Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 22


__ADS_3

"Ada apa lagi dengan dad, Angel?" Tanya Leon melanjutkan pernyataan adiknya.


"Ya kak, dad kembali sakit. Kantong darah yang disediakan sudah tidak ada. Dan beberapa hari ini di beberapa rumah sakit sangat kehabisan darah yang dibutuhkan. Kali ini dad benar benar masuk ICU kak! Suamiku sudah diam saja selama beberapa hari ini. Entahlah, masih bisa terselamatkan atau tidak." Jawab Angel melemah dan agak pelan.


"Oh God! Lexa sedang hamil, aku sangat yakin dia tidak diperkenankan melakukan transfusi darah, sekalipun dia ingin Angel!" Saut Leon meninggikan suaranya. Dia juga mengkhawatirkan ayah mertuanya.


"Benar kak, pikir ku juga begitu. Tapi kak, sebenarnya aku juga tidak yakin kalau pun darah kak Lexa dapat membantu. Kali ini keadaan dad sudah sangat mengkhawatirkan. Sepertinya juga karna usia." Balas Angel menjelaskan kondisinya yang sesungguhnya.


"Ya kau benar Angel."


"Beritahu saja kondisi terkini dad pada kak Lexa kak. Jangan sampai dia berpikir yang tidak tidak!" Pesan Angel.


"Ya, setelah pemeriksaan, aku akan segera memberitahunya."


"Angel, ayo kita makan siang dulu, apa kau menghubungi Lexa?" Tiba tiba Jerry yang baru selesai memastikan keadaan ayahnya keluar kamar, memanggil Angel.


"Ini kak Leon, sayang. Kau mau bicara?" Kata Angel pada suaminya dan mengulurkan ponselnya pada Jerry. Jerry meraihnya dan bierbicara pada Leon.


"Halo Leon, apa kabar?" Tanya Jerry di seberang sana.


"Baik Tuan Jerry. Bagaimana denganmu?" Tanya Leon kembali.


"Beginilah, sudah satu minggu aku dan Angel bolak balik rumah sakit. Dad semakin mengkhawatirkan. Dua hari ini kalian kemana? Aku harus memberitahu pada Lexa." Tanya Jerry yang harus mengabari anak kandung dari Alexis.


"Lexa sudah hamil, Tuan. Nanti, setelah pemeriksaan, aku akan segera memberitahunya dan menghubungimu." Jawab Leon memberitahu kondisi Lexa yang sebenarnya.


"Wah! Selamat Leon. Semoga semuanya baik baik saja." Decak Jerry senang.


"Terimakasih Tuan, kau juga, semoga kalian cepat menyusul." Saut Leon ramah mengingat adiknya juga tak kunjung hamil.


"Entahlah, sepertinya aku juga mencurigai nya akhir akhir ini, karna nafsu makannya berkurang, jadi aku harus ekstra memperhatikan kedua orang ini." Balas Jerry juga memperhatikan kondisi Angel yang tidak seperti biasanya. Jerry hanya mengantisipasi.


"Kau benar Tuan. Tolong jaga adikku juga!" Pinta Leon mengingat Adiknya yang terkadang ceroboh.


"Tenang saja. Em, masalah dad, katakan saja pada Lexa untuk tidak terlalu memikirkan. Aku sudah berserah semuanya Leon. Sebenarnya, tanpa semua alat bantu ini, dad sudah tidak bisa terselamatkan." Kata Jerry lagi mencoba memberikan pengertian pada Leon agar suaminya itu dapat memberitahu yang benar pada Lexa.


"Meskipun banyak darah?" Gumam Leon bertanya.


"Begitulah. Kita hanya bisa mengharap mukjizat." Tutur Jerry dengan nada melemah. Sesungguhnya dia sedih dan masih menginginkan Alexis di dunia ini.


"Baiklah kalau begitu, nanti aku akan memberikan pengertian pada Lexa. Kau tenang saja Tuan. Jika memungkinkan, kami juga akan kesana." Respon Leon mencoba menenangkan.


