
Lele46
Lexa memasuki ruang donor darah. Tangannya sangat berkeringat dingin. Dia benar benar tidak bisa melihat darah. Tubuhnya seakan lunglai ketika melihat darah. Ruangan donor darah begitu steril. Lexa dan Leon harus melepas alas kaki mereka dan mencuci tangan mereka terlebih dahulu.
Perawat yang bertugas lalu menyuruh Lexa dan Leon berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan.
"Aku tidak donor darah, kekasihku yang akan mendonorkan darahnya. Dia takut melihat darah, sus, jadi aku kekasihnya yang baik ini yang akan menemaninya.." kata Leon tersenyum penuh kemenangan.
"Aduh!" Lexa menyikut perut Leon.
"Cepat kau belikan aku cincin kalau aku menjadi kekasihmu!" Decak Lexa.
"Hanya cincin, gampang!!" Saut Leon.
"Sudah diam kau, kerjakan tugasmu memegang tanganku selama darahku diambil!"
"Itu bisa diatur, kupegang semua tubuhmu juga boleh!"
"Musang mesum!"
Perawat terkekeh melihat tingkah mereka berdua. Perawat lalu menyuruh Lexa berbaring sedangkan Leon bisa duduk di samping Lexa berbaring.
"Nona Luxurio, bersiap ya? Aku akan mengambil darahmu." Ijin sang perawat mengingat Lexa sangat takut melihat darah.
Lexa menarik napas sebelum perawat menusukan jarum untuk mengambil darahnya. Dia memejamkan matanya dan lengannya sudah di elus lembut oleh Leon.
"Hey! Tenanglah! Aku ada disini." Kata Leon memperhatikan mata Lexa yang terpejam sangat erat dan cemas.
"Benar Nona Lexa, jika kau gugup, jarumnya tidak bisa menancap dengan baik dan kita akan terus mencari tempat yang cocok." Kata sang perawat memberikan arahan.
Lexa akhirnya membuka matanya menatap Leon yang sedang melihatnya tersenyum tenang.
"Aku takut Leon!" Bisik Lexa tenang.
Tanpa Lexa sangka begitu juga dengan sang perawat yang sejak tadi tersenyum memandang Leon. Leon mendekatkan wajahnya ke atas wajah Lexa. Dia mengelus dahi Lexa pelan.
"Tenang, aku ada di sini.." bisik Leon di atas dahi Lexa.
Lexa yang sangat terkejut dengan tingkah Leon malah merasa ketenangan luar biasa dan kenyamanan sehingga ia sedikit melupakan kalau dirinya akan melakukan pengambilan darah. Leon sedikit melirik ke perawat memberi kode untuk segera memasukan alat pengambilan darahnya. Sementara tangan Leon menggenggam telapak tangan Lexa dengan erat.
"Baiklah Leon, jauhkan wajahmu, aku sudah siap!" Kata Lexa ketika dirinya tidak gugup lagi.
"Ya sebentar lagi selesai." Ucap Leon pelan.
"Selesai?"
"Ya, tetep melihatku jangan lihat ke samping, darahmu sedang diambil!"
"Benarkah?"
"Iya. Tenanglah dan tetap melihat wajahku yang tampan ini ya." Leon terkekeh dan Lexa malah menggenggam tangan Leon lebih erat lagi.
Setelah sekitar 8-10 menit pengambilan darah, sang perawat merapikan peralatan yang masih menempel di tubuh Lexa. Lalu perawat menyuruh Lexa untuk duduk sesaat.
"Sudah selesai! Lepas tanganmu!" Kata Lexa kepada Leon yang masih betah menggenggam tangan Lexa.
"Belum, kalau aku lepas tubuhmu akan lunglai Lexa, sabarlah dulu sebentar." Jawab Leon dan terus tersenyum pada Lexa.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Leon kemudian.
"Sedikit pening." Jawab Lexa.
__ADS_1
"Memang seperti itu Nona Luxurio, nanti sebentar saya ambilkan susu hangat dan roti ya?" Kata sang perawat menjelaskan mengenai efek dari si pendonor darah.
"Jadi Lexa, setelah ini kita pulang ya? Kau harus beristirahat agar besok kembali pulih." Kata Leon sedikit cemas.
"Tapi Leon, kita tanya dulu keadaan Tuan Alexis ya? Untung kebetulan darah kami sama ya Leon?" Tutur Lexa.
"Ya sangat kebetulan kalian seperti anak dan ayah saja. Alexa memberikan darah untuk Tuan Alexis. Nama kalian hampir mirip." Kata Leon terkekeh. Lexa mengangguk menyetujui namun dalam hati mengapa dia merasa seperti ada hubungan orang tua itu dengannya.
Setelah meminum susu hangatnya, Lexa keluar dari ruang donor darah tersebut bersama Leon yang merangkul pundaknya. Jerry sudah berada di depan ruang pendonor ternyata.
"Lexa, terimakasih kau sudah mau mendonorkan darahmu untuk ayaku." Kata Jerry menghampiri Lexa Leon yang keluar dari ruangan.
