
"Bagaimana dengan Leon, Lexa?" Tanya Viena pelan agar tidak menyinggung perasaan asistenya yang Viena yakini sedang kalut dan dilema.
"Ada apa dengannya Nyonya? Kami toh hanya sebatas sahabat, bahkan teman! Kami belum memiliki status apapun dan sepertinya Leon tidak memiliki niat untuk mengadakan status untukku. Aku sudah menyerah dengannya. Aku tidak mau memaksanya dan menghantui hidupnya lagi." Jawab Lexa menunduk dan dia menangis. Sepertinya dia akan menyesali perbuatannya, namun hanya ini yang bisa ia lakukan untuk barang kali membuat ayahnya sembuh dan bisa bersamanya.
"Lexa, kau bisa membawa Leon pada papimu. Kenalkan dia pada Leon. Karna Leon --" kata Viena namun Dion menahan Viena melanjutkan perkataannya dengan memegang pundak istrinya itu.
"Kapan kau akan bertunangan, Lexa? Aku akan memberitahu Leon kalau kau tak berani mengatakannya!" Tanya Dion di sela sela perbincangan Viena dan Lexa.
"Entahlah Tuan, sepertinya minggu minggu ini. Aku dan Tuan Jerry akan segera memutuskan tanggalnya. Aku benar benar tidak mau kehilangan papiku. Aku masih ingin bersamanya dan merasakan memiliki seorang ayah." Jawab Lexa tegas. Dia menghapus air matanya. Dia harus ke flatnya mengambil beberapa pakaian dan kembali ke rumah sakit.
Lexa sudah yakin dengan keputusannya. Dia sudah sangat lelah menunggu dan mendapatkan harapan dari Leon. Biarlah semua kenangan indahnya menjadi pengalaman perjalanan cintanya yang paling indah yang pernah ia rasakan. Meskipun dia tidak memiliki status dengan Leon, dan mereka berdua seperti tidak pernah saling mengatakan cinta, namun Lexa merasa kejadian bersama Leon adalah yang paling indah.
Lexa lalu beranjak hendak meninggalkan apartment Dion dan Viena. Dia sudah ijin dan menuju ke pintu keluar. Ketika dia membuka pintu, Leon ada di luar apartment hendak menekan bel. Lexa terperanjat. Begitu juga dengan Leon.
"Lexa?" Panggil Leon. Lexa hanya mendongakan kepalanya menatap sedih Leon.
"Kau kenapa? Kau habis menangis?" Leon dengan sigap karna juga sudah terbiasa langsung merengkuh wajah Lexa. Lexa malah menjadi semakin merindukan Leon. Dia akhirnya kembali menangis di depan Leon. Dia memikirkan perasaan Leon jika tahu kalau dirinya akan bertunangan. Dia malah takut Leon akan meledeknya atau mengatakan dirinya bercanda bukannya cemburu atau kesal.
"Diamlah!! Sudah sudah, semua karna papimu ya? Kau sudah bertemu dengannya? Selamat Lexa, Tuan Jerry sudah membantumu jadi aku tidak usah mencarinya lagi. Maafkan aku tidak bisa menepati janjiku." Kata Leon memeluk kepala Lexa. Lexa pun tak dapat menolaknya lagi. Dia juga rindu dengan pria ini. Dia hanya memberikan pelukan terakhirnya yang ternyata bertemu seperti ini. Lexa jadi tak perlu mengajak Leon bertemu.
Sementara di dalam Dion sudah merangkul Viena yang menangis melihat kisah cinta asistennya itu yang menurutnya menyedihkan. Viena tahu apa yang sedang Leon kerjakan dan siapkan untuk Lexa. Namun, jika semuanya terlambat maka Leon pun juga akan kehilangan Lexa.
Lexa menarik tubuhnya. Dia menghapus air matanya. Dia sama sekali tak sanggup berkata kata. Dia sudah sedih hanya melihat wajah Leon yang sampai malam ini terasa sangat lelah dan kacau.
