
Lexa mencoba membuka matanya. Tubuhnya agak sedikit pegal. Tak lama dia mengingat kejadian semalam. Sungguh kejadian yang membuatnya melayang entah ke langit tingkat berapa. Baru kali ini dia merasakan perasaan Leon yang membuncah. Seluruh emosi, hawa nafsu dan rasa cinta bercampur menjadi satu. Lexa langsung beranjak dari tidurnya dan duduk. Dia menutupi dadanya dengan selimut dan tersipu malu.
Dia melihat ke samping tak ada keberadaan Leon, mungkin Leon sarapan ke bawah pikirnya. Lexa lalu memegang dahinya dan lagi mengingat momen indah baginya. Dia sekarang mengerti bagaimana Leon menahannya selama ini. Lexa juga sangat menikmatinya. Setiap pelepasan yang ia keluarkan secara sendirinya membuatnya ingin merasakannya lagi. Setiap sentuhan Leon yang walaupun agak kencang namun matanya menatapnya dengan penuh cinta dan gairah.
Lexa terus tersenyum. Dia kembali melihat tubuhnya di balik selimut. Tanpa benang sehelaipun dan dia merasakan tanda dirinya telah menjalani kewajiban pertamanya menjadi seorang istri menghiasi seprei itu namun sudah agak samar samar karna terkena peluh keringat mereka semalam. Lexa kembali tersenyum malu. Dia menutup wajahnya. Dia mengingat ciuman Leon yang begitu bergelora dan merasa dirinya satu satunya wanita di dunia ini.
Setelah dia kembali mengingat, dia harus membersihkan dirinya. Dia mencoba duduk di sisi tempat tidur. Dia menarik selimut tipis untuk menuju ke ruang ganti. Lexa tidak menyadari apapun, dia terlalu senang dan rasanya dia sudah merindukan Leon. Dia harus menyusul Leon namun dia tidak memiliki pakaian yang benar untuk ia gunakan. Akhirnya dia mengenakan jubah handuk lagi menunggu kedatangan Leon.
Lexa berdiri di depan kaca wastafel di dalam ruang ganti itu. Dia melihat wajahnya di kaca. Sisi sisi pipinya memerah. Lagi lagi dia membayangkan Leon. Leon benar benar memperlakukan tubuh dan dirinya dengan sangat baik meskipun agak sedikit kasar mungkin karna Leon sudah tidak kuat namun Lexa malah menyukainya. Lexa merasa Leon begitu menginginkan dirinya sepenuhnya.
Lexa terus membayangkan kejadian semalam sampai sampai Leon sudah masuk ke ruang ganti. Lexa tak menyadarinya karna masih tertunduk dan tersenyum senyum.
"Sayang, Lexa.." panggil Leon memegang bahu Lexa. Lexa tersadar dan mendongakan kepalanya melihat dari kaca suaminya. Pria yang baru saja ia nantikan.
"Leon? Kau sudah kembali ya? Kau dari mana?" Tanya Lexa kemudian dengan wajah sumringahnya. Namun Leon tampak sedih dan murung.
"Hemm, Lexa? Maafkan aku. Aku membuatmu sakit seperti ini. Sepertinya, aku tidak akan melakukannya lagi padamu. Aku benar benar menyesal!" Leon menundukan kepalanya dan menyandarkannya di bahu Lexa.
"Ada apa Leon? Kenapa tiba tiba kau seperti ini? Aku baik baik saja. Bahkan aku senang." Kini Lexa membalikan badannya dan melingkarkan tangannya ke leher Leon.
"Lihatlah, apa yang terjadi padamu ketika kita berhubungan!" Leon lalu membuka jubah handuk Lexa. Sementara Lexa merasa tidak ada yang salah. Dia merasa baik meski sedikit pagal.
Dan terpampanglah tanda cinta (kissmark) yang Leon torehkan hampir di atas dada atau di bawah leher Lexa. Bukan itu saja. Leon juga memperlihatkan punggung atas Lexa yang terdapat bekas gigitan Leon. Tadi malam Leon benar benar menikmati dan merasa Lexa sangat menggemaskan, jadi dia menggigit punggung Lexa ketika terus menerus dia memasuki gairahnya. Karna kenikmatan, Lexa tak menyadarinya.
