
Leon tersenyum menerima balasan Lexa. Wajahnya memerah dan menyeringai mengingat mereka berpelukan atau Lexa yang senang mengusap usap rambutnya. Sungguh momen yang sangat menghangatkan hati.
Dia lalu merapihkan dasinya dan mengambil jasnya bersiap menjemput Lexa karna waktu sudah menunjukan pukul empat.
Dia mengarah ke ruangan bos nya terlebih dahulu untuk meminta ijin, karna bos nya masih bertandang di ruangannya.
"Bos??" Panggil Leon perlahan sambil mendorong pintu ruangan bosnya.
Ternyata Dion sedang melamun. Tangannya memegang sebuah foto dan tatapannya memandang ke jendela luar.
"Bos, kau baik baik saja?" Tanya Leon lirih. Dion tersadar karna pertanyaan asistennya.
"Leon, cari tahu kenapa Viena sekarang dangat dingin?" Tanya Dion frustasi. Dia lalu menatap foto tersebut. Foto itu adalah foto Viena.
"Baik Tuan, aku tahu siapa orang yang mengetahuinya," Leon langsung mengingat Lexa.
"Ya, tapi jangan terlalu terbaca ya, pergilah, kau mau menjemput orang itu bukan?" Perintah Dion masih memandangi foto Viena.
"Permisi bos," pamit Leon.
Dia lalu keluar dari ruangan bos nya dan menuju lobby parkiran. Tak lupa dia mengedipkan mata pada Renzy yang membalasnya dengan desisan menyebalkan pada Leon.
Leon melewati lobby utama untuk sampai ke lobby parkir hotel prime. Hotel Prime hari ini tampak ramai padahal baru hari kamis. Tampaknya ada sebuah acara yang menyewa Hotel Prime sebagai tempat pertemuan atau tempat menginap. Pikir Leon dalam hati ketika melihat ruang seminar yang berada dekat lobby utama tampak terdapat dua meja seperti meja penerima tamu.
"Leon?" Tiba tiba Leon mendengar suara wanita yang sepertinya ia kenal memanggilnya. Leon mencari cari asal suara tersebut.
"Leon, kau Leon kan?" Akhirnya wanita itu menghampiri Leon dari belakang dan membalikan tubuh Leon.
Leon tercengang, ternyata yang memanggilnya adalah Solane. Solane tampak lebih cantik dan langsing. Lesung pipitnya yang khas menghiasi senyum manisnya yang mengarah padanya.
"Leon, kau tambah...." Solane mengelilingi Leon.
"Kau tampan sekali, dan lebih gagah, ting!" Solane mengedipkan matanya. Leon sedikit bergidik, sejak kapan Solane begitu genit. Pikirnya.
"Aku bukan Leon, kau salah orang, permisi,"
Duar!! Seperti petir yang menyambar hati Solane. Pria yang dia yakini pasti Leon, kekasihnya yang memergoki dirinya berselingkuh menolaknya dengan mengatakan tidak mengenalnya!
__ADS_1
Mata Solane benar benar membelalak. Dia lalu menahan Leon untuk berlalu.
"Kau?! Tidak mungkin kau bukan Leon, mata lancipmu yang selalu ku sukai, mulut tipismu yang selalu kurasakan, dan tanganmu ini, kau pasti Leon! Aku Solane, Leon!" Katanya lagi meyakinkan. Solane sangat yakin kalau pria tampan ini adalah Leon.
"Tidak Nona, saya bukan Leon, minggir!" Leon menghempaskan tangan Solane sehingga membuat Solane hampir terjatuh.
"Tidak! Aku tidak mau lagi berhubungan dengannya! Dia ular betina pertama yang pernah kutemui, aku harus segera menemui Lexa agar pikiranku tenang!" Decak Leon dengan terus berjalan sampai lobby parkir.
Solane yang merasa dipermainkan akhirnya memutuskan mengikuti kemana Leon pergi.
........
Lexa sudah siap pulang. Dia melirik lebih dulu ruangan bos nya. Bos nya masih di sana. Lexa lalu menghampiri ruangan nyonya nya untuk meminta ijin.
"Madam, kau masih disana?" Tanya Lexa basa basi, padahal gadis itu masih mengetahui kalau atasannya masih di tempat.
"Ya Lex, ada yang mau kutanyakan padamu, masuklah," perintah Viena masih memegang berkas pekerjaannya.
