Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 13


__ADS_3

Lele 13


Lexa berdiam diri di mobil Leon. Sedangkan Leon sangat mengerti perasaan Lexa. Lexa seperti diremehkan oleh Solane.


"Leon, apa sebaiknya kita tidak berdekatan lagi?" Tanya Lexa seketika ketika mereka hanya berdiam.


"Lexa, sudah kukatakan kau jangan termakan omongannya. Perkataan Solane memang tajam dan angkuh, itu sudah menjadi sifatnya. Jadi, tolonglah. Kau jangan mempercayainya!" Ujar Leon lembut.


"Aku tidak pantas bagimu, Leon. Dan benar kata Solane aku hanyalah gadis kumuh, sedangkan kau? Kau pria yang sangat menawan," Lexa tampak tidak menyadari mengatakan kalau Leon menawan.


"Kau bilang apa Lexa? Aku menawan? Kau menyukainya?" Seketika wajah Leon merona dan mencari cari wajah Lexa bermaksud menggoda.


"Karna kau terlalu menawan, jadi aku tidak menyukainya, aku pun tidak suka lelaki!" Entah kerasukan hantu darimana, Lexa mengatakannya dan masih menunduk.


"Kau tidak suka lelaki tampan sepertiku? Kau menipu! Jadi kau apa? Kau penyuka sesama?" Leon sedikit memastikan. Leon yakin Lexa hanya menghindarinya.


"Sepertinya iya, karna lain jenisku tampaknya lebih sering menyakiti sesamaku, jadi sebaiknya aku menyukai sesamaku saja," kini Lexa telah menoleh ke arahnya.


Ciitt!! Leon memberhentikan mobilnya.


"Lexa, tarik kembali kata katamu, kau jangan seperti ini, aku yakin kau wanita normal!" Leon agak meninggikan suaranya.


"Kenapa?! Kau jangan membatasi ruangku dong, kalau aku mau menyukai sesamaku, lantas? Kau siapa? Kau ibuku?!" Lexa juga meledak.


"Aku yakin kau menipuku! Kau hanya menghindariku, mengapa sampai kau mengatakan seperti ini? Aku kecewa padamu, Lexa!" Leon memukul setirannya kesal.


"Baiklah, sampai sini saja, aku bisa pulang sendiri, buka!" Lexa memerintah. Leon sudah agak kesal dengan semuanya. Semua kondisi buruk ini karna Solane. Dan tampaknya Lexa benar benar ingin menjauh dari Leon.


Leon akhirnya membuka kunci mobilnya. Tanpa banyak bicara lagi Lexa keluar dari mobil Leon dan berjalan menjauh.


"Aarghh, ada apa denganku, dengan begini Lexa malah tidak bisa kuraih!" Leon keluar dari mobil dan memanggil Lexa namun Lexa tidak berhenti bahkan menoleh.


"Lexa, sekali kau melangkah lagi, aku takan segan segan menusuk perutku dengan pisau ini!" Teriak Leon berbohong. Jalanan tempat Leon memberhentikan mobil memang terbilang sepi dan dekat dengan taman menuju kota.


Akhirnya Lexa berhenti dan berbalik. Lexa tidak melihat Leon memegang pisau tapi malahan ada seorang pria di belakang Leon yang hendak memukulnya dengan balok yang besar dan panjang.


"Leon belakangmu!!" Lexa berteriak sangat kencang. Belum balok tersebut mendarat di kepala Leon, Leon sudah menghindar. Dengan sigap dan cekatan dia lalu memegang balok tersebut dan memelintir dengan kuat sehingga orang tersebut terjatuh. Leon lalu meraih tangan orang tersebut. Diinjaknya bahu orang tersebut dan menodongkan balok tersebut di kepala pria yang cukup besar tubuhnya.


"Siapa yang menyuruhmu!" Leon menginjak bahu pria itu dengan kencang begitu juga tangan yang ia tarik.


"Ti - ti - tidak! Ampun Tuan!!"


"Sebentar! Lexa, cepatlah kemari atau kau akan menjadi mangsa pria pria menjijikan ini, cepat kubilang!!" Teriak Leon. Lexa yang masih mematung melihat aksi Leon menurut dan berjalan ke arah pria yang sebenarnya ia sukai.


"Sekarang katakan siapa yang menyuruhmu atau kubuat hilang kepalamu!!" Ancam Leon dengan murka.