"Kau-kau, mau apa ke sini malam malam?" Tanya Lexa berusaha menetralkan dirinya dari sesenggukan tangisnya.
"Ah, biasa pekerjaan, Tuan Dion menyuruhku. Hey, seharusnya aku yang bertanya, ini sudah malam, mengapa kau kesini? Kau tak bersama Tuan Jerry?" Tanya Leon kembali dan malah membuat Lexa mengernyitkan dahinya. Dia membicarakan pria lain seperti menyindir pikirnya.
"Dia sedang bersama papiku. Baiklah aku pergi, silahkan lanjutkan pekerjaanmu!" Lexa menghempaskan tangan Leon dan hendak pergi namun lagi lagi Leon menahannya.
"Tung tunggu dulu! Kau ini kenapa hah? Kau tidak merindukanku dua hari ini tidak bertemu? Tadi pun kau menghindariku, kau sudah memaafkan ku kan?" Tanya Leon berusaha kembali akrab.
"Iya! Aku masih ada urusan, kau kan mau bekerja?" Dengus Lexa.
"Sebentar ya, tunggu sebentar!" Leon menyuruh Lexa untuk berdiam diri dulu sebentar. Leon merasa ini kesempatan untuk kembali berbaikan dengan Lexa. Leon lalu ke arah pintu apartment dan melihat tuannya dulu.
"Tuan?" Panggil Leon dan Dion melambaikan tangannya menyuruhnya untuk bersama Lexa terlebih dulu.
Leon lalu kembali ke Lexa setelah meminta ijin dengan tuannya.
"Kau mau kemana? Ke papimu? Biar ku antar!" Leon menawarkan dengan berusaha ramah pada Lexa.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri!"
"Sudah ayo aku antar!" Leon merangkul Lexa dengan paksa. Lexa akhirnya mengikuti Leon.
Mereka sudah berada di dalam mobil. Leon masih memandangi Lexa dan membantunya memasangkan Lexa seatbelt.
"Kau kemasukan arwah siapa bisa selembut ini?" Lexa agak terkejut karna Leon tak pernah melakukan ini.
"Arwah siapa? Mungkin ibumu agar aku masih bisa menjadi bagian dalam hidupmu." Jawab Leon tersenyum manis. Lexa tersentak, apa maksud perkataan Leon. Lexa menatap tajam Leon.
"Jangan berpikir macam macam. Kau kan sudah bertemu ayahmu, jadi kau sepertinya tidak memerlukanku lagi menjadi ayahmu, tapi masih bisa kan aku menjadi ibumu, memperhatikanmu, hehe .. sudah ayo jalan. Kita mau kemana?" Leon mulai menyalakan mobilnya.
"Kau lelah Leon, matamu seperti kurang tidur!" Selidik Lexa.
"Ya, aku sedang mengerjakan sesuatu. Sepertinya aku akan sangat sibuk beberapa hari ini. Pekerjaan yang menakjubkan." Leon menaik turunkan alisnya.
"Begitu ya? Baiklah, antar aku ke flat ku, aku sangat lelah!" Saut Lexa.
"Tidak ke tempat ayahmu?" Selidik Lexa.
"Besok saja bersama Tuan Jerry!"
"Apa? Kenapa tidak denganku?"
__ADS_1
"Kau banyak pekerjaan, kau fokus saja, jangan memikirkanku!" Balas Lexa menatap keluar jalan.
Leon sudah melajukan mobilnya menuju ke flat Lexa. Hatinya sakit mendengar Lexa hendak bersama pria lain. Dia ingin sekali memeluk Lexa dan tidak mau beranjak kemana mana. Namun, semua yang ia rencanakan akan percuma. Dia harus bersabar. Dia mencoba positif kalau Lexa dekat dengan Jerry karna ayahnya Lexa sudah di rawat olehnya tidak lebih. Karna sudah terbakar cemburu, Leon diam saja di dalam mobil. Lexa juga terdiam. Dia sangat takut hatinya menjadi luluh dan memohon mohoh cinta pada Leon lagi.
