
Kring....
Suara kerincing bel berbunyi saat pintunya ku geser, seolah menyambutku dengan sapaan ramah selamat datang.
Aku berdiri lama terdiam di depan pintu, terpana dengan interior sederhana nan mempesona dari dekorasi tempat ini. Lantainya terbuat dari parquet berwarna coklat gelap, kursi nya di buat agak rendah yang di selaraskan dengan meja bundar kecil-kecil yang di muat untuk para pengunjung masing-masing space dua orang. Lampu-lampu nya berwarna orange yang memberi kesan hangat nan elegan. Dan saat pertama kali masuk, aroma tajam dari liquor menguar menusuk hidung.
Ini adalah pengalaman pertamaku bertemu orang asing di luar tanpa di temani oleh Shin atau Mia. Selama ini mereka tak pernah sekalipun membiarkan ku pergi sendirian karena kasus hilang ingatan itu. Meskipun rasanya menyebalkan karena selalu di anggap seperti bocah umur tiga tahun, tapi tujuan mereka baik.
Mereka bilang akan benar-benar merepotkan jika tiba-tiba aku hilang karena tak tahu tempat tujuan, atau malah mengikuti orang yang tak di kenal lalu menjadi pengikut aliran sesat.
Namun setelah tiga tahun beradaptasi dan mendapatkan kepercayaan dari mereka berdua untuk mandiri, setelah penantian panjang akhirnya aku mendapatkan kebebasan ini.
"Apa dia di sini!" Gumamku sambil menatap layar ponsel. "Dia bilang, dia sendirian. Tapi, dimana.."
Pandanganku terhenti, saat melihat seorang wanita paruh baya mengenakan setelan kulit berpenampilan mencolok dengan rambut merah, dia sedang duduk sendirian memainkan ponselnya di sudut restoran. Sesekali dia menurunkan kaca mata hitamnya untuk mengecek orang yang lalu lalang di sekitarnya.
Di lihat bagaimanapun sepertinya dia adalah orang yang akan ku temui. Karena selain wanita itu tak ada orang lain yang berada di tempat ini dalam keadaan sendirian.
"Selamat sore!" Sapa ku di hadapan wanita itu.
Sontak dia berhenti memainkan ponselnya, menurunkan kaca matanya lalu melihatku dari atas sampai bawah.
"Salam kenal, aku Tanaka Sada. Orang yang menghubungi anda di telpon!" Sapaku sekali lagi.
Dia tak menjawab namun mangkin melototiku dari atas sampai bawah seperti sedang mengintimidasi penampilanku. Tiga puluh detik kemudian dia berdiri dan menghampiriku.
"Duduk lah nak, duduklah!" Ucapnya lalu menggiringku menuju kursi.
"Terimakasih!" Balasku.
"Senang bertemu denganmu, namaku Madam Fleur, panggil saja aku seperti itu. Terimakasih sudah datang, kau terlihat natural dan sangat cantik. Semua ini di luar bayanganku!!" Ucapnya menjulurkan tangannya dan langsung membuka percakapan dengan bersemangat.
"Terimakasih Nyonya, saya tersanjung!" Balasku.
"Panggil saja aku Madam!"
"Ahh..baiklah!" Aku mengiyakan.
"Oh ya, ngomong-ngomong apa kau sudah bekerja atau masih berstatus pelajar?" Tanyanya.
"Saya bukan pelajar, saya seorang NEET!" Jawabku malu.
__ADS_1
"Benarkah." Dia meragukanku, "memangnya berapa umurmu?"
"Ahh..Kira-kira dua puluh tiga tahun!"
Dia mengernyitkan kening. "Kira-kira?"
"Ahh..di KTP tertulis seperti itu!" Balasku sambil tersenyum kecut.
Sontak dia tertawa terbahak-bahak bahkan sampai membuat pengunjung tempat ini memperhatikan nya.
"Hahahahaha..Kau ini ternyata anak yang lucu ya. Cara bicaramu juga menarik. Hahahahaha!!"
Aku mengimbanginya juga dengan tertawa garing sambil menyembunyikan wajahku.
"Sepertinya kali ini aku benar-benar menemukan permata. Berbeda dengan gadis-gadis yang sebelumnya ku temui!!" Dia tak hentinya tertawa.
"Maksud Nyonya!" Aku penasaran. "Memangnya kenapa dengan orang yang anda temui sebelumnya?" Aku penasaran.
"Yah kau tau!" Dia berhenti tertawa. "Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang hanya di lakukan oleh wanita muda yang putus asa!!" Balasnya sambil menatapku.
Aku menunduk lalu membuang muka.
"Tentu kau tahu apa maksud dari perkataanku kan!"
"Biasanya mereka adalah para remaja yang kurang perhatian dari keluarganya sehingga memutuskan untuk kabur dari rumah dan mencari peruntungannya sendiri, ada juga yang iseng-iseng dengan alasan bersenang-senang, dan bahkan ada yang sudah menjadi pel*c*r pro sejak SMP karena trauma *****al. Mereka memang sengaja mencari pekerjaan semacam ini untuk berbagai alasan, namun aku tak terlalu tertarik karena mereka biasanya hanya menyajikan servis dari pada skill!!"