"Oke Leon. Jaga diri kalian. Tuhan memberkati."


"You too sir, salamkan diriku dan Lexa pada dad."


"Oke!"


Panggilan terputus. Leon mengusap wajahnya kasar. Mengapa baru saja ia mendapat kebahagiaan, ia juga harus mendapat kabar sedih ini? Lexa begitu mencintai ayahnya. Sampai apapun yang ayahnya inginkan ia penuhi. Bagaimana ini sekarang? Leon benar benar bingung. Dia malah takut Lexa mau dengan sukarela melakukan tranfusi darah, padahal itu sangat dilarang. Tidak perlu Leon bertanya atau mencari tahu, seseorang yang hamil perlu tambahan tenang, bukannya mengeluarkan tenanga. Oh Leon sunggug frustasi. Masalah satu selesai muncul masalah lain. Kehamilan Lexa saja dengan flek yang terus keluar membuat Leon sangat cemas.


Leon menghela napas dan menuruni mobilnya. Dia harus menetralkan dirinya. Dia harus ke dokter kandungan dulu memeriksakan istrinya. Setelahnya, dia memang perlu membicarakan ini.


Sesampainya di apartemen untuk menjemput istrinya, Leon mendapati istrinya duduk bersandar di sofa sambil memegang perutnya. Tampak Lexa agak pucat dan ia tertidur. Lexa sudah mengenakan dress lengan panjang berwarna putih.


"Are you oke, honey?" Tanya Leon sudah duduk di samping Lexa dan merangkulnya. Lexa tersentak dan membuka matanya.


"Kau sudah pulang sayang?" Tanya Lexa menegakan tubuhnya.


"Ya, baru saja. Ada apa dengan perutmu?" Tanya Leon.


"Aku baru saja muntah sayang. Rasanya tidak enak." Sungut Lexa menyandarkan kepalanya ke dada suaminya.


"Oohh tidak apa itu wajar. Baiklah, ayo kita berangkat? Kau sudah makan kan?" Selidik Leon mengelus lengan Lexa.


"Begitulah, tapi semua keluar begitu saja." Decak Lexa menyesal.


"Sudah tidak apa, nanti setelah periksa, kita ke restoran kesukaanmu, oke?" Ajak Leon yang memang ingin menyenangkan hati istrinya.


"Aku mau makan di Big Plaza?" Pinta Lexa mendongakan kepalanya dan mempertontonkan wajah manjanya pada suaminya.


"Oke!" Jawab Leon tersenyum lebar. Dia harus membuat hati istrinya senang.

__ADS_1


"Oh iya Leon, ada apa dengan Angel? Dia terus menghubungiku, tapi ketika aku menghubunginya kembali, dia tidak mengangkat panggilan ku. Apa ini ada hubungannya dengan papiku? Atau dia juga sedang hamil?" Tanya Lexa seketika Leon hendak beranjak.


"Hem, coba nanti kita hubungi lagi ya? Sekarang kita ke rumah sakit dulu, sudah mau telat." Jawab Leon membantu Lexa untuk berdiri.


"Oh iya, Yasudah, nanti dihubungi lagi." Saut Lexa menyetujui.


Leon harus menyembunyikannya dulu agar emosi Lexa terjaga. Lexa dan Leon pun segera menuju ke rumah sakit dekat pinggiran Summer. Ketika mendaftar, Lexa diperkenankan untuk langsung memasuki ruangan dokter karna kebetulan pasien hari itu sedikit dan Lexa datang lebih awal.


"Selamat siang Tuan dan Nyonya Janson." Sang dokter memberikan salam. Mereka bertiga berjabat tangan.


"Selamat siang dok. Bukankah kata Nyonya Viena saya diperiksa dengan dokternya dulu?" Balas Lexa dan Leon hanya tersenyum tipis. Sejatinya dia gugup.


