua pun akhirnya menceritakan segalanya kepada Sakurai dan Hendri, mengenai sebuah pesan rahasia yang tak sengaja ku temukan dari fotokopian yang di berikan oleh Libiru, dan juga semua yang di katakan Sabiru di malam itu, tak ada yang terlewatkan.
"Tuan dan Nyonya tak memberitahu petunjuk sebesar ini kepada kami?" Hendri tercengang dalam kekalutan.
"Saat itu aku sedang tak bisa berfikir, mangkanya kami berdua sampai nekat melakukannya sendiri?" Jawabku frustasi sambil menggaruk kepala tak gatal.
"Tidak, aku tak menyalahkan kakak ipar. Kakakku lah yang bodoh karena tak berfikir dengan matang tanpa perencanaan!!" Sakurai tak habis-habis memprovokasi Archie.
"Insect, lu udah berani ye sekarang!!" Archie terpancing.
"Lalu jelaskan kepada saya, kenapa Tuan dan Nyonya malah mempercayai anak ini di bandingkan kami!?" Hendri ikut ngegas dalam raut wajah kesal, dan menunjuk Dafa yang tak tertarik mengetahui alasannya.
"Itu karena dia seorang informan. Seorang informan gak terikat dengan apapun, meskipun mereka memihak salah satu yang berkhianat, data rahasia mereka bakalan cepat terungkap, dengan begitu kepalanya bakalan langsung kepotong!!" Ungkap Archie melototi Dafa.
"Lu jangan ngomong kek gitu dong, gua gada niatan buat ngehianatin Mas Eko!?" Dafa membela diri sambil memegang lehernya.
"Tapi..." Archie menyela di tengah-tengah. "Gua mengungkap kan ini pada kalian juga merupakan sebuah pertaruhan, karena selain gua ama Anya ada kemungkinan kalian juga bagian dari musuh!"
"Kak, kau masih saja menganggap..."
"Tuan ada benarnya!?" Hendri mencegat Sakurai, "bagaiman pun situasinya sekarang, yang berada dalam bahaya tetaplah Tuan dan Nyonya."
Lalu mereka terdiam untuk beberapa saat, mencerna keadaan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanyaku.
"Hmmm..?" Gumam Archie menopang dagunya sendiri dengan telapak tangan dan mulai menggunakan otaknya.
"Lagi pula akan sulit jika kita menyelidiki teman-teman yang kita percayai satu persatu, ini terlihat seperti menyakiti hati mereka yang setiap hari bergaul dengan kita!" Ungkap ku.
"Gua juga mempertimbangkan hal yang sama, karena di lihat bagaimana pun ini seperti ular yang mengusik telurnya sendiri!" Respon Archie.
"Tapi kan kalian berdua juga udah ngasih petunjuk sebesar itu pada kami yang ada di sini, anggap aja pertaruhannya menjadi lebih besar kalau kalian juga ngomong ke semua orang yang selama ini dekat dengan kalian?" Cetus Dafa.
Kami semua terdiam dan menatapnya serentak.
"Yah ini baru perkiraan gua sih, tapi menurut gua ga mungkin yang mengkhianati kalian cuman lingkungan berskala kecil!" Lanjut Dafa.
"Kenapa kau bisa menyimpulkannya sampai kesitu?" Tanyaku.
"Gua tau, karena yang selama ini menangani kejadian luar biasa itu gua." Dafa lalu membeberkan kejadian tragis yang ku alami selama ini, dan beberapa memang cenderung merujuk ke hal-hal di luar nalar, seperti lokasi kejadian dan tempat-tempat pribadi yang hanya orang terdekat saja yang tahu, bahkan ponselku sempat-sempatnya di bajak.
"Cara paling benar adalah membeberkan semuanya kepada musuh!" Gumam Archie.