"Sama sama Tuan Jerry, aku senang jika ayahmu akan baik baik saja. Apakah penyakitnya bisa sembuh?" Jawab Lexa sekalian memberikan pertanyaan.
"Ya jika dia memenuhi gizinya dan tidak banyak berpikir. Akhir akhir ini dia merindukan istrinya, sementara istrinya sudah meninggal." Kata Jerry dengan wajah cukup bersedih.
"Kau harus banyak menghiburnya Tuan. Aku doakan ayahmu akan segera sembuh." Tutur Leon ambil bagian dalam pembicaraan karna dia memperhatikan Jerry menatap Lexa dengan penuh harapan.
"Terimakasih Leon. Jadi, setelah ini kalian akan kembali pulang?" Kata Jerry melihat ke arah keduanya yang tadinya hanya menatap Lexa.
"Ah iya Tuan, Lexa harus beristirahat. Besok kami harus kembali bekerja. Ya, kami hanya asisten jadi tidak bisa terlalu santai sepertimu." Leon terkekeh.
"Kau bisa saja Leon. Tapi, kalian kan asisten yang sangat memiliki kinerja yang tinggi, jadi tidak sulit mengikuti perintah atasan kalian kan?" Jerry memuji.
"Kau ini Tuan, juga bisa memuji kami. Baiklah Tuan, kami undur diri dulu. Oiya, ini kartu namaku. Kalau ada yang bisa kami bantu lagi, kau bisa menghubungiku. Bukan begitu Lexa?" Leon memberikan kartu namanya dan menanyakan Lexa, karna Leon juga merasa Lexa mengkhawatirkan Tuan Alexis. Leon benar benar mengerti keadaan Lexa yang masih mengharapkan kalau dirinya memiliki keluarga.
"Oh iya benar. Jangan ragu hubungi kami Tuan Jerry Atkinson." Kata Lexa menundukan kepalanya.
"Baiklah, tenang saja. Oh iya, maaf Lexa, siapa nama panjangmu? Aku akan memberi tahu ayahku jika sadar nanti. Biasanya jika sadar dia akan menanyakan darimana aku mendapatkan darah untuknya agar jika dari pendonor, dia mau berterimakasih. Dia memang pria yang sangat baik." Kata Jerry sebelum Lexa dan Leon meninggalkan rumah sakit.
"Alexa Luxurio, Tuan." Jawab Lexa.
"Alexa Luxurio? Aku seperti pernah mendengar nama belakangmu, tapi ya itu karna banyak pekerjaan aku lupa haha. Baiklah kalau gitu. Hati hati di jalan, Leon. Sampai jumpa." Kata Jerry menggaruk garuk belakang kepalanya.
Leon mengantar Lexa pulang setelah mereka makan siang sebentar di restoran seaarah rumah Lexa. Lexa tampak termenung. Dia terus berdiam diri seperti memikirkan sesuatu.
"Lexa, kau baik baik saja?" Tanya Leon menyentuh punggung tangan Lexa ketika sudah tiba di depan Flat Lexa. Mereka masih dalam mobil.
"Ya Leon, aku baik baik saja. Aku hanya memikirkan Tuan Alexis. Dia kasihan sekali. Bagaimana kalau dia tidak memiliki cadangan darah? Apakah dia akan meninggal Leon?" Jawab Lexa sendu.
"Ya sepertinya. Sudahlah Lexa kau tenang saja. Tuan Jerry itu sangat kaya. Dia pasti mendapatkan darah darimanapun. Kau ini kenapa? Sejak tadi memikirkan Tuan Alexis melulu.." selidik Lexa.
"Salahkan jika aku berharap dia adalah ayahku Leon?" Tanya Lexa membuat hati Leon seketika ikut merasakan kesedihan hati Lexa sebagai sebatang kara atau anak yatim piatu.
"Kemari, Lexa!" Leon lalu menarik tangan Lexa dan memeluknya.
"Kau kenapa memelukku Leon?" Tanya Lexa yang tidak marah seperti biasanya karna dirinya memang membutuhkan sebuah pelukan, apalagi dari Leon. Pria yang sudah merasuki hidupnya.
"Itu ayahmu atau bukan. Dan kapanpun kau menemukan ayahmu atau tidak. Ingatlah kata kataku Lexa, aku bisa menjadi ayahmu. Aku bisa menjadi kakak laki lakimu. Bahkan aku bisa menjadi ibumu. Kau jangan merasa selalu sendiri. Ada aku. Aku akan menjadi siang malam mu dan hari esokmu. Oke? Tenanglah!" Leon mengusap punggung Lexa setelah memberikan kata kata yang membuat hati Lexa meleleh dan makin mencintai pria itu.
Leon lalu menarik diri dari pelukan mereka.
"Terimakasih Leon. Aku harap kau lakukan apa yang kau katakan. Yasudah, aku ingin tidur. Sepertinya aku mengantuk. Kau mau mampir dulu?" Kata Lexa penuh harap pada Leon.
