Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 58


__ADS_3

Lele58


Leon, Lexa, Dion dan Viena sudah tiba di bandara Springfield. Lexa terus mendampingi Viena yang tampak tak sehat. Sejak tadi bos nya itu diam saja dan wajahnya pucat. Lexa jadi berasumsi kalau bos nya itu sedang hamil, namun dia tidak berani mengatakannya.


Lexa akhirnya memberikan roti kopi kesukaan Tuannya itu karna dia belum makan sama sekali. Di pesawat, Viena hanya tertidur sampai pesawat mendarat. Lexa sangat bingung karna Viena menolak untuk memakan roti kesukaannya itu.


Mereka akhirnya memutuskan untuk makan di restoran bandara terlebih dahulu. Namun lagi lagi Viena menolak makan, bahkan bos nya itu malah muntah.


Dion terkesiap melihat kedaan istrinya. Dia mengikuti istrinya ke wastafel, takut terjadi apa apa. Sementara Lexa dan Leon saling berpandangan.


"Iya Lexa, sepertinya bos mu hamil," kata Leon melihat kepergian bos nya yang menghampiri istrinya.


"Ya kan? Tapi sepertinya bos mu belum peka,"


"He hem sepertinya, nanti kuajarkan, dia itu hanya berpacaran dua kali dengan dua wanita, jadi dia agak polos," jelas Lexa. Hal ini Lexa baru mengetahuinya dan dia tersadar sesuatu.


"Berarti kau sudah berkali kali pacaran dengan banyak wanita jadi kau begitu tahu ya? Hebat sekali kau musang liar!! Benar kalau aku memanggilmu musang liar!!" Decak Lexa tidak senang dengan sikap playboy Leon.


"Tapi hanya kau yang membuatku gila, kelinciku, cup," Leon mendaratkan ciuman kecilnya ke pipi Lexa lalu melanjutkan makannya. Lexa terpaku menghadapi ulah penuh cinta Leon.


Lexa semakin menjadi jadi curiga dan dia berniat untuk membimbing majikannya itu. Dia malah sempat membuat Leon kesal lagi karna iya mengatakan akan ikut bersama Viena.


Setelah Leon memastikan majikannya menaiki taxi ke rumah sakit, dia mencari kendaraan yang mengarah ke desa rumahnya. Leon sudah memperingati bosnya kalau sepertinya istri Tuannya sedang hamil.


Leon akhirnya mendapatkan sebuah bus yang langsung mengarah pada halte di dekat pedesaannya.


"Jadi, apa yang kau katakan pada tuanmu, Leon?" Tanya Lexa ketika mereka sudah menaiku bus.


"Ya, kubilang kalau sepertinya nyonyamu hamil. Dia langsung exited seperti itu, kau lihat kan?" Jawab Leon tersenyum.


"Ya benar, aku senang akhirnya Nyonya Viena merasa kebahagiaan Leon, dia sudah terlalu menderita karna cinta!" Lexa berdecih sedih.


"Begitu juga dengan bos ku, walau dia yang salah tapi sepertinya dia sudah mengerti apa yang menjadi tanggung jawabnya." Tambah Leon mengenai kisah cinta bosnya dan bosnya Lexa.


"Kau cepatlah bertanggung jawab atasku!" Tiba tiba Lexa memikirkan tentang hubungannya dengan Leon.


"Kau tenang saja. Sebentar lagi kan kau akan bertemu dengan calon mertuamu, hihi!" Leon terkekeh. Dia lalu meraih earphonenya untuk mendengarkan lagu.


"Kau mau apa?" Selidik Lexa.


"Mendengarkan lagu, lalu mau apa?" Jawab Leon mengenakan earphone nya.


"Memangnya perjalanan sangat lama Leon?"


"Sekitar 3 jam. Tadi di pesawat aku kan tidak tidur, Lexa. Biarkan aku tidur sebentar ya?" Pinta Leon menaik turunkan alisnya.


