
Kenyataan pahit adalah ketika mengetahui orang yang kita percaya yang selalu berbuat baik, ternyata melakukan sebuah tindakan buruk sampai tidak teridentifikasi. ingin marah sudah masuk dalam jeratannya, tidak mau marah tapi hati merana sampai ke akarnya. pada akhirnya sebuah kebenaran harus terungkap dari seorang Xelino. Carolyn mengetahuinya dari orang lain tapi masih memikirkan apa motif dari perbuatan pria itu. bagaimana respon Carolyn pada akhirnya?
...
"Permisi, selamat sore," ucap Carolyn membuka pintu kaca itu perlahan.
"Selamat sore, selamat datang di GG. Gallery, ada yang bisa kami bantu? Sebentar lagi kami akan segera tutup," Balas seorang gadis yang sepertinya resepsionis dari Gladys.
"Maaf menganggu, aku ingin bertemu dengan Nona Gladys Gabriane," kata Carolyn. Belum saja si resepsionis menjawab, Gladys yang menuruni tangga bersama seorang pria paruh baya dan seorang pria seumuran Xelino mengikutinya dari belakang.
"Kau ini apa apaan Dad! Mengapa mendadak lagi? Aku tidak mau mengikutimu terus! Aku sudah kerasan dengan galery ini. Lagi pula galery ini baru dua bulan berdiri. Masa aku harus menutupnya hanya terus mengikuti kehendak mu?!" decak Gladys pada ayah nya sedang memperdebatkan sesuatu.
"Sebaiknya kau belajar melukis kaligrafi dan menulis motivasi motivasi yang kuberikan sehingga bisa berguna bukan hanya sebagai hiasan tetapi juga pengingat hidup!" kata ayahnya menyarankan.
"Tidak! Lukisan ku juga bermakna. Kau tidak tahu kan murid ku sudah mencapi 20, aku tidak mau! Aku mau di sini!" dengus Gladys pada pendiriannya.
"Dad, sudahlah, kau bisa bicarakan ini di rumah! Lagipula kau bisa pergi saja bersama mommy. Aku di sini bersama Gladys!" kata pria muda yang mengikuti mereka dari belakang.
"Erickson! Aku tidak mau berpisah dari kalian, aku ingin bersama sama kalian!" kata ayahnya tetap pada pendiriannya.
"Tapi dad! Aku juga sudah menjadi dokter tetap di sini, tidak bisa seenaknya berpindah pindah," saut Erickson berusah menjelaskan.
"Tidak tidak! Pokoknya kalian harus mengurus kepindahan kalian secepatnya! Bulan depan kita kembali ke Honolulu! Di sana tempat lahir kalian dan ibu kalian! Di sana tempat yang tenang dan aku bisa mengingat kakek dan nenek kalian!" decak ayahnya lagi meyakinkan.
"Dad, lebih baik kau memastikan terlebih dulu kita benar benar sudah di sana atau masih berpindah!" kata Erickson lagi.
"Tetap di sana, SELAMANYA!"
"Waktu kembali kesini juga begitu," celetuk Gladys memalingkan wajahnya dari ayah dan kakaknya. Saat itulah dia melihat Carolyn sedang memperhatikan mereka bertiga.
"Ah Carolyn? Kemarilah kemarilah," kata Gladys kemudian. Carolyn tentu menghampiri Gladys.
"Selamat sore Tuan Gabriane," sapa Carolyn.
"Sore, sore, siapamu, Riel?" saut ayah Gladys .
"Carolyn siapa ?" kata Gladys hendak mengenalkan.
"Carolyn Aneeta Delinsky, tuan, salam kenal," kata Carolyn membungkukan tubuhnya.
"Oh ya, apa ada hubungannya dengan Delins Group?" ayah Gladys memastikan.
"Benar tuan,"
"Ya ya, ternyata tambah lagi temanmu yang luar biasa ya? Sejajar dengan si Janson, baiklah Daddy pulang dulu berada Erickson. Kami masih harus menjemput mommy mu, permisi nona Delinsky?" kata si motivator Gabriane itu. Carolyn agak kurang paham dengan maksud si Janson.
"Hati hati dijalan tuan," saut Carolyn pada akhirnya.
"Permisi nona, sabar sabar dengan adikku, dia agak galak," bisik Erickson bercanda.
"Kakak!"
__ADS_1
Erickson terkekeh dan mengikuti ayahnya. Sementara Carolyn masih bingung dengan perkataan si tuan Gabriane.
"Carolyn? Apa kau ingin melukis? Ada apa dengan punggung Daddy dan kakakku? Hem, apa kau menyukai kakakku? Kau sudah punya Xelino!" tanya Gladys menyenggol tubuh Carolyn.
"Aah tidak tidak. Aku hanya bingung dengar perkataan Daddy mu. Dia mengatakan kau berteman dengan si Janson? Em, apa yang beliau maksud Lionel Janson?" tanya Carolyn kembali.
