
Jika menyelamatkan orang yang kita cintai adalah salah satu cara kita melindungi dan mempertahankan keutuhan cinta, maka akan dilakukan secara totalitas. tak peduli perbuatan apa yang akan ia perbuat. asalkan orang tersebut tetap dalam keadaan baik. penyesalan dan kepanikan sudah menjadi satu di dalam hati Xelino. ingin rasanya menemukan Carolyn dan mendekapnya dengan erat. tidak mau melakukan kesalahan lagi dan akan membentuk hatinya yang lebur karena kekecewaan atas dirinya. bisakah Xelino menemukan Carolyn secepatnya?
James melajukan mobilnya ke motel yang berada di pinggiran perbatasan kota dan Desa Sinai. Xelino memijat dagunya panik dan cemas terjadi sesuatu pada Carolyn. Entah mengapa rasanya dia ambil bagian dalam semua kejadian ini. Xelino tidak habis pikir, mengapa Carolyn ke bar. Mungkin sebelum bertemu dengannya, Carolyn sering ke sana. Namun, sejak Xelino menjadi asisten bodyguard nya, Carolyn tidak pernah mengajaknya ke tempat itu.
"Sedang apa dia sebenarnya ke bar?" gumam Xelino bertanya tanya tapi Grizel mendengar dan merasakan kepanikan Xelino.
"Kata Lila tadi dia bersamanya, Xeli oppa," saut Grizel.
"Bersama Lila?" selidik Xelino langsung menoleh ke arah Grizel ingin tahu.
"Iya, dia pulang bersama Lila, tapi katanya mereka berpisah. Lila ke mall, ke butik ibunya dan Carolyn ke Galery di dekat mall. GG Galery, oppa," kata Grizel lagi.
"GG?"
"Ya, galery yang katanya pemiliknya adalah anak dari Tuan Motivator Gabriane," jawab Grizel yang beberapa kali sering melihat galery mencolok itu.
"Gladys?" Pekik Xelino menegakan tubuhnya. James menoleh ke arahnya.
"Kau kenapa Xelino?" tanya James terkejut juga panik.
"Aaarrrgghhh siiiaall, mengapa aku bisa lupa, AAAARRRGGHHH!!!" Keluh Xelino memukul mukul dasboard mobil depannya.
"Xelino, kau kenapa?! siapa Gladys?" tanya James lagi sangat penasaran.
"Gladys itu sahabat high school ku. Aku belum bekerja sama dengannya untuk menyembunyikan identitas ku pada Carolyn. Sementara mereka berdua sudah berkenalan. Aku pikir Carolyn akan datang ke galery itu bersamaku, siapa yang tahu dia pergi ke sana, lalu bertanya pada Gladys siapa aku dan Gladys menceritakan semuanya. Benar kan? Argh, apa Carolyn kecewa padaku sehingga dia ke bar? Argh James! Cepat lajukan mobilnya, cepat CEPAAATTT!!!!" kata Xelino yang diakhiri ketidak sabarannya ingin bertemu kekasih hatinya. dia memiliki firasat tidak enak.
"Tenang Xeli oppa, Carolyn pasti baik baik saja!" kata Grizel menenangkan.
"Aku memang bodoh! Mengapa aku sampai lupa beginiii!!!" decak Xelino menyesal pada dirinya sendiri.
"Mungkin karena kau ingin memberitahu yang sebenarnya kan?" Selidik Grizel mencoba mengerti posisi Xelino.
"Benar Grizel! Setelah pulang dari pemakaman ini aku ingin memberitahunya bahkan aku ingin memberitahu perasaanku dan ada sesuatu yang hendak kuberikan padanya, tetapi mengapa malah jadi seperti ini?! Oh Tuhan, Grandpa, Kak Lionel, lindungi Carolyn ku tolong! Jangan biarkan siapapun menyakitinya!! James, cepatt!!!" pinta Xelino lagi dan lagi pada James agar melajukan mobilnya lebih cepat.
"Tenanglah Xelino, kau tidak lihat spidometernya mengarah hampir ke akhir! Kita seperti terbang! Untung saja sudah larut malam!" saut James mencoba menetralkan pikiran Xelino. pikiran Xelino sudah negatif dan kemana mana.
