
"Lexa, kemarilah, biar kuberitahu apa saja kesukaan Angel! Kau ingin merebut hatinya kan? Kemari duduk di sini sambil menikmati coklat panas nya!" Ajak Jane ke ruang makan lagi setelag memastikan Angel pergi.
"Bagaimana bi?" Lexa mengukuti Jane menuju ke dapur dan duduk kembali di kursi makan.
"Bi? Mom! Biasakan Lexa! Anggap aku mommymu! Aku benar benar tidak apa! Aku yakin kau akan bersama anakku! Kau juga mau bersama anakku kan?" Kata Jane mengingatkan.
"Hem, tapi Leon juga belum menyatakannya padaku bi, eh mom! Aku sedikit khawatir dia hanya ingin dekat denganku, tidak lebih!" Lexa menundukan kepalanya.
"Kau jangan begitu! Jangan pesimis! Leon anakku! Aku tahu bagaimana dirinya! Dia hanya trouma Lexa. Solane menyelingkuhinya. Padahal Leon sangat mencintai Solane. Ya, kami hanya keluarga sederhana, sementara Solane anak bupati, kau tahu kan?" Jane menoleh sedikit sambil mempersiapkan sarapan lainnya.
"Ya mom! Semoga semua sikap Leon padaku akan berujung pada penyatuan mom. Jadi bagaimana dengan Angel bi, eh mom. Maaf aku belum terbiasa hehe" Lexa terkekeh dan mengingat persoalannya tentang Angel.
"Sebelumnya maaf Lexa, dimana your mom? Leon belum menceritakannya. Leon sangat tertutup kali ini. Dia ingin dia yang mengertimu lebih dulu ketimbang keluaragany, hehe.." kini Jane duduk di samping Lexa. Jane sudah membawa garlic bread untuk sarapan.
"Tidak apa mom. Mommy ku sudah meninggal." Jawab Lexa tersenyum.
"Oh Lord! I'm sorry girl!" Jane menyentuh puncak tangan Lexa.
"It's oke mom! Semuanya juga pasti akan meninggal, tinggal menunggu Tuhan mencoret nama kita di bumi saja. Kau tidak usah merasa bersalah, mom, hehe." Lexa terkekeh mencairkan kecemasan Jane.
"Ya ya kau benar. Kau benar benar sangat bijaksana Lexa. Kapan ibumu meninggal sampai kau tak terbiasa memanggil mom, sayang?" Tanya Jane lirih.
"Sewaktu aku high school, sepertinya kelas 1 atau 2 SMA hehe. Aku lupa mom. Semua terjadi begitu saja. Sejak aku kecil sepertinya saat aku sekolah dasar ayahku pergi. Aku tidak tahu beliau di mana. Kata ibuku dia bekerja. Tapi tidak pernah kembali sampai sekarang. Jadi ibuku yang kerja banting tulang membiayaiku dan dirinya. Ibuku seorang pekerja keras dan dia bisa membiayai sekolah sampai aku SMA aku harus dititipkan pada temannya suster Regina karna dia sakit. Terakhir aku melihat dia menangis dan merindukan ayahku. Ayahku tidak tahu kemana. Walaupun begitu aku masih mengharapkan beliau hidup, mom. Hem sudahlah seperti itu calon anakmu mom, sebatang kara, hehe. Tapi, Leon datang. Sejak ada Leon aku tidak pernah sendiri lagi. Ya, sebenarnya ada majikanku Nyonya Viena. Istrinya Tuan Dion mom. Tapi, ya dia memiliki kesibukan, aku tidak bisa tergantung padanya terus. Iya kan mom?" Jelas Lexa. Wajah Lexa yang tadinya agak muram berubah menjadi sedikit sumringah karna menyebut nama Leon.
Hati Jane menganga mendengar cerita Lexa. Dia terharu dan merasa kalau wanita ini sangat tepat untuk anaknya. Karna Lexa juga Leon menjadi berubah lebih perhatian dan tidak seenaknya. Dia lalu menepuk bahu Lexa.
"Kau hebat sekali nak! Meskipun tanpa orang tua, kau bisa menjadi wanita yang mandiri dan kuat. Aku bangga padamu. Kau harus menjadikan menantuku! Aku akan menjadi ibumu selamanya! Kalau Leon menyakitimu, aku yang akan menyadarkan pikirannya!" Gumam Jane tersenyum.
"Terimakasih mom. Eng jadi apa yang harus kulakukan untuk memenangkan hati Angel?" Lexa kembali mengingat tentang membuat Angel menyukainya.
