Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LELE PART 45 Special Rico & Solane


__ADS_3

Terkadang jika mengedepankan ego dan ketidak sabaran maka hubungan antara pikiran dan ucapan yang hendak diutarakan tidak akan singkron. Apa lagi jika rasa memiliki yang terlalu besar disertai dengan obsesi yang berlebih, akan menimbulkan salah arti dan luapan emosi yang keterlaluan.


Ucapan tidak lagi memikirkan perasaan dan pikiran tidak lagi memikirkan apa yang ingin dikatakan. Apa yang dilihat, itu yang ingin dikatakan. Maksud hati ingin membuat kesadaran namun pada kenyataan malah kesalah pahaman yang menimbulkan rasa enggan untuk bersama.


Berkali kali menciptakan rasa nyaman untuk orang yang dikasihi namun untuk mengubur masa lalu itu tidak semudah yang direncanakan. Berkali kali berusaha meyakinkan kalau dirinya yang akan selalu ada namun untuk lari dari kehalalan itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Butuh pengoreksian diri dan langkah langkah apa agar tidak lagi jatuh di lubang yang sama.


Solane contohnya. Sebenarnya hatinya telah berpindah. Ini serius. Setiap hari dia merindukan pria itu. Pria itu yang bisa membuatnya untuk mencoba lagi rasanya saling berbagi cinta. Namun, untuk menghilangkan masa lalu nya dan tuntutan kesalahan yang di serahkan semua padanya sangat sulit. Entah Solane, menerima kepergian Jimmy, suaminya atau tidak. Tetapi ada sebuah kesalahan yang tetap menggandrungi dirinya. Mencoba untuk keluar dari zona tidak penting itu nyatanya malah terus membebaninya. Masalah suaminya yang berdatangan membuatnya takut membicarakan pada Rico. Dia tidak mau membuat Rico terus menjadi tulang punggung yang seharusnya menjadi tugasnya. Jacklyn satu satunya harapannya. Harapannya untuk hidup dan mencari nafkah. Untuk saat ini dia ingin sendiri dan memperbaiki diri. Dia belum sanggup berkomitmen karna takut kalau kalau kesalahan terjadi lagi padanya. Dia tidak ingin dikatakan wanita sial.


Cukup menjadi kekasihnya saja rasanya sudah sangat membuatnya merasa bersalah pada mendiang suaminya. Padahal suaminya yang membuat dia seperti ini. Dia mengakui, Rico pria yang terbaik yang pernah ia temui. Melebihi Leon malahan. Tapi, apa dia pantas menerima semua kebahagiaan ini dengan sangat mudah karna Rico begitu menginginkannya.


Sementara Rico, kekasihnya. Dia sudah nyaman bersama Solane. Meski Solane sudah bersuami dan memiliki anak, baginya belum ada wanita setulus Solane. Dia cantik dengan karir yang memukau. Namun, ketika ada seorang pria yang menawarkan sebuah kehidupan jangka panjang, dia menginginkannya dan mengurus anaknya dengan tangannya sendiri. Pernah ada satu wanita di hati Rico yang seperti Solane namun nyatanya bukan takdir untuknya. Wanita itu sangat tulus membiayai dirinya, adiknya dan satu bibinya namun dia harus pergi karna kecelakaan bersama adiknya. Sesuatu yang disesalkan karna ketika itu Rico sedang berada di luar kota. Kali ini, Rico tidak ingin lagi kehilangan. Rasa cinta nya yang membuncah pada Solane menginginkan wanita itu untuk terus di sampingnya. Tidak ingin lepas pandangannya. Rasa cintanya juga membesar ketika melihat kasih sayangnya pada anak semata wayangnya. Bisa saja, model papan atas seperti Solane menelantarkan anaknya demi karir. Karna apa? Karna memiliki sebuah harapan cinta. Solane sudah merupakan anak yatim piatu, dia hanya mencari sebuah ketulusan cinta. Rico sangat yakin, dia dapat memberikannya.