Leon membuka pintu mobil Lexa. Dia masih memasang wajah penuh kecemburuan namun dia masih ingin melihat Lexanya itu. Leon mengantar Lexa sampai depan flatnya. Lexa masih menundukan kepalanya. Dia bingung dia mau mengatakannya atau tidak.
"Lexa, beberapa hari ini aku sibuk, mungkin kita bisa bertemu akhir minggu, bagaimana? Aku akan men-traktirmu, kau mau kan?" Tanya Leon pelan. Wajahnya ikut sedih karna dia benar benar tidak bisa melihat Lexa beberapa hari ini.
Lexa mengangguk. Dia merasa akan kehilangan Leon dan mungkin tidak bisa bertemu dengan Leon. Mungkin saja dia sudah bertunangan dengan Jerry.
"Leon, biarkan aku memelukmu!" Kata Lexa menangis namun Leon tidak mengetahuinya karna dia sudah masuk dalam pelukan Leon yang juga memeluknya.
"Hemm, rasanya aku tidak mau melepaskan pelukan ini. Sekali ini saja Lexa tunggu aku ya?" Gumam Leon di atas puncak kepala Lexa. Lexa tidak mengangguk. Dia malah semakin menangis.
"Sebentar saja Lexa, kita akan bertemu lagi dan bersama selamanya. Ini pekerjaan penting!" Leon terkekeh. Lexa hanya merasa seperti makan malam biasanya. Dia tidak berpikir Leon akan menyatakan cintanya karna seperti hari hari yang lalu Leon pun biasa saja dengannya.
Sementara Leon juga tidak berpikir kalau Lexa mungkin akan bersama Jerry karna dia ingin mempercayai cinta Lexa hanya untuknya.
Lexa menarik pelukannya. Dia menghapus air matanya.
"Pergilah, aku akan masuk!" Kata Lexa tidak mau menatap wajah Leon.
"Baiklah, jaga dirimu, ingat ya Lexa, akhir minggu kita harus bertemu, HARUS!" Leon mengusap puncak kepala Lexa. Lexa diam saja dan masuk ke dalam flatnya. Dia menutup pintu dan masih menangis di sana. Leon menarik napas panjang. Seperti ada kesesakan di hatinya namun dia optimis, dia akan mendapatkan Lexa dengan cara paling romantis yang pernah ia lakukan terhadap wanita. Leon lalu kembali ke apartemen Dion.
"Leon, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu!!!!" Lexa menangis di dalam flatnya sambil terus mengatakan mencintai Leon. Dia ingin mengatakannya namun teramat sulit. Biarlah ini merupakan penyesalan terindahnya dalam seumur hidupnya. Dia hanya ingin berbakti pada ayahnya.
...
Sementara itu, Jerry dan ayahnya sedang bercengkramah di sana. Alexis hendak menunggu Lexa yang katanya akan segera datang dan Jerry merasa inilah kesempatan berbicara pada ayah angkatnya.
"Dad, pernahkah kau menanyakan seorang yang dekat dengan Lexa?" Tanya Jerry perlahan.
"Ya aku tahu, dia adalah dirimu!" Jawab Alexis yakin kalau Jerry membicarakan dirinya.
"Bukan, maksudku sebelum kita bertemu dengannya." Jerry mulai menjelaskan maksudnya.
"Benarkah? Oh jd ini yang ingin kukatakan dad." Jerry langsung ke inti pembicaraan.
"Apa anakku?"
"Sebenarnya Lexa memiliki seorang pria yang ia cintai dan pria itu juga mencintai Lexa. Mereka saling mencintai Dad. Dia juga yang membawamu ke rumah sakit sewaktu kau tak sadarkan diri di tebing. Apa tidak seharusnya kau merestui mereka. Bukan aku." Jerry berkata dengan keyakinannya.
Sebenarnya hatinya hancur karna menyerahkan wanita yang ia cintai dan merasa terbaik bagi hidupnya kepada pria lain yang entah kapan menyatakan cinta pada wanitanya.
