
Mereka telah sampai di kantor Lexa. Sedari tadi, sejak Leon mengajaknya menemui ayah Solane, Lexa kembali diam seribu bahasa. Baru saja dia berbesar hati melembutkan diri pada Leon dan mereka kembali dalam kondisi baik, namun pada kenyataannya, Lexa belum bisa berpaling dari masa lalu Leon. Mengapa Leon mengatakannya? Hatinya agak kecewa dan sakit.
Dia lalu keluar dari mobil tanpa mengatakan satu patah kata pun. Kondisinya sangat mencekam bagi Abby. Abby yang sedari tadi hanya tertidur di mobil tidak mengerti apa yang terjadi dengan sahabatnya. Abby pun ikut menghambur keluar mengikuti Lexa yang asal jalan menuju ke atas kantor mereka.
Leon mengerti perasaan Lexa dan membiarkannya naik ke atas tanpa pamit padanya. Leon memutuskan untuk menenangkan hati wanita itu dulu karna ada masalah yang ia hadapi juga dengan majikannya. Leon menarik napas dan menuju kantornya.
~Hem, beginilah kalau hati telah berlabuh pada hati yang lain, drama drama seperti ini akan kurasakan. Wanita itu seperti itu, perkataan dan ucapan sungguh bertolak belakang. Entah apa yang dirasakan Lexa padaku, namun semakin ke sini, semakin tak mengerti arah perasaan dan prilakunya.~ pekik Leon dalam hatinya sambil memikirkan cara menemui ayah Solane tanpa membuat salah paham banyak pihak.
...
Lexa langsung menuju ruangannya setelah ia tidak menemukan bos nya. Dia duduk di kursinya dan sejenak memikirkan iklan yang telah dibuatnya. Bagaimana jika Nyonya tahu kalau video iklannya ditarik dan ditukar yang baru tanpa sepengetahuan mereka? Lexa sangat cemas jika iklan itu tidak sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.
Sejenak Lexa juga memikirkan Leon. Apa maksud pria itu mengajak dirinya menemui ayah Solane? Untuk membuatnya cemburu atau apa? Dia benar benar muak berhubungan dengan masa lalu laki laki playboy itu. Dia hendak menghindar tapi nama Leon sudah menari nari tanpa lelah di otaknya.
"Satu kali aku pernah seperti ini. Seharunya aku bisa merasakan rasanya berpacaran sebelum bertemu dengan laki laki itu. Leonnn! Mengapa kau menyerangku seperti ini?!!!" Teriak Lexa cukup keras sambil menjambak jambak kecil rambutnya.
Akhirnya Lexa merebahkan dirinya di atas sofa yang pernah ditiduri Leon. Rasanya cukup nyaman seperti yang dikatakan pria itu. Belum ada beberapa menit, lagi lagi Lexa memikirkan Leon lagi. Sudah banyak hal yang mereka lalui. Padahal mereka belum memiliki status hubungan mereka.
Tak terasa Lexa tertidur karna penat pikiran dan hatinya. Bosnya belum kunjung datang sampai Lucy dan Abby menyeruak masuk ke ruangannya dengan paksa dan mengagetkan dirinya.
"Kalau pintuku tidak terkunci, bukan berarti kalian bisa masuk seenaknya, ada apa?!" Lexa bangun dari tidurnya, mengusap singkat rambutnya dan menatap tajam dua teman seperjuangannya itu.
"Kau tidur begitu lama, cepat lihat ini?!" Abby memutarkan komputer minimalisnya agar Lexa melihat apa yang ada di dalam sana. Abby mengetik dengan cepat situs streaming salah satu media televisi yang telah ia saksikan bersama Lucu dan beberapa temannya tadi.
"Lihat?!" Abby menunjukan sebuah video iklan yang ia buat. Video iklan yang menjadi pusat pikirannya. Dia sudah tidur terlalu lama. Waktu sudah menunjukan pukul 17.30.