Setelah itu yang membuat Leon patah hati karna dirinya yang melakukannya terhadap istrinya, dia mencengkram lengan Lexa, paha Lexa sampai pinggang Lexa dengan begitu keras. Di ketiga area itu terdapat lebam biru bekas pegangan Leon yang begitu kuat. Kulit putih Lexa seraya seperti lukisan di sekujur tubuhnya.
"Argh, gunakan lagi jubahmu!" Perintah Leon dengan sangat kesal. Dia lalu keluar dari kamar ganti dan duduk di sofa. Dia mengusap wajahnya kasar. Lexa segera mengenakan jubahnya dan menyusul Leon namun ketika keluar dari kamar ganti dia merasa kedua pahanya keram. Mungkin karna terlalu cepat berjalan karna mencemaskan Leon.
"Aahhh!!!" Teriak Lexa. Leon langsung berdiri dan menghampiri istrinya.
"Ada apa Lexa? Mana yang sakit?"
"Pahaku Leon!" Kata Lexa memegang salah satu sisi pahanya.
"Sini kugendong!" Kata Leon dan langsung menggendong istrinya ke tempat tidur.
"Kenapa pahamu Lexa? Sudah kubilangkan kan? Lebam biru ini pasti sakit!" Leon memperingati.
"Bukan Leon, pahaku keram!"
"Itu juga termasuk karna perbuatan ku! Maafkan aku Lexa!" Leon lagi lagi menunduk. Dia benar benar tidak dapat menahan nafsunya. Sebenarnya ini bukan kali pertama untuk Leon. Sebelumnya, Leon sudah pernah melakukannya dengan Solane dan satu dua wanita yang tadinya ia merasa cocok ternyata tidak, namun setelah mengenal Lexa, dia tidak pernah lagi melakukannya dengan wanita wanita tidak jelas. Dia ingin melakukannya dengan Lexa.
Leon tidak menyangka kalau Lexa sungguh kuat menahan semua godaannya sampai menikah, Lexa baru memberikannya pada Leon. Leon cukup terharu dan akhirnya dia meluapkan setiap imajinasinya selama ini. Dia selalu membayangkan menyetubuhi Lexa dan kini dia sudah melakukannya. Jadi dia benar benar terbawa hasratnya yang sudah lama tidak melakukannya dan rasa penasarannya terhadap Lexa. Dia curahkan semuanya semalam, namun malah membuat Lexa seperti ini.
"Leon, tidak apa apa! Aku menyukainya! Aku malah mau melakukannya lagi" Lexa mencoba mendongakan kepala Leon.
"Tidak Lexa, aku tidak mau menyakitimu lagi. Sini, biar ku oleskan gel lebam yang kubeli di bawah." kata Leon memiringkan tubuh Lexa pelan.
"Kau ke bawah membelikan gel lebam itu?" tanya Lexa memastikan.
"Ya, aku merasa bersalah ketika pagi tadi aku melihat semuanya dengan jelas, apa yang kulakukan padamu." Leon mengambil gel nya yang membuka kembali jubah Lexa. Di sana Lexa tak berbusana. Leon sebenarnya agak kembali tergoda namun setiap luka yang ia tinggalkan membuatnya meringis ngeri. Mengapa dia bisa seliar dan sebuas ini?
Lexa merasakan sentuhan tangan Leon yang mengoleskan gel nya dengan pelan. Ketika Leon mengoleskannya pada pahanya, Lexa merasa kembali bergelora. Dia tersenyum menggoda ke arah Leon dan meraih dagunya.
"Leon, kau tampan sekali!" Kata Lexa tersenyum. Leon juga tersenyum tipis. Lexa lalu mengarahkan tangan Leon untuk memegang pinggangnya. Leon seperti tahu gelagat Lexa yang sepertinya menginginkannya. Namun ketika Leon menyentuh pinggang Lexa yang terdapat bekas jari jari tangannya yang sudah membiru, Leon langsung melepasnya.
