Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 59. My Lady


__ADS_3

Begitulah kata pepatah, kalau jodoh tak akan lari ke mana. di saat saat kejadian yang tidak disadari ternyata menyimpan kenangan yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menjalani hidup. tidak disangka banyak peristiwa yang dilewatkan Carolyn dan Xelino di tempat yang sama. apakah itu? dan apakah Carolyn terlah berdia menjadi wanita Xelino seutuhnya?


...


Carolyn mengerjapkan matanya terbangun karena sudah agak lama terlelap. Dia merasa tempat tidur nya agak sempit. Setelah ia mengumpulkan seluruh kesadarannya, dia merasa dia tidak tidur sendiri. Dia benar benar memperhatikan siapa pria yang disampingnya. Dengan aroma yang begitu membuatnya mabuk kepayang sejak mengetahui dan mengenalnya untuk pertama kali.


'Xelino? Mengapa dia tidur di sampingku?' pikirnya memperhatikan pria tampan di sampingnya. Dia memegang dada Xelino, merabanya sesaat lalu menjalar ke wajahnya. Carolyn agak beranjak sedikit agar bisa menatap wajah pria ini.


Sangat putih, rupawan, tegas dan Carolyn begitu menggilainya. dia sampai merasa Xelino melebihi Aciel. Aciel lebih sering tersenyum dan tidak terlalu tegas. Sedangkan Xelino hanya tersenyum dengan orang yang sangat dekat padanya. Lebih bisa menghargai orang di sekitarnya. Carolyn lebih memilih Xelino jika kedua pria itu mendekatinya. Carolyn tersenyum dan terus memandangi wajah yang masih memejamkan matanya.


Tak lama, sebuah tangan malah membuatnya makin mendekati wajah yang sedang ia pandangi.


"Kau harus membayar karena menatap wajahku terlalu lama," kata Xelino tersenyum dan akhirnya membuka matanya. Carolyn terkejut. Dia gugup. Dengan segera Carolyn hendak menarik diri tapi Xelino lebih kuat untuk menahannya.


"Xelino, ini di rumah sakit! Mengapa kau tidur di sini?" decak Carolyn salah tingkah.


"Memang kenapa? Kau kan wa ni ta ku!" tutur Xelino dengan mengeja.


Puk!


Carolyn memukul kepala Xelino.


"Wanita apa? Sejak kapan aku menjadi wanitamu?" sungut Carolyn.


"Sejak tadi pagi, kau sudah menjadi wanitaku dan siapapun wanita yang mendapatkan pernyataan cinta dariku, dia sudah menjadi wanitaku!" balas Xelino lagi.


"Apa apaan kau! Siapa yang tahu kau tidak hanya mengatakannya padaku! Siapa tahu kau juga mengatakannya pada Grizel, Gladys atau Zhavia? Kau pasti penipu karena kau telah ..."


Cup!


Belum saja Carolyn kembali bicara yang sepertinya akan mengatakan menipunya, Xelino sudah mengecup bibirnya. Xelino meraih sedikit bibir Carolyn untuk ia gigit dan ia lumaat perlahan lahan.


"Xelino, kau keterlaluan, ini di rumah sakit," kata Carolyn mencoba berkata kata dalam kecupan Xelino.


"I Don't care!" Saut Xelino kembali mencium bibir Carolyn sampai Carolyn terpaksa memejamkan matanya.


"You must be my lady!" bisik Xelino.


"No!"


"Why?"


"Karena kau seekor rubah licik tengik dan rubah penipu!" decak Carolyn menggigit kecil bibir Xelino.


"My little girl, jangan terlalu galak! Aku tahu, kau juga mencintaiku kan?" saut Xelino tidak mau kalah.


"Tidak!" Decak Carolyn menarik diri.


"Menjauh dari sini, aku lapar, aku butuh sesuatu. Di mana ibuku? " tanya Carolyn kemudian.


"Siap! Aku akan menyiapkannya!"