Namun, karna dirinya tidak sabar dan tersulut emosi. Dia merasa Solane tidak yakin atau bahkan mencintainya, semua perkataan itu keluar. Sebenarnya dia tidak mau membahas dan mengait ngaitkannya . Dia hanya ingin membuat Solane sadar kalau Solane membutuhkan dirinya.


Mereka berdua masih berpelukan dan Solane terus menangis di depan dada Rico yang masih tertidur. Setelah pergulatan panjang dan menguras emosi itu, Rico masih terlelap.


"Kau pria jahat yang pernah aku temui Rico! Mengapa kau tidak bisa menjauh dariku! Aku tersiksa seperti ini! Aku hanya ingin hidup tenang bersama Jacklyn. Apa yang kau inginkan sebenarnya hah!!" Isak tangis Solane sambil memukul mukul kecil dada bidang nan keras itu akhirnya menyadarkan Rico.


Kepala Rico cukup pening namun dia sedikit mendengar penuturan kekasihnya itu .


"Aku hanya ingin menikahimu Solane." Ujar Rico dengan pelan.


"Kau yang mengatakan kalau aku janda beranak satu, kenapa kau menginginkanku?!" Saut Solane menaikan nada suaranya.


"Maafkan aku, aku hanya ingin menyadarkanmu kalau kau membutuhkanku!" Balas Rico mendekap erat tubuh Solane.


"Tidak! Aku tidak membutuhkanmu! Aku sudah memuaskanmu, lebih baik kau pergi dari apartemenku! Hubungan kita sudah berakhir!" Kata Solane masih merasa sakit hati dengan ucapan Rico. Dia hendak beranjak namun Rico kembali menariknya dan memeluknya.


"Tidak! Aku tidak mau berakhir denganmu sayang! Hubungan ini akan terus terjadi sampai aku hanya bisa bernapas satu detik."


Solane kembali menangis.


"Aku belum yakin dengan semua ini. Lupakan aku Rico, kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku. Aku masih tidak sanggup melihat kenyataan yang akan terjadi nanti . Jimmy meninggal .."


"Jimmy Jimmy Jimmy Jimmy!!! Kau ini apa Solane?!! Kau masih mencintainya hah?" Rico sedikit menghempaskan tubuh Solane dan dia terbangun dalam posisi duduk. Solane terkejut melihat Rico melakukan ini.


"Ssshhh.." Rico agak memegang puncak kepalanya. Muncul serangan kecil pada kepalanya ketika ia bangun.


"Aku sudah bosan kau terus mengait ngaitkan Jimmy, Solane! Sekarang dia sudah meninggal dan pria yang kau cintai itu aku!" Decak Rico lagi menundukan kepalanya.


"Tidak usah! Kau tidak usah lagi mencintaiku! Aku hanya ingin tinggal bersama Jacklyn. Kau pergilah Rico, pergi kubilang!!" Solane melemparkan bantal pada Rico.


Rico kembali terbaring dan memegang kepalanya. Entah apa yang terjadi padanya.


"Diam kau Solane! Kau hanya boleh bersamaku dan kau milikku, kau dan Jacklyn sudah menjadi tanggung jawabku!" Rico memegang kepalanya dan menunjuk Solane.


"Mengapa kau mencintaiku? Karna aku bodoh kan? Karna aku bisa di bodoh bodohi oleh pria kan?! Sehingga nanti kau juga akan menyelingkuhi ku! Maka itu kau mengatakan aku janda beranak satu yang seharusnya senang dinikahi olehmu ya kan?! JAWAB RICO!! Aku benci perkataanmu aku benci!!! Aku hanya ingin kau menganggapku seorang ibu yang mengurusi anaknya Rico! Mengapa kau mengatakan itu!!!" Kata Solane yang lama kelamaan berbicara sambil menangis. Dia memukul mukul lengan Rico karna merasa sangat rendah dan itu dikatakan oleh pria yang ia cintai.