"Menyajikan servis dari pada..skill!" Aku bingung.
Madam fleur terheran-heran menatapku.
"Apa kau juga seseorang yang kabur dari rumah, atau mungkin seorang istri yang mencari pelampiasan di luar!" Tebaknya.
"Bu-bukan kedua-duanya. Saya hanya gadis normal biasa yang membutuhkan uang untuk biaya hidup!!" Balasku gelagapan.
Dia memajukan tubuhnya sampai kepalanya berada di tengah-tengah meja.
"Apa kau ini anak baik-baik yang di sayangi oleh keluargamu, tapi karena tuntutan ekonomi kau malah memilih menjual diri?" Tanyanya.
Aku memalingkan wajahku karena tak tahu harus mengatakan apa.
"Ohhh..!" Dia mengangguk dan duduk lagi di kursinya. "Kalau tebakanku benar, berarti kau juga masih perawan. Apa aku berlebihan?"
__ADS_1
Aku tak membalasnya. Memangnya apa yang bisa ku katakan.
"Baiklah, sepertinya aku terlalu banyak bicara!" Ucapnya sambil merogoh sesuatu di dalam tasnya.
Kemudian dia memberikan seberkas dokumen kepadaku yang di susun rapi dalam sebuah map.
"Bukalah!" Pintanya.
Aku mengambil map itu dan membukanya. Lalu terpampanglah foto lelaki bule blasteran tampan tiada banding, dan di lihat dari komposisi bobot pengambilan visualnya sepertinya dia bukanlah orang sembarangan. Aku menyimpulkan demikan karena foto itu di ambil di depan perusahaan terkenal yang amat sangat di cintai oleh masyarakat jepang karena perusahaan tersebut banyak membantu kinerja dan kualitas negara ini.
Foto berikutnya pun sama, namun di ambil pada sudut yang berbeda. Dia memakai setelan jas mahal dengan berderet orang-orang memakai kaca mata hitam di kiri dan kanannya. Dan mau di lihat bagaimanapun dari sudut dan cara pengambilan gambarnya, orang ini bahkan tak punya celah untuk menggambarkan ketidaksempuranaan. Benar-benar seperti mahakarya tuhan yang tak terbantahkan.
"Itu targetmu. Namanya Yuaga Archie, anak konglomerat terkenal dari perusahaan YJ yang di pimpin oleh ayahnya Yuaga Konisuke. Kau mungkin tak asing dengan namanya karena beliau ini merupakan orang kenamaan di jepang yang bahkan di sandingkan keberadaanya dengan dewa pembawa kemakmuran!" Dia menjelaskannya.
Aku terus melihat keseluruhan foto yang ada di dalam map itu lembar demi lembar sampai pada foto terakhir yang memperlihatkan sosoknya di ambil dari sudut terdekat.
"Heh..dia mirip seseorang!" Gumamku sambil mengusap foto itu.
"Kau bilang apa nak?" Dia mendengarku.
"Ahh..tidak. tidak ada!" Aku canggung. "Lalu, apa yang harus saya lakukan kepadanya?"
Madam Fleur sontak menyeringai dan menatapku dengan pandangan mengejek.
"Melakukan apa maksudmu. Tentu saja kau akan menggodanya sampai kalian bercinta semalaman!"
Aku mengangkat kepalaku dan menatap Madam Fleur dengan wajah pucat.
"A-aku harus meng-mengodanya lalu kami.." aku shock dan gelagapan.
Madam Fleur tambah menyeringai mendengar jawabanku.
"Ta-tapi bukankah di selebaran itu tertulis jika pekerjaan ini tak mengarah langsung ke arah itu, maksudku bukannya artinya tak sampai melakukan hal itu!" Ucapku seperti orang bodoh.
"Ahh entahlah. Tapi dari persyaratan yang di ajukan, seharusnya kau tahu jika kami membutuhkan gadis-gadis dengan kriteria seperti itu memang di peruntukan untuk hal-hal berbau prostitusi, harusnya kau langsung memahaminya kan!" Jawab Madam Fleur.
Aku tertunduk. Dari awal sebaiknya aku pergi saja dan tak mengambil pekerjaan ini karena terlalu beresiko.
"Tapi memang, kau di tugaskan bukan untuk melayani pria hidung belang seperti yang kau pikirkan!" Ujarnya sebelum aku berfikir untuk pergi dari tempat ini. "Melainkan menjalankan misi khusus untuk melakukan sesuatu!"
"Maksud anda?" Tanyaku.
__ADS_1
"Akan ku jelaskan nanti, tapi sekarang pulangnya lah. Karena besok kau akan langsung bekerja dan menerima bayarannya." Ujarnya sambil berdiri dan memasang kacamata hitamnya. "Bersiap-siaplah, akan ku hubungi saat waktunya tiba."
Aku duduk termangu memandangi foto di balik map itu. Sesuatu terasa mengganjal saat aku menatap nya di balik selembar foto, tapi aku tak tahu apa, aku tak mengerti perasaan ini.