Xelino segera beranjak dari tempat tidur itu dan menyiapkan sisa makanan yang tadi dipesankan Jennifer padanya. Xelino menghangatkannya lebih dulu. Sup daging sapi dan beberapa sayuran juga nasi lunak. Setelah hangat Xelino mencampurnya dan menambahkan sedikit lada. Carolyn memperhatikan Xelino yang begitu lihai dan cekatan.


Sampailah pria itu duduk di atas tempat tidur menghadapnya. Dia meniupi sup dan nasi itu perlahan agar tidak terlalu panas.


"Aaa ..." Kata Xelino menyodorkan sup nasi itu ke mulut Carolyn.


"Memang aku mau disuapi olehmu? Aku mau mommy ku!" rengek Carolyn.


"Dia sudah pulang, dia menitipkanmu padaku, kalau dokter sudah mengijinkanmu pulang, kau pulang ke apartemenku!" saut Xelino berbohong.


"Apaa? Apa apaan kau?! Memang, kau siapaku?! Aku tidak mau!" dengus Caroly memalingkan wajahnya.


"Sekarang makan dulu Carolyn," kata Xelino memohon.


"Tidak mau!"

__ADS_1


"Carolyn, aku sudah menyiapkannya dan tadi kata mommymu, kau hanya makan sedikit, sekarang ayo makan lagi. Ini sangat enak, aku tidak bohong!" Xelino terus merayu Carolyn sampai dengan nada yang pelan.


"Aku tidak mau!" jelas Carolyn lagi


"Cepat lah Carolyn jangan kekanak Kanakan!"


"Tapi kau harus berjanji," Carolyn menawarkan sebuah hal.


"Apa?"


"Kau harus pergi dari sini, karena aku belum memberikan maaf padamu, aku tidak mau bertemu denganmu!" kata Carolyn dengan nada angkuhnya.


Seketika hati Xelino meringis. Apa Carolyn benar benar tidak menginginkan dirinya? Masa bodoh, pikirnya. Dia akan tetap di sini tapi untuk sementara, dia harus menuruti Carolyn agar benar benar mau makan.


"Baiklah, aku akan pergi, tapi habiskan dulu makanan ini," akhirnya Xelino menyetujuinya.


"Aaa ..." Kata Carolyn membuka mulutnya.


Xelino pun meyuapinya perlahan lahan. Dia menyuapi sambil memoerhatikan wajah Carolyn. Carolyn cukup salah tingkah dengan sebelumnya Xelino yang tidak seperhatian ini padanya.


"Carolyn, apa kau benar benar kecewa padaku? Mengapa kau menyuruhku keluar?" tanya Xelino dalam acara makan mereka.


"Siapa suruh membohongiku, aku kesal sekali!" decak Carolyn terkekeh dalam hati nya.


"Aku minta maaf Carolyn. Aku sudah menjelaskan mengapa aku menyembunyikan identitas ku masa kau tidak mengerti? Mom and dad mu saja merestui hubungan kita," ucap Xelino lagi dan lagi.


"Yasudah, kau berpacaran dengan mom and dad ku saja, aku tidak masalah," saut Carolyn meledek.


Xelino melirik tajam Carolyn. Dia sangat tahu kalau Carolyn benar benar sedang mengakuinya. Baiklah, Xelino akan menuruti apa yang Carolyn inginkan.


Akhirnya makanan itu habis juga. Carolyn meminum air sambil memperhatikan Xelino yang membereskan alat makannya.


"Apa lagi yang kau inginkan?" Tanya Xelino setelah menaruh piring dan mangkuk kotor ke tempatnya. Xelino sudah kembali duduk di hadapan Carolyn.


"Mana janjimu? Pergi dari sini, aku tidak mau melihatmu!" Carolyn menagih.


"Cih, tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum kau menjadi kekasihku!" balas Xelino tidak mau kalah.


"Carolyn, kau tidak menghargai hatiku! Aku tidak melakukan hal buruk padamu, malahan aku yang selalu melindungimu kan. Hem, sebenarnya aku tidak pernah berbohong padamu, aku selalu ada untukmu, SELALU!" kata Xelino mengingatkan prilaku baik apa yang sudah ia berikan pada wanita nya itu.


"Selalu bagaimana? Kau bahkan menyamar menjadi Lionel kan?" selidik Carolyn.


