Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 32. Unconscious Love


__ADS_3

Tidak ada yang bisa membohongi hati jika sudah merasa. Karena belum pernah menyukai bahkan mencintai seseorang sedalam ini dan meninggalkan arti jadi ingin selalu dekat dan melakukan apapun. Xelino dan Carolyn hanya korban ketidak Tahuan cinta yang telah tumbuh di antara mereka. Karena jabatan dan tujuan akhir membuat mereka buta untuk bisa menyatakan perasaan masing masing. Apa yang mereka lakukan untuk mempertahankan cinta mereka sehingga bisa terus bersama? Apakah mereka terus bisa saling menghargai satu sama lain?


...


Ansel menghampiri Carolyn karena terlalu lama berbicara dengan Xelino. Dia merangkul Carolyn seketika.


"Carolyn, ayo kita pulang," kata Ansel menatap Carolyn membuat Xelino mendelikan matanya.


Carolyn masih menatap dan memegang pergelangan tangan Xelino. Xelino menarik napas dan melepas tangan Carolyn perlahan dengan satu tangan lainnya. Seketika hati Carolyn berdesir takut kalau Xelino menolak dirinya ikut dengannya. Carolyn masih memandang Xelino dan menggelangkan kepalanya berusaha memohon pada Xelino agar tidak melepas pegangan tangannya. Xelino juga masih memandangnya.


Namun ternyata, Xelino melepas tangan Carolyn karena ingin dia yang menggandeng tangannya. Xelino meraih telapak tangan Carolyn dan menariknya dari rangkulan Ansel.


"Biarkan Nona Carolyn pulang bersamaku, sebenarnya dia adalah tanggung jawabku kan?" Saut Xelino membut Carolyn berdiri di sampingnya.


"Oohh, i'm sorry Mr. Xelino tapi Carolyn pergi bersamaku jadi dia harus pulang bersamaku. Kau tidak lihat ada bibinya di sana," ujar Ansel mengarahkan tubuhnya melihat Rietha.


"Aku ingin pulang dengan Xelino, Ansel, katakan saja pada bibiku!" sela Carolyn kemudian.


Xelino hanya menyeringai karna tidak perlu dia yang mengatakan. Carolyn sudah memohon padanya merupakan sebuah bentuk pendekatan hati mereka berdua. Hal ini tidak boleh di sia siakan. Lagi pula malam ini mereka bisa bersama sama dan mungkin sampai besok pagi.


"Sudah ayo Xelino masuk ke dalam mobil!" Kata Carolyn lagi menarik tangan Xelino tapi Xelino menahannya.


"Ada apa?" tanya Carolyn mendongakan kepalanya.


"Kau harus meminta ijin terlebih dulu pada nyonya Rietha, nona," kata Xelino tanpa menghilangkan rasa tanggung jawab juga menghargai bibi dari wanita yang ia cinta itu. Dia harus tetap sopan di mata Carolyn.


"Hem, baiklah, tapi kau harus menemaniku!" pinta Carolyn dengan wajah manja.


Xelino mengangguk dan menggandeng tangan Carolyn menghampiri Rietha. Sementara Ansel terdiam karena sorot mata Carolyn tidak ingin bersamanya. Ansel mengepalkan tangannya. Kali ini dia bisa melepaskan Carolyn tapi dia harus lebih serius membicarakan pada Rietha.


Rietha mengerutkan alisnya melihat Xelino menggandeng tangan keponakannya menghampirinya.


"Apa apaan kalian? Mengapa kau menggandeng tangan Carolyn, Xelino?" decak Rietha tak senang dengan Xelino yang bergandengan dengan Carolyn.


"Maaf nyonya, aku tidak menggandengnya, nona Carolyn yang memegang tanganku, lihat ini!" Saut Xelino yang sudah yakin kalau Carolyn juga menggenggam tangannya dengan begitu erat.


