Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 : Part 13. Fighting!


__ADS_3

LIKE LIKE DULU DONG BIAR GA LUPA THANKYOU 😍😍


...


Berusaha bertindak profesional dan belajar menghargai orang lain nyatanya sangatlah penting dalam menjalani kehidupan. Kecurangan lebih mendominasi ketika rasa iri sudah menyerang dan hal ini yang akhirnya membuka kacamata Carolyn yang dulu bertindak sama seperti itu. Kini dia tahu betapa menyakitkan hal ini. Padahal dia tidak bertingkah dengan dunia kerjanya karena hendak menyelesaikan dengan cepat. Namun, apa daya, kepintaran ini membuat banyak orang tidak menyukainya. Lalu, apa yang harus ia perbuat? Apakah Xelino akan terus berperan dalam setiap langkahnya?


...


Carolyn menopang dagunya di meja kantin kantornya. Dia menggertakan jari jarinya sehingga membuat nada yang beraturan. Dia sedang menunggu Xelino memperbaiki ipad-nya. Dia tidak mempermasalahkan harga atau bentuk iPad itu, tapi dia memikirkan semua pekerjaannya sejak di bangku kuliah. Mahakarya yang sangat ia puja puja dan membanggakan dirinya. Dengan sudah payah dia mengumpulkannya menjadi sebuah portofolio yang hendak ia tampilkan dalam sebuah pameran arsitektur impianny selain memiliki rumah di pinggir ladang.


Carolyn menatap nanar Grizel dan Lila yang sedang mencari meja mereka juga untuk makan setelah pekerjaan mereka. Ini sudah waktunya pulang. Mereka masih mencari makan di sini dan Carolyn semakin kesal karena Xelino benar benar terlalu lama.


Beberapa kemudian Xelino datang dan membawa seperti paper bag kecil berwarna biru tua. Baru saja Xelino hendak menghampiri Carolyn, dia tertabrak oleh Grizel. Xelino tampak sudah meminta maaf karena menundukan tubuhnya tapi sepertinya Carolyn menangkap hawa hawa ketertarikan dari Grizel pada Xelino. Dia melambai lambaikan tangannya pada Xelino sambil memegang lengan Xelino. Xelino masih di sana dengan sedikit menjauhi Grizel. Carolyn memicingkan matanya kesal dan akhirnya menghampirinya.


"Ehem, Xelino!" Panggil Carolyn.


"Carolyn! Kasar sekali kau memanggil pria ini!" Decak Grizel menatap Carolyn dengan tatapan tak suka .


"Terserahku karena dia adalah asisten ku!" Balas Carolyn tidak mau kalah. seketika Grizel dan Lila menganga. Carolyn memiliki asisten seumuran mereka dan sangat tampan juga terlihat berkelas.


"Asistenmu?" tanya Grizel memastikan.


"Kenapa? Terkejut asistenku sehebat ini?" saut Carolyn melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Kau benar benar gadis tidak berperasaan, masa kau menjadikan pria tampan dan berkelas ini asistenmu!" decak Grizel menunjuk nunjuk Carolyn.


"Itulah kehebatanku! Oleh sebab itu kau jangan sekali kali menyerangku! Xelino kau ini lama sekali!" balas Carolyn mengancam dan juga memarahi Xelino.


"Siapa yang menyerangmu?!"


"Sebaiknya kau tingkatkan kapasitas otakmu dan temanmu untuk menjatuhkan ku! Siap siap kau harus menerima akibat dari perbuatan kalian!" Ancam Carolyn dan pergi dari sana. Xelino masih tidak mengerti dan tanpa banyak bercakap lagi, Xelino juga berbalik dan mengikuti Carolyn.


"Nona, maafkan aku, aku terkena traffic jam," kata Xelino sedikit menyesal. Dia harus antri di plaza ponsel untuk mendapatkan iPad yang sama dengan milik Carolyn.


"Aku tidak suka menunggu di kantin itu, kotor dan bau makanan kemana mana, jangan seperti ini lagi!" decak Carolyn kesal.


"Ya ya, maafkan aku, lihatlah aku sudah memperbaiki ipad-mu," tutur Xelino memperlihatkan paper bag biru Dongker tersebut.


"Thanks," ucap Carolyn meraih paper bag tersebut sambil terus berjalan ke mobil.


