
"Kenapa kau jadi babak belur begini. Apa kau juga sengaja membuatku tak bisa tidur samalaman!!" Aku menggerutu sambil membersihkan luka yang ada di tubuh Shin.
"Oi, memangnya ada orang yang sengaja babak belur!" Balasnya.
"Berisik!" Pekik Mia kalap.
"Kau yang berisik, dasar wanita gila!" Balas Shin melemparnya dengan perban.
Mia melata mendekatiku dan menautkan kedua lengannya di leherku.
"Hei hantu gunung, aku lapar!" Ujarnya, "apa tidak ada yang bisa di makan di gubuk tua mu ini!!" Mia bergelayutan di tubuhku.
"Haahh..!" Aku menghela napas sambil beranjak dari hadapan mereka. "Tunggulah di sini. Mungkin masih ada sisa nasi kari di dapur!"
Mia menatap Shin dengan pandangan sinis lalu mendekatinya.
"Tuan. Kau ini siapa!" Ucapnya menyenggol bahu Shin. "Apa kau juga tinggal di gunung ini!?" Mia mengganggu nya saat aku di dapur.
"Aku ini adikmu, sialan!" Balas Shin.
"Maaf. Aku tidak punya adik!" Jawab Mia.
"Astaga. Kau minum seberapa banyak sih. Memangnya kau tak sayang nyawamu jika ada orang jahat yang mengambil kesempatan ini dan menjual organ dalammu!"
"Kau ini siapa ya. Apa kita saling kenal!" Jawab Mia tambah menyebalkan.
Aku keluar dari dapur dan membawa dua piring nasi kari lalu menghidangkannya kepada mereka berdua.
"Itadekimasu!" Ucap mereka berdua lalu dengan lahap menyantap makanan.
Aku memandangi mereka berdua dengan tatapan ngeri. Terbesit di pikiran sinisku ingin membuang mereka dan hidup sendirian, tapi tak sanggup ku lakukan karena terlalu sayang.
"Kalian berdua ini memang turunan anak kampang. Masa selama 4 malam berturut-turut aku harus mengurusi kalian seperti ini!!" Gerutuku memandangi mereka yang seperti tak makan berhari-hari.
"Jangan banyak omong kau setan gunung. Memangnya kau tak kasihan melihat manusia tersesat seperti ku ini kelaparan di tengah-tengah gunung yang dingin!" Mia masih mabuk.
"Berhenti teriak-teriak. Nasi mu berhamburan kena wajahku!!" Protes Shin.
"Ahh..aku bisa gila!" Ucapku sambil beranjak dari hadapan mereka.
"Kau mana kemana?" Tanya Shin.
"Tidur!" Jawabku.
"Lalu siapa yang akan membereskan semua ini!" Dia masih meributkan tetang kekacauan yang di buat oleh Mia.
"Niichan saja yang urus!" Jawabku.
*Abang.
Braakkk.....
Aku menutup pintu kamarku dan langsung merebahkan diri dengan posisi tertelungkup.
"Haa..akhirnya aku bisa tidur!" Gumamku sambil memejamkan mata.
"Agggggghhhh......"
Namun baru 2 menit aku terpejam, terdengar lagi suara gaduh yang berasal dari kedua bedebah itu.
__ADS_1
Braakkk...
Aku menendang pintu kamar ku dengan emosi sambil berkaca pinggang.
"Bangs*t sialan, Apa yang sedang kalian ributkan di tengah malah begini?" Teriakku.
Ku lihat Mia sedang menarik kepala Shin seperti memaksa kepalanya terlepas dari tubuhnya.
"Sada, Sada. Tolong aku Sada, lepas kan aku dasar As*, wanita gila!" Ucap Shin sembari mengumpat.
"Aku tahu kalau kepalamu yang retak itu bisa di copot lalu di pasang lagi. Kau pikir aku ga tau hah, kau meremehkan ku!!" Balas si Mia tambah Meng-sinting.
Aku datang dan memisahkan mereka berdua.
Akhirnya sampai hari menginjak pagi pun, aku batal tidur.
*************
"Selamat pagi, nak Sada!" Sapa ibu-ibu penjual sayur.
"Selamat pagi!" Jawabku sambil membungkuk membalas sapaan mereka semua.
