
Dan benar. Sampai hari jumat, Lexa dan Leon tidak saling bertemu dan mengirim pesan. Mereka saling memikirkan namun mereka terlalu gengsi untuk memulai duluan.
Lexa di tempat kerja malah bermain game sesekali memeriksa ponselnya apakah ada pesan dari Leon namun nihil. Pekerjaannya sudah selesai semua karna besok Viena akan menikah dan kantor akan libur selama seminggu. Semua proyek iklan sudah dikerjakan jauh jauh hari. Sebenarnya hari ini dia bisa tidak masuk tapi Egnor menyuruh Lexa tetap mengawasi Viena kalau kalau terjadi sesuatu mengingat pernikahannya besok. Dan, dia juga ingin membuat pesta lajang untuk bos nya itu mengingat bos nya tidak memiliki banyak teman setelah sekembalinya ke Legacy ini.
"Hey, mengapa kau bermalas malasan? Kau sudah mengambil gaun dan kemejamu?" Tanya Viena yang sudah berdiri di daun pintu ruangan Lexa.
"Iya Nyonya nanti saja. Aku akan ke apartemenmu dulu bersama Abby, Susan, dan Lucy. Kami akan membuat pesta kecil untukmu!" Jawab Lexa masih setia dengan mouse komputernya.
"Pesta apa? Kalian tidak udah repot repot. Hari ini aku mau makan malam dengan Dion!" Viena menolak.
"Apa? Kau tidak boleh bertemu dengan Tuan Dion hari ini Nyonya! Besok kalian akan menikah. Jadi, hari ini kalian harus dipisahkan dulu. Pokoknya Nyonya kau tidak boleh bertemu dengannya!!" Celetuk Lexa yang kini sudah duduk dengan tegak.
"Iya kah? Kau ini ada ada saja! Aku yang lebih dulu menikah, mengapa tampaknya kau lebih lihai? Pasti asisten cinta mu yang mengajarimu kan?!" Selidik Viena melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Jangan sebut sebut dia! Entah dia di mana sekarang. Kau tahu Nyonya, surah tiga hari dia tidak menghubungiku! Dia kekanak kanakan sekali! Dia marah hanya karna aku mengerjainya membuat undangan kemarin! Huh, aku sebal sekalii!!" Sungut Lexa menekuk wajahnya.
"Heng, kau yang salah kau yang kesal. Kau yang salah kau yang tidak menghubunginya. Lalu kalau dia yang salah kau juga tidak menghubunginya bahkan mendiaminya! Adilkan?!" Viena mencoba menengahi dengan caranya.
"Nyonya! Kau tidak mengerti!! Aku sudah meminta maaf, aku juga sudah menghampirinya ke Hotel Prime, tapi dia malah sibuk! Seharusnya dia menghubungiku meminta maaf karna tidak bisa bertemu!!!" Lexa masih membela diri.
"Memang dia siapamu?" Tanya Viena yang membuat Lexa diam telak. Lexa menunduk.
"Kalau kau ingin dia selalu bersamamu, nyatakan perasaanmu. Tidak usah melulu pria yang mengatakannya. Aku jadi sudah tahu mengapa akhir akhir ini kau selalu seperti ini!!" Viena menasehati.
"Yasudah, kau renungkan dimana letak kesalahanmu. Baiklah, aku akan membatalkan makan malamku dengan Dion. Kalian datanglah ke apartemenku tapi kalian yang masak. Aku lelah sekali!!" Viena meninggalkan Lexa sambil memukul mukul bahunya.
Lexa lagi lagi dibuat berpikir karna Leon. Benar kata majikannya. Dia terlalu egois. Di satu sisi dia memikirkan kenyamanannya sendiri tanpa memikirkan kenyamanan Leon. Dia hanya ingin Leon ada untuknya namun tidak bisa menampatkan dirinya ketika Leon membutuhkannya. Hem, dia harus melakukan sesuatu.
...
Sementara itu Leon di ruang kerjanya meletakan kepalanya di atas meja kerjanya sambil memandangi foto foto Lexa. Dia masih sangat kesal dengan Lexa karna kejadian beberapa hari yang lalu. Dia ingin meminta maaf karna menyerang Lexa secara membabi buta membuat Lexa takut, namun nyatanya dia agak kecewa karna Lexa hendak memasuki mobil seorang pria yang ia yakini Lexa mengenalnya. Lexa ingin menghindar darinya dan pergi ke pria lain. Apakah Lexa akan melakukan hal yang sama seperti yang Solane lakukan padanya. Setelah semua kebaikan yang dirinya berikan, pada akhirnya Lexa masih akan mencari hal yang lebih baik yang tidak dimiliki olehnya?
"Leon! Mengapa masih di sini? Kau tidak pulang?" Tanya Dion yang terkejut melihat asistenya masih bertengger di meja kerjanya dengan wajah kecut dan masam. Sementara teman temannya termasuk Renzy dan Ben sudah menikmati cuti mereka.
"Kau belum pulang ya aku belum pulang! Kau kan bos ku! Aku asisten!!" Jawab Leon tanpa memalingkan pandangannya pada wajah wajah Lexa di layar ponselnya.
