Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Bunga Tanpa Kelopak Part 3


__ADS_3

"Abis dari mana?"


Aku terperanjat.


Archie menatapku heran sembari menunggu-nunggu jawaban, dia santai saja sembari menautkan kedua tangannya di dada. Ternyata dia sudah keluar dari sangkarnya, bahkan keadaanya sekarang sudah jauh lebih baik dari beberapa hari yang lalu, sepertinya kekalutan keparat itu telah beranjak dari kepalanya.


"Ahh, itu aku habis belanja bahan makanan!!" Jawabku berbohong.


"Sendirian!" Tanyanya tambah mengintrogasi.


Aku mengangguk dengan berat, dia pasti akan memarahiku habis-habisan.


"Apa Hendri tau?"


Aku menggeleng sembari memejamkan mata. Akan gawat kalau dia tahu kalau Hendri lah yang mengijinkanku untuk pergi sendirian.


Dia mendekat ke arahku, aku gemetar. Lalu menjatuhkan wajahnya ke hadapanku karena tinggi kami berdua pun berbeda jauh.


"Untunglah!" Ujarnya lalu memelukku. "Untunglah, lu ga kenapa-napa!!" Dia semangkin memelukku sampai rasanya hampir sesak.


Hei, ada apa ini, kenapa dia tak marah? Ini di luar dugaan, dia bahkan tak memakiku dengan umpatan seperti biasanya.


"Kau tidak marah?" Dasar bodoh, aku malah menggali lubang kuburku sendiri, dan menanyakan sesuatu yang tak perlu ku tanyakan.


Archie tersenyum hangat, "hooh, tentu aja gua marah!!" Jawabnya. Sialan, dia beneran jadi mirip psikopat jika mengatakan hal berkebalikan dari ekspresi wajahnya.


"Maaf, lain kali aku tak kan mela..."


"Hendri bilang lu lagi pergi ke rumah Dafa buat nyari Sakurai!!" Potongnya.


"Aaakk...ah itu.." Tubuhku membeku, bahkan mulutku seperti tersumpal. Ini kebohongan yang bahkan tak punya jalan lain untuk berbelok.


"Lu tau kan, gua selalu bertindak agresif jika menyangkut tentang lu!?" Dia mengitariku, "jangankan berbohong, lu juga gabakalan punya kesempatan buat sembunyi!" Wajahnya masih tersenyum. Menyeramkan.


"Sini!!" Ujarnya sambil menggiringku untuk duduk dengannya di atas sofa. "Jadi, Nyonya Yuaga. Apa yang sedang kalian berdua bicarain?!"


"Ahh, begini!" Aku pun menceritakan semuanya, apa yang di katakan oleh Sakurai padaku dan juga reaksinya saat aku mengatakan segalanya pada Sakurai. Archie tak berkomentar apa pun dia hanya menyimak perkataanku tanpa menyela sampai akhir.


"Archie, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

__ADS_1


"Nanya aja!!" Jawabnya.


"Itu, Ibunya Sakurai sedang sakit apa? Apa sekarang dia baik-baik saja?" Tanyaku.


Archie menatapku dalam-dalam, sejurus kemudian ekspresinya berubah syahdu.


"HIV AIDS!!" Jawabnya.


Aku membekap mulutku sendiri karena kaget.


"Ahh tenang aja, bokap gua bersih kok. Wanita itu sakit setelah 10 tahun melahirkan anak itu, mungkin itu juga alasannya kenapa dia membuang anak itu!!"


"B-bukan, kenapa kau sampai berfikir aku harus tau kalau ada yang tertular!!" Ujarku meledak.


"Habisnya, pertanyaan lu merujuk ke gua?" Balasnya tak mau kalah.


"P-pokoknya aku tak bermaksud sampai mengadili keluarga mu!"


"Apasih, lu kalau lagi goblok kek gini keliatan imut banget!!" Ucapnya dan mengacak-acak rambutku.


"Archie, hentikan. Sakit!!"


"Hahahaha.." dia tak mendengarkan ku.


Archie diam sejenak dan berpaling sebentar, "nyokapnya udah lama meninggal!" Jawabnya. "Kejadiannya singkat banget, di hari itu.."