"Kau tidak takut aku menidurimu?" Leon menaik turunkan alisnya menggoda Lexa.
"Kau berani melakukannya akan aku masukan kau ke dalam oven. Di flat ku, aku memiliki oven besar bukan oven microwave sepertimu!" Decak Lexa.
"Aku harus ke hotel Lexa. Tuan Dion kan bersama Nyonyamu. Hari ini ternyata ada event sebuah perusahaan yang menyewa beberapa kamar hotel kami. Aku harus mengawasinya dulu. Kalau aku tidak ada urusan banyak, nanti malam aku akan mengajakmu makan malam." Jelas Leon.
"Tidak usah, kau bolak balik, besok saja jemput aku." Kata Lexa memberi pengertian.
__ADS_1
"Baiklah, nanti malam aku akan menghubungimu. Kau beristirahatlah!" Leon mengelus puncak kepala Lexa. Lexa mengangguk tersenyum.
Lexa keluar dari mobil dan menunggu mobil Leon menghilang.
"Leon, kuharap kita segera menjadi kekasih dan meyakinkan hati kita. Dan, kuharap benar yang kau katakan, kau bisa menjadi keluargaku satu satunya sampai hanya maut yang memisahkan kita." Kata Lexa memegang dadanya dan memasuki flatnya.
...
Keesokannya Leon sudah menjemput Lexa dan menuju ke perusahaan iklannya. Leon tampak mengantuk karna Lexa melihat Leon selalu menguap.
"Kau baik baik saja Leon? Semalam kemana? Mengapa hanya mengucapkan selamat malam?" Tanya Lexa sesampainya di perusahaan iklannya dan belum menuruni mobil.
"Iya, semalam aku menunggu kolega Tuan Dion di kantor. Aku bermain game lupa untuk menghubungimu. Aku sangat bosan Lexa!!" Kata Leon mengucek matanya.
"Kau sering bermain game?" Selidik Lexa.
"Karna menunggu dan ketika aku sudah menunggu ternyata kolega Tuan Dion tidak bisa hadir. Argh!! Aku kesal sekali! Renzy tidak mau menunggu! Untung saja aku memenangkan setiap game!" Keluh Leon memegang dahinya sedikit pening. Pagi hari ia bangun seperti biasa walaupun tidur larut karna alarmnya berbunyi pukul 5 pagi dan betapa ia bersemangat mendapatkan pesan selamat pagi Lexa. Dia langsung bersiap dan menjemput Lexa.
"Yasudah, kau mau tidur di ruanganku?" Ajak Lexa.
"Tidak bisa. Tuan Dion akan datang. Dia mau memberitahu kami sesuatu. Kami harus berkumpul!" Katanya lagi yang kini menyandarkan kepalanya di kaca mobil.
"Oh, aku juga, Nyonya Viena ingin memberitahukan sesuatu." Kata Lexa mengingat pesan bosnya semalam.
"Mungkin mereka akan menikah?" Leon berasumsi.
"Benarkah? Baiklah Leon, aku turun ya? Nanti siang hubungi aku kalau kau ingin makan siang denganku!" Kata Lexa bersiap menuruni mobil.
"Ya, hati hati sayangku. Apa tidak ada ciuman sampai jumpa?" Kata Leon menyeringai namun ia menyipitkan matanya.
"Musang gila!" Decak Lexa menuruni mobil dan melambaikan tangannya. Leon langsung melajukan mobilnya menuju hotel.
Dan benar asumsi Leon. Viena mengumumkan kalau dirinya akan menikan dengan Dion minggu depan. Membuat Lexa semakin memiliki banyak catatan tugas bersama temannya Abby dan Lucy .
Bagaimana dengan Leon? Leon dipusingkan dengan undangan bersama Renzy. Undangan harus berwarna putih dan merah. Tidak mau ribet dan harus elegan. Itulah perintah Dion sementara Leon tidak ahli dengan design design seperti ini.
"Cepay hubungi kekasihmu, dia pasti mengerti, ya Leon kalau jodoh tak akan kemana, cepat!" Perintah Renzy yang sangat mengetahui keahlian Lexa.
Pada kenyataannya si musang itu akan terus bergantung dengan si kelinci, begitulah pasangan asisten itu.
...
Oke gaes aku cut dulu 😁😁
Next part 47
Riwehnya ngurusin pernikahan Viena dan Dion
Lexa Leon lagi lagi saling bekerjasama
Staytune gaes 😍😍
.
Jangan lupa LIKE, KOMEN, VOTE, RATE, kasih TIP dan SHARE ke sosmed kalian monggoo 😝😝
.
Oiya mo curhat dikit, beberapa kali ada yang nanya gimana tuh ngadepin reader yang ga terima sama karakter tokoh kita 😁😁
Jawaban ku TERIMAKASIH YA UDAH BACA NOVEL KU .. gitu doang hahaha karna semakin aku digituin aku smakin smangat dan brarti karakter aku mengenai pembaca hihi 😍😍
__ADS_1
.
Oke thanks I LOVE YOuu alll 💕💕