Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 40. Jealous (2)


__ADS_3

Lanjutan part 39,


Ketika Carolyn baru saja keluar dari ruang pertemuan, Carolyn menabrak seorang gadis yang pernah ia lihat.


"Maaf nona, maaf," kata gadis itu membungkukan tubuhnya.


"Ya, aku juga minta maaf," balas Carolyn juga membungkukan tubuhnya.


"Hem, aku seperti pernah melihatmu," gumam Carolyn lagi mengelus dagunya.


"Nona Carolyn, kau majikan dari Xelino?" saut seorang pria yang adalah Jerry yang baru menyusul Allegra.


"Ah iya benar tuan, anda Tuan Atkinson," balas Carolyn membungkukan tubuhnya memberi hormat.


"Aku baru mengingatnya dad. Hay Nona, perkenalkan aku Allegra," sela Allegra mengulurkan tangannya.


"Hay Allegra, Xelino sudah bercerita banyak tentang mu," saut Carolyn juga mengulurkan tangannya, mereka berjabat tangan.


"Benarkah? Begitu juga kak Xelino menceritakanmu, kemarin dia membawa iPad mu untuk ku perbaiki,"


"Ya benar, terimakasih,"


"Sedang apa kau di sini Nona?" tanya Jerry kemudian.


"Ah iya, aku sedang bertemu dengan klien ku," jawab Carolyn.


"Oh siapa?"


"Tuan Heinze, sahabat dari Tuan Gellarmo," jawab Carolyn menunjukan siap yang ada di dalam.


Seketika Jerry mengernyitkan dahinya. Dia mengenal dua nama keluarga itu beserta perusahaannya di Nederland dan Oriental.


"Apa yang mereka inginkan nona?" tanya Jerry agak mencurigai sesuatu.


"Membuat perusahaan baru di sini tuan, perusahaan property bibiku yang mengambil alih," jawab Carolyn lagi menjelaskan


"Membuat perusahaan? Bukan kah ..."


Belum saja Jerry memberitahu, ponselnya berbunyi. Panggilan dari Angel.


"Ada apa Tuan Atkinson?" tanya Carolyn bingung.


"Hem, aku harus mengangkat panggilan, permisi ya, Allegra Daddy angkat panggilan ibumu dulu," kata Jerry harus mengangkat panggilan.


Allegra mengangguk dan juga bingung dengan pernyataan ayahnya. Begitu juga dengan Carolyn.


"Allegra, apa yang hendak Daddy mu katakan?" tanya Carolyn pada Allegra.


"Aku tidak tahu nona, nanti biar aku suruh memberitahu Xelino nona, karena aku juga harus ke menyusulnya ada pertemuan di lantai atas. Permisi Nona," kata Allegra.


"Ah iya baiklah, sampai jumpa," kata Carolyn juga berjalan menuju ke toilet.


Allegra menghampiri ayahnya.


"Ada apa dad? Apa yang dikatakan mommy?" tanya Allegra yang merasa ada sebuah masalah.


"Katanya Tuan Heinze sudah membayar ruang pertemuan yang disewa secara lunas," kata Jerry menjelaskan.


"Memang kenapa dad? Apa kau mengetahui sesuatu?" selidik Allegra.


"Entahlah, perasaanku tidak enak karena yang ku tahu perusahaan Heinze dan Gellarmo Agriculture sedang terlilit utang saham yang mereka pinjam di Oriental dan kudengar juga perusahaan mereka di Nederland sedang mengalami kemunduran, bagaimana bisa mereka hendak membangun perusahaan lagi di sini?" tutur Jerry mengusap dagunya.


"Hem, apa mereka hendak menjebak perusahaan bibi Nona Carolyn dan keluarga Delinsky dad?" ujar Allegra menerka.


"Entahlah, nanti kita tanyakan pada Paman Leon mu dan memberitahu kakak sepupumu itu,"


"Benar dad, ayo kita ke pertemuan dulu,"

__ADS_1


Jerry mengangguk dan menaiki hotel untuk menuju ke ruang pertemuan yang lain.


...


Akhirnya pertemuan itu selesai. Ansel dan Rietha memaksa Carolyn untuk pulang bersama Ansel. Carolyn sudah untuk menolak. Carolyn pun menyetujuinya. Ansel banyak bertanya hal hal lain tapi Carolyn hanya menjawabnya saja. Carolyn melihat jam tangan dan masih menunjukan pukul 2 siang. Dia tidak harus lagi ke Venta Property jadi Carolyn memutuskan untuk ke kantor perusahaan ayahnya saja. Xelino pasti senang melihatnya ketika pulang nanti.


"Ansel, bisakah kau menuruniku di kantor perusahaan ayahku?" tanya Carolyn memohon.


"Memang nya ada apa? Baru saja aku hendak mengajakmu berjalan jalan ke pinggir pantai," saut Ansel merasa curiga Carolyn ingin menemui Xelino.


"Maafkan aku, Daddy ku mengajakku membeli sebuah gaun. Entah untuk acara apa, aku tidak boleh menolaknya," Carolyn menolak secara baik baik.