"Nah, kalau aku Lionel, aku tanya padamu, aku datang atau tidak ketika dua kali aku membuat janji denganmu? Datang tidak?" tanya Xelino.


Carolyn sejenak berpikir. Benar apa yang dikatakan Xelino. Xelino selalu ada untuknya dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya. Dia bahkan menghiburnya juga.


"Kau berpikir kan? Karena aku memang tidak pernah berbohong!" kata Xelino lagi dengan yakin.


Seketika Carolyn tersadar.


"Aahh tapi kau bukan Lionel, kau Xelino!" decak Carolyn tetap pada pendiriannya.


"Carolyn, cobalah berpikir, aku bertanya sekarang padamu. Siapa yang menyamar menjadi Lionel?" tanya Xelino menguji.


Carolyn terdiam dengan wajahnya yang mengkerut.


"Kok diam? Jawab! Kau orang pintar kan? Jawab saja, aku tidak akan meledekmu! Siapa?" Xelino memaksa.


"Kau," akhirnya Carolyn menjawab.


"Yang membuat janji padamu siapa?" tanya Xelino lagi.


"Lionel," jawab Carolyn.


"Tapi yang datang siapa?" tanya Xelino karena ingin menggoda Carolyn.


"Kau!"

__ADS_1


"Lionel itu siapa?"


"Kau!"


"Jadi aku berbohong atau tidak?!"


"Tidaaakkkk!!! Aargh Xelino, kau menyebalkan!" Pekik Carolyn mengambil bantal dan memukul Xelino. Xelino tertawa karena sukses mambuat Carolyn sebal tapi juga mereka semakin akrab.


Tanpa berkata lagi karena hampir sakit perut ya mengerjai wanita yang ia cintai, Xelino menarik tangan Carolyn untuk masuk ke dal pelukannya.


"Jangan peluk aku, lepaskan!" Carolyn meronta pelan.


"Diamlah dulu sebentar! Aku mau memelukmu!" Pinta Xelino mendekap erat tubuh Carolyn dengan menahan punggung belakangnya. Carolyn pun mengalah karena juga senang merasakan pelukan seperti ini.


"Carolyn, aku tulus meminta maaf padamu. Aku akan melakukan apapun asal kau mau menerimaku. Aku akan buktikan sesuatu padamu bahwa di dalam hatiku hanya tertulis nama Carolyn sejak pertama kali kau menabrakku, kau ingat tidak? Kau memberikan jari tengah padaku," kata Xelino menyandarkan kepalanya di pundak Carolyn.


"Hem, tapi kau belum mengetahui namaku," keluh Carolyn juga saling bersandar.


"Sebenarnya sudah! Kau pasti tidak menyadari waktu itu kau berdiri di sampingku di ruang rektorat hendak mengambil perlengkapan wisuda. Kau berdiri di sampingku sejak itu aku ingin mengenal dirimu. Namun, aku belum memiliki keberanian. Aku diam saja dan kau tak sengaja melupakan name tag mu. Aku tahu kau Carolyn Delinsky. Kebetulan sekali aku ingin bekerja di sana. Saat itu aku berniat untuk mendapatkanmu. Siapa yang sangka kita terus bertemu, bertemu dan akhirnya begini. Hatiku sudah mencintaimu sampai seperti ini. Sampai takut kalau kalau kau tiba tiba menghilang. Carolyn, apa ini bukan sebuah jodoh?" Kata Xelino menjelaskan sesuatu yang tidak disadari Carolyn sebenarnya.


Carolyn memang selalu masa bodoh sejak kuliah karena sejak ditinggalkan Aciel, Carolyn menjadi menutup diri dan tidak mau berteman oleh siapapun.


Xelino masih memandang Carolyn dengan seksama. Carolyn menjadi tersipu malu.


"Carolyn, apa yang kau pikirkan?" tanya Xelino kemudian.


"Aku tidak menyangka kalau orang itu memang kau. Kita sudah sering kali bertemu dan akhirnya dipasangkan menjadi majikan dan asisten. Siapa yang tahu kita akan sedekat ini. Tapi Xelino aku masih belum mengerti mengapa kau menyembunyikan identitas mu?