"Kalau sampai Ansel ada di balik ini semua, aku tidak akan memaafkannya lagi, aku akan meminta Tuan Muda Willy memenangkan kasus dan memberi hukuman padanya seberat beratnya, terjadi atau tidak terjadi apapun pada Carolyn! Dia memikirkan untuk membawa Carolyn saja sudah membuatku kesal!" Desis Xelino melirik jalan gelap itu dengan mata lancipnya yang menajam.
__ADS_1
James meningkatkan lagi kecepatan mobilnya karena merasa Xelino semakin cemas dan emosinya yang meluap luap. Sekitar setengah jam akhirnya mereka tiba di sana karena jalanan sangat lenggang. Mereka bertiga segera turun dan memasuki pintu utama lalu menghampiri resepsionis.
"Di mana kamar yang biasa di sewa, Ansel Gellarmo? Kau jangan menutupi apapun karena kau akan terlibat jika kau ikut bekerja sama dengan penipu itu!" tanya Xelino dengan emosi yang meluap luap.
"Xelino, tahan emosimu, siapa tahu dia benar tidak tahu!" bisik James yang tidak enak dengan resepsionis wanita itu.
"Diam James! Dia pasti menerima suap! Cepat katakan di mana? Aku tidak peduli kau wanita, aku ingin tahu di mana kamar Ansel!" decak Xelino.
Brak!
Xelino menggebrak meja resepsionis itu.
"Ma ma maaf tuan, kemarin tuan Ansel memang menginap, tapi pagi tadi sudah keluar dan tidak tahu ke mana dirinya . Biasanya malam pulang tapi sampai sekarang belum terlihat," kata si resepsionis berusaha sopan dan sabar.
"Kau jangan berbohong! Permainan lama kau menipuku! Berapa Ansel membayarmu maka aku akan membayarmu 3 kali lipat, cepat katakan!" kata Xelino lagi menunjukan jarinya. di pikirannya hanya ada Carolyn dan menyelamatkannya.
"Benar tidak ada tuan, kalau anda tidak percaya anda bisa memeriksa kamar yang biasa dia gunakan, mari saya antar," kata si resepsionis akhirnya membuktikan.
"Xelino, sebaiknya kita langsung ke perumahan Lidwina, sepertinya di sini memang tidak ada," bisik James lagi tapi Xelino tidak mau melakukan kelalaian sedikitpun.
"Tidak mau! Aku harus memeriksanya dulu, siapa yang tahu kalau ini taktik!" decak Xelino mengikuti si resepsionis.
Ketika pintu kamar di buka, barulah Xelino percaya. Xelino semakin kesal dan menendang pintu kamar hotel. Dia langsung berlari setelah merebut kunci mobil dari James. James dan Grizel juga ikut berlari mengikuti Xelino.
Kali ini Xelino yang membawa mobil.
"Xelino, tenang, kau jangan seperti orang kesetanan! Bukannya kita bisa menyelamatkan Carolyn malahan kita yang harus diselamatkan! Tenanglah!" ujar James berusaha membuat Xelino tetap dalam kendali.
"James, hubungi papiku dengan ponselku, sekarang! Tanyakan apakah seluruh polisi sudah mengintai ke sana? Intai saja dan hati hati. Jangan sampai Carolyn terluka, cepat James!" perintah Xelino.
"Iya Iya Xelino,"
"Kau harus selamat Carolyn, maafkan aku maafkan aku, aku akan memberitahumu semuanya tapi bertahanlah, sebentar aku datang!" Gumam Xelino sambil terus melajukan mobil nya ke perumahan Ludwina.
Carolyn mencoba membuka matanya perlahan lahan. Dia sedang berbaring di sebuah kamar berwarna putih dan bercahaya terang sekali. Semua ornamen sangat berkelas. Pinggiran tempat tidur yang bertahta lapisan emas tiruan yang memberikan kesan begitu mewah dan berkelas.
'Di mana ini?' gumamnya dan melihat ke sekitar. Seketika kepalanya pening dan terlintas nama Xelino karena hanya pria itu yang sedang ia pikirkan.
