Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 64


__ADS_3

Angel telah mempersiapkan dirinya pergi ke pesta rakyat sore itu. Sore hari alun alun diisi dengan pentas seni. Mereka yang hendak menari, bernyanyi, bermain musik, semua mendapatkan giliran sehingga yang datang dapat menikmati perayaan dengan suka hati dan riang.


Namun nampaknya langit sore itu seperti mendung dan tak bersahabat. Lexa, Leon dan Juan juga belum menuju ke alun alun. Jane dan Larry juga beluk kunjung pulang. Angel hendak pergi ke sana karna temannya sudah menjemput. Angel masih bersikap dingin pada Lexa. Padahal semua yang ia kenakan pemberian Lexa. Lexa hanya menarik napas melihat sikap Angel yang belum berubah. Mungkin sebentar lagi pikirnya.


Leon masih bermain dengan Juan, namun setelah tiga puluh menit kemudian Angel pergi, Larry pun pulang. Dia mengajak Leon karna ternyata Tuan Bupati Springfield datang sebagai bintang tamu terhormat. Dia mendengar dari karyawannya kalau Larry memiliki rencana untuk mengadakan Argo Bisnis. Oleh sebab itu Larry mengajak Leon agar dia tidak gegabah dalam menentukan keputusan.


"Lexa, Jane sebentar lagi datang menjemput kalian untuk pergi ke alun alun. Atau kalau Juan sudah tidak sabar, kau bisa berjalan bersama Juan. Juan tahu di mana alun alun. Dari sini kau belok kanan terus akan bertemu pos keamanan lalu jembatan dan beberapa rumah lalu alun alun. Mengerti kah?"


"Mengerti dad." Lexa terkekeh.


"Oiya jangan lupa membawa payung takut di tengah jalan hujan karna langit agak mendung." Tambah Larry.


"Baiklah Lexa, kita bertemu di alun alun ya? Kau hati hati!" Pesan Leon mengelus puncak kepala Lexa. Lexa mengangguk dan juga mengelus lengan Leon.


Leon dan ayahnya pun pergi menemui Tuan Bupati di rumah kepala desa yang tempatnya berlawanan dengan alun alun. Juan masih asik dengan mobilannya walau sesekali ia menanyakan ibunya pada Lexa. Tak lama, sebuah ponsel berbunyi di nakas ruang tamu. Lexa mengira pasti milik Larry atau Jane. Lexa lalu mengangkatnya.


"Ini Lexa? Oh Lord! Aku melupakan ponselku di rumah ternyata!" Suara Jane di sebrang sana.


Lexa : "Ya mom, maaf aku yang mengangkatnya."


Jane : "Tidak apa sayang!


Lexa : "Kau di mana mom? Juan terus menanyaimu. Leon pergi bersama Dad dan Angel sudah pergi bersama temannya sejak tadi."


Jane : "Ya, apakah kau bisa ke alun alun sekarang? Aku masih harus memasak untuk Tuan Bupati malam ini sayang. Juan tahu jalan jalannya. Mungkin Larry juga sudah memberi tahumu?


Lexa : "Ya mom, baiklah aku akan kesana sekarang."


Jane : "Baiklah, jangan lupa bawa payung Lexa, langit agak mendung. Aku menaruhnya di pojok dapur."


Lexa : "Yes mom. Di mana aku harus menemuimu?"


Jane : "Di rumah berwarna merah muda di pinggir alun alun, oke?"


Lexa : "Baik mom terimakasih!"


"Hati hati ya!" Pesan Jane dan mematikan panggilan.


Lexa lalu mengajak Juan untuk pergi ke alun alun. Mereka berjalan pelan agar tidak keliru dengan pesan pesan yang diberitahukan Larry. Lexa sudah membawa payung jadi mereka akan tenang dan aman jika hujan turun. Namun, mereka tetap harus bergegas ke alun alun takut kalau kalau hujan sangat deras.


"Setelah rumah kecil ini kita akan melewati jembatan gantung kak Lexa, aku agak takut, bisakah kau menggendongku?


"Kau takut ya? Tentu saja, aku akan menggendongmu, tenang saja ya my little Juan?" Lexa mengelus puncak kepala Juan.