"Carolyn, cepat masuk ke mobil dan pulang!" perintah Rietha.


"Daddy tadi menghubungiku untuk pulang bersama Xelino!" saut Carolyn sekenanya.


"Kau bohong! Cepat jangan banyak membantah masuk mobil!" perintah Rietha lagi.

__ADS_1


"Nyonya maaf, Tuan Gilbert memang menyuruhku menjemput Nona Carolyn. Biarkan dia bersamaku, karena ini juga merupakan pekerjaanku," sela Xelino masih dengan nada sopan.


"Tidak! Kalian pasti berbohong, biar aku menghubungi Gilbert!" decak Rietha masih memaksakan kehendak.


"Bibi, kau lupa telah membuat daddy kesal dengan membiarkan ku melihat cat kemarin tanpa pengawasan Xelino? Untung saja Xelino berinisiatif datang dan menjagaku, bagaimana kalau dia tidak ada? Jadi jangan ragukan adikmu yang sudah memberikan asisten ini untukku! Sudah ayo Xelino, biarkan saja bibiku!" Decak Carolyn menarik tangan Xelino menuju mobilnya. Dia tidak mempedulikan bibinya yang masih sangat kesal menatap kepergian mereka.


James dan Grizel melihat senyum tergurat di bibir Xelino. Mereka juga senang karena Xelino bisa menyelamatkan Carolyn dari hasutan yang tidak penting itu. Mereka berempat pun masuk ke dalam mobil. James mengemudi di depan bersama Grizel yang juga duduk di depan sementara Xelino dan Carolyn duduk di belakang. Anehnya mereka tidak menyadari kalau tangan mereka masih bergandengan.


...


James melajukan mobilnya langsung menuju ladang milik Delins Group. Jalannya agak gelap dan hanya ada beberapa penerangan. Carolyn dan Grizel melihat lihat sekitar. Mereka berdua agak ngeri. Xelino mengeratkan pegangang tangannya ke Carolyn. Carolyn menoleh dan tersenyum tapi Xelino malah sedang melihat sekitar.


"James oppa! Kenapa kita ke tempat seperti ini? Aku takut sekali!" tanya Grizel memperhatikan ke kanan dan kiri agak bergidik.


"Sebentar saja Grizel, nanti kau tunggu di dalam mobil saja bersama Nona Carolyn," saut James mencoba menenangkan ketakutan Grizel.


"Tidak mau! Aku mau ikut dengan kalian! Kalau ada orang jahat bagaimana?" decak Carolyn menolak tinggal di mobil.


"Iya benar James oppa, aku tidak mau! Aku mau ikut bersama kalian!" tutur Grizel.


"Baiklah ... Xelino, apa ini tempatnya?" tanya James menerka nerka agak lupa dengan lahan ladang yang kemarin mereka berdua datangi.


"Maju sedikit lagi, aku meletakan di sudut yang dapat mengambil semua area," jawab Xelino.


James kembali menjalankan mobilnya ke arah depan ladang dekat kaki gunung. Suara suara binatang malam telah berkumandang. Sesekali terdengar auman srigala atau anjing hutan yang bersautan. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Sebelumnya mereka makan malam terlebih dahulu.


Xelino membuka pintu mobil dan hendak melepaskan pegangan tangannya ke Carolyn tapi lagi lagi Carolyn menahannya.


"Aku ikut Xelino," pinta Carolyn lagi.


"Cepat ikuti aku turun!" Kata Xelino dan Carolyn juga ikut. Mereka tetap bergandengan tangan. Sementara James turun dan langsung berputar membukakan pintu untuk Grizel.


"Kita mau kemana James Oppa?" Tanya Grizel sedikit bergidik.


"Ke daerah ladang, ada yang ingin aku dan Xelino ambil," jawab James berjalan berdampingan dengan Grizel.


"Aku takut!"


"Kalau kau tidak keberatan, kau bisa menggandeng lenganku," ujar James mengulurkan lengannya.