"Apa dia sudah menjadi kekasih Lexa?" Tanya Alexis.
"Belum sih, tapi mereka saling mencintai, dad." Jerry mulai memegang tangan ayahnya.
"Benarkah?"
"Ya dad, sepertinya kau harus mempertimbangkannya." Saut Jerry
"Hem, tampaknya kau tidak menyukai anakku ya?" Gumam Alexis sedikit kecewa karna dia seperti menginginkan Jerry menjadi menantunya.
"Hah? Suka? Aku sangat menyukainya dad, namun kebahagiaan Lexa lebih penting dad. Percayalah dad, pria itu melebihi apapun di hati Lexa." Jerry mencoba meyakinkan.
"Melebihi diriku?" Alexis mulai menyudutkan Jerry.
"Dad, baiklah aku sudah mengatakannya padamu, aku harap kau mengerti apa yang kukatakan. Kita berdua adalah orang yang bisa menentukan kebahagiaannya sekarang." Jerry berusaha untuk bijaksana memikirkan kebahagiaannya semuanya, bukan egoitas nya.
"Begini saja, aku akan berbicara padanya, terimakasih nak sudah mengingatkanku. Sekarang bisa kah kau tinggalkan aku sendiri, kepala ku agak pening." Tutur Alexis seraya tak ingin melanjutkan pembicaraan.
"Baiklah dad, maafkan aku jika ada kata kata ku yang menyinggungmu. Aku hanya kebahagaiaan semuanya dad." Jerry mulai beranjak dari duduknya di samping ayah angkatnya itu.
...
__ADS_1
Sekitar pukul tujuh pagi Lexa datang dengan tergesa gesa karna pagi pagi buta Jerry memberitahu kondisi Alexis yang merasa sesak. Kata dokternya saturasi oksigen dan tekanan darahnya rendah. Dia terus memejamkan matanya namun napasnya terus tersenggal seperti berlari berkilo kilo meter. Jerry sudah menunggu di luar ketika dokter masih melakukan tindakan. Kantong darah sudah tersalurkan namun kondisinya masih lemah.
"Aku mau masuk Tuan, aku mohon!" Pinta Lexa dengan matanya yang sudah berkaca kaca.
"Sebentar Lexa, dokter masih memeriksa dad!" Jerry memegang kedua lengan Lexa.
"Sebentar saja Jerry aku mohon, aku yakin papiku akan baik ketika mendengar suara ku." Lexa memaksa dan sudah menangis. Jerry tak kuasa melihat kesedihan Lexa yang begitu panik, akhirnya Jerry terpaksa memeluk Lexa. Dia juga agak menyesal karna sejak dirinya berbicara pada Alexis tak lama kondisinya jadi tak menentu.
"Ada apa dengannya Jerry? Kemarin dia tidur dengan nyaman, ada apa? Aku tidak mau kehilangannya sekarang, aku mau melakukan apapun untuknya, papi jangan pergi dulu aku tidak mau!" Lexa sudah menangis di pelukan Jerry.
"Maafkan aku Lexa, aku harus mengatakannya padanya kalau kau mempunyai Leon. Aku bilang padanya kalau kau lebih ingin bersama Leon." Jawab Jerry memberitahu apa yang ia lakukan. Lexa agak melotot. Dia lalu menarik diri dari pelukan Jerry dan ..
Pak! Lexa menampar Jerry.
"Maaf Tuan Jerry yang terhormat! Kau tidak berhak menentukan siapa yang akan menjadi pasanganku! Sekalipun dirimu yang menjadi pasanganku, itu adalah pilihanku! Jangan bawa bawa Leon di dalam masalah ini, dia pun tidak akan memikirkannya!" Decak Lexa dan membalikan tubuhnya. Dia duduk di samping ruang rawat ayahnya dan menangis menutup wajahnya.
Jerry lagi lagi bingung. Dia juga sebenarnya ingin bersanding dengan Lexa namun dia tahu siapa yang dicintai Lexa. Jerry menghela napas, dia menghampiri Lexa dan merangkulnya.