"Your welcome princess," balas Xelino tersenyum.


"Cih, Xelino, berhentilah memanggilku dengan sebutan sebutan yang malah membuatku gerah!" celetuk Carolyn berdalih. sebenarnya dia malas senang ketika Xelino tiada henti hentinya memujinya.


"Kau gerah atau wajahmu yang memerah karena muncul aura cinta yang panas dari dalam tubuhmu?" saut Xelino masih menggoda.


"Heng, terserahmulah, aku menyerah!"


"Begitu baru benar, harimau kecil," kata Xelino tersenyum sambil membukakan pintu mobil.


Carolyn tersenyum tipis dan menggeleng gelengkan kepalanya. Dia pun masuk ke dalam mobil.


"Mau kemana kita sore ini, nona?" Tanya Xelino juga sudah bersiap di kursi pengemudinya.


"Aku ingin mencari inspirasi. Kalau ke rumahmu akan memakan waktu banyak. Aku ingin ke perkebunan bunga dekat gereja di pinggiran kota Springfield, Xelino," pinta Carolyn.


"Oke berangkat!"


Xelino melajukan mobilnya ke perkebunan bunga di dekat gereja tua di pinggiran kota Springfield. Xelino memberhentikan mobil tepat di depan pintu gerbang perkebunan tersebut untuk menurunkan Carolyn sementara dirinya harus memastikan mobilnya di pekarangan gereja. Carolyn lebih dulu masuk ke perkebunan itu. Terdapat baridan penuh tanaman Bunga mawar merah, tulip ungu dan bunga matahari. Perkebunan ini merupakan perkebunan terbesar di Springfield nomor dua setelah perkebunan milik Angel di Desa Serena. Di perkebunan ini hanya terdapat tiga bunga itu . Tiga bunga yang Carolyn sukai. Carolyn suka kesini jika sore hari karena pengunjung tidak terlalu banyak. Dia akan duduk di bawah pohon rindang dan menikmati warna bunga tersebut serta angin yang berhembus semilir menambah kesejukan sekitarnya .


Carolyn menarik napas panjang dan kembali mengingat tugas yang Deborah berikan padanya. Denah yang ia peragakan di whiteboard dengan penjabarannya mampu menggugah hati Deborah. Seakan akan denah tersebut sudah terbangun. Bagaimana tidak Carolyn menguasainya dengan baik karena sketsa itu sama seperti rumah yang ia impikan bersama Aciel. Namun, sekarang kalau pun rumah itu jadi, itu bukan untuknya dan bersama siapa dia bersanding. Carolyn masih terlalu takut dalam berhubungan.


Kini Deborah menyuruhnya membuat maket dari sketsa dan denah yang sudah ada. Deborah juga menyuruh Carolyn membuat Denahnya dalam bentu print out sebagai bahan presentasi bersama Ansel besok. Lagi lagi Carolyn terbawa suasana. Besok dia akan bertemu dengan pria yang cukup mirip dengan Aciel itu. Apa dia siap? Pikiran dan perasaannya malah berkelana pada kenangan indah yang Aciel berikan padanya. Seperti Aciel pernah merangkai bunga untuk nya dengan alat seadanya. Hanya dengan ranting dan daun yang panjang. Belum lagi dengan beberapa rumput liar dipadukan oleh bunga bunga kecil yang menurut Carolyn malah sangat indah ketimbang mereka yang ahli merangkai bunga. Carolyn mulai kembali bersedih dan matanya mulai berkaca kaca. Tidak bisa dipungkiri, dia merindukan Aciel. Carolyn mengusap matanya yang hendak menangis.


Dari kejauhan, Xelino kembali merasakan kesedihan Carolyn. Untung saja dia sudah membawa segela kopi susu hangat dan kue berbentuk ikan yang cukup enak di depan gereja sana.


'Sebenarnya, ada hal apa yang tidak ku ketahui darimu, Carolyn? Mengapa kau jadi selalu bersedih sejak bertemu dengan pria itu? Hem, membuat penasaran saja,' gumam Xelino dalam hati dan menghampiri Carolyn.


"Kopi susu, nona," kata Xelino duduk di samping Carolyn dan memberikan kopi susu yang aromanya begitu menenangkan. Sesaat dia kembali teringat Aciel. Aciel juga pernah membuatkan kopi susu yang begitu enak ketika dirinya harus mengikuti sebuah sayembara di Honolulu.