"Lexa, tidak!"
"Kenapa? Kau sudah tidak mau dengan semua tubuhku yang bertanda ini? Sudah tidak cantik lagi ya?" sungut Lexa.
"Bukan sayang! Aku, aku tidak mau menyakitimu! Ini sungguh tidak masuk akal!" Leon berdiri. Dia menyugar rambutnya dan mengusap kasar lagi wajahnya.
"Yasudah tidak apa apa. Kasihan sekali aku, seorang wanita yang baru saja menjadi istri namun suaminya sudah tidak mau lagi menjamahnya." Lexa menundukan kepalanya murung.
"Lexa! Tidak begitu sayang, mengertilah perasaanku!" Leon kembali menghampiri Lexa dan mencari cari wajah istrinya.
"Kau berlebihan Leon! Kupastikan, kau yang akan memintanya lagi padaku! Hem!" Lexa memalingkan wajahnya.
"Sembuhkan dulu semua luka luka mu ini ya?" Leon kembali mendekati Lexa dan mengelus bahu Lexa.
"Terserah! Kau yang mengajariku kenikmatan ini tapi kau tidak bertanggung jawab! Sudahlah, lupakan! Sekarang, belikan aku pakaian dan makan, aku lapar!" Dengus Lexa menutup tubuhnya lagi dengan jubah handuknya.
Leon menghela napas. Dia lalu menelpon Angel yang menginap di lantai bawah untuk membawakan tas Lexa yang berisi pakaian ya g ia tukar.
__ADS_1
"Leon!!!! Kau benar benar membuat ku kesal pagi gini!!! Musang tengik, busuk, ah aku membencimu!!!!" Lexa merajuk karna mengetahui kalau suaminya mengetahui mengenai pertukaran baju baju itu. Leon tersenyum dan menghampiri Lexa lalu memeluknya.
"Kalau tidak begitu, kau akan ragu melakukannya denganku!" decak Leon menyeringai kembali menghampiri Lexa.
"Kalau begitu ayo lakukan lagi?!" Lexa menarik tangan Leon untuk memeluknya.
"Tidak! Aku hanya ingin memelukmu! Maafkan aku istriku, aku akan berusaha lebih pelan."
Mereka berpelukan dan Leon yang menyiapkan makan untuk Lexa karna masih merasa bersalah dengan semua luka disekujur tubuh Lexa.
...
"Lexa! Kau akan terus menggendong Dior? Nantu dia akan bau tangan! Letakan dia di keranjang dan kau rapat, sana!" Perintah Viena yang masih menanda tangani berkas di apartemennya. Viena masih cuti selama tiga bulan dan Lexa yang mengurus semuanya bersama Lucy karna Lexa tidak berencana bulan madu dulu.
"Dia lucu sekali nyonya! Nyonya sudah dua minggu aku tidak berhubungan dengan Leon, bagaimana ini?" sungut Lexa tanpa mengalihkan pandangannya ke wajah Dior.
"Kenapa? Kalian kan baru menikah." selidik Viena.
"Leon takut menyakitiku!"
"Hem, alasan macam apa itu?"
"Iya nyonya karna kejadian malam pertama itu, dia trauma, tapi aku tahu, sepertinya dia ingin!" Lexa berusaha menjelaskan.
"Berikanlah!" jawab Viena santai.
"Aku tidak bisa merayunya Nyonya! Kalau dia menolak, aku langsung kesal sendiri!" sungut Lexa lebih dalam lagi.
"Hem, kau juga yang tak ingin kan?" ledek Viena.
"Mau nyonya, aku mau memiliki seperti Dior. Em, apa satu kali saja bisa langsung hamil Nyonya?" Lexa berspekulasi.
"Tergantung tingkat kesuburan kalian." jawab Viena masih sibuk dengan berkas berkasnya.
"Begitu ya? Jadi aku harus apa agar dia menginginkannya lagi nyonya!!!" Lexa bertanya pada pakarnya.