Rico masih memejamkan matanya karna kepalanya terasa berat namun dia menyadari sikapnya salah pada Solane. Dia pun menarik Solane dan masuk ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku sayang! Maafkan aku!! Jangan seperti ini aku tidak sanggup. Baiklah baiklah, aku akan menuruti apa yang membuatmu nyaman. Baiklah. Sudah diamlah, sebentar lagi aku akan pergi dari sini. Tenanglah!" Kata Rico pelan dan sedikit lemah. Dia mengecupi pangkal kepala Solane dan mengelusi lengannya. Solane masih menangis namun dia seperti merasa ada yang berbeda pada tubuh pria yang ia cintai itu. Mungkin karna hal ini juga Rico jadi mengalah seperti ini.


Dan karna umpatan serta bentakan yang menggelegar membuat Jacklyn bangun dalam tidurnya malam itu. Solane segera beranjak dan melepaskan diri dari pelukan Rico. Dia ke kamar sebelah memeriksa Jacklyn. Sementara Rico malah kembali tertidur.


Ternyata Jacklyn haus dan Solane sudah memberikannya susu. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Solane kembali memeriksa Rico yang katanya hendak pergi dari apartemennya. Padahal setiap Rico datang, Rico menginap di sini dan Solane malah mengharap kekasihnya itu tidak pergi lagi. Namun, entah mengapa sulit untuk mengulang dari awal hidup berumah tangga yang tidak semudah pasangan yang saling jatuh cinta. Suatu saat pasti akan ada kebosanan apalagi, Rico akan menikahi wanita berkekurangan seperti Solane. Solane masih merasa rendah dan tidak percaya diri.


Solane pun mendekati Rico. Dia merasa wajah pria itu agak memucat karna sangat putih dan bibirnya tidak memerah seperti biasanya. Solane memegang dahi Rico dan ternyata pria itu sedikit demam. Solane kembali memegang lengan nya dan sangat hangat. Ujung ujung jarinya terasa dingin.


"Rico, gunakan pakaianmu, tubuhmu hangat." Solane berusaha membuat Rico terbangun terlebih dahulu.


"Sebentar Solane, aku pasti akan pergi, kau jangan menangis lagi ya, biarkan aku tidur sebentar, aku pasti pergi jika bisa membuatmu bahagia." Rico mengikuti arahan Solane sambil mengigau.


"Heemm.." jawab Solane singkat. Dia dengan cepat mengenakan kaos putih pada Rico agar nyaman dan di dalam tubuhnya hangat. Sebelumnya Rico sudah mengenakan celana nya setelah mereka berhubungan.


Solane mengompres seluruh tubuh Rico dan akhirnya membiarkan pria itu beristirahat di sini. Solane sudah melupakan kalau dirinya sudah mengusirnya. Kini Solane bingung. Rico tidak enak badan mungkin karenanya. Solane terus menatap wajah sayu itu dalam tidur. Sejujurnya, Solane begitu mencintai Rico . Namun, entahlah. Ketakutan ini sungguh meng isolasi dirinya.


Setelah ia kembali memeriksa Jackly, Solane berbaring di samping Rico. Dia mengelus dahi Rico sampai dirinya pun tertidur di samping pria itu.


Sekitar dua jam kemudian, Solane merasa haus dan ternytaa posisi Rico sudah memeluknya. Ketika Solane hendak beranjak, tangan kekar Rico menahannya.


"Solane, tetaplah bersamaku. Solane. Aku mencintaimu . Solane, jangan pergi. Solane .." suara suara itu keluar tanpa sadar dari mulut Rico yang masih terpejam. Suhu tubuhnya semakin panas dan bulir bulir keringat membasahi tangannya sampai ke tubuh Solane. Solane jadi tidak tega untuk beranjak. Dia pun kembali memeluk Rico. Dia ingin membuat pria itu nyaman.


"Solane .. " lagi lagi Rico hanya memanggil namanya.


"Tenang lah Rico, aku masih bersamamu, tidurlah .." kata Solane dan menitikan air matanya. Dia tidak tahu, keputusannya untuk berakhir benar atau tidak.


...