"Lionel? Lionel Janson bukankah sudah meninggal?" jawab Gladys tampak tenang
Seketika Carolyn membelalakan matanya. Jantungnya bergetar karena memang dirinya sudah lama tidak berhubungan dengan Lionel. Namun, dia tidak mendengar apapun tentang keluarga itu.
"Meninggal? Kau serius Gladys? Meninggal kenapa? Kau jangan membuatku bergidik!" bentak Carolyn bingung.
"Ya, memang dia sudah meninggal sejak dikandungan. Maminya, Nyonya Lexa Janson mengalami keguguran," kata Gladys lagi memberitahu.
"Hah? Di kandungan, keguguran? Kau bicara yang benar Gladys! Pria itu hidup, dia anak satu satunya Tuan dan Nyonya Janson," Carolyn mencoba mengatakan yang sebenarnya.
"Oh tidak! Anak satu satunya Tuan Dan Nyonya Janson ya Xelino. Marxelino Alexio Janson," balas Gladys dengan wajah sangat yakin.
"APAAAAA?!!!!" pekik Carolyn dan seketika tubuhnya agak lunglai untuk saja resepsionis Gladys langsung berlari dan menahan Carolyn.
"Carolyn? Kau baik baik saja?" selidik Gladys memegang tangan Caroly .
"Kau bilang apa Gladys? Xelino? Xelino? Marxelino Alexio Janson?" Carolyn kembali memastikan.
"Iya, kekasihmu, lalu siapa?" Gladys menaikan alisnya.
"Oh God!" Saut Carolyn kini benar benar tersungkur dengan pegangan si resepsionis.
"Kau kenapa Carolyn?" tanya Gladys penasaran.
"Siapa Xelino sebenarnya? Bukankah nama keluarganya Juan?" tanya Carolyn dengan hatinya yang bergetar juga kepalanya yang agak berputar.
"Juan? Juan nama pamannya Xelino, Carolyn. Masa kau tidak tahu perusahaan pengrajin miniatur paling terkenal di Greenville? Juan Hansen Janson? Adiknya tuan Danteleon Janson," jawab Gladys menjelaskan siapa itu Juan.
"Jadi, Xelino seorang Janson?" Carolyn kembali memastikan.
"Iya, lalu siapa lagi? Ibunya, Nyonya Lexa. Bibinya, Nyonya Angel Atkinson. Pemilik Hotel Atkinson. Kau ini kenapa? Dia kekasihmu, mengapa aku yang lebih tahu? Ada apa sebenarnya?" jawab Gladys sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan Xelino. gladys menjawab seturut apa yang ia ketahui di sekolah dulu.
Carolyn menggeleng. Dia masih tidak mengerti apa maksud semua ini? Mengapa Xelino menutupi identitasnya yang sebanarnya? Apa tujuannya merendah dan menjadi pegawai ayahnya juga menjadi asistennya? Mengapa dia melakukan itu? Semua pertanyaan itu berputar putar di atas kepala Carolyn seperti benang kusut yang bertemu satu sama lain.
"Carolyn?" Panggil Gladys.
"Gladys, kau tidak berbohong padaku? Benar itu Xelino Janson yang bersamaku waktu di taman bunga?" Carolyn kembali memastikan karena dia percaya tidak percaya.
"Oh my goodness! Aku dan Xelino satu sekolah high school. Dia salah satu pria paling tampan di sekolah dengan menyandang nama keluarga Janson. Walau begitu dia memang tidak seheboh pria tampan lainnya. Xelino pria yang sederhana. Dia malah menghabiskan waktu istirahat nya di perpustakaan atau di taman belakang sekolah untuk belajar. Oleh sebab itu aku menyukai perawakannya. Dia tidak sombong tapi juga tidak ada yang berani mendekatinya kalau hanya mencari keributan. Pernah satu kali ada seorang gadis yang menyukainya. Gadis itu gadis incaran salah satu kakak kelas. Kakak kelas itu malah marah kepada Xelino. Mereka berkelahi dan kau tahu siapa yang menang?" gladys bercerita.
"Si rubah gila itu kan?" Jawab Carolyn masih mendengar cerita Gladys yabg membuatnya shock dan jantungnya berdebar tak karuan. Mengapa Xelino tega membohonginya?
"Rubah gila? Hahaha, pasti itu panggilan sayangmu untuknya ya? Ya matanya memang lancip seperti rubah. Dia mirip papinya kan?" gumam Gladys.
"Jadi Gladys? Dia benar Xelino Janson?"
__ADS_1
"Ya ampun, kau benar benar tidak percaya? Sebentar! Aku akan menunjukan foto ku bersamanya!" Kata Gladys yang memang tidak tahu sama sekali tentang penyamaran temannya. Sementara Gladys juga tidak tahu kalah Carolyn sedang menyelidiki karena Carolyn tidak bercerita lebih dulu. Dia memang sengaja hanya ingin bertanya.