"Cih, biasanya juga kau yang menghilang karna ingin menangkap kelinci kata Renzy!" Celetuk Dion sinis.
"Sedang tidak ingin menangkap, aku kehabisan wortel!" Jawab Leon sekenanya.
"Kau ini? Ada apa dengan Lexa?! Tidak biasanya kalian bertengkar perang dingin sudah beberapa hari ini! Viena juga mengatakan kalau sudah dua hari ini asistennya itu tidak seperti Lexa yang biasanya. Dan sepertinya dua hari yang lalu waktu kau ke Oriental, sepertinya dia datang kemari untuk menemuimu." Dion memberitahu membuat Leon langsung menegakan badannya.
"Are you seriously, sir?" Tanya Leon membelalakan matanya.
"Iya aku mendengar sedikit dia dan Renzy membicarakanmu! Memang ada apa?! Kan sudah ku bilang jangan mencari masalah dengannya Leon!! Dia wanita baik baik. Dia tidak akan mengecewakanmu!"
"Tapi Tuan...
"Tidak ada tapi tapian. Kalau dia tidak baik, dia pasti sudah meninggalkanmu karna semua kekonyolanmu yang pasti membuatnya gila. Tapi dia lagi memaafkan mu, menerimamu dan terus mencarimu. Sudahlah Leon, segeralah kau nyatakan perasaanmu atau dia akan menjadu santapan pria lain. Dan jika waktu itu datang, aku orang pertama yang akan menepuk bahumu untuk sabaaarrr!!!" Dion memperingati.
__ADS_1
"Ya Tuan, aku mengerti!" Leon menunduk lemah.
Tuannya benar, dia sudah salah menilai Lexa. Lexa benar benar mencarinya. Ketika kemarin dia juga memikirkan wanita itu, ternyata wanita itu mencarinya sampai ke tempat kerjanya. Leon tidak menyangka kalau Lexa datang ke tempat kerjanya.
"Masa seperti ini saja aku juga harus memberi tahumu Leon, aku pikir kau lebih pakar dariku. Sudahlah, ayo antar aku menemui nyonya besar Rika mu. Hari ini aku tidak jadi makan malam dengan Viena." Perintah Dion meninggalkan asistennya.
Ya, secepatnya dia harus mendapatkan Lexa. Dia harus segera membawa Lexa pada orang tuanya dan di sanalah mungkin saat yang tepat untuk menginginkan dia menjadi kekasihnya. Mungkin, malam ini dia harus ke flat Lexa ya sekedar menanyakan pernikahan tuannya besok.
Leon melajukan mobilnya mengantar Dion kerumah nyonya besarnya Rika.
"Leon, besok aku ada di sini! Besok kau yang menjemputku pergi ke gereja oke? Viena akan bersama keluarganya. Jangan telat besok pukul 8 pagi kau sudah siap menjemputku!" Kata Dion sebelum turun dari mobilnya untuk masuk ke dalam rumah ibunya.
"Siap Tuan! Kau mau menggunakan mobil ini atau Limosin Tuan Jeremy?" Leon menawarkan.
"Ini saja! Tidak usah dihias! Kalau Viena melihat dia tidak suka!" Jawab Dion.
"Tapi Tuan sekedar satu mawar putih."
"Yasudah terserah! Hah, harusnya kau juga perlakukan Lexa secara romantis jangan mobil terus kau urusi!!" Kata Dion seraya menyindiri Leon. Leon jadi semakin merasa bersalah mendiami Lexa dan ingin segera bertemu.
...
"Lexa! Mengapa kau mengikutiku?!" Tanya Abby yang merasa Lexa terus bergelayutan padanya sampai basement parkir apartemen Viena setelah menyelesaikan pesta lajang Viena.
"Aku ingin ikut mobilmu sampai garment yang di samping Hotel Prime." Jawab Lexa dengan wajah memanja.
"Kau ini bicara yang benar jangan tiba tiba mengikuti seperti hantu saja! Mau apa kau ke sana? Bukankah gaun dan kemeja seragam kita semua kau suruh ambil masing masing?" Tanya Abby lagi menekan remot kunci mobilnya.
"Ya aku belum mengambil punya ku dan punya .. " Lexa tidak melanjutkan.
"Kata siapa? Buktinya aku akan mengambil punya nya dan dia menyuruhku mengantarnya ke apartemennya. Kau ikut campur saja!!" Decak Lexa menundukan kepalanya.
"Lexa, segera temui dia. Dia benar benar kecau. Ben yang memberitahukannya padaku. Yasudah ayo aku antar sampai ke apartemennya!" Abby siap menjalankan mobilnya. Lexa memikirkan Leon yang takutnya tidak mau mengijinkannya masuk ke apartemennya.
Setelah mengambil gaunnya dan set suit Leon, Abby mengantar Lexa sampai gerbang gedung apartemen Leon.
"Semangat! Dan besok jangan lupa bangun pagi atau jabatan asistenmu akan lari kepadaku, haha!!" Pesan Abby sebelum meninggalkan Lexa.
"Ya aku akan bangun pagi memang aku mau apa?"