"Kau kenapa. Apa akhir-akhir ini kau kurang tidur. Matamu sembab!?" Ibuk penjual asinan sayur kepo.
"Ahh..aku hanya kurang tidur saja karena akhir-akhir ini sering mendengar suara lolongan anjing di sekitar rumah ku!" Balasku.
"Benarkah. Kenapa tak memanggil pengendali binatang saja. Bukannya hal seperti itu sangat mengganggu!!" Balas mereka.
Aku mengangguk sambil tersenyum kecut. yah, Anjing itu adalah kedua saudaraku yang ada di rumah.
"Dimana Shin. Dia tidak ikut kau hari ini!?" Tanya mereka lagi.
"Ahh..tidak. dia sedang sekarat di rumah!!" Jawabku.
"Dia sakit parah!" Jawabku santai.
"Ahh..!!" Para Ibu-ibu menyayangkan.
"Nak Sada!!" Panggil mereka. "Ini ambil saja asinan lobak ini. Sampai kan salamku kepada abangmu. Dia pernah menolong ku waktu itu!!" Ibu penjual asinan sayur memberikan ku setoples asinan lobak.
"Ahh..terimakasih banyak!" Aku menerimanya dengan senang hati.
"Nak Sada!" Tiba-tiba ibu penjual sayur juga mendekat kepadaku. "Ini, bawalah sayur ini. Abangmu sering membantu ku juga. Bilang ke abangmu untuk makan sayur yang banyak agar cepat sembuh!!" Ibu tukang sayur memberikanku sekeranjang sayur segar.
"Terimakasih. Terimakasih banyak!!" Aku menerimanya semuanya tanpa basa basi.
Tak lama kemudian, aku langsung di serbu oleh ibu-ibu di pasar ini.
"Ini juga terimalah. Shin bilang suka ikan makarel kering. Bawa saja semuanya, sampaikan salamku kepada Shin!!" Ucap ibu penjual ikan asin.
"Silahkan bawa ini juga. Buatkan sup ayam untuknya nanti!!" Ucap Ibu penjual ayam potong.
"Sada. Ku dengar shin sakit. Tolong berikan ramuan ini kepadanya agar cepat sembuh. Di minum 3x sehari ya. Jangan lupa!!" Ucap ibu penjual jamu kuat.
"Sada..ini.."
"Nak Sada, berikan ini juga.."
"Sada, ku dengar Shin sakit, tolong berikan ini.."
__ADS_1
"Nak berikan ini kepada Shin.."
Aku tercengang. Dalam sesaat, pamor Shin yang sangat di gandrungi ibu-ibu pasar membuatku menjadi rebutan surat cinta untuk laki-laki kerempeng itu.
"Ya ampun tolong minggir. Nak Sada ini ambilah buah-buahan segar ini. Berikan kepada Shin. Semoga dia cepat sembuh ya!!"
Aku mengangguk pasrah dan menerima semua cinta mereka untuk Shin yang sedang malas-malasan di rumah. Ternyata memang, orang baik yang tak meminta balasan apapun selain hanya membantu sesama adalah orang yang sangat tak di inginkan kematiannya.
"Kurang ajar Shin. Bisa-bisanya dia populer di kalangan ibu-ibu!!" Gerutuku sambil membawa tumpukan makanan ini menggunakan sepeda, bahkan saking banyaknya barang bawaan ku. Dengan terpaksa aku harus berjalan kaki dan menuntun sepeda itu sampai rumah.
Namun di sebuah tanjakan, tiba-tiba tali keranjang yang ku ikatkan terlepas dengan sendirinya karena tak bisa menahan beban, sehingga bahan makanan berupa buah-buahan dan setoples asinan lobak terjatuh dan menggelinding ke sana kemari.
"Ahh..tidak!" Ucapku sambil memarkirkan sepedaku dan berlari mengejar bawaanku yang tercecer.
Abang-abang di sekitaran tempat itu menertawakan ku dengan heboh, mereka menunjukku yang kesusahan memunguti buah-buahan yang semangkin menggelinding jauh menuruni tanjakan.
Aku memunguti satu-satu buah persik dan apel yang terjatuh di atas tanah dan menaruhnya di bajuku dengan susah payah.