"Ini! Ini Xelino mu kan? Aku memang cukup dekat dengannya walau agak bertepuk sebelah tangan, haha! Waktu itu dia menyukai anak majikan maminya. Zhavia," kata Gladys menunjukan foto dirinya dan Xelino masih mengenakan seragam high school. wajah Xelino terlihat lebih lembut. namun, mata tidak bisa dibohongi, menegak lancip.
"Zhavia?" gumam Carolyn memastikan.
"Ya, Zhavia Prime, anak dari Dion Prime, pemilik Hotel Prime, kau tahu kan? oh iya satu lagi aku lupa, Zhavia ini pamannya sahabat Daddy ku. tuan Egnor Jovanca! kau pasti tahu, yang anaknya tampan tampan," jawab Gladys lagi.
"OH MY GOD, XELINOOOO!!! MENGAPA KAU MENIPUKU?!!!" Pekik Carolyn kemudian karena merasa dibodohi. Dia sudah mengubah posisinya menjadi duduk dan menutup wajahnya.
Gladys menjadi bingung dan juga panik. Dia duduk di samping Carolyn dan merangkul wanita malang itu.
"Carolyn, ada apa sebenarnya dengan kalian?" tanya Gladys lagi dan lagi.
"Aku, aku tidak tahu apa tujuan dia Gladys. Dia datang melamar pekerjaan di perusahaan ayahku dan menjadi karyawan biasa. Dia mengatakan namanya Marxelino Juan. Kami sangat percaya karena seperti katamu, dia memang pria yang sederhana walau tetap bergaya rapi," Carolyn mulai bercerita.
"Ah memang benar Carolyn, dia memang selalu rapi seperti papinya. Tapi jangan salah, semua barang barangnya branded dan original," tambah Gladys seakan Gladys utusan dari maha kuasa untuk memberitahu semua tentang Xelino.
Carolyn tidak dapat memungkiri. Pantas saja selama ini dia melihat pakaian Xelino, kacamata, jam tangan, parfum dan semua yang dikenakan Xelino bermerek terkenal semua.
"Lanjutkan Carolyn," kata Gladys
"Ya, dia juga menjadi asistenku Gladys, manager assistant lebih tepatnya. Dia bukan kekasihku, tapi aku memang menyukainya. Namun, mendengar semua pengakuan mu, aku jadi bingung apa maksud dan tujuannya," lanjut Carolyn semakin frustasi.
"Jadi, dia merahasiakan identitasnya yang sebenarnya?" selidik Gladys agak bingung dan tidak enak karena membocorkan tanpa seijin Xelino. namun, Xelino memang tidak pernah mengatakan apapun.
Carolyn mengangguk dalam sedih. Dia kecewa tentu saja. Carolyn menerka pasti Xelino hendak menguji dirinya, dirinya yang hanya melihat jabatan atau dirinya yang menerimanya apa ada nya. Kalau begitu, lalu apa tujuan Xelino membohongi ayahnya?
"Aahhh Xelino keterlaluan. Maafkan aku Carolyn, aku tidak bermaksud membongkar identitas nya tapi inilah kenyataan yang ia katakan. Hem, kenapa juga dia tidak memberitahuku ya padahal beberapa hari yang lalu kami tidak sengaja bertemu," kata Gladys menyesal terhadap Carolyn juga Xelino.
"Ya, seharusnya aku berterimakasih padamu karena sudah memberitahuku yang sebenarnya. Mungkin sudah seharusnya aku mengetahuinya darimu," ucap Carolyn masih dengan nada frustasi.
"Hem, lebih baik kau bicarakan lagi padanya, Carolyn. mungkin ada alasan dia melakukan ini padamu. Memangnya selama ini dia berbuat jahat padamu?" selidik Gladys.
Carolyn menggeleng
"Apa dia mengusikmu?" tanya Gladys lagi.
Carolyn menggeleng lagi.
"Hem, aku yakin ada alasan yang sangat luar biasa yang ia simpan karena melakukan ini. Dan, yang kulihat dari wajahnya, wajahnya begitu meyakinkan ketika mengatakan kau adalah kekasihnya. Sepertinya dia menyukai bahkan mencintaimu, Carolyn. Kau jangan berburuk sangka dulu. Sebaiknya kau tanyakan dulu padanya pelan pelan," saran Gladis menepuk pundak Carolyn.
Carolyn mengangguk tapi sejujurnya dia kecewa. Carolyn juga berpikir pasti Lionel adalah Xelino. Carolyn menutup wajahnya agak frustasi. Xelino mengetahui semua isi hatinya. Namun, benar kata Gladys kalau sepertinya ada alasan di balik semuanya. Xelino malah selalu membantu nya bukan sebaliknya.
...
hem 😔
next part 54
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
__ADS_1
thanks for read and i love you 💕