"Di mana kau membeli ini?" Tanya Carolyn kemudian.


"Di kedai di depan geraja sana, aku juga membeli roti ikan ini. Kau mau?" kata Xelino menunjukan roti ikannya.


"Hem, apa itu enak? Mengapa bentuknya seperti itu?" selidik Carolyn memicingkan matanya.


"Kau belum pernah mencobanya?" tanya Xelino.


Carolyn menggeleng. Xelino tersenyum lalu menyodorkan kue ikan tersebut tapi Carolyn langsung menjauh. Carolyn merasa kue itu tidak enak.


"Ah, kau ini manja sekali! Kau harus mencobanya, ini!" Kata Xelino lagi memotong kecil kue tersebut dan langsung menguapi Carolyn yang tadinya terus menutup mulutnya. Carolyn hendak membuangnya namun ketika dia merasa ada selai kacang merah di dalamnya, dia jadi menyukainya.


"Enak Xelino," kata Carolyn tersenyum senang memakan makanan itu.


"Kubilang juga apa,"


"Buat ku saja! Kebetulan aku lapar sekali setelah melihat wajah Grizel dan Lila!" kata Carolyn lagi langsung merebut roti ikan itu dari Xelino.


"Ya sudah, makanlah dulu, aku pikir kau bersedih karena memikirkan pria yang kemarin," ujar Xelino menerka.

__ADS_1


"Lusa aku harus mempresentasikan denah juga simulasi bangunan padanya," kata Carolyn kemudian memberitahu.


"Di mana?"


"Di kantor, memang di mana?"


"Kalau di luar kantor kau harus bilang padaku agar aku bisa menemanimu, aku tidak yakin dia orang baik, Nona!" kata Xelino mengingatkan.


"Itu memang tugas mu kan?"


Xelino mengangguk dan tersenyum. Dia meraih ponselnya dan hendak membalas pesan Carolyn kemarin malam.


📝carolyn@delinsgroup.com


Karena kita sudah berteman, masa kita tidak bertemu? Bukankah Springfield merupakan kampung halaman papimu? Apa salahnya jika kita bertemu? Em, bisakah aku melihat foto dirimu?


Begitulah balasan email Carolyn untuk Lionel.


📝lionel@janson.com


Ya ya Minggu depan aku akan mengabarimu. Foto? Apa foto penting untuk ukuran sebuah persahabatan? Nanti kita akan bertemu, tunggu saja :)


Status : send letter 7pm.


Xelino kembali menyimpan ponselnya karena Carolyn sudah menghabiskan kue ikan yang ia beli. Carolyn lalu meraih paper bag biru tua yang berisi iPad nya. Dia meraih iPad putih itu dan merasa agak sedikit aneh dengan bentuk dan sisi sisi iPad tersebut.


"Xelino?" panggil Carolyn masih melihat lihat ipadnya.


Xelino menoleh ke arahnya.


"Ini iPad siapa?" tanya Carolyn terheran.


"Ipad mu lalu iPad siapa? Aku tidak bisa membeli iPad mahal itu! Habis sudah gaji sebulanku di kantor ayahmu!" jawab Xelino berusaha menutupi hal yang sebenarnya.


"Hem, tapi mengapa warna putihnya begitu bersinar. Hem, dan mengapa ada kamera di depan ipad-ku? Xelino, kau apakan ipad-ku?" Selidik Carolyn menatap tajam Xelino. Xelino bingung harus bagaimana menjelaskannya. iPad seperti punya Carolyn yang rusak sudsh tidak ada lagi. Jadi dia membeli versi terbarunya.


"Xelino, jawab ... Ini iPad siapa? Kembalikan iPad ku, aku mau iPad lamaku, di sana terdapat semua portofolio ku!" pinta Carolyn menghentak hentakan lengan Xelino.


"Hey nona! Itu ipad-mu! Kau lihat saja dulu dalamnya. Nyalakan ipadnya. Aku hanya mengganti layarnya," saut Xelino mencoba tenang.


"Mengganti kacanya? Tapi kaca ini bahkan seperti baru dan terlihat glossy," kata Carolyn lagi benar benar merasa ada yang aneh.


