
Kalau pada akhirnya harus berhenti dan menarik napas panjang lalu beristirahat, itu sama sekali tidak salah. Berjuang pun jika sudah tahu jawabannya untuk apa bersusah hati. Jika berubah bisa membuat orang yang kita sayang bahagia, kenapa tidak? Sudah melalui hari hari panjang tapi sepertinya tetap tidak bisa saling membutuhkan mungkin waktunya berhenti dan menikmati alur yang ada. Rasa kekhawatiran Xelino meluap ketika melihat orang yang ia cintai terbujur lemah tak berdaya. Namun, apa daya ketika rasa cinta meluap dan ingin selalu ditunjukan, ia dihadirkan pada hal yang menurutnya sangat wajar. Sampai kapan ia akan bermain peran? Apa cukup dia bekerja atau masih memiliki rasa cinta untuk Carolyn setelah apa yang dikatannya?
...
Grizel dan Lila memasuki ruang perawatan. Ansel sudah tidak lagi menyuapi Carolyn karena perutnya jadi ikut mual karena serangkaian obat yang memiliki efek samping dan terlalu lama berbaring. Dia membutuhkan sedikit kelegaan dan sepertinya Carolyn ingin makan makanan kesukaannya. Carolyn memperhatikan Grizel dan Lila yang tampak mengerutkan wajahnya tak senang.
"Ada apa dengan kalian, Grizel, Lila? Em, apa kau melihat Xelino?" tanya Carolyn bertanya tanya juga tidak melihat kehadiran Xelino.
"Tadi dia ..." kata Lila ingin menjawab.
"Tidak Carolyn, kami belum melihatnya!" Sela Grizel memotong perkataan Lila. Grizel ingin membantu Xelino membantu menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
"Oohh, aku ingin sekali makan kue ikan, aku ingin dia membelikanku!" kata Carolyn lagi.
"Kami sudah membawakannya. Ini semua pemberian bibimu. Bagaimana keadaanmu sekarang, Carolyn?" Kata Grizel lagi mendekatinya dan menaruh semua makanan itu di meja makan samping tempat tidur Carolyn.
"Kalian membawa apa saja? Aku mau lihat bungkusan coklat itu, Grizel!" Pinta Carolyn menunjuk pada bungkusan yang Xelino bawakan padanya. Lila lalu mengambilnya dan memberikan pada Carolyn tanpa berkata kata. Lila masih merasa kasihan pada Xelino.
"Ini benar pemberian dari bibiku?" selidik Carolyn menaikan alisnya.
"Ya, makanlah agar kau cepat sembuh," jawab Grizel.
Carolyn melihat isi dalamnya. Mengapa dia merasa Xelino yang memberikan ini? Karena kue ikan ini baru saja ia sukai. Rietha tidak tahu kesukannya yang satu ini karena memang Carolyn menyukainya ketika dikenalkan pada Xelino.
'Xelino, kau di mana? Apa kau tidak mencemaskanku? Yang ku ingat, kemarin kau menarik ku dari Aciel, kau memelukku dan tidak melepaskanku ketika Aciel terus mengajakku ke alamnya. Kau bilang kau akan membahagiakanku, tapi kau di mana? Mengapa rasanya kau jauh sekali dan tidak peduli padaku?' tutur Carolyn dalam hati sambil memandangi kue ikan itu.
"Carolyn, kau mau kue ikan itu? Sini biar kusuapi," kata Ansel kemudian. Carolyn mendongak menatap Ansel sesaat dan menggeleng.
"Dia bisa makan sendiri, kau tidak lihat dia sudah sehat, tuan? Em, dan sepertinya aku bersama Lila sudah cukup menemani Carolyn, silahkan anda bisa pergi dari sini," saut Grizel tetap dengan sopan santun dan tegas.
"Tidak apa apa, hari ini aku tidak banyak urusan jadi aku bisa menemani Carolyn seharian," balas Ansel tersenyum ramah.
"Tidak usah, kami saja yang menemani Carolyn!" dengus Grizel lagi mempertahankan kehendaknya.