__ADS_1


"Nyo - nyo - nyo nya.."


Pruang!! Belum saja pria itu mengatakan nama Solane, Leon dan Lexa terkejut mendengar suara kaca mobil belakang Leon pecah seperti tertimpuk batu. Leon agak lengah dan pria suruhan Solane tersebut melepaskan diri dan melarikan diri dari cengkraman Leon.


"Hey! Jangan lari, sialan!!!! Siapa mereka?!" Leon sangat penuh dengan emosi. Mengapa malam minggunya sial seperti ini. Dia sudah membayangkan makan malam bersama Lexa dengan lilin di pesisir pantai dan angin semilir. Namun semuanya runyam karna kehadiran Solane.


Lexa masih terpaku melihat Leon yang dengan lihai menghindar dari serangan pria jahat itu dan lagi Leon semakin tampan jika sedang naik pitam seperti ini walaupun Lexa sedikit takut.


"Leon, ayo kita pergi dari sini, kita perbaiki mobilmu," tutur Lexa pelan. Berbanding terbalik dengan suaranya yang ketus sebelum kejadian ini.


Leon mengiring Lexa untuk duduk di kursi pengemudi. Dan lagi lagi Lexa terdiam dalam mobil.


"Lexa, kau shock ya? Tenang saja sudah berlalu, kita tinggal ke showroom mobil dan sudah, mobilku sudah bagus kembali, kau tenang saja," Leon menyentuh tangan Lexa dan memeluk tangan itu sesaat lalu melepaskannya lagi karna dia harus menyetir.


Seketika hati Lexa yang dingin menjadi menghangat.


"Iya Leon, aku tidak apa apa," Lexa akhirnya menoleh ke arah Leon. Dia sedikit memicingkan matanya melihat ada seperti goresan di pelipis Leon.


"Leon, sepertinya dahimu tergores?" Lexa mengarahkan tangannya dan sedikit menyentuh pelipis Leon.


"Oh ini pasti karna tadi aku menghindar namun kayu itu tetap mengenai dahiku, hanya luka kecil," Leon menyentuhnya juga namun terhalang oleh tangan Lexa. Leon malah menyentuh tangan Lexa.


"Kau sentuh begini saja sudah sembuh, Lexa," Lexa lalu menarik tangannya tersipu. Leon kembali melajukan mobilnya seraya tersenyum.


...


"Leon! Sudah lama sekali kau tak kemari," sapa Bob pemilik showroom tersebut. Dia menjabat tangan temannya itu dan menepuk kecil sisi lengan Leon.


"Wah, siapa wanita cantik di belakangmu, tampaknya seleramu semakin tinggi," Bob bergurau melihat Lexa yang menunduk memberi hormat pada Bob.


"Lexa, kemarilah, kenalkan dia pemilik showroom ini, namanya Bob," Leon memperkenalkan. Mereka berjabat tangan.


"Dia calon istriku Bob," bisik Leon kemudian.


"Jadi kau akan menikah?" Bob berteriak shock. Dia tidak menyangka kalau akhirnya Leon memutuskan untuk berkomitmen. Lexa memicingkan matanya. Ada yang tidak beres. Pasti Leon mengatakan hal yang tidak tidak. Pikir Lexa.


"Kau tunggu saja, aku ini pria sejati," kata Leon lagi menyeringai dan mengedipkan matanya ke Lexa. Lexa bergidik geli melihat tingkah Leon.


"Jadi ada apa dengan mobil kesayangmu ini?" Tanya Bob langsung ke pokok permasalahan. Leon tidak akan repot repot kemari di jam showroom akan tutup jika tidak mendesak.


"Sepertinya kau harus mengganti kaca belakang mobilku dengan kaca anti peluru, anti batu, aku akan membayarnya 3 kali lipat, berikan bon nya pada bosku," kata Leon yang tak lama berbisik pada Bob.


"Ada apa dengan kaca belakangmu, Leon?"


"Seseorang menimpuknya. Sepertinya dia seorang wanita yang menyukai dan cemburu kalau aku sudah memiliki calon istri." Kata Leon percaya diri.

__ADS_1


"Kau ini Leon, dari dulu sikap playboy mu tidak luntur. Lexa, kau harus sabar menghadapinya," Bob menimpali.


