Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 12


__ADS_3

"Jadi apa kau sudah percaya dengan semua ceritaku?" Tanya Leon setelah dirinya menceritakan hubungannya dengan Solane.


Lexa masih menatapnya. Lexa tidak menyangka kalau ada juga wanita yang menyakiti pria tampan seperti Leon dan sebaik Leon. Ya, Lexa akui kalau Leon sangat baik padanya, walau kadang menyebalkan. Tapi, Lexa percaya kalau sebenarnya hati Leon itu seperti emas. Banyak dari sisi Leon yang harus Lexa ketahui.


"Baiklah, aku percaya, jadi sekarang bagaimana? Dia sudah kemari dan sepertinya dia mau mencari masalah denganmu, atau dia mau kembali padamu Leon?" Kata Lexa menghardik.


~aah, Lexa mengapa kau bertanya itu? Kalau Leon kembali pada Solane, kau bersama siapa?~ pikir Lexa dalam hati. Dia menggeleng gelengkan kepalanya. Sedang memkirikan apa, pikirnya lagi dalam hati.


"Apa kau pernah mendengar perumpamaan rumput yang sudah dicabut sampai ke akarnya, apa dia akan kembali lagi tumbuh?" Tanya Leon menatap Lexa tajam.


Lexa hanya menggeleng sambil memperhatikan mata lancip Leon yang tajam. Tatapannya sungguh menawan dan membuat Leon semakin tampan. Wajah Lexa tiba tiba merona.


"Begitulah hatiku padanya, dan hatiku sudah tumbuh dengan bunga yang merah merona seperti wajahmu sekarang. Lexa? Kau kenapa?" Leon memuji Lexa namun tampaknya Lexa tidam menggubrisnya. Dia terlalu terlena dengan pandangan Leon.


"Lexa? Apa kau menyukaiku? Lexa?" Leon yang berada di sebrangnya menghentak hentakan tangan Lexa. Membuat Lexa tersadar.


"Hah? Ada apa?"


"Kau ini kenapa?"


"Seharusnya aku yang bertanya, ada apa dengan matamu? Kau sedang menghipnotis ku kan, musang? Aku lapar, kau mau ramen?" Lexa mulai salah tingkah lagi dan meninggalkan Leon. Dia sangat takut dengan cepat menyukai Leon. Leon tersenyum memandang Lexa yang sangat manis dan lucu baginya.


.........


Keesokannya, Leon kembali mendatangi flat Lexa. Lexa bergidik melihat Leon datang dengan sweeter hitam dan celana jeans, sungguh menawan. Sebenarnya, Lexa agak takut kalau kalau Solane datang dan mengira Lexa adalah wanita yang sedang didekati Leon. Lexa tidak mau berhubungan dengan orang orang yang merepotkan hidupnya. Lagipula, dia bukan siapa siapa nya Leon. Namun, jika apa yang dikatakan Leon benar, berarti kemarin Solane mengikuti Leon dan membuat seakan akan dirinya benar pacarnya.


"Leon, kau tidak takut Solane mengikutimu?" Tanya Lexa menyapa Leon yang bersandar pada daun pintu.


"Pagi pagi sudah membahas dia, apa tidak ada hal lain seperti nanti malam kita bisa ber malam minggu?" Lexa sangat teraman terkejut ternyata Leon memberikan dirinya sekuntum bunga mawar merah, dan dia mengedip ngedipkan mata.


"Ada apa denganmu? Mengapa kau memberikanku ini? Lain kali bertanya dulu, aku tidak suka bunga, lebih baik kau memberiku coklat!" Dengus Lexa namun diambilnya juga bunga itu. Lexa lalu masuk dalam flatnya yang diikuti oleh Leon.


"Lexa, baru kau yang menolak bunga senjata rahasia ku, ups!" Leon menutup mulutnya. Leon tak sadar mengatakan hal yang selalu ia gunakan untuk menggoda wanita yang ia sukai.


"Apa kau bilang senjata rahasia? Seharusnya aku sudah tahu kalau kau punya segudang wanita! Dasar musang!" Lexa dengan tegas dan sedikit kesal melempar bunga mawar itu ke sofa. Dia menuju dapur untuk mengambil sebotol air mineral untuk Leon.


"Kalau kau mau minum, hanya ada ini, aku malas membuatkan apapun untukmu!" Lexa meletakan air mineral tersebut dengan hentakan cukup keras.


"Lexa, aku harus seperti apa lagi? Wanita yabg sedang kudekati sekarang hanya mu!"

__ADS_1


"Aku tidak perduli! Jadi kau kemari hanya untuk memberi bunga berduri itu?" Tanya Lexa dengan tangannya dilipat di dada.


"Aku mau mengajakmu jalan nanti malam?" Kata Leon mulai membuka botol air mineral tersebut.


"Aku ada meeting nanti sore,"


"Baiklah, aku akan mengantarmu, lalu menjemputmu, dan kita bisa makan malam bersama, oke? Sekarang bersiaplah kita cari sarapan, aku lapar!" Leon melambai lambaikan tangannya untuk menyuruh Lexa.


"Sepertinya kau sudah tertular sifat suka menyuruh seperti bos mu ya?" Lexa mendelik lalu bangkit dari duduknya untuk bersiap siap.


Namun ketika berbalik, Lexa tersenyum sumringah. Mungkin benar hanya Lexa wanita yang sedang dia dekati. Pikir Lexa.


...


"Apa kau akan double date, Lexa?" Tanya Abby mendelikan alisnya pada Lexa yang menunggu Leon di daun pintu utama gedung.