"Siapa suruh terus menggodaku. Baiklah. Aku juga mau tidur!"


Lexa juga lalu mengambil headset nya dan memasangnya di telinganya. Dia menyenderkan kepalanya ke bahu Leon dan Leon pun menyandarkan kepalanya di atas kepala Lexa.


Sekitar satu jam mereka tertidur dan Lexa bangun lebih awal karna bus yang ia tumpangi berhenti terlebih dahulu. Lexa merasa kepalanya terbeban. Dia baru menyadari kalau Leon bersandar padanya.


"Leon! Bangun! Kepalaku sakit!" Lexa menepuk dada Leon pelan. Leon sedikit terperanjat.


"Kita sudah sampai Lexa?" Tanya Leon menegakan kepalanya.


"Mana aku tahu, ini kan daerah mu, kau ini tampak bodoh sekali jika terbangun kaget begitu, hihi, itu kau ngiler!" Lexa mengerjai Leon. Leon lalu memegang sisi mulutnya namun tidak ada apa apa. Dia menekuk wajahnya.


"Lexa!!!" Teriak Leon pelan.

__ADS_1


"Sudahlah, aku bercanda! Busnya sedang berhenti. Kau tidak ingat ini ada dimana Leon?" Tanya Lexa memperhatikan sekitar luar jendela.


"Oohh ini sepertinya perbatasan kota dan desa, Lexa. Sebentar lagi kita akan tiba. Aku masih ingat kok walau sudah satu tahun lebih aku tidak kembali. Aku sangat merindukan ibuku." Gumam Leon seketika.


"Hemm, bersyukurlah kau masih memiliki seorang ibu. Kau harusnya lebih sering pulang Leon. Uangmu kan banyak!" Saran Lexa yang melihat guratan rindu di wajah Leon.


"Tidak semudah itu Lexa. Aku harus mengabdi pada Tuan Dion. Mereka yang telah berjasa memperbaiki perekonomian keluargaku, jadi aku tidak bisa seenaknya." Jawab Leon menundukan kepalanya. Dia ingat betapa dulu ibunya merayu rayunya untuk bekerja dengan Dion, namun dia tidak mau karna tidak ingin meninggalkan adik adiknya dan juga karna Solane. Namun, Solane malah menyakitinya.


"Ya benar Leon. Kau sama sepertiku. Aku tidak bisa seenaknya dengan Tuan Egnor dan Nyonya Viena." Lexa menyambungkan dengan kisah hidupnya.


"Kisah kita tidak jauh berbeda Lexa, semoga kau menyukai keluargaku. Aku akan secepatnya bertindak atasmu!" Leon lalu merangkul Lexa masuk dalam ke pelukannya. Lexa tersenyum mengusap dada bidang Leon.


Tak berapa lama bus kembali berjalan. Hari masih agak terang namun sebentar lagi matahari akan terbenam. Sepanjang perjalanan terdapat pematang sawah dan padang rumput yang sangat indah. Sesekali Lexa juga melihat hutan pinus kecil dan kebun bungan dengan beberapa warna yang sama.


"Leon, bagaimana dengan rumahmu? Apakah di tengah tengah padang rumput yang hijau?" Tanya Lexa yang begitu takjub dengan pemandangan perjalanan memuji rumah Leon.


"Dipinggir padang rumput Lexa. Tidak di tengah. Lalu disekitar rumah ada beberapa rumah lagi. Rumahku terbuat dari kayu jati yang kokoh. Dan di cat warna putih. Belakangan Tuan Jeremy hendak membangunnya dengan batu tapi mom dan dad tidak mau." Leon menjelaskan.


"Lebih bagus kayu jati, jadi benar benar seperti rumah pedesaan." Saut Lexa setuju dengan keputusan ayah dan ibu Leon untuk tidak menggantinya dengan tembok.