"Dia sangat suka merangkai bunga. Dia sangat antusias jika ada seseorang membicarakan bunga dengannya. Hem, dia juga suka boyband Lexa, alamak anak perempuan itu saban hari mendengarkan lagi lagu yang bahasanya aku tidak mengerti! Ya, kau bisa kan mendekatinya dengan itu semua. Dan, kalau kau mau, minta dia untuk mengajarimu merangkai bunga. Angel nomor satu di desa ini merangkai bunga. Dia memiliki rumah kaca di dekat kebunku, tapi tidak besar. Nanti kuantar kau kesana ya?" Jelas Jane antusias.
"Benarkah mom? Baiklah aku juga ingin melihat lihat kebun bunga nya. Pasti sangat indah kan mom?" Lexa ikut antusias dengan penjelasan Jane.
"Tentu. Sekarang kau sarapanlah, nanti aku antar kesana setelah Juan bangun." Jane mendekatkan garlic bread di depan Lexa.
"Mom, Angel tidak bersekolah?" Tanya Lexa sedikit penasaran. Dia agak cemas kalau Angel memang tidak mau melanjutkan sekolahnya.
"Sudah lulus dan dia tidak mau melanjutkan, katanya uangnya akan ia tabung membuat sebuah taman rekreasi penuh bunga di Springfield ini. Dia mau jadi pengusaha saja katanya." Jawab Jane membuat Lexa sedikit bangga dengan keinginan calon adik iparnya yang dingin terhadapnya itu.
"Oh iya itu lebih baik. Eng satu lagi pertanyaanku mom. Kata Leon kalian memiliki kebun pisang? Aku sangat suka pisang langsung petik mom!" Tiba tiba Lexa penasaran dengan kebun pisang yang selalu Leon katakan.
"Pisang? Kalau jeruk ada. Kalau pisang, sepertinya disini tidak ada kebun pisang Lexa. Eng, coba nanti kutanya suamiku ya?" Jane mencoba mengingat ingat kebun buahnya tapi tidak ada buah pisang.
"Ugh, musang licik! Memang maksud lain kau mengatakan pisang, bedebah!" Gumam Lexa pelan.
"Ada apa dengan musang Lexa?" Tanya Jane yang kini kembali ke meja dapurnya.
"Oh tidak mom. Waktu kemarin aku turun dari bus aku melihat musang berkeliaran di dekat halte mom." Saut Lexa berbohong. Yang dia maksud adalah Leon.
"Oh, mungkin musang liar." Balas Jane.
"Iya mom liar sekali aku sampai ngeri melihatnya!" Decak Lexa masih dengan maksud Leon, sampai ..
"Ngeri apa kau! Rabies!" Tiba tiba Leon sudah bangun berada di belakang Lexa dan memukul pelan puncak kepala Lexa.
...
Setelah sarapan dan Leon membersihkan dirinya, mereka menuju ke perkebunan jeruk milik keluarga Janson. Saat itu sedang panen dan banyak orang yang sudah menunggu kedatangan Jane membuka gerbang perkebunan Jeruknya. Mereka hendak membelinya dari Jane, namun Jane memberikah harga murah pada mereka, bahkan Jane dan Larry tidak memintanya, mereka semua yang memberi seiklasnya pada Jane dan Larry. Di mana uang tersebut akan dibuatkan seperti makanan kecil untuk mereka juga. Sejak Leon bekerja bersama Dion, perekonomian mereka sangat lancar bahkan lebih. Jadi, pekerjaan mereka berkebun hanya mengisi waktu luang saja. Leon benar benar seorang anak yang berbakti.
__ADS_1
"Selamat datang. Maaf menunggu lama." Sapa Jane kepada tetangga tetangga Jane dan Larry yang sudah menunggu memetik jeruk jeruk orange merekah itu.
"Tidak apa Nyonya Janson. Wah, ini Leon anakmu itu ya?" Saut seorang teman Jane dan terperangah melihat Leon yang pergi merantau dan baru kembali.
"Begitulah Nyonya, kau masih ingat ya?" Jawab Jane tersenyum.
"Tentu, kau tampan sekali sekarang, dan ini siapamu Leon? Cantik sekali?" Salah satu teman Jane menyapa Leon dan juga Lexa.
"Saya Lexa bibi, te -- " jawab Lexa sopan.
"Calon istriku bibi!" Leon memotong perkataan Lexa yang hendak mengatakan temannya lalu merangkul Lexa.
"Pegang kata kata mu!" Lexa memukul pelan dada Leon.