"Apa?" Sakurai maju ke depan. " enggak, aku ga setuju! Apa kakak sudah gila, pertama menjadikan kakak ipar sebagai umpan, kedua kakak juga merencanakan sesuatu yang nekat sampai membahayakan kalian berdua, lalu sekarang kakak bilang ingin membeberkan petunjuk sepenting ini!!" Sakurai panik.
"Oi adik kecil tenang dulu, bisa ga lu gosah bacod!!" Ujar Archie menepuk pundak Sakurai, "pernah ga lu denger istilah musuh dalam selimut terlilit selimutnya sendiri!!"
Kami semua terdiam dan saling bertatapan.
"Tentu saja ga, itu kan gua sendiri yang ngarang!!"
Sudah ku duga.
__ADS_1
"Membeberkan petunjuk sepenting ini, kita bakalan mendapatkan dua kemungkinan besar." Archie melanjutkan, "pertama musuh mungkin bakalan terkejut dan panik jika petunjuk sebesar ini terbongkar, dengan begitu mereka bakalan berusaha nyari cara buat melenyapkan barang bukti yang kita punya."
"Ahhh..itu..!!" Respon kami semua hampir bersamaan.
"Kedua!!" Archie melanjutkan, "bisa aja petunjuk ini adalah jebakan yang sudah mereka rencanakan dan sekarangpun mereka juga bersiap-siap menunggu kita membeberkan ini kepada mereka."
Kami semua manggut-manggut dalam diam.
"Lagi pula, gua ngomong kek gini dalam keadaan gua ga tau siapa musuh yang sebenarnya, seperti yang tadi gua bilang di dalam ruangan ini cuman gua dan Anya yang jadi korban, selebihnya masih abu-abu!!" Ujar Archie menatap kami satu persatu.
"Yah itu juga gua ga bisa menyangkal sih!!" Respon Dafa mengangkat bahunya sendiri. "Tapi, apa lu punya rencana buat ngungkapin siapa pelakunya setelah lu ngembeberin petunjuk ini."
Archie menatap ke luar jendela dan memperhatikan awan putih yang berarak indah di siang hari yang cerah ini, sepertinya pikirannya sedang melayang ke suatu tempat meskipun raganya di sini.
"Liburan!" Cetusnya dalam keadaan tatapannya masih terpana ke arah awan-awan itu.
Kami secara diam menatapnya tanpa mengatakan apa pun, karena mungkin mereka juga sama salah dengarnya seperti ku.
"Kita akan liburan!!" Ujarnya lagi.
**************
"Lo-lombok!!" Laila menjatuhkan tatapannya kepada tiket penerbangan yang di hadiahkan Archie kepadanya. "Woi, lu serius ni lombok!" Dia mengguncang tubuhku.
Aku mengiyakan saja, dengan mengagguk-angguk pasrah.
"Gila sih, beneran ni!!" Laila tambah menjadi.
"Anj*r, mimpi apa gua di traktir liburan ama konglomerat!!" Pungkir Laila senang bukan main.
"Mimpi ketiban buah kemang!!" Balasku sewot.
"******, bukannya artinya sial. Ni kan gua dapet peruntungan."
"Kasihin juga buat Arya ama Dimas!!" Ucapku sambil memberikan 2 tiket lainnya.
"Bujug. Mantan lu di ajak juga, mau ngangkut orang seberapa banyak si."
"Sekampus..hahaha..udah ya, aku cabut dulu!" Ucapku lalu berlalu meninggalkannya dan menelpon seseorang.
"Gimana, udah di kasih belom?" Tanyanya di sebrang telpon.
"Udah!?" Balasku.
"Keknya udah semua, termasuk 2 orang itu kan!"
"Maksudmu, Rio dan Tora!?" Tanyaku. "Keknya, semua beranggapan kalau mereka berdua terlibat dengan musuh!?"