"Diamlah ... Bisakah kalian semua pergi dari sini? Aku ingin menikmati kue ikan ini sendirian. Aku mohon," pinta Carolyn menatap Ansel. Ansel tentu tidak bisa menolak karena pandangan Carolyn yang memohon dan sayu. Hari ini sepertinya juga sudah cukup mengetahui perasaan Carolyn yang sebenarnya.
__ADS_1
Sebentar lagi pembangunan rumah impiannya akan dilaksanakan dan dia bisa berlebih lama lagi dengan Carolyn karena mereka akan ke Greenville lebih sering. Ansel tersenyum pada Carolyn dan mengangguk. Entah mengapa senyuman Ansel sudah membuat Carolyn biasa saja. Tidak membuat jantungnya berdegup lagi mengingat Aciel. Sekarang, dia malah merindukan Xelino. Terakhir kali dia meminta perhatian pada Xelino dan melihatnya di mimpinya tapi mengapa rasanya dia telah melakukan kesalah. Apa jangan jangan Xelino mendengar apa yang ia katakan pada Ansel? Namun, dia tetap percaya kalau Xelino belum mengunjunginya.
Ansel, Grizel dan Lila pun keluar dari ruangan. Ansel tidak perlu merayu Carolyn lama lama, yang ia perlukan mencuri perhatian Rietha agar dirinya bisa segera dijodohkan oleh Carolyn. Setelah keluar, Ansel langsung pergi tanpa meminta ijin pada Grizel dan Lila.
"Hem, pria macam apa dia itu, tidak sopan!" Dengus Grizel.
"Benar, dia tidak ijin dengan kita, Grizel!" saut Lila juga sebal.
"Tidak cocok untuk Carolyn!" kata Grizel lagi mendengus.
"Benar benar!" Lila menyetujui.
Sementara di dalam, Carolyn meraih kue ikan itu dari bungkusnya. Dia melihat dan memakannya satu gigitan. Rasanya enak sekali tapi tak lama dia meneteskan air matanya.
"Aku merasa ini pemberian darimu, Xelino. Kau di mana? Kue ini akan terasa enak jika kau ada di sampingku duduk di bawah pohon sambil menikmati taman bunga. Em, apa kau sibuk dan tidak begitu cemas denganku?" Gumam Carolyn. Dia memakan lagi kue tersebut dan mengembalikannya ke bungkusan. Dia merebahkan dirinya setelah meminum satu gelas air putih.
"Kau di mana Xelino?" Tanya Carolyn dan meneteskan air matanya. Dia memejamkan matanya berharap ketika bangun nanti Xelino sudah menjemputnya.
"Kalau aku berbuat salah, aku minta maaf," ujar Carolyn lagi pelan dan akhirnya tertidur.
Grizel dan Lila coba memasuki ruangan dan ternyata Carolyn sudah tertidur. Mereka berdua masuk dan menunggui Carolyn sampai Rietha datang. Begitulah yang Rietha pesankan pada dua pegawainya itu.
...
Bisa saja Xelino mengakui dirinya anak Leon Janson tapi sama saja membuat dirinya seperti pecundang yang mengeluarkan rahasianya untuk membuat Carolyn menyukainya. Padahal sudah semua cara ia lakukan untuk menarik perhatian Carolyn. Untuk membuat Carolyn menyukainya dengan dirinya yang saat ini. Dia ingin wanita yang menyukai apa adanya. Dia ingin Carolyn bisa menerimanya meski dia seorang anak dari desa. Ya, tapi Xelino kembali berpikir mana ada seorang anak presiden direktur pemilik perusahaan terkenal di Springfield bahkan sampai diketahui orang desa bersanding dengan seorang asisten dan karyawan sepertinya.
Xelino berpikir dia tidak boleh lagi mengharapkan apa apa dari Carolyn. Mulai sekarang dia benar benar harus menjadi asisten pribadi Carolyn dan Pegawai biasa ayahnya. Tidak boleh ada maksud lain. Mungkin hal ini yang akan membuat Carolyn bahagia dan tidak terjadi hal hal seperti ini lagi. Dia harus berjaga jarak dan tetap fokus pada pekerjaan.