Sementara itu Angel ketika temannya menjemput, temannya Ana menceritakan tentang Nigel. Ana melihat kalau Nigel membawa seorang wanita ke rumahnya. Ayahnya sedang ke rumah kepala desa dan semua keluarganya ke alun alun. Angel tentu geram dan sangat cemburu mendengarnya. Dia juga mengingat perkataan calon kakak iparnya.


Angel yang sangat percaya padanya dan berniat hendak memperbaiki hubungannya dengan Nigel malah mendengar perkataan ini dari Ana, sahabatnya. Mereka baru putus kemarin, mengapa Nigel sudah memiliki kekasih lain, pikirnya. Dia jadi ingin membuktikan perkataan Ana. Akhirnya Angel memutuskan untuk ke rumah Nigel. Dan, memang betapa bodohnya Nigel, pintu rumahnya tidak dikunci hanya ditutup biasa.


Angel mengendap endap dan benar perkataan Anna. Dia mendengar suara desahan seorang wanita dan tentu saja suara erangan Nigel. Tanpa membuka pintu kamar Nigel, kaki Angel sudah lunglai dan tidak sengaja menekan tuas pintu dan terbukalah pintu kamar Nigel. Angel berkali lipat terkejut ternyata wanita yang bersetubuh dengan Nigel teman main Angel juga. Wanita itu juga tahu kalau Angel berhubungan dengan Nigel.


"Angel?! Sedang apa kau di sini?" Teriak Nigel.


"Angel, aku bisa jelaskan!" Kata temannya dengan wajah yang pura pura menyesal.

__ADS_1


"Sudahlah, tidak apa, kalian lanjutkan saja!" Angel berdiri perlahan dan membanting pintu kamar Nigel lalu pergi meninggalkan rumah Nigel.


"Angel? Benarkan yang kubilang?" Tanya Ana yang menunggu Angel di luar.


"Ya, Ana, aku mau pulang saja, kau ke alun alun saja, aku tidak mood!" Jawab Angel putus asa.


Harapannya tentang menjadi pusat perhatian dan terlebih menarik perharian Nigel pupus sudah. Ada tersirat dia menyalahi Lexa, namun dia juga sudah lelah memarahi Lexa terus. Ya, seharusnya ia mendengarkan Lexa lebih awal. Seharusnya dia tidak pergi kemarin bersama Nigel. Dia juga berpikir, hanya karna dia tidak mau berciuman dengan Nigel, Nigel memutuskannya begitu saja. Sungguh penjahat kelamin, pikir Angel.


Langit semakin mendung dan akhirnya hujan rintik rintik turun menghiasi Desa Serena itu. Angel masih berjalan dengan wajah tertunduk. Dia memegang flower crown pemberian Lexa dengan sangat erat. Akhirnya dia tiba di jembatan gantung. Dia tiba di ujung jalan hendak ke rumahnya sedangkan Lexa dan Juan tepat sekali ada di ujung jembatan berlawanan dengan Angel hendak menuju ke alun alun. Angel tidak melihat ke depan karna sedikit frustasi atas kebodohannya. Angel hanya melihat jalan jalan jembatan tersebut. Jembatan tersebut walaupun gantu namun tetap kokoh dan dapat dilewati sepeda motor.


Sebuah Sepeda motor sudah melewati Lexa dan Lexa dan Juan tidak begitu memperhatikan kalau gadis yang berlawanan jalan dari arahnya adalah Angel.


Belum saja Lexa menggendong Juan untuk menyebrangi jembatan, sebuah petir terdengar. Angel sudah berada di tengah jembatan dan nampaknya sang pengemudi sepeda motor terkejut karna suara petir sehingga motor agak oleng dan lengan sang pengemudi menyenggol Angel sehingga Angel terhempas ke sisi jembatan dan hendak terjatuh ke sungai di bawah sana. Angel berteriak dan Juan menyadari suara kakaknya yang sangat ia kenal.


"Kak Lexa itu Kak Angel mau jatuh ke sungai." Kata Juan menunjuk ke arah Angel yang sudah terlempar ke luar jembatan namun dia menahannya tali tali tambang agar tidak terjatuh ke sungai. Sontak Lexa menengok ke arah tunjukan tangan Juan.