Dalam video iklan tersebut terlihat seorang wanita yang sedang minum dan tak lama membuka semua pakaiannya sampai tak ada helai benang pun dan lagi masih meminum produk minuman yang ia sponsori dengan tubuhnya.
Lucy sudah menutup wajahnya dan menunduk malu. Wajah Abby sudah seperti singa yang siap menerkam buruannya, dia sangat marah karna video iklan yang sebenarnya bukan seperti itu.
__ADS_1
Dan ada lagi tagline iklan yang membuat Abby semakin geram adalah : *Segarkan diri anda dengan minuman isotonik dari drinking me dan dapatkan bentuk tubuh ideal sepertiku!*
"Matikan!" Perintah Lexa sungguh terkejut. Jantungnya berdetak sangat cepat. Mengapa ini semua terjadi. Yang ia takutkan benar benar terjadi. Dia sudah sangat curiga ketika pihak Tuan Revo memaksa menggunakan model iklan wanita itu. Model iklan yang diambil dari perusahaan agency Tuan Marcel. Dia sedikit tahu mengenai Tuan Marcel yang menyukai bos nya semasa sekolah dulu. Namun, apa daya prilaku Dion mampu memikat hati Viena sampai bertekuk lutut.
Lexa mengusap kasar wajahnya. Seharusnya dia sudah curiga dan memperhitungkan semuanya. Baru pertama kali dia menghadapi masalah sepelik ini. Pikirannya langsung berpusat pada tuannya yang belum ia temui sejak pagi. Pagi tadi Lexa dan Abby sudah pergi ke stasiun tv tanpa mendatangi kantor mereka. Mereka menunggu lama untuk mendapatkan informasi namun semua nya sia sia.
"Mana Nyonya? Dia sudah pulang?" Tanya Lexa beranjak dari duduknya dan meraih tasnya mencari ponselnya.
"Dia tidak kembali Lexa, dia pergi dan tidak kembali lagi," jawab Lucy yang merangkap pekerjaan Lexa jika Lexa berhalangan hadir ke kantor.
Lexa lalu menghubungi Leon untuk mengantarnya mengecek keadaan bosnyamana tau harus juga membutuhkan bantuan bos Leon, Dion. Dia sudah tidak bisa mengintimidasi hatinya untuk menjauh dari Leon. Pada kenyataannya dirinya pasti akan berhubungan dengan mantan bos nya yang sangat mengerti bos nya itu. Dia pun juga masih membutuhkan Leon membantunya meminta tolong pada Dion. Lexa tidak lagi memikirkan perasaannya yang masih kecewa dengan pria bermata lancip itu. Saat ini, bosnya membutuhkannya dan akan terus seperti ini karna dirinya berhutang banyak pada Viena dan kakaknya yang menitipkan adiknya itu padanya.
"Lexa, kau sudah membaik? Jadi kau ma - " jawab Leon yang langsung dipotong oleh Lexa.
"Cepat jemput aku di kantor, ini penting!" Kata Lexa memotong pertanyaan Leon dan langsung mematikan panggilan sebelum Leon mengumbar kegombalan yang saat ini tidak penting bagi hatinya.
...
Mereka tiba di apartemen Viena dan tidak mendapatkan jawaban atas ketukan pintu Lexa yang menggebu gebu.
Kepanikan Lexa sangat membuncah ketika ia tidak bisa menghubungi tuannya itu. Di mobil dia saja memainkan jarinya dan menggigiti kuku kuku nya itu.
"Tidak Leon! Aku takut dia kenapa kenapa, atau dia memang pergi ke tempat yang tidak seharusnya karna frustasi memikirkannya?! Bagaimana ini Leon?!" Lexa semakin cemas. Dia menggedor lagi pintu nyonya nya itu.
"Kalau begitu kita cari saja ke tempat biasa kalau dia sedang frustasi Lexa," saran Leon yang ikut panik dengan kecemasan Lexa.