"Ya ya kalian sungguh serasi. Kalian dari Legacy ya? Wah, Nyonya Janson anakmu hebat sekali ya bisa bekerja di sana!" Puji nyonya tersebut.
"Kau bisa saja! Sudah, ayo masuk!" Saut Jane yang sudah membuka gerbang kayu perkebunan jeruknya.
"Jane, ini benar Leon?" Tiba tiba seorang wanita peruh baya lebih tua dari Jane menghampiri Jane, Lexa dan Leon.
"Ya Liz, anak laki laki yang selalu mengambil daging asap mu diam diam!" Saut Jane.
"Leon, apa kabar nak?" Lizzie, teman dekat Jane memegang lengan Leon. Lizzie juga merupakan pengasuh Solane dulu.
"Baik bibi Lizzie! Aku merindukanmu bi!" Leon melepas rangkulannya pada Lexa lalu menghampiri Lizzie dan memeluknya.
"Ya aku juga merindukanmu. Kau sangat luar biasa sekarang. Siapa wanita ini? Kau sudah melupakan Solane kan?" Bisik Lizzie membungkukan tubuh Leon yang sangat lebih tinggi darinya.
"Sudah bibi, kau tenang saja, dan di sampingku ini melebih Solane bi, aku akan menikahinya, kau setuju kan?" Bisik Leon lagi meminta restu Lizzie.
"Sangat! Dia bisa masak?" Tanya Lizzie bergumam.
"Bisa bi, masakannya luar biasa enak, dia bisa membuat roti isi tuna mayo kesukaanmu." Jawab Leon melebihkan.
"Tenang saja bi!"
"Kalian berbisik apa! Aku saja tidak pernah seserius itu dengan anakku!" Decak Jane yang menyadari Leon dan Lizzie berbisik. Lexa tersenyum melihat tingkah Leon dan perkataan di dalamnya karna Lexa mendengar bisikan bisikan Leon dan Lizzie.
"Kau jangan cemburu Jane, Leon ini memang anakku!" Lizzie menepuk dada Leon pelan.
"Sudahlah, ayo ambil jeruk ini nanti kehabisan kau merajuk!" Ajak Jane dan memasuki kebun bersama orang lainnya lebih dulu.
"Lexa, ini Bibi Lizzie. Dia teman dekat mom, dan dulu pernah bekerja bersama Tuan Reynald dan Solane." Leon akhirnya memperkenalkan Lizzie pada Leon.
"Ah, benarkah? Selamat pagi bibi, aku Lexa. Sebenarnya Leon belum memastikanku menjadi temannya, kekasihnya atau apa bi. Aku harap bibi menasihatinya." Lexa membungkukan tubuhnya seraya menyindir Leon.
"Benar itu Leon?!" Selidik Lizzie melirik tajam Leon.
"Ya, sebentar lagi bibi, tapi kan aku sudah bilang aku akan menikahinya!" Leon masih membela diri.
"Harus ya?! Yasudah, ayo Lexa kita masuk ke kebun. Kau juga harus mengetahui perkebunan ini!" Lizzie akhirnya mengajak Lexa dengan memegang lengan wanita muda itu memasuki kebun jeruk yang sangat luas itu.
Leon tersenyum melihat pemandangan hangat ini. Banyak yang menyukai Lexa karna perawakannya yang tidak berlebihan dan sangat ramah dengan siapapun. Leon pun berharap adiknya juga akan menyukai Lexa.
Lexa memetik jeruk bersama Leon dengan sangat antusias. Beberapa kerabat Jane membantu Lexa dan Leon karna mereka masih amatir. Leon dulu sangat pandai, tapi sekarang sudah lupa karna sudah tidak memegang pohon pohon ini lagi melinkan komputer. Tak berapa lama Lexa melihat sosok seorang gadis yang sangat ia kenal melewati kebun jeruk menjinjing keranjang bunga bersama seorang pria. Gadis itu tak lain Angel.
"Leon, itu Angel. Dia bersama siapa?" Tanya Lexa menyenggol dada Leon pelan yang didengar oleh salah satu kerabat Jane.
"Angel bersama Nigel Nona Lexa. Sudah beberapa bulan ini mereka sangat dekat. Ibumu juga tahu, Leon." Saut seorang bibi kerabat Jane.
__ADS_1
"Nigel siapa bi?" Selidik Leon hendak mengingat namun sepertinya Nigel anak baru Springfield.
"Dia anak pindahan Oriental. Ayahnya memiliki sejumlah perkebunan dan termasuk orang terkaya di sini Leon." Jawab bibi itu menjelaskan.