"Silahkan duduk. Perkanalkan saya Dokter Reanne, saya keponakan dokter Gregori, dokter yang direkomendasikan oleh Nyonya Prime. Saat ini Dokter Gregori sedang bertugas di Springfield untuk beberapa pekan. Semoga saya juga bisa memberikan pelayanan yang baik bagi anda." Kata Dokter Reanne menjelaskan jawaban pertanyaan Lexa.


"Oh yasudah tidak apa apa. Lagi pula memang diriku ingin dokter wanita untuk istriku ini." Kata Leon.


"Oke baiklah, mari kita mulai pemeriksaannya." Lanjut Dokter Reanne berjalan ke arah alat USG. Perawat yang bertugas lalu memapah Lexa menaiki tempat tidur di samping alat USG.


"Leon?" Panggil Lexa lirih. Lexa takut akan ada seperti suntikan atau pemasangan infus karna hal ini sangat baru baginya. Leon pun dengan sigap langsung berdiri di samping Lexa. Sejatinya, Leon pun juga panik. Dia sudah memegang tangan Lexa.


"Tenang Nyonya Janson, ini hanya pemeriksaan USG pada janin anda." Kata Dokter Reanne tersenyum.


"Apakah tidak ada suntik menyuntik?" Lexa meyakinkan.


"Tidak, kau tenang saja." Kata Dokter Reanne lagi tersenyum. Sang perawat pun membantu Lexa untuk membuka pakaian Lexa di bagian perut. Kaki Lexa sudah terselimuti karna dia mengenakan dress.


Dokter Reanne segera melakukan pemeriksaan. Alat pendeteksi USG itu sudah menempel pada perut Lexa. Dokter Reanne menari narikan alat tersebut agak lama sampai membuat Lexa dan Leon bingung. Sebenarnya, apa yang dilakukan dokter Reanne. Tak berapa lama akhirnya dokter Reanne menghentikan tangannya di bagian bawah perut Lexa bagian kanan. Dan dia menekan keyboard monitor USG untuk menangkap gambar apa yang ditemukan dari alat pendeteksi tersebut. Dia sedikit mengernyitkan alisnya, sehingga membuat Lexa tak kuasa untuk diam. Lexa merasa ada yang tidak beres.


"Ada apa Dok? Mengapa kau tampak kesulitan?" Tanya Lexa.


"Iya Nyonya. Saya belum begitu melihat janin anda. Em, silahkan duduk kembali dulu." Jawab dokter Reanne dan ia kembali duduk di mejanya setelah mencetak selembar hasil USG nya. Leon pun memapah Lexa untuk kembali duduk.


Ketika mereka semua duduk, dokter Reanne menyerahkan hasil tangkapan alat USG nya.


"Sepertinya ini janin anda, Tuan dan Nyonya


Leon dan Lexa saling melihat. Ada rasa haru melingkupi wajah dan perasaan mereka. Akhirnya mereka bisa memiliki seorang bayi nanti dan Lexa dapat merasakan kehamilan.


"Sudah dua kali sejak kepulanganku dari Honolulu dok." Jawab Lexa pelan. Dia sangat takut hal ini benar benar mempengaruhi kandungannya.


"Oh iya? Karna saya juga menemukan sedikit gumpalan darah dekat janin Nyonya. Tapi ini tidak masalah. Gumpalan darah itu akan keluar secara sendirinya. Namun saya tekankan, gumpalan darah ini juga dapat mengakibatkan keguguran jika anda terlalu lelah dan berpikir. Karena apa? Letak janin anda dekat sekali pada leher rahim, oleh sebab itu saya sulit mencarinya. Ini akan menjadi pecah jika janin ini memasuki leher rahim. Sebaiknya anda santai dan rileks. Saya berharap dua minggu lagi kita akan merasakan detak jantungnya. Karna janin ini masih sangat kecil. Jangan dulu berhubungan badan dan mohon maaf kalau saya harus mengatakan kalau kandungan anda lemah Nyonya Lexa." Kata Dokter Reanne tidak mau menutupi agar Lexa bisa menjaga kandungannya.