Ansel sempat berpikir, pasti Carolyn hendak bertemu dengan Xelino tapi berkelit darinya. Ansel tidak akan membiarkan Carolyn bertemu begitu saja.


"Baiklah, aku akan mengantarmu," kata Ansel kemudian.


Ansel pun mengantar Carolyn sampai depan perusahaan ayahnya. Ansel tidak menemaninya karena Carolyn sudah mengatakan hendak pergi bersama ayahnya.


Carolyn menaiki gedung tersebut dan hendak menuju ke ruang ayahnya.


"Nona Carolyn, selamat sore, tidak biasanya datang kemari," sapa Lidya berdiri dan membungkukan tubuhnya memberi hormat.


"Ya, apa Daddy sudah kembali dari Desa Selena?" tanya Carolyn.


"Sudah Nona, beliau ada di ruangannya," jawab Lidya dengan sangat ramah.


"Emm, Xelino dan James?" tanya Carolyn lagi.


"Mereka juga sudah nona ada di ruang kerja mereka,"


"Oh, oke ,terimakasih Lidya," ucap Carolyn yang membuat Lidya terkejut dengan perubahan Carolyn yang hanya mengucapkan terimakasih. Sebelumnya senyuman dari seorang Carolyn Aneeta Delinsky hal yang sangat langka apalagi ucapan terimakasih. Benar kata James, sejak kenal dengan Xelino, Carolyn mengalami perubahan yang pesat.


Carolyn hendak memasuki ruang kerja ayahnya tapi dia malah ingin mendatangi ruang kerja Xelino. Pasti pria itu sangat terkejut dan dengan sengaja memberi pelukan Sangkin senangnya. Carolyn sudah tersenyum membayangkannya.


Carolyn pun berbelok menuju ke ruangan Xelino yang tidak jauh dari sana. Sementara Xelino ternyata sedang bersama Casey. Casey bertanya tanya mengenai pupuk dan lahan yang sangat cocok untuk menanam tanaman organik yang tahun ini merupakan program ayahnya. Dia hendak menerapkannya di perusahaannya ketika kembali nanti.


"Nona, kah dari situ saja, aku bisa tahu apa yang kau maksud," kata Xelino sedikit menjauh dari Casey.


"Aku hanya takut kau tidak paham maksudku Xelino," saut Casey tersenyum.


"Aku tahu, kau tenang saja. Dan jam brapa ini? Sepertinya aku sudah harus menjemput Nona Carolyn. Kau mau pulang tidak nona? Biar aku mengantarmu dulu," tanya Xelino yang tidak mau berlama lama dengan Casey.


"Oh begitu? Mengapa tidak sekalian menjemput Carolyn dan pulang bersama?" selidik Casey.


"Em, Nona Carolyn memintaku menemaninya ke pembangunan hotel klien pertamanya. Di sana sangat panas apalagi sore seperti ini masih seperti siang. Sebaiknya kau pulang saja," jawab Xelino berdalih.


"Ahh baiklah, aku akan bersiap siap,"


Casey pun beranjak dari tempat duduknya dan melintasi Xelino, tapi ketika ia hendak cepat cepat berjalan, dia tersandung oleh anak kaki kursi yang Xelino duduki. Seperti sengaja karena hendak mendapatkan perhatian Xelino dan Casey memang hendak terjatuh tapi Xelino menahannya dari belakang. Casey pun jatuh di pangkuan Xelino yang belum sempat berdiri. Karena begitu terkejut, Casey melingkarkan tangannya pada leher Xelino.


Dan ...


"Xelino? Casey? Apa yang kalian lakukan?" Tanya seorang wanita yang begitu terkejut dengan apa yang ia lihat. Carolyn. Ya Carolyn membuka pintu ruangan dan melihat Casey berada di pangkuan Xelino. Hatinya tentu bergetir. Mengapa malah ini yang ia lihat?


Sesaat Xelino takjub dengan penampilan Carolyn yang cantik dan elegan tapi dia tersadar dengan apa yang membuat wanita yang ia cintai itu terkejut.


"Carolyn?" Xelino tentu mendorong Casey dan berdiri.


"Carolyn? Argh!" Casey beranjak tapi kakinya sakit karena hak sepatunya yang terlalu tinggi jadi dia terkilir. Casey membungkuk memegang kakinya tapi Xelino tidak peduli karena setelah itu Carolyn pergi dari sana langsung menuruni tangga darurat sehingga ketika Xelino keluar dari ruangan untuk mengejarnya tidak terlihat.


Saat itu juga Carolyn menangis. Dia melepas sepatu hak tingginya dan menuruni tangga itu dengan perlahan yang tembus dengan parkiran terbuka perusahaan itu. Hatinya sesak. Dia tidak tahu apa apa dan hanya melihat kejadian mesra itu di depan matanya. Mengingat Xelino dengan mudah memeluk dan menciumnya jadi dia beranggapan pasti juga mudah merayu Casey yang tidak kalah cantik darinya. Carolyn menangis tersedu menuruni anak tangga itu dan mengusap semua air mata yang nyatanya terus terjatuh.