"Kau benar benar bawel sekali, iPad sendiri tapi tidak tahu bagaimana rupanya, harimau kecil bodoh!" decak Xelino akhirnya.


Carolyn mengerucutkan bibirnya. Dia segera menyalakan ipadnya dan terlihat homescreen menang foto dirinya lalu wallpaper ketika iPad itu menyala foto dirinya bersama seluruh keluarganya.


"Ini iPad ku ya?" gumam Carolyn akhirnya mencoba mengakui kepunyaan ipadnya itu.


Carolyn tidak menanggapi. Dia memeriksa semua file di sana dan masih lengkap. Dia tersenyum. Mungkin dia hanya melupakan bentuk iPad nya sendiri karena kesibukan melanda dirinya akhir akhir ini. Xelino tetesenyum lebar karena Carolyn sudsh percaya walau Carolyn masih memegang megang camera yang ada di depan ipadnya.


"Ternyata ipad-ku memiliki camera, Xelino! Karena kau sudah membantuku, mari kita rayakan dengan berfoto. Menggunakan kamera depan iPad ku!" Kata Carolyn yang sedang mencurigai Xelino. Mereka pun berfoto dengan senyum merekah mereka. Carolyn lalu menyimpannya.


"Jadi, dimana kau memperbaikinya?" tanya Carolyn.


"Adikku Allegra," jawab Xelino tidak sadar.


Carolyn memicingkan matanya. Dia seperti pernah mendengar nama itu.


"Allegra? Allegra yang kemarin kita bertemu di Atkinson de Angel?" selidik Carolyn memastikan.


"Iya, lalu kenapa?" saut Xelino melirik Carolyn.


"Dia adikmu dari mana? Xelino kau coba jangan pernah tidur di sore hari, kau akan sakit!" decak Carolyn benar benar aneh dengan kata kata Xelino.


'Lagi lagi dan lagi, kau memang anak Danteleon Janson, Xelino, ceroboh dan seenaknya bicara!' decak Xelino dalam hati.


"Maksudku dia itu adik angkatku. Dia juga kuliah di tempat kita dan dia ikut program aksel. Kebetulan aku sering bertemu dengannya," ujar Xelino cukup lega bisa menjelaskannya.


"Dia mau jadi adik angkatmu?"


"Tentu, kan aku tampan,"


"Hem, tampan apa, gayamu yang sebenarnya waktu kau mengantar bunga, sangat berandalan!" umpat Carolyn mencibir.


"Kalau sekarang rapi dan tampan kan?" tanya Xelino percaya diri membenarkan jasnya.


"Ya ya, baiklah! Jadi, apa kata adik angkatmu itu tentang ipadku?" tanya Carolyn kembali membicarakan ipadnya.


"Sepertinya memang ada yang ingin mencelakaimu, nona! Karena retak pada layar kaca ipad-mu sangat berlebihan. Bukan hanya itu, kalau hanya jatuh biasa tidak akan sampai pecah dalamnya. Begitu kata Allegra. Aku tidak mengerti dia bicara apa," kata Xelino.


"Tapi semua dataku tidak hilang, Xelino,"


"Itulah kehebatan adikku, dia hanya mengambil memori dan chipnya. Dan menaruhnya di iPad yang baru," kata Xelino lagi tanpa sadar mengatakan hal yang sebenarnya.


"WHAT?!!!" Carolyn terkejut.


"Maksudku iPad yang sudah kuganti kacanya," saut Xelino lagi terus berdalih.


"Awas kau ya?!! Kau dalam pengawasanku Marxelino!" balas Carolyn menunjuk ke Xelino. seketik hati Xelino berbunga bunga karena Carolyn memanggil nanya dengan lengkap. terdengar sangat syahdu.

__ADS_1


"Ahhh, kau mengingat nama lengkapku, nona, aku tersanjung," kata Xelino dan dengan reflek memeluk Carolyn dari samping. Awalnya Carolyn terdiam karena dia cukup senang mencium aroma tubuh Xelino yang tidak terlalu mencolok tapi juga sangat harum. Namun, tak lama dia tersadar kalau Xelino hanyalah asistennya.


"Argh, lepas Xelino! Kau ini selalu mencari kesempatan, lepas lepas!" Carolyn meronta. Akhirnya Xelino melepaskannya.