Akhirnya Xelino menghentikan mobilnya di depan gereja yang sering ia kunjungi bersama Carolyn. Waktu itu dia pernah bertekad kalau suatu saat nanti akan membawa Carolyn ke dalam gereja ini sebagai calon istrinya tapi sepertinya itu hanya khayalan. Mungkin sebentar lagi Ansel yang akan dijodohkan pada wanita yang ia cintai itu.
Xelino kembali gagal menata perasaannya. Dia tidak mendengarkan ibunya kalau jabatan dan kedudukan itu sangat mempengaruhi. Apalagi kita menyukai wanita yang kedudukannya seorang anak presiden direktur dan merupakan anak satu satunya.
"Cih, kau terlalu bermimpi Carolyn bisa menyukaimu, Xelino! Semua yang ia lakukan hanya memanfaatkanmu. Kau bisa disuruh suruh tanpa menolak, menemaninya berjalan jalan. Kau itu hanya seorang asisten, bahkan benar kata papi kalau dirinya asisten bodyguard. Hem, seharusnya tidak memendam rasa suka terlalu berlebih dengan majikan. Sudahlah, Carolyn aku minta maaf jika aku salah menyukaimu. Ini hal yang tidak benar. Kau lebih cocok bersama Ansel," gumam Xelino di depan gereja.
Xelino pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam gereja. Di sana dia berdoa dan menenangkan dirinya. Semoga dia tidak melakukan kesalahan lagi dan membuat Carolyn tetap bahagia. Xelino harus memendam perasaannya. Dia tidak boleh melampaui batas lagi. Cukup hanya mengantar jemput Carolyn, menemaninya dia pergi kemana yang ia mau. Membawakan apa yang ia butuhkan. Hanya itu dan tidak usah terlalu bercakap cakap yang tidak penting. Pada akhirnya Carolyn hanya menganggapnya asisten. Sekalipun nanti dia mengaku siapa dirinya yang sebenarnya rasanya percuma membuat Carolyn berubah. Di dalam pikiran Carolyn, meski sudah banyak perubahan, dia tetaplah majikan, seorang nona dari keluarga berada. Tuan putri di sebuah kerajaan. Sedangkan dirinya asisten. Kini Xelino tahu bagaimana perasaan ayah dan ibunya dan untung saja mereka berdua adalah seorang asisten.
__ADS_1
Xelino menarik napas, mengapa rasanya lebih perih ketimbang mengetahui kalau Zhavia benar benar tidak menyukainya. Xelino pikir dengan semua perhatiannya pada Carolyn, tidak peduli apa jabatannya, Carolyn akan menyukainya layaknya pria dan wanita, tapi nyatanya Carolyn tetap memikirkan kedudukan dan kasta. Xelino mengusap wajah dengan kasarnya. Dia beranjak dari kursi di gereja itu dan keluar. Dia menuju ke kedai kue ikan terlebih dulu dan membelinya satu buah.
"Tadi pagi kau sudah membelinya dua, mengapa sekarang membeli lagi? Apa kekasihmu masih menginginkannya?" Tanya si penjual kue yang tampaknya lebih dekat dengan Xelino.
"Tidak ama, dia sudah sembuh," jawab Xelino meraih kue ikan miliknya.
"Benarkah, dia sudah sembuh?" saut si penjual kue memastikan.
"Ya benar ama, dia sembuh karena kue ikan buatan ama, dia sangat menyukainya," balas Xelino tersenyum tipis.
"Wah aku senang sekali mendengarnya. Apakah kekasihmu Nona yang sering ke taman bunga itu?" tanya Ama lagi.
"Iya Ama, apa menurutmu dia cantik?" saut Xelino.
"Ya, dia cantik sekali dan cocok denganmu. Kau tampan, gagah, wah dia beruntung mendapatkanmu!" kata Ama tersenyum ramah.
"Walau aku hanya seorang asisten, Ama?" Xelino melirik ke arah Ama.
"Apa? Jangan bilang kau adalah asistennya?" selidik Ama keluar dari kedainya.
...
...
...
...
...
potong dlu ya lanjut di bawah hehe
awas bapers 😁
.
__ADS_1
tetap minta LIKE DAN KOMEN nya yaa 💕
thanks for read and i love you 😍