Sementara Xelino menekan nekan lift dan harus mengajar Carolyn. Hatinya juga tak karuan. Carolyn pasti sudah salah paham dengannya. Padahal semua ketidak sengajaan.


"Cepat buka!!! Carolyn tunggu aku!!" pekik Xelino memukul pintu lift yang tidak kunjung tiba.


"Tuan Xelino? Kau mencari Nona Carolyn?" tanya seorang office boy yang melintasi Xelino dan tak sengaja mendengar nama atasannya itu.

__ADS_1


"Ya, kau melihat nya?" tanya Xelino berbalik.


"Dia turun melalui tangga darurat sepertinya langsung ke parkir luar,"


"Oohh, ya ya, terimakasih ya?"


Akhirnya Xelino juga turun dengan tangga darurat karena pintu lift benar benar la terbuka. Xelino berhasil turun dan cahaya matahari begitu menyengat.


"Panas sekali! Di mana dia? Apa sudah pulang dengan taxi? Sial! CAROLYNNN!!" kata Xelino memanggil Carolyn dan dia mengenakan kaca mata hitam yang ada di saku jasnya. Di desa Selena juga sangat penas terik.



Xelino berjalan ke depan pintu utama gedung sambil mencari Carolyn. Dia melihat ke kanan dan ke kiri lalu berpikir, mana mungkin Carolyn mau panas panasan begini.


"Sebaiknya aku mencari di depan jalan," katanya tapi ketika dia berjalan lagi tak jauh dari tengah tengah parkiran dia melihat sepasang kaki yang pemiliknya sedang duduk lalu terdengar suara Isak sesenggukan.


Xelino menghentikan langkahnya dan memeriksa di belakang mobil yang terparkir memang ada sebuah bangku kayu. Tenyata Carolyn di sana menduduki bangku itu sambil memukul mukul pahanya yang keram akibat menuruni tangga tersebut.


"Nona!" panggil Xelino pelan.


Carolyn mendongakan kepalanya dan hendak beranjak tapi Xelino menahannya. Dia kembali mendudukan Carolyn.


"Mengapa langsung pergi? Kau cemburu ya?" tanya Xelino membuka kaca mata hitamnya dan berjongkok memijat kaki Carolyn. seketika hati Carolyn berdesir karena melihat penampilan Xelino dengan kaca mata hitam juga perhatiannya.


"Cemburu apa?! Kau berbohong padaku! Kau bilang sepulang dari Desa Selena akan menjemputku tapi kau malah bermesraan dengan Casey!" decak Carolyn berusaha menutupi kecemburuannya.


"Aku sudah menjemputmu tapi kata Grizel kau pergi ke Hotel Atkinson jadi aku menunggu di kantor sampai jam kerjamu berakhir!" balas Xelino mendongakan kepalanya pada Carolyn.


Carolyn terdiam, tapi dia tetap tidak menerima pemandangan mesra itu. Dia menekuk wajahnya.


"Mengapa masih cemberut?" tanya Xelino lagi.


"Tidak apa apa! Sudah sudah jangan memijatnya! Aku mau pulang!" Decak Carolyn memukul kecil tangan Xelino agar tidak memijat kakinya.


"Kita tidak jadi makan kue ikan?" tanya Xelino ikut duduk di samping Carolyn.


"Tidak! Aku tidak berselera!"


"Aku tahu kau cemburu kan melihat Nona Casey ada di pangkuanku?"


"Tidak sama sekali! Dia hanyalah kakak angkatku, dia bukan sekelas denganku, jadi sepertinya kalian co ..."


Cup!


Belum saja Carolyn selesai berkata, Xelino sudah membungkam mulut Carolyn dengan bibirnya. Xelino mencium Carolyn dan memegang wajahnya.


"Dia terjatuh dan tepat duduk di pangkuanku, jangan beranggapan yang tidak tidak!" Kata Xelino lagi dan kembali mencium bibir Carolyn. Karena rasa rindu yang melekat selama ini tidak bersentuhan, Carolyn membalasnya tapi tak lama dia tersadar kalau ini di kantor ayahnya. Carolyn pun menarik diri dan menundukan kepalanya.


Xelino menghela napas dan beranjak. Dia lalu menggendong Carolyn yang membuat wanita itu terkejut.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Carolyn terkejut karena Xelino juga mengambil sepatunya.


"Ke mobil kita ke taman," jawab Xelino.


"Nanti ada yang lihat,"


"Biar saja! Aku senang mereka membicarakan kedekatan kita dan aku siap mendapat marah daddymu asal kakimu tidak lelah lagi,"


Carolyn hanya bisa menunduk. Dalam hati merasa senang atas perlakuan lembut Xelino walau masih harus memainkan peran seperti tidak terjadi apa apa.


...


Namanya juga drama ya 😁😁


next part 41


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊

__ADS_1


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2