__ADS_1


Pagi hari menjelang. Sinar matahari memenuhi apartemen yang cukup memiliki banyak sekat. Terdapat satu ruang tamu yang tergabung dengan dapur serta satu set meja makan serta dua kamar tidur. Kamar tidur yang tadinya diperuntukan untuk satu keluarga dan ibu mereka. Kini, kamar tidur ini bahkan tidak tahu siapa pemiliknya. Entah Solane dan Jacklyn yang akhirnya memiliki masing masing kamar atau satu kamar untuk pemuas nafsu dua kekasih yang terpisah antara jarak. Rico harus menetap di Honolulu dan Solane di Legacy.


Solane sudah sibuk di dapurnya menyiapkan sarapan untuk Jacklyn yang sudah terbangun. Jacklyn sedang bermain di depan televisi sambil menunggu ibunya memberiny makan. Sementara Rico masih terjaga. Tubuhnya semakin menghangat dan Solane berpikir mungkin akan menemaninya berobat ketika bangun nanti.


Setelah Solane siap menyiapkan sarapan untuk Jackly, dia segera memberikannya pada anaknya itu. Solane tidak menyuapinya tetapi menaruh alat makan itu di depan Jacklyn sambil mengajarinya.


"Kau harus belajar mandiri sejak dini Jack! Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kemudian jika kita tidak bisa mengerjakan apapun dengan sendiri. Kau jangan sepertiku, ketika besar, aku bahkan sangat berharap kakekmu menikah lagi dan aku memiliki ibu namun percuma. Kakekmu begitu menyayangi nenekmu." Gumam Solane mengajak Jacklyn bicara mengenai kehidupannya. Solane merasa hal ini bodoh, namun itu yang akan terus ia tanamkan pada Jacklyn agar kelak, Jacklyn tidak seperti nya. Harus mengalami kegagalan cinta yang membuatnya pusing setengah mati.


"Ma ma, mamam, jek jek mam mam .." hanya itu balasan Jacklyn.


"Yes, Jacklyn mamam. Makan sayang. Makan .." Solane berusaha mengoreksi dengan penuh kasih sayang.


"Yes jek mam kan!" Jacklyn mengikuti dengan ucapan yang sangat sederhana .


"Not bad! Good girl! Makanlah, nanti mommy akan kembali. Mommy mau menyiapkan minuman panas untuk paman Rico." Ucap Solane mengusap lembut puncak kepala Jacklyn yang tetap asik dengan makanannya.


"Ko ded di ko De di ko!" Jacklyn malah mengatakan hal yang ada di pikirannya.


"No! paman Rico, Jack!" Solane kembali mengoreksi.


"No! Ko ded Dedi ko!" Jacklyn malah ikut mengoreksi ibunya.


"Ohh, whatever!!"


'pasti asisten tengik itu yang terus mengajari Jacklyn mengatakan daddy Rico . Damn it!' dengus Solane dan beranjak menuju ke dapur lagi. Jacklyn memang sudah bisa memegang sendok makannya sendiri atau sesekali menggunakan tangan kecilnya. Walau nanti akan berantakan, Solane membiarkan Jacklyn makan sendiri jadi nanti Solane akan membantunya sebentar sebentar.


Ketika Solane hampir menyelesaikan minuman Rico, terdengar suara ketukan pintu yang semakin lama semakin memekakan telinga. Solane memutar bola matanya malas. Dia tahu siapa yang datang. Solane segera mematikan televisi dan membuat kode kode diam untuk Jacklyn.


"Sssttt, keep silent, Jack!" Kata Solane mengarahkan Jacklyn untuk diam dengan telunjuk di depan bibirnya.


"Ssssttt sssttt!" Jacklyn pun menuruti ibunya dan meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya.


"Hey Sui! Cepat buka pintunya atau aku akan mendobraknya! Aku tahu kau ada di dalam! Cepat buka!" Ancam orang yang ada di luar itu. Mereka adalah paman dan bibi Jimmy, kakak dari ibunya Jimmy. Mereka memanggil Solane dengan nama keluarganya. Mereka tahu kalau baru baru ini Solane menghiasi layar kaca dengan beberapa iklan yang diberikan Lexa. Mereka memanfaatkan kesempatan untuk meminta utang Jimmy yang kemungkinan tidak ada.