__ADS_1
Carolyn mencoba bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk. Dia memegang kepalanya dan meraba saku celananya untuk mencari ponsel.
"Ponselku tidak ada! Apa apaan ini? iisshhh, sakit sekali kepalaku! Sepertinya tadi aku sedang menghubungi Xelino, tapi mengapa tiba tiba aku ada di sini?" Tutur nya pelan.
Carolyn bergerak ke arah sisi tempat tidur. Dia kembali memijat dahinya dan memperhatikan seluruh ruangan.
"Ada apa ini sebenarnya? Apa aku mabuk? Sepertinya tidak. Aku sedang ke toilet tadi dan ini sepertinya bukan rumah Marine atau Kezia," gumam Carolyn.
Tak berapa lama ada seseorang yang sedang berusaha membuka pintu kamarnya. Carolyn terkejut dan memundurkan tubuhnya ke dinding kepala tempat tidur.
Di sana seorang pria yang membuatnya sangat sangat shock. Dia tidak menyangka dan mengira kalau Ansel ada di sini sedang mengunci pintu kamar itu lagi setelah memasukinya.
"Selamat malam menjelang subuh, Nona Carolyn Delinsky!" sapa Ansel menyeringai.
"Ansel? Kenapa? Kenapa aku ada di sini? Apa, apa yang ingin kau lakukan?!" Decak Carolyn takut dan gugup.
"Carolyn Carolyn, mengapa kau takut begitu? Bukankah kau sudah menyetujui bertunangan denganku?" kata Ansel mulai mendekati Carolyn.
"Tidak! Aku tidak menyukaimu! Aku sudah mengatakan pada bibi Rietha! Dia sudah mengerti, kau jangan macam macam DAN JANGAN MENDEKAT!!" pinta Carolyn dengan nada bergetar.
"Heng, Carolyn, kau ini sungguh lugu. Kau begitu mudah masuk ke dalam permainan kakamu. Aku hanya ingin memberitahu kalau dalang dari semua ini adalah kakakmu! Namun, apa kau tahu, siapa di sini yang di rugikan? AKU! Aku yang kalian rugikan dengan semua janji yang Casey sodorkan padaku! Hanya karena kau membatalkannya, semua jadi hancur! Kau harus kuberi pelajaran, Carolyn!" bentak Ansel menggebrak tempat tidur sampai bergetar membuat Carolyn tambah ngeri.
"Diam di sana jangan mendekat! Seharusnya kau meminta pada Casey, bukan padaku, sekalipun kau ingin menguasai harta ayahku, kau bisa saja menikahi Casey kan?" balas Carolyn berusaha menyadarkan Ansel.
"Heng, anak pungut seperti dia mana bisa berharga untuk ayahmu! Kalian yang serakah! Ayah dan ibumu hanya akan membaginya denganmu oleh sebab itu aku harus memilikimu!" Decak Ansel lagi sudah sampai di samping tempat tidur. Carolyn terus memundurkan tubuhnya sampai ke perbatasan dan berusaha menghindar .
"Kau tidak bisa lari kemana mana Carolyn! Kalau asisten tengik itu tidak membawamu, kau sudah menjadi tunanganku dan aku mendapatkan apa yang menjadi keuntunganku! Dan, apa kau tahu, kekasihku yang sebenarnya telah meninggalkanku! Semua karena siapa? Karena asistenmu, Xelino! Kalian harus membayar semuanya!" Bentak Ansel meraih pergelangan tangan Carolyn tapi Carolyn langsung menarik dan menggigit tangan Ansel.
"Argh! Sial Carolyn!" Keluh Ansel kesal.
Carolyn lalu turun dari tempat tidur. Sesungguhnya dia terjebak.
"Carolyn, kau tidak bisa lari kemana mana. Aku sudah mencicipi tubuh kakakmu, jadi aku juga sangat penasaran dengan tubuhmu adik cantik," kata Ansel juga turun dari tempat tidur dan menghampiri Carolyn.
...
lanjut di bawah
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
__ADS_1
thanks for read and i love you 💕