"Entah olahraga di malam hari. Sangat menyenangkan Lexa!!! Ting!" Abby sungguh menggodanya. Sebelum Lexa marah, Abby sudah menaikan kaca mobil tempat duduk Lexa.
"Aku yakin dia sudah melakukannya dengan Ben! Jalang!" Decak Lexa menekuk bibirnya.
Akhirnya dia menaiki apartemen Leon. Waktu masih pukul 9 malam. Mungkin dia bisa menggunakan taxi online jika Leon tidak mengijinkannya menginap di rumahnya. Hari ini seperti hari kemarin mereka tidak saling memberi kabar. Rasanya dunia Lexa sangat hampa. Begitu juga yang dirasakan Leon yang saat ini sedang berbaring di sofa apartemennya. Dia kesal karna tidak menemukan Lexa di flatnta sore ini setelah dia mengantar Dion. Beginilah jadinya kalau mereka saling mempertahankan image dan ego mereka.
Lexa agak ragu menekan bel apartemen Leon. Tekan tidak tekan tidak atau pulang? Begitulah hati Lexa. Akhirnya dia menekan. Sudahlah apapun yang terjadi dia harus menghadapi Leon. Bel pertama berbunyi tidak ada jawaban. Lexa mencoba membuka pintu siapa tahu tidak terkunci seperti waktu itu. Ternyata terkunci. Lexa sekali lagi menekan belum juga ada jawaban.
"Kemana musang tengik ini!!! Apa dia sudah melupakanku dan kembali ke sifat playboynya mencari wanita di cafe cafe? Argh Leon! Awas saja kau!!!" Decak Lexa.
Sekali lagi dia menekan bel dan jika Leon tidak mengangkatnya dia akan pulang. Namun setelah bel ia tekan pintu terbuka oleh Leon.
__ADS_1
Mereka berdua cukup terkejut. Mereka berdua saling melihat. Leon memperhatikan Lexa dengan rambut terurai dan sweater abu abu yang sungguh cocok dengannya. Leon sedikit terenyuh namun dia menahannya dan tetap memasang mata lancip nan tajamnya.
Sementara Lexa melihat Leon dengan wajah yang amat lelah namun tetap terlihat tampan karna rambutnya yang masih tegas ke atas. Dan juga perpaduan kemeja putih yang masih dikenakan. Lexa ingin sekali memegang wajah tegas itu.
"Leon?" Akhirnya Lexa yang memanggil lebih dulu.
"Mau apa kau kemari? Aku pikir kau sudah tidak ingat lagi denganku!" Kata Leon menegakan badannya dan memasukan tangannya ke saku celananya.
"Nyonya Viena yang mengingatkan ku untuk memberikan setelan suit mu ini padamu. Besok harus dikenakan! Sudah, aku pulang!" Lexa yang merasa seperti Leon masih ingin jauh darinya langsung memberikan satu bungkus paper bag dengan setelan suit di dalamnya.
Lexa lalu berbalik.
"Bukannya menyuruhku masuk malah mengataiku! Hem, salah besar aku dulu yang menghampirinya!!" Gumam Lexa bersungut sungut namun Leon mendengarnya.
Ketika Lexa hendak berjalan menjauh dari kamar apartemennya, Leon langsung memeluknya dari belakang setelah melempar paper bag ke dalam apartemennya.
"Lexa, aku merindukanmu!" Kata Leon melingkarkan tangannya di pinggang Lexa dan menenggerkan kepalanya di atas pundak Lexa.
"Kau jahat Leon! Kau tidak menghubungiku, kau tidak menjemputku dan sekarang kau malah bilang aku melupakanmu, kau jahat sekali!!" Kata Lexa dengan menahan air matanya untuk tidak jatuh.
"Maafkan aku! Ayo masuk!" Ajak Leon menegakan badannya dan menarik Lexa masuk ke dalam apartemennya.
Di dalam apartemen, Leon memeluk Lexa dari depan. Leon juga membimbing Lexa memeluk dirinya. Setelah sekian menit mereka berpelukan mereka duduk di sofa.
"Kau sibuk sekali ya?" Tanya Lexa membuka pembicaraan.
"Ya begitulah. Maafkan aku tidak menghubungimu, aku hanya, eng..." Leon tidak melanjutkan. Dia agak takut membuat hati Lexa semakin kesal.
"Hanya ingin membuatku merindukanmu?" Lexa yang meneruskan membuat Leon menoleh kepadanya dan sedikit tercengang dengan perkataan Lexa.
Lexa tersenyum mengelus pipi Leon.
...
...
Next part 50
jadian skarang ga niihh? haha
.
jangan lupa LIKE KOMEN hubungan LeLe yuk .. semakin banyak dukungan kalian LeLe semakin beraksi gaes 😁😁
kasih juga VOTE dan RATE di depan profil novel, kasih TIP juga boleeh 😎😎
.
hey hey bentar lagi episod 55 pengumuman giveaway, yang belum ikut cek cel yuk di episode GIVEAWAY TIME!!! ❤❤
__ADS_1
.
THANKYOUU ALL I LOVE YOU 💕💕