"Sekarang kau pergi rapat dulu. Sesudah jam kerja usai, kau minta antar Lucy ke toko pakaian dalam. Kau beli pakaian tidur yang cukup terbuka dan kau gunakan malam nanti! Cukup kau terus berada di samping Leon!" Viena benar benar menjawabnya dengan santai. Dia hanya memberitahukan pengalamannya saja.
"Mau tau saja kau! Sudah cepat, rapat sebentar lagi akan mulai, berkas ini sudah ku tanda tangani. Suruh Abby memeriksa laporan iklan bulan ini dan besok dia saja yang kemari!" perintah Viena yang telah menyelesaikan tugas nya.
"Baiklah Dior ku sayang anak momxa yang embul ini, besok lagi kita bertemu ya?" Lexa menaruh Dion kembali ke keranjang bayi nya.
Dia lalu mengambil berkas berkas yang sudah Viena tanda tangani dan kembali ke kantor. Lexa terus tersenyum membayangkan apa yang terjadi jika dirinya menggunakan pakaian tidur minim ketika malam tadi. Leon pasti tidak akan mengelak lagi pikirnya.
...
Leon pulang lebih awal pukul tujuh malam. Setelah mengantar Dion ke lahan proyek yang hendak Dion bangun sebuah motel di pinggir Legacy, mereka mengadakan rapat kecil kecilan. Sejak anaknya lahir, Dion selalu keluar dari hotel pukul 6 sore karna harus membantu Viena merawat anaknya. Sedangkan Leon setelah Dion pulang, dia pun bergegas pulang. Hari ini Leon agak bingung karna Lexa tidak mau dijemput. Leon pikir Lexa belum pulang ternyata Lexa sudah menyiapkan makan malam kesukaannya.
"Ada apa ini Lexa?" Tanya Leon duduk di meja makan. Mereka berdua masih tinggal di apartemen Leon karna rumah kecil mereka sedang dalam perencanaan pembangunan.
"Aku hanya melihat daging tenderloin besar dan aku mengingatmu. Makanlah, aku sudah mempelajarinya, tidak sulit ternyata!!" Kata Lexa tersenyum.
Leon pun makan dengan lahap. Sesekali dia memuji masakan istrinya itu. Lexa sudah terus tersenyum memandang Leon yang menurutnya semakin hari semakin tampan. Dia juga membayangkan apa yang akan terjadi ketika tidur nanti. Lexa tertawa kecil membayangkannya. Wajahnya juga sudah tersipu malu.
"Kau kenapa Lexa? Sejak tadi terus tersenyum!!" Selidik Leon.
"Tidak ada! Kalau sudah makan, bersihkan dirimu!" Kata Lexa membenahi piring yang sudah kosong.
Dan saat tidur pun tiba. Lexa belum bergabung bersama Leon yang sudah merebahkan dirinya sambil melihat lihat ponselnya. Lexa masih di kamar mandi mempersiapkan aksinya.
"Sayang, kau ini lama sekali!! Kau sedang apa? Kudengar tadi kau ke rumah Nyonya Viena?" Panggil Leon dan tak lama Lexa keluar dengan ligerie berwarna samar seperti kulitnya dengan hanya beberapa helai kain brukat dan sedikit tile. Lexa keluar seperti tidak terjadi apa apa.
"Ya, tadi aku kesana mengantar berkas berkas. Em, Leon, sepertinya ada tanyangan konser Big Bag kesukaanmu lho!" Jawab Lexa dan dia menuju ke televisi di depan tempat tidur mereka. Lexa mengambil remot di atas nakas dan mata Leon sudah memperhatikan Lexa. Leon meneguk ludahnya. Leon terus memperhatikan Lexa yang kini duduk di sampingnya tanpa menutupinya dengan selimut.
"Ada apa melihatku?" tanya Lexa dengan matanya yang terus ke tv.
"Aku yang harusnya bertanya kelinci licik! Ada apa dengan pakaian tidurmu? Kita sudah membahasnya, jangan seperti ini!" Leon beranjak dari tidurnya dan duduk menghadap Lexa.