Seketika hati Lexa dan Leon seperti tercubit. Ketika mereka belum mengetahui kehamilan ini, mereka melakukan apapun semau mereka. Lexa menjadi agak menyesal karna terlalu berambisi menemui Leon yang tidak akan berpaling darinya. Sedangkan Leon yang terlalu memikirkan nafsu nya sehingga selalu ingin bersetubuh dengan Lexa. Karna kedua prilaku mereka, anak mereka menjadi korban. Lexa menunduk mendengar penuturan Reanne. Leon merasakan aura kesedihan Lexa dan menggenggam erat tangannya. Lexa kembali menoleh ke arah Leon ikut memegang tangan suaminya.


"Saya mengerti kecemasan kalian, tapi jangan khawatir. Ini akan menjadi kuat kalau kalian berdua bisa saling menjaga. Aku akan meresepkan anda obat Nyonya Lexa. Ada Obat penguat kandungan, antivirus untuk janin anda dan vitamin. Tolong diminum rutin 1 hari sekali. Em, sebaiknya anda tidak terlalu lelah bekerja. Makan makanan bergizi, hindari makan makanan pemicu kontraksi seperti terlalu pedas dan asam karna kondisi kandungan anda yang lemah. Jangan banyak berpikir, santai saja." Tambah Dokter Reanne tersenyum guna menghilangkan kecemasan Lexa dan juga Leon yang sudah merangkul istrinya.


"Iya dok, saya akan membantu Lexa untuk menjaga kandungannya. Em, dok, ada yang ingin saya pastikan. Benarkan, kalau wanita hamil .."


Leon tidak melanjutkan. Dia agak ragu tapi dia hanya ingin memastikan juga memberitahu Lexa kalau jangan nanti istrinya itu keras kepala.


"Ada apa Tuan Leon?" Tanya Dokter Reanne menyadarkan lamunan Leon sesaat.


"Benar kan wanita hamil tidak boleh melakukan transfusi darah?" Tanya Leon sedikit takut.


Lexa langsung melihat Leon. Seketika dia mengingat ayahnya dan sepertinya memang terjadi apa apa dengan ayahnya.


"Oohh, tentu sangat tidak boleh Tuan Leon, apalagi kandungan Nyonya Lexa sangat lemah. Bukan hanya membahayakan janinnya, melainkan kondisi si ibu juga." Dokter Reanne memberi tahu dengan nada peringatan.


"Leon, ada apa?" Tanya Lexa kemudian dengan pelan.


"Aku hanya ingin memastikan agar Lexa nanti tidak keras kepala melakukannya dok. Istriku ini sangat keras kepala dok." Kata Leon kemudian.


"Leon, ada apa?" Tanya Lexa lagi penasaran.


"Nanti saja kuberitahu, jadi kau sudah dengar apa yang dikatakan dokter ya?! Em lalu dok kalau kami ingin melakukan perjalanan ke Springfield bisa kah?" Tanya Leon lagi memastikan hal hal yang akan terjadi nanti.


"Ada sebuah keperluan yang sangat genting kah tuan?" Selidik Dokter Reanne.


"Iya dok!"


"Kalau begitu aku akan memberikan obat anti kontraksi yang harus diminum dan digunakan lewat ***** ketika perut Nyonya Lexa. Tapi, jangan melakukan kegiatan yang ekstrem ya Nyonya?" Dokter Reanne menambahkan resep obat untuk kebutuhan Lexa.

__ADS_1


"Oh baiklah dok. Terimakasih banyak. Aku akan menjaga Lexa dan kandungannya dengan baik." Jawab Leon pasti.


"Oke, semoga sehat selalu dan sampai jumpa dua minggu lagi. Em, pesanku kalau flek yang keluar semakin banyak, sebaiknya lekas ke klinik atau rumah sakit terdekat ya?" Pesan dokter Reanne kemudian dan mereka bertiga berdiri.


Lexa masih menunduk memikirkan ayahnya.