"Aku minta maaf, aku minta maaf, baiklah, apa yang menjadi keputusan kalian berdua aku akan menurutinya. Lexa, maafkan aku jika aku akan membuatmu mencintaiku." Gumam Jerry. Lexa mendongakan kepalanya dan mengatakan terimakasih.
Tak berapa lama dokter keluar dan memanggil nama Alexa. Lexa dengan sigap menyeruak masuk ke dalam ruang rawat ayahnya.
"Alexa.. aku hanya bertanya satu kali. Kalau pun aku masih membuka mata ku sekarang atau besok. Aku mau melihatmu bahagia." Kata Alexis pada Lexa yang sudah duduk si sampingnya.
"Tidak! Kau harus selalu membuka matamu aku mohon papi. Aku mau merasakan memiliki ayah kandung. Perasaan kasih yang kau berikan berbeda dengan siapapun. Aku mohon pap jangan seperti ini! Kau ingin bertanya apa aku akan menjawab dan melakukannya!!!" Bantah Lexa yang tak rela kalau ayahnya pergi lagi meninggalkannya bahkan ini selamanya.
"Apa kau memiliki kekasih yang sangat kau cintai? Kalau ada segera perkenalkan padaku dengannya dan segeralah kalian menikah, jika tidak menikahlah dengan Jerry, pria yang sudah kuketahui semua prilakunya yang pasti akan menjagamu. Menyayangimu dan mencintaimu sama seperti aku ayahmu." Tutur Alexis dengan pelan dan lemah.
Leon! Lexa mau menjawab Leon. Dia mau menjadi istri Leon. Dia sudah membuat janji dengan banyak orang. Dia ingin Leon. Tapi, Leon bukan siapa siapanya. Mereka hanya sahabat yang sangat dekat. Kalaupun dia berbicara pada Leon, mungkin Leon menanggapinya tidak dengan serius. Dan percuma kalau sekarang pun Lexa memintanya menjadi kekasihnya. Leon sibuk dan pasti akan sulit mencarinya. Lexa sudah meyakinkan dirinya. Dia menarik napas. Dia menunduk memegang tangan ayahnya dan menempelkannya di dahinya.
"Tidak papi! Aku tidak memiliki kekasih! Biarkan aku menikah dengan Jerry. Aku mau!" Jawab Lexa dan menangislah dia.
~Leon, selamat tinggal. Aku mencintaimu. Aku tak pernah merasakan jatuh cinta sedalam ini dengan seorang pria. Hanya padamu, tapi mengapa lagi lagi kau jauh di sana. Maafkan aku. Selamat tinggal semua kenangan termanis dalam hidupku bisa mencintai pria sehebat dirimu yang pada kenyataannya kita tidak bisa bersatu. Mom Jane, maafkan aku, aku tidak bisa menjadi anak kandungmu. Angel, maafkan aku yang merelakan pengorbananku untuk menarik simpatimu. Semuanya sia sia. Maafkan aku.~ Lexa berkata kata dalam hatinya di tengah tangisannya di punggung tangan ayahnya.
"Jangan tinggalkan aku pap! Hanya dirimu keluargaku, jangan tinggalkan aku!" Kata Lexa lagi memeluk ayahnya dalam tangisnya memikirkan Leon.
...
...
...
...
lalalala nocomment nangis lagi aja kita yukss
lexa perjuanganmu rwar byasa
gua mah kaga bisa dah 😭😭😭
untung aku nyiptain kmu doangss 😝😝😝
.
next part 74
perjalanan cinta hampir usai 😒😒
.
jangan lupa LIKE KOMEN cermati amati setiap kalimat perkatanya agar novel ini bukan hanya sekedar menjadi hiburan atau mengisi waktu luang semata namun ada pesan yang bisa diambil 😊😊
MINTA Rate dan VOTE juga di depan profil novel yaa ❤❤
.
__ADS_1
thankyou for read and i love you 💕💕