"Leon, kau tidak mengerti, dia sangat terpuruk, aku harus ada di sampingnya, belum lama ini dia baru saja beduka pasti dia akan shock lagi melihat iklan itu!" Lexa semakin panik sehingga tidak sadar apa yang ia katakan.
"Berduka? Maksudnya?!" Leon bertanya tanya. Dia juga sempat membantu tuannya berpikir ketika tuannya mengatakan kalau mantanya itu ke Honolulu dengan waktu yang cukup lama.
"Ibunya baru saja meninggal, dan sekarang iklannya di sabotase, ah aku tidak bisa membayangkan dia bisa melewati ini semua sendiri!
Leon tersentak mendengar apa yang terjadi pada bekas kekasih tuannya. Dia harus memberitahukan kabar ini pada Tuannya.
__ADS_1
Akhirnya Lexa memutuskan untuk menyuruh Leon mendobrak pintu apartemennya. Dia sangat merasa kalau nyonya ada di dalam. Mungkin sedang menyaksikan iklan tersebut sehingga dia tidak menyadari ada seorang di luar.
Namun, sebelum Leon mendobraknya, Viena lebih dulu membuka pintu dan keluar dari kamar apartemennya. Lexa menyaksikan wajah nyonya nya yang tampak lelah dan depresi. Belum lagi Lexa berkata kata, Viena sudah tak sadarkan diri.
...
"Hem, kehidupan sepasang kekasih itu sungguh rumit ya Lex? Aku pernah merasakan sekali dan aku takut jatuh lagi di dalamnya," kata Leon di cafe tepat di bawah apartemen Viena.
Setelah menunggui Viena yang tak sadarkan diri selama kurang lebih tiga puluh menit, mereka menyaksikan pertengkaran kecil nan dingin antara Tuannya Leon dan Nyonyanya Lexa, sepasang asisten yang selalu berdekatan itu memutuskan mengistirahatkan hati dan pikiran mereka di cafe ini.
"Aku belum pernah memiliki kekasih jadi aku belum begitu bisa merasakan rasa sakitnya Leon," Lexa menunduk berbohong. Dia memang belum pernah memiliki kekasih tapi dia sudah merasakan rasa sakit patah hati maupun tidak suka dengan wanita yang dekat dengan pria yang ia kagumi sekarang, Leon.
"Suatu saat kau pasti memilikinya, apalagi orang itu adalah yang kau sayangi juga, ya kan?" Leon mencari cari wajah Lexa yang secara tidak langsung membaca isi hati Lexa.
"Kau merasakannya?" Tanya Lexa tidak sadar dan mendongakan wajahnya menatap pria bermata lancip itu.
"Sedikit, bersabarlah, sampai hari itu tiba kita bisa bersama tanpa ada gangguan dan kejanggalan," Leon meraih tubuh Lexa yang duduk di sampingnya dan merangkulnya.
Seketika hati Lexa benar benar mencair. Inilah yang dinamakan cinta, meski terkesan tak tegas, tak dingin, plin plan, tak cuek, selalu mengalah, namun inilah kenyataannya. Lexa telah jatuh cinta pada Leon sejak pandangan pertama. Lexa merasa ada benang yang menghubungkan mereka. Bukan karna pekerjaan mereka yang sama tapi yang maha kuasa yang menginginkan mereka terus berdekatan.
"Leon, kapan kau akan menemui ayah Solane? Aku akan menemanimu," tutur Lexa kemudian membuat hati Leon makin mencintai Lexa yang memiliki hati yang besar mengalahkan keegoannya.
❤
❤
❤
Yuhuu guys kok kayaknya disini sepi ya hihi
Semoga karna emang sulit dilihat ya hehe
Sepertinya aku mau pindah lapak dulu ya ..
__ADS_1
Next info akan aku share ..
Lafyou thankyou .. komen yang banyak kalo aku mo up banyak hihi 😅😂