"Mengapa berkas persetujuan ini banyak sekali? Apakah proyek kita sebanyak ini beberapa bulan ini?" Tanya Viena mengecek berkas berkas.
"Stop!! Aku tahu, bantu aku untuk membereskan data yang belum ku tanda tangani, karna aku mau pulang, akan kukerjakan dirumah. Biar bagaimanapun data ini harus kubaca dulu kan?" Perintah Viena menyampingkan tubuhnya dalam kursi agar Lexa dapat membantunya.
"Memang seharusnya seperti itu madam, dan lagi jangan lupa lusa kau harus datang ke reunimu, madam," Lexa yang sudah mulai memisahkan berkas berkas mengingatkan Viena.
"Aahh, aku saja lupa, lihat nanti saja!" Decak Viena menopang dahinya. Lexa tersenyum melihat respon Viena yang masa bodo namun seperti ada sesuatu yang membuat atasannya harus datang.
"Nyonya, sudah selesai, bisakah aku pulang dulu?" Lexa sudah menyelesaikan perintah Viena dengan sangat cepat dan rapi. Pasalnya berkas berkas tersebut dia yang memberikannya jadi dia tahu mana berkas yang harus dibaca dan ditanda tangani. Selain itu dia juga sudah meletakannya pada map karna Viena terkadang ceroboh dan asal saja. Maunya semua dikerjakan secara instant dan tidak mau repot.
"Kau mau kemana? Tidak biasanya! Apa benar gosip itu kau sudah dekat dengan Leon?" Selidik Viena masih menopang kepalanya dan menelengkan kepalanya ke arah Lexa.
"Sedikit, dia mau menjemputku di bawah jam 5 sore, sekarang sudah telat lima menit, bisa aku pulang?" Jawab Lexa serabutan agar atasannya tidak mengintrogasinya lagi.
"Ya sana sana, salamkan salamku padanya, semoga dia tidak seperti tuannya!" Decak Viena melambai lambaikan tangannya pada Lexa.
Lexa tersenyum dan segera ke bawah. Dia menaiki lift karna terbuka dengan cepat. Ketika keluar dari lift, Leon sudah bertandang di sofa tunggu lobby.
Lex tersenyum sangat lebar. Dia agak merindukan pria yang sedang mendekatinya itu. Pria itu sedang mengusap usap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Leon, kau sudah lama?" Lexa menepuk bahu Leon kini sedang melamun menopang dagunya.
"Ah Solane, sudah kubilang jangan dekati aku lagi!" Leon menghempaskan tangan Lexa yang dia kira adalah Solane. Sejak dia sudah menunggu Lexa di lobby dia terus memikirkan Solane yang sudah dua tahun tidak bertemu.
"Aku Lexa, siapa Solane, heemm pacarmu yaa?" Gurau Lexa, namun dalam hatinya ada rasa seperti tercubit.
"Tidak, dia bukan siapa siapa ku, pacarku ya kamu, kelinci kecil!" Leon menyentil hidung Lexa.
~ aizz, ada apa denganku ini menyebut nyebut nama Solane di depan Lexa?! Sungguh konyol! ~ pikir Leon dalam hati sambil menggaruk garukan kepalanya.
"Jadi hari ini kita mau ke --,"
"Oohh, jadi ini temanmu yang mau kau kenalkan padaku, Leon sayang?" Tiba tiba Solane datang dan meraih lengan Leon. Dia bergelayutan seperti anak dan ibu.
Leon benar benar terkejut. Dia terkesiap lalu berusaha melepaskan pegangan Solane.
"Hay, aku Solane, pacarnya Leon," Solane mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Lexa.
Jantung Lexa seperti disambar petir. Dan hatinya sangat sakit. Sakitnya seperti waktu iya mengetahui ibunya sudah tiada.
Lexa yang merasa memang bukan siapa siapa mengulurkan tangannya terbata.
"Lex - xa .." katanya dan tersenyum masam.
...........
Yaelah pelakor yang selingkuh ada ga sih sebenernya?
Aku gemes lho yang ngetik 😅
Next part 11 ya 😘
Biar ga selek sama Leon, dikasih foto Leon Lexa ya 😁
yuhhuu yang uda liat gambarannya Lexa aku ganti ya jadi Shin Se-kyung artis korea soalnya kayaknya lebih dingin n tajeman Se-kyung ketimbang Nana hehe 😁
__ADS_1