
Hanya ingin memberi pengingat, manusia itu mempunyai titik kejenuhan, kekecewaan, bahagia, senang, kagum, lelah, bangga, menginginkan kebebasan, merasa suntuk, puas, dan lain lain, sedangkan robot? hanya mengikuti ketika ditekan tombol 'ON'. Apa yang terjadi pada Carolyn? apakah dia akan menjadi manusia yang sesungguhnya atau terus mematuhi seperti Robot? lalu kapan Xelino akan mengakhiri semua ini?
...
Pak!
Rietha menampar Xelino di depan semua orang karena kata katanya yang begitu memojokan pemilik Venta Property itu.
"Hey, anak desa, apa maksudmu berkata seperti itu padaku?! Aku bibinya Carolyn, maka aku yang lebih pantas berbicara pada keponakanku! Aku hanya ingin yang terbaik baginya. Kau ini apa? Kau hanya asisten saja, mengapa kau sepertinya sangat berhak atas keponakanku?! Kak Gilbert, mengapa kau mempekerjakan pria yang kurang ajar begini?!" bentak Rietha juga menunjuk nunjuk Xelino.
Carolyn yang langsung memegang wajah Xelino menatap tajam Rietha.
"Bibi! Apa apaan kau?! Xelino yang sudah menyelamatkanku, mengapa kau seperti ini padanya? Aku juga yang ingin ikut dengannya! Tadi dia hendak mengantarku dan masih menyuruhku meneruskan pertunangan ini tapi aku tidak mau! Aku minta maaf bibi, bahkan Xelino yang menemaniku, memangnya kau?! Mom, dad, mengapa kalian diam saja? Lihat adik kalian ini!" bantah Carolyn juga membentak bibinya. dia tidak peduli lagi masih dianggap keponakan atau tidak. mengapa rasanya bibinya sangat mengatur dirinya?
"Carolyn, masa kau memanggil dia adik mom and dad? Hem, kau ini tidak sopan? Lagipula mengapa kau tidak meminta maaf pada Ansel dan keluarganya, dia sudah menunggumu Berjam jam!" Bisik Casey yang tidak menyangka kalau rencananya akan batal seperti ini. Carolyn sungguh sungguh keras kepala pikirnya.
"Ada apa denganmu kak? Mengapa kau juga memaksaku? Aku sudah bilang aku tidak suka atau kau, kau saja yang bertunangan dengan Ansel, kau kan juga anak mom and dad!" bentak Carolyn kini mengarah pada kakaknya.
"Tidak! Kau yang lebih pantas bersama Ansel, kakakmu hanya anak pungut!" sela Rietha takut kalau kakaknya menyetujui perkataan Carolyn.
"Hem, penekanan yang klasik!" decak Casey yang memang tidak pernah cocok dengan Rietha. Casey hanya memanfaatkan Rietha agar terkagum pada Ansel.
Rietha menoleh tajam ke Casey.
"Sudah sudah! Jadi Carolyn, sebenarnya kau tidak suka dengan Ansel?" kata Gilbert akhirnya membuka suara.
"Tidak! Maafkan aku dad, aku tidak mau bertunangan dengan pria yang tidak kucintai," jawab Carolyn menundukan kepalanya.
"Kemarin kau menyetujuinya Carolyn," kata Rietha lagi masih memaksa.
"TAPI AKU TIDAK SUKA BIBI!!! KENAPA KAU SANGAT MEMAKSAKU HAH? MOM AND DAD SAJA TIDAK SAMPE BEGITU! DAN MULAI BESOK SEPERTINYA AKU TIDAK MAU BEKERJA LAGI DENGANMU, TIDAK TIDAK TIDAK!!!!!" Teriak Carolyn akhirnya. Xelino merangkul dan mengelus pundaknya. Napas Carolyn tersenggal karena sudah menahan semua kekesalan yang tidak diutarakan. Semua seperti terdapat gunung di punggungnya.
"Carolyn ... Tenang, memang siapa yang kau sukai sampai kau menentang Ansel? Bukankah Ansel mirip seperti Aciel? Kau sangat mencintai Aciel kan?" Selidik Gilbert ingin tahu perasaan anaknya yang melihat begitu dengan Xelino.
"Ada dad, pokoknya aku sudah menyukai pria lain," kata Carolyn menundukan kepalanya. Xelino memperhatikan wajah wanita itu.
"Siapa?" tanya Gilbert lagi.
"Itu urusanku! Jika waktunya sudah tiba pasti aku akan memberitahuku! Aku lelah, tolong jangan memaksaku terus. kalau kalian masih menganggapku Carolyn Delinsky, tolong lihat aku sebagai wanita biasa! Aku manusia, bukan robot!" Kata Carolyn lagi memandang Xelino dengan mata memerah dan berkaca kaca.