"Tolong!!!" Teriak Angel dan tersadarlah Lexa. Lexa lalu membuang payungnya.


"Tunggu di sini Juan!" Perintah Lexa meninggalkan Juan di ujung jembatan. Dia berlari ke arah Angel.


"Angel!" Panggil Lexa dan memegang tanganya.


"Tidak! Kalau kau menarik ku, kau akan ikut terjatuh, panggil saja bantuan! Aku bisa menahannya!" Kata Angel dengan napas tersenggal menahan dirinya agar tidak jatuh ke sungai.


"Diamlah, aku bisa mengangkatmu!"


Sekuat tenaga Lexa menarik tangan Angel dengan menyangkutkan kakinya di sela sela alas kayu jembatan meskipun kemungkinan kekuatannya sangat kecil. Lexa terus menarik tangan Angel dan tangan Angel satunya juga mencoba menarik alas jembatan agar dapat naik ke sisi jembatan.


Ketika Angel dapat meraih tali pegangan jembatan dan kakinya berpijak pada alas jembatan, jembatan tersebut malah oleng dan miring sehingga membuat tubuh Lexa tak seimbang dan dia malah terpelanting setelah Angel berhasil naik ke jembatan. Angel shock bukan main karna kejadiannya sangat cepat dan karna hujan, angin berhembus sungguh kuat. Lexa telah terjatuh ke sungai curam di bawah sana.


Pak! Angel manampar pipinya sendiri!


"Bodoh kau Angel! kau harus mencari dan menyelamatkan Kak Lexa!" Angel lalu berdiri. Dia menghampiri Juan. Dia menggendong adiknya lalu kembali ke alun alun mencari bantuan.


"Tolooongg!!!" Teriak Angel di tengah alun alun karna ia melihat tampak sepi karna hujan semua orang meneduh dulu di rumah mereka. Beberapa orang keluar termasuk Jane.


"Angel! Kau kenapa?" Tanya ibunya agak panik karna Angel basah kuyup bersama Juan hujan hujanan dan meminta tolong.


"Tolong siapapun! Kakaku terjatuh di sungai jembatan itu, tolong!!! Tolong mom! Kak Lexa terjatuh karna menyelamatkanku! Jembatannya miring dan dia hilang keseimbangan ketika menarik tanganku yang hendak jatuh, tolong! Tolong dia semuanya!!! TOLOOONGGGG!!!!" Teriak Angel sudah tersungkur bersama Juan yang masih ia gendong. Angel menangis merasa menyesal. Begitu juga Jane. Jane benar benar shock dengan apa yang dikatakan anak keduanya itu.


Karna Angel yang sudah sangat panik dan tampak nyata, para Tuan rumah pria segera menuju ke dasar sungai jembatan yang Angel maksud.


"Mom, beritahu kak Leon, aku mohon!! Cepat selamatkan Kak Lexa, aku takut sebentar lagi hujan semakin lebat dan air sungai akan meluap. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana keadaan kak Lexa sekarang, ayo mom!!!!" Kata Angel menangis. Dia benar benar menyesal, seharusnya dia menyuruh Lexa untuk mencari bantuan bukan malah menariknya.


"Sudah sudah, ayo kita pulang, mereka sudah mencari Lexa, kita harus beritahu kakakmu dan ayahmu! Ayo ayo!" Kata Jane yang juga sudah ikut menangis.


Mereka bertiga menyusuri jalan dan ketika melewati jembatan itu lagi, para tetangga Jane yang pria sudah sampai turun ke tepi sungai dan mencari keberadaan Lexa namun belum ada tanda tanda seorang wanita terdampar. Hati Angel makin tak karuan, dia tidak bisa lagi membayangkan kemarahan besar kakaknya.


Sesampainya di rumah, Juan digantikan baju terlebih dahulu oleh Jane dan Angel segera menghubungi rumah kepala desa. Angel meminta asisten rumah tangga kepala desa untuk segera menyampaikan kepada kakaknya agar segera pulang karna Lexa kecelakaan. Leon yang mendengar pesan tersebut tanpa ijin dan berkata apa apa dia pulang ke rumah dengan berlari. Padahal hari hujan dan mulai deras, Leon terus berlari. Dia ingin melihat wanitanya yang sebenarnya kecelakaan jatuh ke sungai. Larry pun menyusul walau tertinggal sangat jauh.