"Baiklah aku akan mendobraknya jika kau tidak membukanya! Aku membawa bodyguard!" ancam keluarga Jimmy dengan nada serius.


"APA?!!!" teriak Solane akhirnya membuka pintu.


"Cepat selesaikan cek ini, hanya tiga puluh juta!" paman Jimmy menyerahkan selembar cek senilai tiga puluh juta.


"Di sini sudah kau lihat tanda tangan suamimu kan?! Cepat berikan!" lagi lagi paman Jimmy memperlihatkan tanda tangan Jimmy.


"Tidak! Aku yakin setelah ini akan ada penagihan yang sebenarnya tidak pernah ada! Lagipula aku tidak punya uang sebanyak itu!" Solane hendak menutup pintunya namun bodyguard mereka menahannya.


"Cepat berikan uangnya sekarang atau bodyguard ku akan mengambil anakmu! Jade, ambil anaknya!" Seorang wanita paruh baya mencengkram dagu Solane dengan sangat keras.


"Jangan sampai kau menyentuhnya, BERHENTI DI SANA!!" Solane menghempaskan tangan wanita itu dan berteriak pada si bodyguard.


Namun ternyata ketika dia berbalik hendak menghampiri Jacklyn ..


"Siapa yang mau mengambil anak ini? Kalian siapa?" tiba tiba Rico keluar dari kamar Solane dengan wajahnya yang masih pucat.


"Oh my God Solane! Kau benar benar adalah seorang jalangg!! Hebat sekali permainanmu!!" Pria yang merupakan paman dari Jimmy berdecak terkejut melihat Rico keluar dari kamar dan menggendong Jacklyn. Dia bertepuk tangan dan di susul decihan dari istrinya, bibi dari Jimmy.


Solane sudah menunduk pasrah. Sebentar lagi reputasinya akan hancur.


"Kalian semua siapa? Ada urusan apa dengan Solane? Aku teman nya ,bukan siapa siapanya!" kata Rico menjelaskan.


Seketika hati Solane berdesir. Rico tidak menganggapnya kekasih lagi. Padahal Solane ingin menarik kata katanya dan ingin bersama pria itu. Tapi, ya ini kemauannya dan dia harus menerimanya.


"Oh temannya? Mengapa kau keluar dari kamar itu?!" pamannya Jimmy tersenyum kecut dan menaikan satu alisnya tak percaya.


"Aku menumpang berganti pakaian, aku baru saja datang. Ada apa ini? Mengapa tidak ada satupun yang menjawab?" Kata Rico dengan tatapannya yang sangat tajam. Dia menatap Solane yang dia yakin sudah terpojoki. Dia juga menatap si bodyguard dan paman serta bibi nya Jimmy bergantian. Tatapannya begitu tajam dan tampak memerah karna dia sedang demam. Sebenarnya suhu tubuhnya semakin meningkat.


"Aku pamannya Jimmy jadi aku berhak menanyakan keberadaan anda. Aku kesini meminta kewajiban Jimmy untuk membayar utangnya sebesar tiga puluh juta. Itu baru bunga karna ini sudah lama terjadi. Karna dia sudah meninggal, jadi Solane Sui ini yang harus membayarnya! Aku memintanya sekarang!" kata pria itu.


Rico lalu menatap Solane yang sudah terduduk lemas dan menutupi wajahnya. Rico mengerti Solane sudah sedikit kesal dengan kerabat Jimmy ini.


"Oh, tunggu sebentar!" Kata Rico. Dia kembali ke dalam untuk mengambil ponselnya. Rico masih menggendong Jacklyn .


"Berapa nomor rekening mu?! Aku yang akan membayarnya, biarlah dia yang berhutang padaku!" Kata Rico kemudian.