"Di hari itu?" Desakku.


"Yah..hidup ini singkat!" Balasnya, "gua datang nyari anaknya karena keinginan terakhir wanita itu. Hari itu, hari terakhir wanita itu hidup, anaknya pun menyaksikan sendiri, seorang wanita paruh baya yang renta karena penyakit, mati dengan bahagia karena di temani anak yang telah dia lahirkan dengan kasih sayang, yang bahkan anaknya itu sendiri ga ngerti bagaimana cara membalas perbuatannya."


Archie diam sesaat. "Gak lama setelah wanita itu meninggal, di temukan pesan wasiat mengenai alasan wanita itu membuang anaknya. Karena penyakitnya, wanita itu juga ga mau anaknya menanggung malu karena hidupnya juga ga bakalan lama lagi."


Mengenaskan, aku bisa merasakannya sendiri bagimana kepedihan yang selama ini di rasakan Sakurai. Orang tua terutama seorang ibu, nasehatnya kadang meragukan, ketinggalan jaman, tak penting, tak keren, membuat sebal, dan selalu menggunakan pengalaman dirinya sendiri untuk menasehati, namun pasti, di ujung sana, kelak, nasehat merekalah yang akan menjadi panutan dalam mengemban kehidupan di dunia ini.


"Lu kenapa?" Tanyanya yang melihatku melamun.


"Engga!!" Aku mengusap wajahku sendiri. "Aku jadi kangen ibuku!"


Archie meresponku juga dengan senyuman sembari mendekapku di pelukannya, "gua juga. Gua juga kangen mommy."

__ADS_1


**************


"Sampai kapan gua di sini terus!!" Keluh Dafa,"Gua udah bosan karena ga bisa ngapa-ngapain!!"


"Bukannya tadi lu bilang sendiri kalau lu bersyukur tinggal di sini, lu bisa makan 3 kali sehari tanpa lauk kecap!!" Celetuk Archie.


"Bukan masalah ga bersyukurnya Yang Mulia, tapi gua bosan ga bisa ngapa-ngapain karena jaringan gua di batesin!!" Dafa meradang sampai memanggil Archie dengan Yang Mulia.


"Untuk saat itu, hanya itu yang bisa kita lakukan. Akan bahaya jika kita ketahuan oleh pihak musuh, lagi pula tempat ini memang sama tak terlacaknya di data satelit." Sambung Hendri menengahi.


"Sialan, gua udah hampir ga tahan ga nonton xxxx pake akun gua!!" Dafa tambah mengeluh.


"Cih..pengkocok biadab, pacaran aja lu!!" Archie tambah memprovokasi.


"Siapa yang kau panggil bla bla bla..."


"Lu bangsat, dasar bla bla bla.."


Sepertinya nyawa dan raga mereka berdua telah kembali, pertengkaran seperti ini patut lah di syukuri karena memang anugerah.


"Nyonya, bagaimana perkembangannya, apa Nyonya sudah membicarakan semuanya dengan Tuan Muda?" Hendri mendekatiku di tengah-tengah pertengkaran mereka yang mangkin meradang.


"Yah begitulah, aku sudah melakukan apa yang ku bisa dan mengatakan semuanya. Ku harap dia kembali secepatnya!" Jawabku.


"Terimakasih Nyonya, anda memang wanita pemberani yang sangat pantas mendampingi Tuan ku!" Puji Hendri membuat hatiku mengepak-ngepak kegirangan.


"Hahahaha..iya terimakasih!!" Balasku malu.


"Ahhh dasar lu bla bla bla..."


"Nolep ******, bla bla bla..."


Mereka berdua tambah menjadi bahkan saling menerjang dengan umpatan.


Tok tok tok....


Seseorang mengetuk pintunya dari luar.


"Tukang pizza? Ada yang memesan pizza?" Ucap Hendri kebingungan sambil melihat monitor cctv.

__ADS_1


Kami serentak menggeleng.


Tanpa mengambil aba-aba, Hendri sudah siap dengan shotgun di tangannya dan mengendap berhati-hati untuk menyergap seseorang yang sepertinya berpura-pura untuk mengantarkan pizza.


__ADS_2