Brak! Leon langsung membuka pintu kasar dan membantingnya.


"Lexa?" Panggil Leon namun ia hanya melihat ibunya dan adiknya menangis seperti menunggu sesuatu.

__ADS_1


"Mom! Di mana Lexa? Dia kenapa?" Tanya Leon langsung menghampiri ibunya. Angel sudah berdiri.


"Kak? Kak Lexa jatuh ke sungai karna menyelamatkanku!" Kata Angel terbata bata dan masih dalam tangisnya. Leon langsung dengan cepat menoleh ke arah adiknya dan menatapnya sangat tajam sampai seperti ingin mematikan lawannya.


"Apa kau bilang?!" Leon sudah menghampiri Angel dan mencengkram keras kedua lengan Angel.


"BICARA YANG BENAR!!! ADA APA DENGAN LEXA, ANGELLLL!!!!!" Leon berteriak di depan wajah Angel dengan benar benar marah.


"Dia jatuh ke sungai karna aku hendak terjatuh. Jembatannya miring dan dia, dia, dia hilang keseimbangan dan dan terjatuh kak Leon! Aku tidak tahu kalau jembatannya miring ketika aku hendak sampai menaiki jembatan!" Angel menjelaskan dengan tangisnya.


"BOHONG! KAU PASTI SENGAJA MENARIKNYA SEHINGGA IA TERJATUH KAN?!! IYA KAN!!! JAWAB ANGELL!!!!" Leon masih berteriak. Leon sudah ikut menangis.


"Tidak kak, aku bersumpah, aku juga sudah menyuruhnya ---" kata Angel namun Leon memotongnya.


"DIAM!! KEMARIN SAJA KAU BILANG JUGA MENYURUHNYA UNTUK TIDAK MENGIKUTIMU TAPI DIA MENGIKUTIMU KAN?!! KAU BENAR BENAR KETERLALUAN ANGEL!!!" Leon menghempaskan tubuh adiknya ke sofa dengan sangat kasar. Dia lalu mengambil senter besar ke dalam kamarnya.


"Kalau sampai malam ini aku tidak menemukan kekasih jiwaku itu, aku tidak akan segan segan melemparmu juga ke sungai dan kau bukan adikku lagi!!! Camkan itu!!!!" Ancam Leon menunjuk nunjuk Angel. Leon lalu keluar dari rumah dan segera ikut mencari Lexa di sungai sana.


Angel menangis sekencang kencangnya. Dia sudah mengatakan yang sebenarnya, namun memang karna kejahatannya pada Lexa selama ini membuat Leon tidak percaya padanya. Dia benar benar salah menilai Lexa. Sudah sampai saat ini dia mendiaminya, dia meninggalkannya namun wanita itu tetap mau menolongnya tanpa memperdulikan dirinya sendiri.


Jane sudah menutup kupingnya. Dia benar benar tidak bisa menahan Leon. Leon memang benar jika menuduh adiknya yang macam macam karna anak perempuannya itu tidak bisa menghormati Lexa.


"Sudah kubilang Angel, kak Lexa mu itu orang baik, kenapa kau seperti itu!!! Bagaimana kalau dia tidak ketemu!!! Aku , aku benar benar tidak sanggup membayangkan bagaimana kakakmy nanti! Kita hanya bisa berdoa. Oh Lord, God, selamatkan anakku Lexa. Kami mohon!!!" Tutur Jane, berdoa sambil menangis.


...


...


...


...


Kriting pol episode kali ini, gimana sih ngetik sambil berimajinasi nonton drama jatoh jatohan atau berimajinasi jadi Lexa atau Angel atau Juan? Eh? Atau jadi jembatan? Hehe 😝😝


.


next part 65


apa Lexa selamat?


iyalahhh hadehhh!! 😁😁


tapi Lexa dimana ya?


dan apakah jantung kalian deg degan membayangkan seekor musang liar marah?? hihi


.


jangan lupa LIKE KOMEN yang banyak biar aku smangat hihi


kasih RATE dan VOTE di depan profil novel


.

__ADS_1


thankyou for read and i love you somuchhh muachh 😘😘


__ADS_2