"Lalu Leon, apa setiap hari mom and dad mu pergi ke kebun? Aku ingin melihat kebun kebunmu. Maukah kau mengantarku?" Tanya Lexa lagi.


"Tenang saja. Aku pasti menjadi tour guide mu." Balas Leon tersenyum bangga.


"Aku tidak sabar! Eng lalu, apa di desamu ada seperti mata air? Seperti aliran sungai." Lexa sangat penasaran.


"Ada. Nanti aku akan mengajakmu ke air terjun yang sangat indah Lexa. Entah, kau mau mandi denganku di sana?" Leon kembali menggoda pujaan hatinya itu.


Seketika Lexa melirik Leon tajam.


"Aku tidak mesum! Kalau kau mau Lexa, kalau tidak ya kau menungguku saja di tepi sungai, hihi.." Leon terkekeh berkata kata sebelum Lexa mengatainya mesum.


"Kau tenang saja, ada aku, oke?" Leon mengelus pipi Lexa.


Dan mereka masih membicarakan hal lain tentang pedesaan Leon sampai akhirnya mereka telah tiba di halte desa Leon yang dekat dengan rumahnya.


"Desa Serena. Ayo, jangan ada yang ketinggalan!" Ucap Kondektur memperingatkan. Leon lalu mengajak Lexa segera bergegas untuk turun dari bus.


Hari sudah gelap. Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Leon menarik kopernya dan koper Lexa juga kotak topi bertali yang dibelikan Lexa khusus untuk ibu Leon . Sementara Lexa mambawa barang barang jinjingan yang tidak terlalu berat. Dia berjalan di belakang Leon yang sangat semangat menuju sebuah rumah yang cukup besar. Lexa sudah menerkanya kalau itu pasti rumah Leon. Rumah Leon tak jauh dari halte. Rumah tersebut memiliki cerobong asap dan cukup memiliki penerangan yang sangat menghangatkan batin.


Lexa berjalan agak pelan. Jantungnya berdegup tak menentu. Akhirnya dia akan bertemu dengan keluarga inti, keluarga lengkap Leon. Hatinya bergemuruh. Dia benar benar berharap semua keluarga Leon menyukainya sehingga tidak ada drama yang membuat Lexa bersungut pada Leon.


Mereka telah tiba di depan rumah Leon. Lexa menarik jaket Leon dari belakang. Leon menoleh dan memperhatikan wajah Lexa yang agak takut.


"Tenang saja, ada aku!" Leon mengelus puncak kepala Lexa lalu kembali berbalik. Dia mengetuk pintu rumahnya.


Seseorang membukanya namun Leon tidak melihat siapa siapa. Leon agak terkejut karna sejak kapan pintunya menjadi otomatis.


"Leon, di bawah!" Kata Lexa menunjuk ke bawah Leon dan menemukan seorang anak kecil laki laki.


"Juan? Kau sudah bisa membuka pintu?" Sapa Leon dan dia langsung menggendok adik laki lakinya itu.


"Siapa?" Tanya Juan bingung. Leon lupa. Ketika dia meninggalkan rumah ke Legacy, Juan masih berusia sepuluh bulan. Terakhir kali Leon menunjukan mobil mobilan saja pada adiknya itu.


"Leon, kakak laki lakimu!" Jawab Leon dan mengecup pipi gembulnya.


"Moommmyyyy, kakak Leon sudah datanggg!!!!" Tak lama Juan berteriak. Anak laki laki itu tumbuh dengan sangat pintar. Kemarin memang ibunya sudah menceritakan kalau kakak laki lakinya akan pulang. Juan cukup terkejut karna dia ternyata masih memiliki satu kakak.


Seketika Jane langsung muncul dengan celemek yang masih berada di tubuhnya dan disusul Larry, ayah Leon.

__ADS_1


"Leon? Oh Lord, kau tambah tampan, Larry lihat anakmu seperti kau muda dulu, mirip sekali!!! Leon, i miss you .." Jane dengan semua kekagumannya menghambur menuju ke Leon dan langsung memeluk anak tertuannya itu yang masih menggendong Juan.