"Oh ini? Hanya sebuah ligerie, kenapa? Aku istrimu, tidak bisakah aku menggunakannya?" jawab Lexa sekenanya dengan menyeringai.
"Lexa, jangan salahkan aku menyakitimu lagi, aku sudah menahannya!" Leon sudah berhasrat sampai ke ubun ubun. Kepunyaannya sudah menegang ketika Lexa baru keluar dari kamar mandi itu. Belum lagi dia duduk di sampingnya dengan pahanya yang mulus dan putih.
Leon akhirnya menidurkan istrinya. Dia memegang bahu Lexa. Lexa sudah tersenyum menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Leon, aku juga ingin, ini caraku untuk membangkitkan gairahmu. Apa kau tidak merindukanku? Jangan salahkan dirimu, aku tidak apa apa. Lakukanlah! Aku mencintaimu Leon!" Lexa mengalungkan tangannya ke leher Leon.
"Terimakasih Lexa! Aku minta maaf karna menyiksamu seperti ini. Lain kali kalau kau mau katakan saja." gumam Leon.
"Tidak! Lakukan saja setiap keinginanmu Leon!"
"Pasti sayang!"
Dan Leon mencium bibir Lexa dengan rakus. Tangannya tak tinggal diam merengkuh bulatan kenyal Lexa dan tak lama memainkannya dengan indra perasanya. Leon tidak membuka ligeri Lexa karna dia merasa Lexa begitu menggairahka sehingga ia melakukan penyatuan dengan bergelora, dan ketika penyatuan, kini Leon sudah bisa mengimbanginya. Lexa pun juga membantu Leon agar Leon tidak terlampau melahapnya dengan kasar. Mereka saling mengerti dan menjaga emosi mereka masing masing.
Setiap beberapa hari sekali, Lexa selalu menggoda Leon dengan pakaian pakaian terbukanya ketika tidur. Karna hal ini, jika Lexa hanya mengenakan dress piyama saja, Leon sudah tidak tenang. Mereka berdua menyukainya dan melakukannya dengan bergelora atas cinta mereka selama ini.
Sampai beberapa bulan kemudian, Lexa tak kunjung datang bulan. Dia merasa mungkin dirinya hamil. Dia segera bertanya pada nyonya nya. Nyonya nya memberikan satu test pack yang menjadi stoknya. Lexa lalu mencobanya. Setelah beberapa menit dia melihat hasilnya dan menunjukannya pada Viena.
.
.
Bagaimana hasilnya?
Nantikan di ASSISTANT LOVE ASSISTANT BAGIAN KE DUA AFTER MARRIAGE yaaa 😍😍
.
.
.
Jadi tamatlah kisah perjuangan cinta Leon dan Lexa.
Dua karakter yang berbeda
Dua masa lalu yang berbeda
Dua kepribadian
Namun Satu ke traumaan
Dan
Satu pekerjaan
Mempertemukan mereka dalam suatu ikatan
Menghancurkan dinding yang membuat mereka berjauhan dan membangun tali kasih yang sederhana namun penuh cinta.
Mereka lah Assistant Love Assistant 😍😍
.
Oke gaesss terimakasihhh yaa sudah menjadi saksi perjalanan cinta LEXA DAN LEON .. monggo LIKE DAN KOMENTARNYAA 😁😁
.
ASSISTANT LOVE ASSISTANT BAGIAN KEDUA AFTER MARRIAGE akan ada dinovel ini juga ya, sepertinya bulan depan baru tayang..
Selanjutnya kita ceritain antek antek Lexa Leon dulu ya? Hehe
Ada :
JERRY & ANGEL
JIMMY & SOLANE
BEN & ABBY
semoga vii bisa memberikan pesan dari setiap perjalanan cinta mereka masing masing 😍😍
.
Jangan lupa kasih RATE dan VOTE juga ya di depan profile novel 😁😁
Thanks for read and i love you somuchh ❤
__ADS_1