"Haiz, kalian semua memang keterlaluan! Sejak kemarin aku tidak bicara! Sekarang aku yang memutuskan! Casey, masuk kamar!" sela Jennifer akhirnya beranjak dari sofa dan memberi perintah pada Casey untuk masuk ke kamar.
"Mom ..." rengek Casey masih ingin berada di sana.
"MASUK KAMAR!" bentak Jennifer melebarkan matanya.
__ADS_1
"Rietha, kau pulanglah bersama Deborah! Aku memutuskan, Carolyn akan bertunangan dengan pria yang ia sukai itu, kau jangan mengatur ngaturnya lagi, dia anakku bukan anakmu! Kalau kau mau mengatur dan membawa keuntungan padamu, sana kau cari pria, kau nikahi lalu kau punya anak dari mereka! Jangan kau menyuruh anakku menikah sementara kau saja susah sekali menikah! Dan, satu lagi besok Carolyn tidak lagi bekerja. Biar dia bekerja bersamaku! Kurasa sudah agak lama dia bekerja dan sudah liat kan satu tahun ini perubahannya?" decak Jennifer memberanikan diri memberi peringatan pada Rietha. dia tidak suka kalau anaknya di atur atur terus.
"Jennifer? Tega sekali kau mengatakan itu padaku?! Aku adik iparmu!" keluh Rietha tidak menyangka kata kata Jennifer keluar yang begitu menyakitkan hatinya.
"Ya, karena kau adik iparku, bahkan aku menganggapmu adik kandungku! Sudah, kau pulang sana! Jangan berdebat di sini, kalau kau tidak terima dengan kata kataku, besok lagi kau kemari!" tambah Jennifer lagi sudah muak dengan kelakuan Rietha pada anaknya.
Rietha sudah malu setengah mati dan kesal terhadap Xelino, Carolyn, Casey ditambah lagi Jennifer mengusirnya seperti ini . Deborah sudah beranjak dan mengajak Rietha untuk kembali ke apartemennya.
"Dan kau Xelino? Bisakah kau mengantar Carolyn ke kamarnya? Biarkan dia istirahat. Benar katanya, dia hanya wanita, wanita biasa! Bukan karena semua harta ini dia jadi kuat, dia tetap anak perempuanku yang kecil dan manis, dia akan tetap menjadi gadis kecilku, dia memiliki perasaan dan hati! Semoga kau mengerti apa yang ku katakan, nak!" Kata Jennifer lah sudah menghampiri Xelino yang masih merangkul Carolyn. Dia mengusap lengan Xelino agar bisa mengerti maksud perkataannya.
"Naiklah ke atas," ujar Jennifer lagi.
"Baik nyonya, maaf atas semua kekacauan ini," balas Xelino membungkukan tubuhnya dan menggiring Carolyn ke atas ke kamarnya .
Jennifer masih melihat mereka berdua sampai masuk ke kamar. Kamar Carolyn memang terdapat di dekat tangga setelah itu baru kamar Casey walah terkadang Casey suka tidur di kamar Carolyn yang lebih besar.
Jennifer lalu berbalik menoleh ke arah suaminya dan tersenyum.
"Aku tahu, kalau Carolyn pasti melakukan sesuatu!" gumam Gilbert juga tersenyum.
"Cih, dia masih belum bisa berubah sayang, tetap pada pendiriannya, tapi jauh dari semuanya yang ku lihat dia lebih kuat dan tahu bagaimana bertindak dengan baik. Dia lebih menghargai orang orang yang jauh di bawahnya," saut Jennifer kembali duduk di samping suaminya.
"Ya kau benar, kurasa Xelino memang tidak mau merubah itu. Xelino hanya merubah sisi arogan Carolyn tapi tetap mengedepankan sifat dia, di mana harus mencapai apa yang ia impikan," balas Gilbert menyetujui.
"Bukankah mereka cocok? Kau tidak lagi berharap menjodohkan anakmu dengan Lionel Janson kan?" selidik Jennifer memicingkan matanya.
"Hem, jadi Lionel juga tidak begitu baik untuk Carolyn, sayang ..."
"Ya, kau benar. Perasaan seorang ibu memang tidak bisa dikalahkan ya?" Saut Gilbert menarik pinggang istrinya. Dia merengkuh agar bisa merangkulnya.
"Jadi biarkan saja Carolyn dan Xelino memperjuangkan cintanya. Aku ada sedikit curiga mengenai Xelino. Sepertinya dia bukan anak biasa, Gilbert!" gumam Jennifer asal menerka.
"Maksudmu?" tanya Gilbert memicingkan matanya.
"Ya, dia seperti memiliki keluarga yang cukup hebat!" tutur Jennifer mengelus dagunya.