"Kau tidak berterimakasih padaku, Aneeta?" pinta Xelino tersenyum.


"Hem, terimakasih!"


"Sama sama, lain kali harus berhati hati!" kata Xelino mengingatkan.


"Aku sudah tahu siapa yang melakukannya!" ujar Carolyn dengan tatapan tegas.


"Siapa?"


"Dua orang yang tadi menggodamu, dasar murahan!" dengus Carolyn dendam.


"Kau tahu apa yang harus kau perbuat, nona!"


"Ya, aku akan memberi mereka pelajaran! Jadi, sekarang aku mengerti rasanya ditindas," tutur Carolyn kemudian menautkan tangannya.


Xelino tersenyum.


"Kau akan lebih mengerti lagi semua hal di dunia ini, nona," ujar Xelino pelan dan tampak serius.


"Apa kau akan selalu menemani dan melindungiku?" tanya Carolyn yang sepertinya mulai nyaman bersama Xelino.


"Dengan sepenuh hatiku, aku Marxelino Janson, eh bukan, maksudku Marxelino Juan berjanji akan menjaga Nona Carolyn di manapun dia berada!" kata Xelino dengan penuh semangat.


"Cih, kau ini! Jangan jangan kau fans Tuan Leon Janson ya!" selidik Carolyn lagi berdecih.


"Begitulah, aku juga ingin berhasil seperti dia!" balas Xelino mengingat ayahnya.


"Fighting!" Saut Carolyn mengepalkan tangabbya ke arah Xelino dengan senyum melebar. Xelino menatap Carolyn merasa sangat manis dengan lesung pipi dan senyumnya yang merekah.


"Semangat nona!" Balas Xelino memegang kepalan tangan nonanya itu.


...


Keesokan harinya ketika Rietha kembali mengajak Deborah, Carolyn, Grizel dan Lila untuk membicarakan bangunan klien pertama, Carolyn sudah bersiap di ruang pertemuan. Rietha menugaskan Grizel untuk membuat laporan kasar mengenai pengerjaan bangunan yang sudah rampung di rancang oleh Deborah.


Carolyn sudah tersenyum kecut menunggu kedatangan Grizel. Dan ketika Grizel hendak melintas di samping kursi Carolyn, Carolyn yang memegang secangkir kopi susu beranjak dari kursi dan dengan sengaja menabrakan diri pada Grizel.


"Oh my God, Carolyn! Apa yang kau lakukan? Ini laporan yang harus kuserahkan pada Nyonya Rietha!" decak Grizel tak terima.


"Ups sory, aku tidak melihatmu datang! Oh my goodness!! Sebaiknya kau harus membuatnya yang baru seperti aku kemarin. Membuat denah yang baru karena ada seseorang yang merusak ipad-ku! Aku mempunyai video rekaman CCTV nya , kalau kau macam macam padaku, aku akan langsung memperlihatkannya pada bibiku! Kau tahu apa akibatnya kan?! Permisi, aku tidak ikut pertemuan!" Kata Carolyn yang ujung ujungnya mengancam Grizel. Lila menghampiri sahabatnya itu dan sedikit ketakutan.


"Dia sangat menyebalkan Lila!" dengus Grizel menatap kepergian Carolyn.


"Ya, kita harus lebih cerdas lagi mengerjai dia, dia memiliki video rekaman itu, jangan sampai Nyonya Rietha mengetahuinya!"


"Ya, benar, untuk sementara kita biarkan saja dia dulu!" kata Grizel berjaga jaga.


Lila mengangguk dan membantu Grizel membersihkan kopi di kemejanya. Grizel akhirnya berusaha mempresentasikan secara lisan dan Rietha tampak kecewa karena apa yang dijelaskan Grizel tidak ia mengerti. Grizel semakin membenci Carolyn tapi dia bingung bagaimana membalasnya.


...


...


...


...


...


Yohohohoo.. olyn hati hati, musuh mengintai, perketat penjagaan 😁😁


.


next part 14


bagaimana pertemuan Carolyn dengan Ansel?


apakah Carolyn akan kembali mengingat Aciel dan malah menyukai Ansel?


dan, bagaimana pekerjaan Xelino di perusahaan Gilbert?


.


rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:


---- LOVE & HURT ----


karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2