"Mommy, kak Leon tampan! Sepertiku!" Kata Juan kemudian. Leon dan semua yang ada di situ tertawa.


Jane lalu melepas pelukannya pada Leon dan menoleh menatap Lexa yang akhirnya membungkukan tubuhnya memberi salam pada Jane.


"Selamat malam bibi, aku Lexa." Lexa memperkenalkan dirinya. Tangannya yang sudah tergabung di depan bawah perutnya sudah dingin karna gugup bercampur takut.


"Lexa? Ya Tuhan, Leon kau benar benar selalu memilih malaikat untuk menjadi pasanganmu. Tapi ini melebihi Solane. Lexa, selamat datang sayang!" Jane yang sudah berada di depan Lexa memegang lengan Lexa. Lexa tersenyum dan seketika matanya berkaca kaca. Ternyata Jane menyukainya. Leon tersenyum melihat kehangatan hubungan ini.


"Iya bibi terimakasih." Lexa kembali menaik turunkan kepalanya.


"Sudah kuputuskan, kau tidak boleh lagi memanggilku bibi, tapi mom, oke?!" Saut Jane membuat jantung Lexa tambah tak karuan. Belum saka dirinya menjadi kekasih Leon yang resmi namun ibunya sudah menyuruhnya memanggil mom.


"Apa kau akan terus terperangah di situ tanpa menyuruh mereka makan, Jane?" Gumam Larry kemudian.


Leon baru menyadari ayahnya karna ia memperhatikan Lexa dan ibunya. Leon lalu menurunkan Juan. Dia menghampiri ayahnya dan memeluknya.


"Dad, i miss you. Apakah anakmu ini sudah membuatmu bangga?" Kata Leon pada bahu ayahnya. Ayahnya mengangguk angguk sambil mengelus lembut punggung Leon.


"Sangat! Jeremy sangat menyukai kinerjamu meski terkadang kau suka kabur dalam rapat kan?! Nakal mu ini belum berubah!" Larry menarik diri dari pelukan anaknya dan menyentil hidungnya.


"Hehe, hanya sesekali dad." Leon terkekeh sambil menggaruk garuk kepalanya.


"Baiklah, nanti kita berbincang lagi. Kalian pasti belum makan kan? Ayo kita ke ruang makan!" Kata Larry merangkul Leon hendak menuju ruang makan.


Namun, ketika mereka hendak menuju ruang makan, Angel pulang dengan keranjang berisi bunga bunga segar.


"Permisi!" Angel memberi salam di belakang Lexa. Lexa lalu menoleh. Dia sangat yakin kalau ini adik perempuan Leon. Dia berbalik membungkukan badannya dan mengulurkan tangannya hendak mengenalkan diri.


"Hay Angel, aku Lexa." Kata Lexa yang seketika wajah Angel berubah menjadi sangat sinis dan penuh amarah dendam di dalamnya. Dia tidak membalas uluran tangan Lexa. Lexa langsung merasa ada yang aneh, jadi dia menurunkan kembali tangannya dan hatinya meringis perih. Akhirnya, kecemasan yang ia takuti melingkupi hatinya.


...


Jiah bebi gundah gulana maksimal lagi deehh 😭😭


Next part 59


Angel kenapa ya??


.


Jangan lupa ayoo LIKE DAN KOMEN JUGA KASIH RATE DAN VOTE DI DEPAN profile novel 😁😁


.


Oiya aku mengucapkan selamat hari natal bagi yang merayakannya ya 🎄💕⛄


Pas banget ini setor malem natal hehe


.


Eng, kalau teman teman kalian semua juga ga keberatan, boleh kasih ucapan samaku di banner depan profile novel hehe aku tunggu ya LELE LOVERS all 😍😍


.


Selamat membaca


Terimakasih sudah membaca

__ADS_1


Dan i love you ❤


__ADS_2