"Yah, dalam pikiran tragis manusia semua orang bakalan berfikiran sama. Jika mereka pernah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kesalahan, orang tersebut kemungkinan akan melakukan hal yang sama, tapi itu hanya kemungkinan karena bisa jadi mereka yang pernah melakukan kesalahan adalah orang yang berkontribusi paling banyak melakukan kebaikan, dan orang terdekat bisa jadi sebaliknya!"
Aku diam mematung menyerapi perkataanya.
"Oleh karena itu, kamu juga melibatkan orang-orang terdekatku?"
__ADS_1
Dia diam sejenak.
"Gua tegasin lagi sayang, kita berdua ini korban. Siapapun mereka, kita berdua ga boleh lengah!"
Aku menghela napas panjang.
"Baiklah, aku mengerti!" Jawabku pasrah.
"Hehehe..lu langsung luluh gitu aja pas gua panggil sayang!"
"Pengen di jitak!!"
"Hehehehe.." dia malah cengengesan.
"Oh ya Archie, kamu ga ada seseorang yang dekat dan mau kamu ajak liburan!" Tanyaku.
"Ada?"
"Hah, ada. Siapa?"
"Nanti juga lu bakalan ketemu kok di bandara?"
Dia tak mengatakannya, setau ku Archie tak dekat dengan siapa pun selain Hendri. Selain teman-temannya yang menempel hanya sekedar nebeng status, dia tak punya seseorang yang penting sampai merahasiakannya dariku.
Namun di hari ke berangkatan semua nya terjawab sudah. Aku menemukan mimpi buruk yang bahkan lebih buruk dari mimpi di kejar barongsai.
Tepat di hadapanku Archie menyambut wanita cantik yang bahkan lebih cantik dari selebriti, bahenolnya bukan main, dengan dress panjang pun dia terlihat seksi bak marlin monroe, rambutnya panjang tergerai sampai dada.
Mereka berpelukan di hadapan mataku, bahkan tanpa risih-risihnya Archie dan wanita itu bermesraan dan bergandengan tangan seperti dua kekasih yang terpisah di benua yang berbeda untuk waktu yang lama.
"Anya, kenalin ini Rail De Sayang. Temen gua yang waktu itu gua bilang pengen di ajak!!" Ucap Archie tanpa berdosa.
Aku diam mematung dalam wajah padam dan marah, namun ku kesampingkan kecemburuanku karena sedang dalam misi.
"Hai, gua Rail De Sayang, panggil aja gua sayang!!" Dia dengan ramah menjulurkan tangannya dan aku pun menyambutnya.
Sial, nama macam apa itu, panggilannya pun Sayang. Dalam pikiran sinisku kenapa tak Crocodile De Sayang atau Kampret De Sayang saja.
"Aku Anya Yuaga, bininya Archie!!" Ucapku mempertegas statusku dengan wajah tak ramah.
"Ahhh iya, salam kenal. Lu bahkan lebih cantik dari yang Archie pernah ceritain." Jawabnya ramah meskipun sudah ku gertak.
"Kalian dekat?" Aku tak tahan tak mengintrogasi.
Mereka melirik satu sama lain.
"Ahh..Archie, kita udah berteman dari SD, dulu gua sekolah di jepang!!" Jawab Sayang jelas padat singkat.
Sial lagi, wanita ini selangkah lebih dulu dari ku ternyata mereka sudah lama saling mengenal.
"Jus aprikot!" Pekik sayang tiba-tiba melihat sebuah kedai jus. "Temenin gua beli itu dong.." tanpa persetujuan Archie, dia langsung menarik tangannya, dan anehnya Archie berlaku berbeda pada wanita itu. Dia membiarkan tubuhnya tertarik dan tak menunjukan tanda-tanda penolakan seperti yang dia lakukan jika mendapat perlakuan dari wanita lainnya.
Apakah aku harus menyaksikan sesuatu seperti ini sepanjang liburan, lalu siapa wanita ini, kenapa Archie patuh bukan main dengannya. Lalu aku ini apa, kenapa Archie mengabaikanku?
__ADS_1