Sial nya. Tak ada yang membantuku, mereka bahkan terang-terangan menertawakanku.
Namun baru beberapa langkah, tanganku ingin memunguti buah lainnya. Tiba-tiba seseorang berdiri di hadapanku dan memberikan sisa buah yang terjatuh sambil menenteng setoples asinan lobak.
Sontak abang-abang keparat itu berhenti tertawa, dan memalingkan wajah mereka menikmati acara menganggurnya.
"Ahh..!" Aku mengangkat kepalaku dan berlahan-lahan berdiri untuk mengambil nya."Terimakasih!!" Ucapku sambil mengambil tiga buah persik dari tangannya dan menaruh di dalam bajuku.
Seorang laki-laki muda, umurnya kira-kira berada di bawahku, wajahnya tampan seperti idol, penampilannya casual namun terkesan rapi, lalu semua barang yang sedang dia kenakan adalah barang-barang mahal. Dan sepertinya, dia bukan berasal dari tempat ini karena aku tak pernah melihat anak seperti dia sebelumnya.
Aku memintanya untuk memberikan setoples asinan itu kepadaku, namun anehnya dia diam saja.
Dia tak bereaksi, dia menatapku dengan tatapan aneh seperti seseorang yang mengenalku sedari lama.
Semua itu tambah membingungkan saat tiba-tiba saja, tak ada angin tak ada badai, dia menangis tanpa sebab di hadapanku.
Aku tercengang. Dalam beberapa detik di saat-saat itu, tubuhku membeku dan terdapat perasaan tak nyaman yang tak bisa ku jelaskan.
Entah apa gerangan yang terjadi, tapi jauh di dalam alam bawah sadarku. Aku seperti sangat mengenalnya meskipun aku tak tahu siapa laki-laki ini. Aku merindukannya meskipun aku tak mengerti.
Berlahan-lahan laki-laki muda itu mengangkat tangannya seperti ingin menyentuh wajahku, namun baru sekedar mengangkat tangannya ke atas, dia berhenti di tengah-tengah.
"Sada!" Panggil seseorang di belakangku.
Aku dan laki-laki tadi kompak menoleh ke arah suara itu. Dan dia buru-buru menghapus air matanya dan menurunkan tangannya.
"Ngapain lu di sini?" Tanya Ichiro Sakusa, salah satu teman-teman Shin yang kenal dengan ku.
Ichiro ini agak somplak, bicaranya serampangan, agak belagu, dan pikirannya terbelakang, tubuhnya besar seperti samson, otot-ototnya menonojol karena penggila olahraga. Kadang Mia menjadikan Ichiro sebagai kuli panggul yang membantu Shin membetulkan ini itu di rumah kami.
Ichiro menatap anak itu dengan tatapan sinis dan mendekat di hadapannya seperti seseorang yang mencari gara-gara.
"woi, lu siapa?" Tanya Ichiro dengan nada menggertak.
Aku memperhatikan mereka berdua dengan tegang. Tapi, meskipun di gertak oleh Ichiro dengan sikap belagunya. Anak ini diam saja dan memandang Ichiro dengan dingin, nyaris tak ada ekspresi.
"Oi kampang. Kalau orang nanya tuh jawab. Anak mana lu!?" Ichiro tambah menjadi, karena selain tukang mencari gara-gara. Ichiro memang di kenal sebagai seseorang yang tak takut mati.
Anak itu diam saja. Sesaat kemudian, dia berpaling mengabaikan Ichiro dan berjalan mendekat ke arahku. Dia nenyodorkan setoples asinan lobak itu kepadaku, lalu membungkuk memberi salam kepadaku dan Ichiro. Dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan kami berdua.
Aku dan Ichiro hanya saling bertatapan melihat pemandangan itu. Karena selama ini aku tak pernah menjumpai anak seperti itu yang tak terganggu dengan sikap Ichiro, dan mengabaikannya seperti angin.
__ADS_1
"Kau kenal siapa dia?" Tanya Ichiro menatap punggung anak itu yang berjalan menjauh dari hadapan kami.
Aku menggeleng. "Tidak!" Ujarku namun tatapanku tak berpaling sedikitpun dari langkah anak itu. "Aku tidak kenal!"