Paman Jimmy lalu memberikan nomor rekeningnya sambil tersenyum licik. Rico lalu menekan nekan ponselnya sambil terus menggendong Jacklyn protek.


"Aku sudah mengirimmu lima puluh juta. Aku sangat tahu kalau kau sedang memeras Solane. Tapi biarlah aku saja yang mengetahuinya dan kuberikan uang ku padamu karna hari ini aku tidak mau berkelahi. Begini Tuan, aku tidak mau mendengar kau kembali meminta minta pada Solane seperti ini. Aku sudah tahu nama dan nomor rekeningmu. Aku bisa melacakmu atau menyewa pengacara handal di Honolulu untuk menuntutmu dan mengakhiri hidupmu kalau kudengar kau masih menganggu Solane. Ini merupakan peringatan bukan ancaman! Kau tahu Tuan Egnor Jovanca kan? Dia sendiri yang akan menjadi pengacara Solane jika kau masih memeras Solane seperti ini. Apa kau mengerti? Kalau sudah pergilah!" kata Rico kemudian dengan tenang dan cukup melemah karna kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan. hanya ini yang bisa ia lakukan untuk terakhir kalinya untuk wanita yang sangat ia cintai.


Seketika kedua pria dan satu wanita itu membelalakan matanya. Si pria masih berusaha melawan dan membela diri.

__ADS_1


"Memang kau siapa seenaknya membawa bawa pengacara mengerikan itu?!" decak si paman.


"Aku bukan siapa siapa dan kau tak perlu tahu, aku sudah memberimu lima puluh juta dan seharusnya kau sudah bisa berpikir aku ini siapa ! Tidak ada orang yang dengan mudah memberikan lima puluh juta kalau dia hanya orang rendahan dan tidak tahu malu seperti kalian. Cepat pergi atau kau bisa melihat siapa yang sudah kuhubungi!" Kata Rico dengan tenang dan mengulurkan tangannya memperlihatkan kalau dirinya memang sedang menghubungi seseorang yang tertulis pada kontaknya TUAN EGNOR JOVANCA. Untung saja ketika bertemu pemakaman ayahnya Lexa, dia sempat berkenalan karna suatu saat dia pasti membutuhkan.


"Sial! Pergi dari sini!" Pria itu memerintahkan istrinya dan bodyguardnya mundur teratur dan meninggalkan apartemen Solane. Untung saja Egnor tidak mengangkat panggilan. Rico akhirnya mematikan panggilan dan akan menjelaskan lewat pesan nanti.


Solane sudah terlihat menagis. Harga dirinya sudah semakin hancur sekarang. Rico seperti membayarnya dan kini dia berhutang pada Rico. Entah apa yang akan Rico katakan dan mungkin suatu saat nanti pria itu akan mengungkit ungkit masalah ini. Ya, Solane merasa memang seperti wanita bodoh yang tidak bisa lepas dari akuisisi pria.


Rico menghampiri wanita yang ia cintai itu. Dia juga menuruni Jacklyn untuk melihat ibunya yang bersedih.


"Mommy, don't cry! Said, Jack!" Rico memberi arahan pada Jacklyn dan Jacklyn langsung mengikuti dengan bahasa bayinya.


"Mam mam Don kay mam jek Don kay!" katanya.


"Good girl! Dengar Solane, Jacklyn mengatakan don't cry! Diamlah!" Kata Rico dengan pelan.


"Oke Jack, sebaiknya kau menonton televisi ya, aku akan menyalakannya!" Kata Rico kembali menggendong Jacklyn menuju di depan televisi. Rico meletakan Jacklyn di depan TV dan dia menuju ke rak dapur. Dia mengambil cemilan Jacklyn. Rico memang sudah terbiasa ikut mengurus Jacklyn jika dia datang kesini. Tapi, sepertinya ini adalah hal terakhir kalinya ia lakukan.


"Jack, Snack time!!" Gumam Rico berusaha ceria di depan Jacklyn padahal perutnya agak perih dan kepalanya pening. Suhu tubuhnya juga masih hangat bahkan panas.