"Oh, aku kalah ya bi?" Leon bergurau.
"Sepantar sepertinya Leon, namun kau kan yang bekerja. Nigel bersandar pada ayahnya. Beberapa kali dia sering membuat pesta di rumahnya bersama teman temannya." Tambah bibi itu.
"Oh begitu ya. Biarkan saja Lexa, semoga Nigel anak yang baik bisa dekat dengan Angel dan merubahnya." Leon mencoba mengerti kehidupan cinta adiknya.
"Iya Leon. Semoga pria itu bisa merubah sikap sinis Angel padaku juga, hehe.." saut Lexa tersenyum.
"Benar, sudah ini jeruknya Lexa, aku sudah bisa memetik banyak seperti ini kau masih satu, kau tampung saja jeruk jeruk ini, aku yang memetiknya. tanganmu kecil sekali!" Sungut Leon yang menyadari Lexa sulit sekali memetik satu jeruk saja.
"Ugh, kau ini, baiklah!!!"
Setelah memetik banyak jeruk dan waktu menunjukan makan siang. Lexa, Leon dan Jane kembali ke rumah. Larry tidak datang ke kebun karna harus melihat kebun sayur mayur mereka. Ya, setiap bulan Leon selalu mengirim orang tuanya dengan lebih. Kelebihannya ditabung oleh ayah dan ibunya untuk membeli lagi lahan, jadi bisa dikatakan Leon dan keluarganya memiliki beberapa kebun buah, sayur dan bunga.
Semua orang sudah memanen jeruk dan juga kembali ke rumah. Ketika mereka berjalan menuju rumah mereka, sebuah sepeda motor dengan seorang pria muda dan seorang gadis muda. Gadis itu ia pikir Angel karna pria muda tersebut Nigel, namun ternyata bukan Angel. Lexa melirik tajam ketika sepeda motor itu sudah melewati mereka, Leon dan Jane juga. Tapi Jane dan Leon tidak terlalu memperhatikan karna mereka terus berbincang bincang mengenai argo bisnis yang sedang dipikirkan ayah Leon.
"Seperti Nigel!" Gumam Lexa.
"Siapa Lexa?" Tanya Leon sesaat.
"Ah tidak, aku mungkin salah lihat, sudah ayo jalan!" Lexa mendorong pelan lengan Leon agar terus berjalan sampai rumah mereka.
Ketika mereka sampai di rumah, Lexa lagi lagi terkejut karna ia seperti mengenal paper bag merah muda yang ada di atas tempat sampah di dekat tangga kecil menaiki rumah Leon. Dia lalu mendekati paper bag itu dan benar itu paper bag tempat menaruh flower crown yang tadi pagi di berikan pada Angel. Lexa membukanya dan menemukan flower crownnya yang sudah patah menjadi dua.
Jane sudah masuk ke dalam, sedangkan Leon yang hendak masuk menoleh ke belakang mendapatkan Lexa tampak muram sedang di dekat tempat sampah. Dia lalu menghampiri Lexa.
"Ada apa Lexa? Kenapa flower crown ini di sini?" Tanya Leon terheran.
Lexa menarik napas panjang.
"Leon, apa salahku pada Angel? Apa kau pernah menceritakam hal buruk padanya sehingga dia begitu membenciku?" Kata Lexa dan matanya mulai berkaca kaca. Leon mengerti maksud Lexa. Dia lalu memeluk wanitanya itu.
"Maafkan aku Lexa, aku juga tidak mengerti. Dia hanya masih termakan perkataan Solane waktu itu. Kau tenang saja. Kita akan tetap bersama meskipun adikku tidak merestuimu. Jangan menangis Lexa. Ayo kita masuk makan siang!
"Aku akan terus berusaha mengambil hatinya Leon!
"Ya, aku yakin kau pasti bisa!" Leon mengelus lembut lengan Lexa agar tenang dan mengajaknya masuk ke rumah. Lexa mengambil kembali flower crown tersebut dan berniat membenarkannya.
...
Ailah Lexa lu bae bener, kalo gua mah uda gua cuekin bodo amat dah yg penting kakaknya belain gua 😝😝
.
Next part 61 yukkk 😍
Kira kira nigel baik ga buat angel?
Apakah lexa akan berbuat banyak pada angel?
.
Jangan lupa LIKE dan KOMEN kisah di episode ini supaya vii semangat updatenya hehe
Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil novel yaa 😍😍
__ADS_1
.
Oke thankyou for read and i love you 💕