"Nyonya Lexa, ingat pesanku ya? Jangan banyak berpikir ya?" Pesan dokter Reanne sekali lagi.


Lexa mendongakan kepalanya tidak enak dengan Reanne. Dia mengangguk dan tersenyum tipis. Setelah saling mengucapkan terimakasih dan mengurus administrasi, Leon menggiring Lexa menuju ke restoran rumah sakit terlebih dahulu.


"Kau ingin makan apa Lexa?" Tanya Leon merileks kan Lexa.


"Jelaskan apa yang kau ketahui mengenai ayahku Leon!" Lexa malah kembali bertanya dengan nada suara meninggi.


"Kita pesan makanan dulu ya?"


"Tidak! Jelaskan, kenapa?" Pinta Lexa tegas.


"Oke! Dengarkan! Tapi aku mohon, kau harus tenang dan menerima keadaan yang terjadi. Kau juga mencintai anak kita kan? Jadi kau harus mengendalikan emosimu. Bagaimana?" Leon memberi pilihan untuk kebaikan bersama.


"Iya Leon aku mengerti. Ada apa dengan Dad?" Tanya Lexa kini dengan nada merendah dan mengelus perutnya.


"Baiklah. Ayahmu sedang dirawat di ruang ICU. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kau harus menerima Lexa. Saat ini yang bisa kita lakukan berdoa, karna papimu bisa bertahan juga karna alat alat bantu yang menyelimuti tubuhnya." Kata Leon dan Lexa sudah menundukan kepalanya. Dia pun juga sudah merasa kalau ada yang tidak beres dengan papinya.


Pasalnya, ketika Lexa sudah mengirimkan darahnya saja, Jerry mengatakan kondisinya masih melemah. Alexis hanya bisa melakukan kegiatan di tempat tidur dengan selang infus yang membantu cairan makanan untuk tetap masuk. Sekarang sepertinya semakin parah karna harus di rawat di ruang ICU.


"Lexa, kau sudah berjanji." Tuntut Leon lembut. Hal ini yang sangat ia takuti.


"Iya Leon, aku tidak apa apa. Dia memang sudah melemah. Sepertinya aku pun tidak akan memaksanya jika dia memang ingin pergi." Jawab Lexa masih dalam nada bersedih. Dia berusaha untuk tetap tenang, namun nyatanya dia begitu mencintai ayahnya.


"Bukan seperti itu Lexa. Dia pun sedang berjuang. Sebaiknya sekarang kau hubungi Tuan Jerry. Kau tanyakan lagi perkembangannya ya?" Kata Leon menyarankan. Leon lalu menyerahkan ponselnya agar Lexa menghubungi Jerry.


Lexa meraihnya dan menghubungi Jerry dengan tangan bergertar. Seketika hatinya bergetir dan sangat takut.


"Lexa?" Jerry mengangkat dengan nada cemas, takut dan bingung bagaimana mengatakannya.


"Bagaimana keadaan papiku, Tuan?" Tanya Lexa agak terbata.


"Aku mohon kau jangan terkejut, tetap tenang dan doakan. Dia sedang dalam tindakan. Seketika jantungnya berpacu cepat dan suhu tubuhnya meningkat seperti demam Lexa."


Bruk! Ponsel Leon jatuh dari genggaman tangan Lexa.


...


...


...


...


...


...


its oke Lexa, dirimu bisa ke sana kok, ga usah berlebihan ah bikin eke ikutan nangis nii, eh males maksudnya 😭😭😂😂


.


Next part 23


Apakah Alexis akan selamat?


Bagaimana tindakan manis Leon selama kehamilan Lexa yang seketika berubah menjadi sangat sangat emosi, sering bersedih dan putus harapan??


.


Jangan lupa LIKE DAN KOMENNYA DONGG KAKAKK NYAA biar aku semangaatt kakakaa hehe 😍😍


KASIH RATE DAN VOTE JUGA DI DEPAN PROFILE NOVEL YAA 😘😘


.

__ADS_1


THnks for read and i love youu 💕💕


__ADS_2