Jacklyn meraih kotak Snack khusus bayi itu dengan senyum yang sangat manis dan menggemaskan.


"This your Snack, Jack! Sepertinya ini terakhir kalinya kau memberikanmu Snack. Aku harap kau merindukanku sehingga mommy mu memintaku untuk kembali namun sepertinya hal yang sangat tidak mungkin. Baiklah, kau harus baik baik sampai ibumu tenang ya? Aku pergi. Jadilah anak baik. I love you!" Kata Rico meminta ijin pergi pada Jacklyn. Dia pun berbisik ketika mengatakan i love you pada gadis kecil yang tidak tahu apa apa itu.


Rico lalu beranjak menuju ke kamar lagi. Dia mengenakan kemejanya dan kembali keluar. Dia menghampiri Solane yang masih menutup wajahnya. Solane semakin menangis ketika mendengar penuturan Rico yang benar benar menuruti permintaannya.


"Solane, kemarilah, peluk aku!" Rico menarik tangan Solane untuk masuk ke dalam pelukannya. Ya, Solane memeluknya dengan sangat erat.


"Sudah jangan menangis! Jadi masalah ini yang membuatmu tidak jelas beberapa hari ini?" tanya Rico tersenyum kecil. dia memejamkan matanya merasakan tubuh kecil Solane untuk terakhir kalinya.


Solane mangangguk.


"Sudahlah, aku sudah menyelesaikannya. Mereka tidak akan mengganggu mu lagi. Kalau mereka masih menganggu mu katakan padaku maka aku akan menemui Tuan Egnor di Honolulu atau meminta bantuan Lexa. Aku juga tidak akan menganggumu lagi Solane. Aku menghargai keputusanmu. Anggap saja pembayaran utang itu salam perpisahan kita, tidak ada maksud apapun. maafkan atas ucapanku kemarin. Jangan lagi dipikirkan ya? Sekarang kau bebas tinggal berdua bersama Jacklyn dengan tenang." Kata Rico lagi menarik dirinya. Dia menyeka air mata Solane. Solane tidak bisa lagi berkata kata.


"Baiklah, aku pergi sekarang. Kalau kau butuh bantuan, hubungi aku. Eemm, maafkan aku jika aku masih mengharapkanmu. Aku mencintaimu Solane, tapi aku tidak akan memaksamu. Selamat tinggal." Kata Rico berusaha tersenyum padahal hatinya perih harus berakhir dengan Solane karna kata katanya. Namun, inilah hukuman baginya. dia pun mengecup kening Solane agak lama.


setelah rasany cukup, Rico hendak beranjak namun kepala nya kembali pusing. Dia kembali terduduk lemas. Dia memegang dahinya.


"Kau masih sakit Rico! Biar aku memanggil dokter ya?" kata Solane memegang dada Rico.


"Tidak perlu! Hanya sakit sedikit, sebentar juga sembuh." gumam Rico sudah memejamkan matanya lagi.


"Tapi tubuhmu panas."


"Tidak apa apa Solane, aku akan pergi sebentar lagi!" kata Rico lagi.


"Tidak! Aku akan menghubungi dokter. Tunggu sebentar." Solane memaksa dan meraih ponselnya untuk menghubungi dokter.


...


...


...


...


...


aduh panjang banget mangap ya .. kebawa akunya wkwkw ..


.


next part 46


apakah Solane akan menerima Rico pada akhirnya?


apa Rico benar benar meninggalkan Solane?


.


Oke pada akhirnya jangan lupa kasih LIKE dan KOMEN nya, saran dan kritik kalian juga untuk kenyamanan kalian dalam membaca karna kalian yang menikmati apa yang Uda Vii ketik hehe .. jangan lupa juga kasih RATE bintang lima yaa hehe 🌟🌟🌟🌟🌟 dan boleh juga kasih VOTE .. Mana tau masuk 20 besar buahhaaha 😁😁


.


Pada akhirnya happy reading, thanks for read and i love youu 💕💕


God Bless You all ..

__ADS_1


__ADS_2