"Karena aku tidak mau gagal lagi, aku mau mendapatkanmu dengan tulus dan aku sudah yakin sejak beberapa kali kau melakukan sesuatu padaku, pada ibuku dan semua yang tidak kau sadari. Kau juga bahkan telah merawatku. Tapi Carolyn kau tenang saja. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan memberikan sesuatu yang akan membuatmu luluh dan ingin selalu bersamaku. Asalkan jangan menyuruhku menjauh atau hanya menyuruhku menunggu di luar. Aku tidak sanggup. Biarkan aku di sini, menjaga dan melindungimu. Aku tidak mau ingkar janji lagi. Bisa kan?" Pinta Xelino lagi dan lagi. Carolyn tidak punya pilihan. Pria ini terlalu baik baginya. Dia tidak mau menyesal dengan terlalu keras sehingga dia juga akan merasakan kegagalan.


Akhirnya Carolyn hanya mengangguk dengan wajahnya yang agak muram. Dia menyesal telah berkata kasar sebelumnya pada Xelino.


"Mengapa kau bersedih? Jangan bersedih Carolyn! Aku makin merasa bersalah jika wajahmu muram seperti ini. Oh iya, aku punya sesuatu untukmu. Mungkin sudah dingin tapi pasti kau menyukainya," kata Xelino lagi dan beranjak dari sana.


Xelino menuju ke meja sofa dan mengambil buket kue ikan itu dan berjalan kembali ke arah Carolyn.


"Carolyn, sekali lagi aku minta maaf, ini untukmu, bagus tidak?" Ucap Xelino menunjukan sebuket kue ikan yang sudah dibuatkan Mona untuk Carolyn.


"Oh God! Di mana kau mendapatkannya Xelino, ini menakjubkan sekali!"


"Di kedai kue ikan di depan gereja. Ama Mona yang membuatnya. Spesial untukmu. Hem, kedai kue ikan itu akan menjadi tempat kenangan kita Carolyn. Tempat bersejarah hubungan kita," jawab Xelino dengan rinci dan jelas.


"Hem, aku belum memutuskannya, kau jangan terlalu percaya diri, tidak baik!" Cibir Carolyn melipat bibirnya sambil meraih buket kue ikan tersebut.


"Biar saja," balas Xelino juga mencibir.


Carolyn pun memperhatikan buket kue ikan ini. Benar benar sangat manis dan cantik menurutnya. Dia sudah pernah melihat buket coklat, buket kue kering dan buket bunga pastinya. Tapi tidak ada seunik dan selucu ini. Carolyn bahkan tidak mau memakannya. Dia ingin memajangnya. Dan ternyata ada sebuah kartu ucapan pada sebuah pita yang mempermanis buket itu. Carolyn menatap Xelino yang sudah tersenyum padanya lalu meraih kartu ucapan itu. Carolyn membacanya.


Especially for you


Ijinkan aku menjadi pagi dan malammu, ijinkan aku menjadi suka dan dukamu, dan ijinkan aku yang menyeka air matamu lalu memberi pundak ketika kau membutuhkan pegangan. Aku ingin selalu di dekatmu karena namamu sudah tersimpan spesial di hatiku ❤️ Xelino


Carolyn tidak bisa membendungnya lagi. Xelino ternyata pria termanis yang pernah ia temui. Tidak ada lagi Aciel dan tidak mau lagi membanding bandingkan nya. Xelino yang terbaik.


"Xelino ..." Panggil Carolyn dengan nada manja dan membuka tangannya.


"Sekarang aku yang meminta, aku ingin memelukmu!" pinta Carolyn takut Xelino akan menggodanya.


Xelino tersenyum dan menarik tangan Carolyn. Dia memeluk Carolyn dengan sangat lembut dan erat.


"Tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu!" Seketika Carolyn masih mendongak dan berdecih.


"Terserahmu!" Saut Xelino tersenyum masih memeluk.


...


lanjut di bawah ya

__ADS_1


tetap LIKE dan KOMEN part ini yaa


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2