"Baiklah," saut Grizel sedikit muram karena tidak biasa pergi ke tempat seperti ini.

__ADS_1


Dengan dataran tanah yang dihiasi rumput rumput dan ilalang tumbuh di sisi sisis jalan yang mereka tapaki. Jalanan itu tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil tapi Grizel memang tidak pernah ke daerah ladang seeprti ini apalagi hari gelap. Dia tergelincir jalan yang agak berair. Beruntung tidak sampai jatuh karena James menahannya. Namun, kaki Grizel terkilir.


"Aaaahhhh, James oppa, kaki ku sakit!!" Pekik Grizel menahan sakit kakinya. Xelino dan Caroly yang berjalan lebih dulu tentu menoleh ke belakang. Xelino dan Carolyn terpaksa kembali memastikan keadaan James dan Grizel.


"Ada apa denganmu, Grizel?" Tanya Carolyn menundukan tubuhnya memastikan keadaan Grizel.


"Aku hampir tergelincir dan sepertinya kakiku terkilir," keluh Grizel meringis.


"James, kalau begitu kau bawa saja Grizel ke mobil. Biar aku dan Nona Carolyn yang mengambil kameranya," kata Xelino merasa kasihan dengan Grizel.


"Ah kau benar Xelino. Baiklah aku akan membawa Grizel kembali," kata James dan dia langsung berinisiatif menggendong Grizel karena bergerak saja Grizel sulit. Grizel sontak terkejut dengan sikap James tapi dia tidak bisa berbuat apa apa karena kakinya terlalu nyeri dan sulit menapak lagi.


"Pegang tanganku kuat kuat nona, Atau kau akan terjatuh seperti Grizel!" kata Xelino tegas.


Carolyn mengangguk dan makin menguatkan gandengan tangannya ke lengan Xelino. Xelino sebenarnya senang karena hari ini dia bisa berlama lama dengan Carolyn. Semoga saja dengan ini Carolyn benar benar menyukainya. Padahal dalam hati Carolyn juga merasakan hal yang sama dengan Xelino tapi entah mengapa mereka sulit untuk mengatakannya. Takut kalau masing masing melakukan kesalahan dan malah membuat menjauh satu per satu.


"Xelino, untuk apa kalian kemari?" tanya Carolyn penasaran.


"Sama sepertimu yang sering dijebak, begitu juga denganku. Seseorang menyiarkan sebuah video percakapanku dengan James yang tidak benar sama sekali. Untung saja waktu itu aku menaruh kamera canggih yang bisa merekam seluruh keadaan ladang ini dalam jangka waktu yang panjang," kata Xelino memberitahu.


"Wah, kau pintar sekali rubah tengik, tak sia sia segala kelicikanmu ya?" saut Carolyn tetap mengumpat Xelino.


"Cih, akui saja kalau aku pintar kan nona? "


"Ya ya, kau pintar! Jadi di mana kau letakan kamera itu?"


Xelino kembali menarik tangan Carolyn berjalan ke sudut ladang tempat di mana kamera tersebut dapat mengambil ke seluruh area ladang. Xelino yakin akan mendapatkan sesuatu di sana.


Sesampainya di sana, Xelino harus meninggalkan Carolyn di atas karena Xelino harus ke permukaan pinggir ladang untuk mengambil kamera tersebut.


"Tunggu sebentar nona!" kata Xelino tersenyum tipis.


"Jangan lama lama Xelino, aku agak ngeri!" balas Carolyn mengusap lengannya.


"Aku hanya ke bawah sini, sebentar!"


Xelino pun turun ke pinggir ladang dan mengambil kamera yang masih stand by di sana. Xelino menekan tombol hijau untuk menyimpan dan mematikannya untuk dilihat ketika di villa nanti.


...


lanjut di bawah ya part 33

__ADS_1


jangan lupa tetap LIKE dan KOMEN nya yaaa


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2