Seketika jantung Lexa berdetak kencang. Leon adalah satu satunya pria yang benar benar memperhatikannya dan menganggap dirinya sebagai orang terdekatnya. Lexa hanya tersenyum mendengar pernyataan Bob.


"Oh iya Leon, kapan hari mantanmu Solane datang kemari memperbaiki mobil sport merahnya. Aku sempat mendengar dia berbicara di ponsel akan menghabisi seseorang. Apa orang itu kau? Sebaiknya kau berhati hati. Ayahnya masih memiliki peran penting di kota ini. Seperti kantor cabang bupati?" Pungkas Bob kemudian.


Lagi lagi jantung Lexa berdegup curiga.


~Menghabisi? Sepertinya lebih ke arah ku, apa aku benar benar salah dekat dengan Leon? Namun aku nyaman bersamanya~ pikir Lexa dalam hati.


"Dia hanya seorang wanita, tenanglah Bob dan terimakasih kau sudah memperingatiku. Baiklah Bob, kurasa waktu malam mingguku akan semakin habis. Aku tinggal mobilku. Jika sudah selesai segera kabari aku. Ingat anti peluru dan anti batu, haha!" Leon menepuk bahu Bob dan menyerahkan kunci mobilnya. Dia lalu menghampiri Lexa, merangkulnya menuju pinggir jalan raya untuk menemukan taxi.


"Ayo Lexa, dan kau jangan takut dengan Solane. Aku sangat yakin kau bisa menghadapinya dan ada aku. Aku akan menjadi superheromu, hehem?" Leon menatap Lexa yang hari ini senang sekali melamun. Leon membenamkan kepala Lexa ke dadanya sambil berjalan. Mereka benar benar seperti sepasang kekasih.


"Lexa, masih pukul 19.30, aku lapar, lebih baik kita makan malam dan ku antar kau pulang, oke?" Kata Leon yang mana mereka sudah berada di dalam taxi. Lexa mengangguk singkat dan lagi memandang Leon yang sejak tadi mengusap perih goresan di pelipisnya.


"Sir, ke Pantai Pesiar," pinta Leon pada pengemudi.


"Baik Tuan!"


"Leon, kemarikan dahimu!" Perintah Lexs menolehkan wajah Leon untuk dia lihat.


"Sakit sedikit, sebentar, ini harus dibersihkan agar tidak infeksi, ternyata kau kurang lihai. Kupikir kau sudah sangat keren ternyata masih kena, dasar musang bodoh, aku bisa melakukannya dengan cepat!" Tutur Lexa yang membersihkan sisa debu di goresan Leon dengan tysu khusus seperti tysu basah yang memiliki alkohol di dalamnya.


"Ssshhh," desah Leon berbohong.


"Tahan sebentar, ini hanya goresan kecil mengapa seperti anak kecil..."Lexa terus saja berceloteh, membuat Leon dapat memperhatikan wajah Lexa yang merona di sisi sisi wajahnya. Pipinya agak tembem membuatnya ingin selalu menciumnya. Bibirnya yang merona dan lagi matanya yang terkadang datar namun memiliki arti. Membuat Leon ingin selalu memeluk dan menjaga wanita yang seperti malaikat bagi Leon.


"Sepertinya, aku mencintaimu, my lady," tiba tiba Leon bergumam tak sadar karna terbuai dengan wajah cantik Lexa.


"Kau bilang apa?"


"Tidak tidak, jadi bagaiman dokter Lexa, apa kau sudah selesai mengelus elus dahiku?"


"Elus elus apa? Jangan berkata sembarangan!" Lexa akhirnya menekan lukanya itu karna salah tingkah.


"Aw! Sakit Lexa!!" Leon berbohong lagi untum menarik perhatian Lexa.


"Oh iya, maaf maaf, sebentar, ini dan sudah, sudah kuplester, berterimakasih lah, kau harus mentraktirku makan!" Ujar Lexa tersenyum.


"Tentu my lady," Leon menyentuh kecil plester yang menutupi lukanya. Sungguh sentuhan yang menghangatkan. Leon jadi mengingat ibunya yang selalu mengobatinya ketika Leon sakit, padahal hanya sakit biasa.


.....


maaf baru up abis namatin mantan terindah

__ADS_1


cus deh kesini yuk 😁


next part 14


__ADS_2