"Kau sok tahu?! Aku tidak punya pasangan, mana?" Kata Lexa menggoda Abby. Leon sudah mengatakan kalau dia akan datang kira kira 30 menit lagi karna jalanan macet. Sebenarnya Leon mau menunggunya tapi Lexa tidak mau menjadi perbincangan gosip teman temannya.


"Sana pulang, itu mobil online mu kan?" Suruh Lexa membuat Abby mengerucutkan bibirnya.


"Kau jahat! Aku selalu bercerita apapun padamu, tapi kau begini, kau lihat saja!" Ucap Abby menunjuk sahabatnya dengan wajah masam.


Lexa menghembuskan napasnya. Leon mungkin masih lama. Dia memutuskan untuk duduk di bangku dekat resepsionis satpam pintu utama.


"Mengapa kau percaya padanya? Mungkin saja dia tidak datang," suara seorang pria menaiki sebuah mobil dengan seorang wanita. Wanita itu memukul lengan pria itu ketika pria itu berkata kata menggoda Lexa.


"Tuan, Nyonya! Bersenang senang lah, jangan membuat Nyonya ku menangis ya Tuan atau aku akan menyandra asistenmu," Lexa menoleh dan melihat Tuan Dion bersama Nyonya Viena di dalam mobil yang sama.


"Aku rela kau menyandranya, hati hati lah, sebentar lagi dia pasti datang," Dion mulai menaikan kaca mobilnya dan Viena melambai lambaikan tangannya pada Lexa. Lexa ikut memberi salam perpisahan singkat itu.


Tak lama kemudian sebuah mobil sport berwarna merah terang memasuki gedung. Lexa memicingkan matanya. Apakah itu Leon? Bukankah mobilnya warna hitam mengapa menjadi merah, pikir Lexa.


Lexa hanya menunggu. Mobil sport merah itu berhenti tepat di depan pintu utama gedung tepat di depan Lexa.


Seorang wanita keluar dengan gaun pres body berwarna senada mobilnya dan stileto yang juga berwarna merah. Dia mengenakan kaca mata hitam dan rambutnya ikal tertata rapi disamping bahunya. Itu Solane.


Dia berjalan ke arah Lexa. Lexa semakin bingung mau apa lagi wanita ini.


"Selamat malam, Lexa sayang," katanya menurunkan kacamatany.

__ADS_1


"Kau mau apa? Leon tidak disini!" Ketus Lexa masih memperhatikan gaya dandanan Solane yang sangat eksotis.


"Kenapa? Kau tertegun dengan kecantikanku?" Solane malah bertanya balik.


"Tidak, aku hanya bertanya tanya, kau sanggup sekali menggunakan semua keribetan ini. Make up tebal, pakaian terbuka, sepatu hak tinggi, dan bulu bulu tebal bertandang di bahu mu. Kau tidak lelah? Hah?" Jelas Lexa membuat Solane naik pitam.


"Setidaknya aku mempunyai segalanya sama seperti Leon, seorang asisten utama Hotel Prime, sedangkan kau hanya asisten rendahan yang nyonyamu sering melakukan hal sendiri. Apakah itu tidak seperti pelengkap saja?" Solane mencengkram dagu Lexa karna perkataan Lexa.


Lexa menghempaskan tangan Solane.


"Sebenarnya kau mau apa?" Kata Lexa to the point. Dia sudah bosan dengan pem bullyan. Dia bukan wanita seperti dulu lagi.


"Simple! Kau jauhi Leon, dia milik ku! Dan aku tahu sebentar lagi dia akan menjemputmu kan, mari kita lihat siapa yang dia pilih dengan penampilan ku seperti ini dan penampilanmu seperti wanita gelandangan!" Solane mengelilingi Lexa, memperhatikan penampilan Lexa yang hanya mengenakan celana jeans, kaos yang dipadukan dengan jaket kulit yang resletingnya terbuka dan wedges boot seperti biasa.


"Dengar! Aku tau semua tentang Leon! Dia tidak akan suka dengan wanita kumuh sepertimu, dia menyukai wanita yang elegan, seksi dan eksotis sepertiku, jadi sebaiknya kau sadar diri! Mungkin dia hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan informasi tentang Nyonya mu untuk Tuannya, bisa saja kan? Sebuah ironi, haha!" Kata Solane lagi. Lexa sudah tidak bisa menahan emosinya. Dia hendak mencakar cakar Solane namun dia ingat perkataan Viena agar tetap tenang menghadapi orang seperti Solane. Dia hanya seperti depresi.


Akhirnya Lexa memutuskan untuk meninggalkan Solane namun terhenti karna Leon sudah datang dan turun dari mobilnya. Dia sudah melihat persaingan Solane dan Lexa ketika memasuki gedung. Jadi dia memarkirkan mobilnya di samping mobil Solane.


"Solane, kau hanya membuat suatu pertunjukan yang memalukan, apapun yang kau katakan padanya, aku tetap memilih Lexa! Ayo kita pergi dari sini!" Leon menarik tangan Lexa untuk menaiki mobil.


Solane yang melihatnya amat geram. Berani beraninya Leon mencampakannya.


"Leon! Kau bersama wanita kumuh itu tidak akan lepas dari cengkramanku! Tunggu saja!" Gumam Solane menyeringai.


Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungu seseorang.


"Lacak keberadaan mobil sport hitam viper milik Leon, ikuti mereka! Beri pelajaran pada lelakinya dan lecehkan wanitanya, sekarang!!" Ucap Solane masih dalam hawa penuh amarah.


....


Yuhuu


Up kah?


Like komen dong biar thor smangat nii


Hehe


Next part 13 ya

__ADS_1


__ADS_2