"Aku juga berpikir seperti itu, pelan pelan lah. Kita pasti tahu siapa Xelino yang sebenarnya,"
Jennifer mengangguk dan membenamkan dirinya di pelukan suaminya. Dia lega akhirnya anaknya tidak jadi menikah dengan Ansel. Jennifer hanya tidak suka dan belum mengetahuinya.
Sementara Carolyn sudah duduk di pinggir tempat tidur dan menautkan tangannya. Xelino di sampingnya masih merangkul pundaknya.
"Carolyn, kau jangan bersedih, semua sudah menerima kau membatalkan pertunangan ini. Lihat, ayah dan ibumu tidak memarahimu kan?" ujar Xelino masih menghibur Carolyn.
"Ya, kau benar, tapi aku merasa ada yang sedang mereka rencanakan," gumam Carolyn menoleh ke arah Xelino.
__ADS_1
"Hem, kau jangan terus berburuk sangka, aku yakin mereka sedang melakukan hal yang luar biasa untukmu," saut Xelino membuat Carolyn berpikir positif.
Carolyn mengangguk.
"Sudah jangan sedih, kau tidak ingin tidur?" tanya Xelino kemudian.
"Entahlah, sepertinya aku tidak akan bisa tidur. Lusa aku tidak bekerja lagi. Aku harus bagaimana? Bibi Rietha sudah sangat marah padaku karena membentaknya sementara dari sana aku bisa memiliki perusahaan ku sendiri," kata Carolyn lagi bingung.
"Hem, kah ini sebenarnya pintar tapi tidak kah asah. Kau masih mengandalkan orang tua mu atau saudara saudaramu . Memang bekerja hanya dari bibimu? Masalah bibimu, kita berdua memang harus minta maaf tapi tunggu semua nya tenang. Aku akan menemanimu, aku juga harus meminta maaf padanya. Sekarang lebih baik kau istirahat, besok aku akan datang kemari, aku akan memberitahumu banyak ranah pekerjaan yang bisa kau lakukan dan setelah semuanya berhasil, kau bisa menunjukan pada daddymu dan kau bisa memiliki perusahaanmu sendiri," ujar Xelino tampak bersemangat bisa kembali bersama Carolyn lagi.
Carolyn menatap lekat lekat Xelino. Dia sangat kagum dengan pemikiran cerdas pria ini. Carolyn hanya mengangguk.
"Baiklah, aku harus pulang, ini sudah larut, tenang, aku akan bersamamu!" kata Xelino memegang wajah Carolyn.
"Tidak meninggalkan lagi?" balas Carolyn memastikan.
"Kapan aku meninggalkanmu? Kau yang setuju bertunangan dengan Ansel padahal sudah kukatakan dia orang yang tidak baik," decak Xelino membela diri.
"Kau yang bilang kami cocok," dengus Carolyn merengutkan wajahnya.
"Melihat materi! Tapi ternyata begini perasaanmu aku jadi sedih! Yasudah, selamat beristirahat tuan putri, jangan lupa berdoa, besok pasti akan mendapatkan hari yang lebih baik," saut Xelino dan memeluk Carolyn.
"Tenanglah, kebahagiaan akan menghampirimu dan impianmu akan terkabul," bisik Xelino dan menarik dirinya. Carolyn mengangguk. Xelino beranjak dan melambaikan tangan. Dia keluar dari kamar Carolyn lalu meraih ponselnya menghubungi seseorang.
"Pap, aku membutuhkan tanah di samping perkebunan bunga bibi. Kata bibi itu milik tanah sengketa antara keluarga kita dan keluarga atasanku?" kata Xelino pada Leon di seberang sana.
"Xelino, sampai kapan kau menyudahi penyamaran ini? jangan sampai pemantik yang kau gunakan membuat api menjadi besar, nak!" decak Leon mengingatkan anaknya itu.
"Sebentar lagi dad, tanah itu yang akan menjadi hadiahnya, aku hendak membangun villa di sana," jawab Xelino menggaruk pelipisnya.
"Baiklah, aku akan mengurusnya! Hem, jadi sekarang kau bercerita pada mamimu saja?" keluh Leon Karena Lexa sudah mengetahuinya.
"Kau pasti sudah tahu, pap, baiklah sudah dulu ya? Nanti kabari aku pap,"
"Ya baiklah, jaga dirimu,"
"Selamat malam pap,"
Xelino mematikan panggilan dan turun ke bawah. Sepasang mata ternyata mendengar apa yang Xelino katakan.
"Dia hendak membeli tanah untuk seseorang dan akan membangun villa. Sepeti keinginan Carolyn. Hem, aku memang sudah sangat curiga! Aku yakin, dia pasti Xelino Janson! Heng, awas kalian berdua, aku akan membalasnya!" Desisnya.
...
lanjut di bawah ya
__ADS_1
tetap berikan LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕💕