Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 33


__ADS_3

Lexa sudah menjelaskan pada Leon maksud tujuan Gabriel ingin berbicara padanya. Laki laki bertubuh tinggi itu membutuhkan bantuan Lexa. Sebenarnya Gabriel sudah mencari cari alamat Lexa namun tidak ketemu ketika di Honolulu. Lalu dia mendatangi panti asuhan Lexa dan ternyata Lexa sudah pindah ke Legacy yang kebetulan ibunya Gabriel harus dirawat di Legacy karna perlengkapan kesehatan yang lengkap.


Akhirnya Leon mengijinkan Gabriel ikut gabung makan siang bersama mereka meskipun dalam hati sangat dongkol hendak menghajar habis wajah lelaki berwajah angkuh itu. Gabriel mulai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Sementara Leon memalingkan wajahnya seraya tak suka.


"Jadi, ada apa dengamu?" Tanya Lexa setelah Gabriel mengambil kursi untuk bergabung.


"Bicara yang cepat dan jelas, tidak ada pengulangan dan bertele tele lalu kau pergi dari sini, mengganggu orang pacaran saja!" Decak Leon yang mendapat tinju dari Lexa di pahanya.


"Sebelumnya maafkan aku mengganggu kalian, aku sudah mencari mu kemana mana Lexa karna Tuan Egnor sangat menolak diriku." Kata Gabriel memulai pembicaraannya.


"Ya, kau memang pantas ditolak!" Leon berdecih.


GABRIEL : "Perusahaan ayahku bangkrut dan terbelit hutang namun sepertinya dengan penjualan semua properti perusahaan sudah bisa membayar semuanya. Ayahku frustasi dan akhirnya dia meninggal karna penyakit lamanya kambuh. Ibuku terus memikirkan ayahku jadi dia jatuh sakit."


LEON : "Buah tak jauh dari pohonnya." (Leon terus menimpali namun Gabriel berusaha sabar)


LEXA : "Lanjutkan Gab!"


GABRIEL : "Ya ibuku terkena komplikasi pada hati dan syaraf otaknya Lexa. Aku dan adikku sudah mencari pekerjaan dan gaji kami tidak cukup untuk biaya hidup kami dan pengobatan ibuku."


LEON : "Ya karna kau jahat, karma itu berlaku!"


GABRIEL : (Menggebrak meja) "Cukup! Aku sudah sangat sabar mendengar ocehanmu sejak tadi. Apa sebenarnya maumu?!"


Gabriel beranjak dari duduknya menantang Leon. Leon pun ikut berdiri tidak mau kalah.


LEON : "Aku mau kau bicara cepat jangan bertele tele! Kau seperti sengaja kan hah?! Sebenarnya kau mau minta bantuan apa? Apa kau itu sebenarnya menyukai Lexa kan karna dia jauh lebih cantik ketimbang dulu kau lecehkan dia, ya kan?! Pecundang!"


GABRIEL : "Kau?!!!" (Meraih kerah baju Leon.)


LEXA : "Cukup! Lepaskan Gabriel, Lepaskan!"


LEON : "Lepaskan! Kau tuli ya atau langsung mau kupukul?!" (Menarik tangan Gabriel dan membenahi kerah bajunya)


LEXA : "Leon duduklah. Leon aku mohon biarkan dia berkata kata dulu setelah itu kita akan pergi kemana pun kau mau dan apapun yang kau inginkan aku akan turuti tapi diamlah dulu sebentar, bisa?"


LEON : "Janji? Kau akan menurutiku?!" (Mengulurkan kelingkingnya)


LEXA : "Janji!" (Mengulurkan kelingkingnya dan disatukan ke Leon.)


GABRIEL : "Hem! Kekanak kanakan! Mengapa Lexa bisa dekat dengan pria sepertimu?!" (Sudah kembali duduk)


LEON : "Apa katamu keparat?!" (Mendengar dan kembali berdiri)


LEXA : "Leon! Sudahlah! Gabriel! Kau mau aku membantumu atau tidak?!"


LEON : "Rasakan kau!"


LEXA : "Lanjutkan Gab!"


GABRIEL : "Aku hanya meminta bantuanmu agar bicara pada Tuan Egnor, Lexa. Agar dia mau mengurus sengketa rumah peninggalan ayahku yang dikuasai oleh pihak bank. Mereka menipu kami karna hutang yang belum lunas, padahal aku yang menandatangani surat pelunasan. Namun mereka mengatakan tidak berlaku. Bagaimana tidak berlaku sementara aku menandatanganinya di atas materai Lexa!! Hanya Tuan Egnor yang bisa menyelesaikannya. Aku belum lulus untuk bisa menjadi pengacara. Jangankan pengacara hebat seperti Tuan Egnor. Pengacara biasa saja tidak bisa! Jadi tolonglah aku Lexa. Sekali ini aja ceritakan semua masalahku pada Tuan Egnor. Aku yakin kalau kau yang meminta dia pasti mau.."


LEON : "Siapa bilang?" (Terkekeh)


LEXA : "Leon....!!"


LEON : "It's oke!! (Terkekeh)


GABRIEL : "Bagaimana Lexa? Kau bersedia membantuku mengatakan pada Tuan Egnor?"


LEXA : "Emm, begini aku tidak tahu dia sedang berada dimana karna kantor pengacaranya sangat banyak. Aku akan bertanya pada bos ku dulu. Kau tunggu saja kabarku dulu. Bagaimana?"

__ADS_1


GABRIEL : "Ah benar Lexa. Bisakah aku meminta nomor ponselmu? Aku akan mencatatnya pada bon ini karna ponselku rusak. Aku akan menghubungi dengan ponsel adikku."


Belum saja Lexa memberi tahu nomor ponselnya, Leon sudah menghadangnya.


"Tidak usah tidak usah! Kau tidak usah mengetahui nomor Lexa. Kau datang saja em lusa. Ya kira kira lusa ke kantor Lexa. Tidak usah saling berkirim pesan. Tidak usah!" Kata Leon penuh rasa cemburu dan tidak suka yang menurutnya adalah pesaingnya.


"Kau ini cemburuan sekali, aku tidak akan menganggunya lagipula ponselku rusak karna kalian. Seharusnya kau menggantinya. Kau kan pacarnya!" Decak Gabriel.


"Dia bukan pacarku! Aku akan mengganti ponselmu. Kau tenang saja!" Lexa mengoreksi pada kata pacar yang diucapkan oleh Gabriel.


Wajah Leon seketika menegang. Dia memang baru tersadar kalau selama ini dia belum menyatakan cinta pada Lexa. Dia merasa belum ada waktu yang tepat. Dia masih mau memperbanyak rasa cintanya dan rasa cinta Lexa padanya.


Leon sedikit menoleh ke arah Lexa yang hendak merogoh dompetnya dan memberi sejumlah uang pada Gabriel. Mata Leon lalu membelalak. Dia lalu menahan Lexa untuk mengeluarkan uangnya.


"Aku saja!" Leon lalu mengambil dompetnya di sakunya. Mengambil beberapa lembar uang bernilai besar.


"Ini uang untukmu untuk mengganti ponselmu yang hancur karna kau yang menabrak kami, ingat kau yang berbuat ulah. Sekarang pergilah! Kau sudah mengatakan tujuanmu kan? Pergi sekarang atau aku berubah pikiran!" Kata Leon dengan sangat bengis.


"Haaahh! Untung saja kau kaya, tunggu aku kaya lagi ya Leon, habis kau! Aku pergi! Lexa, terimakasih ya? Aku akan mendatangi kantormu lusa. Hem, Leon, terimakasih, uang ini untuk pembayaran perawatan ibuku saja. Dia jauh lebih penting. Permisi.." Gabriel mengambil uang dari Leon dan pergi meninggalkan Leon.


"Hah Leon, dia sudah berubah, kau jangan seperti ini lagi!" Tutur Lexa dan mulai memakan sushinya.


"Ya, semoga dia seperti itu dan tidak membohongimu, kalau sampai dia membohongimu bukan hanya uang yang tadi ku kasih ke dia kuminta kembalikan melainkan rumahnya yang dia inginkan itu, akan menjadi milikku! Pecundang!" Umpat Leon masih tergurat rasa kekesalan.


"Kau ini kesal atau cemburu?" Tanya Lexa menggoda.


Leon mendekatkan dirinya pada Lexa dan merangkulnya.


"Cemburu, kau suka aku mengatakan ini?" Tanya Leon kembali makin menggoda Lexa membuat hati Lexa tak menentu dan badannya bergidik.


"Tidaaakk!! Jauhkan dirimu, aku bisa mati dengan gombalanmu itu!" Kata Lexa mendorong tubuh Leon.


"Memang kau mau apa?" Tanya Lexa sambil memakan suhinya.


Belum Leon menjawab, ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk.


"Argh!! Lexa! Sudah kubilang kau jangan dengarkan Gabriel itu karna waktuku sangat sedikit, argh!" Leon merajuk sambil meraih ponselnya di saku depan celananya. Dion menghubunginya.


"Jemput aku di apartemen Pevi, dia ada jadwal rawat jalan. Sekarang ya?" Perintah Dion di sebrang sana.


"Siap bos.." jawab Leon melemah. Lexa terkekeh sesaat namun hatinya gundah. Dia masih ingin berlama lama dengan Leon namun pekerjaan Leon lebih penting.


"Ada apa dengan nada suaramu? Kau di departemen dekat kantor Viena kan? Kau tinggal belok saja dan sampai ke apartemen Pevi, ya kan?" Ujar Dior agak tidak suka dengan nada suara Leon.


"Ada apa dengan nada suaraku Tuan? Aku baik baik saja. Kau tunggulah sebentar, 10 menit lagi aku tiba."


"Kutunggu!" Balas Dion dan mematikan panggilan.


Leon menggenggam kencang ponselnya. Wajahnya tampak kesal dan geram. Dia menarik napasnya dan tersenyum pada Lexa.


"Aku harus pergi dan tidak tahu kapan ada waktu lagi bersamamu. Tolong jaga dirimu Lexa, kabari aku jika aku membutuhkanku, aku akan berusaha bersamamu, oke?" Leon ijin pamit untuk mengerjakan tugasnya. Setelah dia mengantar jemput bosnya Dion, dia harus menghadiri rapat pemegang saham bersama Jeremy, ayah Dion. Dan tidak tahu kapan dia bisa mempunyai waktu bersama Lexa sampai akhir bulan ini.


"Ya, bekerjalah yang benar, makan dulu ini 1 sushi, aaa??" Balas Lexa dan memberikan sushi pada Leon. Leon membuka mulutnya dan melahapnya.


"Sampai jumpa!" Leon mengecup pundak kepala Lexa dan berlalu.


~Semoga Lexa masih menungguku untuk menyatakan cintaku dengan waktu yang tepat. Semoga dia tidak menyukai Gabriel. Hem! Menyebaaalkannn!~ gumam Leon setelah meninggalkan Lexa.


Sementara Lexa terus menatap pundak pria idamannya itu sampai menghilang.


"Ya, kita memang hanya sepasang asisten jadi tidak bisa membantah apa yang diperintahkan atasan. Bersabarlah Leon sayangku, hihi, kalau dia tidak ada aku berani mengatakannya. Sayangku, agak menjijikan tapi aku suka Leon sayang, hihi.." gumam Lexa sambil terkekeh.

__ADS_1


...


"Lexa, kau tidak ikut malam ini pesta dansa di pusat kota. Kau yang berjanji akan ikut!" Ajak Abby menghentikan langkah Lexa yang hendak pulang.


Wanita berparas dingin itu melupakan sesuatu. Dia berjanji pada Abby untuk mengajak Leon ke pesta dansa di jalan pusat kota Legacy. Di sana terdapat seperti perayaan muda mudi yang hendak berkomitmen untuk melepaskan masa lajangnya. Ada sekitar dua atau tiga pasangan yang mereka rayakan. Namun, untuk pesta dansanya bisa diikuti oleh siapapun. Lebih dikhususkan untuk yang mempunyai pasangan. Lexa benar benar lupa mengatakannya pada Leon. Sementara Lexa mengetahui kalau Leon malam ini sangat sibuk.


"Abby, aku lupa mengajak Leon. Dia sedang sibuk ada rapat pemegang saham bersama Tuan Besar Jeremy, ayahnya Tuan Dion. Kau tahu kan?" Kata Lexa menggaruk garuk kepalanya.


"Yasudah kau saja ikut denganku dan Ben, bagaimana?"


"Ben? Sejak kapan kau dekat dengannya? Pacarmu yang kemarin?!" Lexa menganga mendengar penuturan sahabatnya.


"Sudah putus, dia selingkuh, dasar keparat bajingan, bisa bisanya dia berselingkuh dengan tetanggaku!" Abby melipat tangannya kesal di depan dadanya.


"Oohh, kan my neighbor my girlfriend.." goda Lexa pasalnya Lexa memang sudah mencium cium aura tidak enak ketika Abby mengenalkan kekasih Abby yang sekarang sudah menjadi mantannya.


"Aku sudah tahu kau tidak menyukainya kan Lexa?"


"Hehem.." Lexa mengangguk angguk.


"Sudahlah, ayo kita ke pusat kota, acaranya mulai jam 7 malam." Abby menarik tangan Lexa menuju pusat kota.


Malam semakin binar di pusat kota. Lampu lampu jalan makin mengindahkan acara malam ini. Tampak 3 pasang kekasih calon mempelai sudah berada ditengah dan disiram sirami bunga tanda pesta dansa akan segera dimulai. Lexa berdiri dipinggir lingkaran sementara Abby dan Ben sudah berdansa bak pasangan kekasih.


Seketika Lexa merindukan Leon. Dan sepertinya Leon merasakannya karna satu pesan tak lama hinggap di ponselnya.


-LEON-


Kau sedang apa kelinci kecilku? Kau sudah sampai rumah?


-LEXA-


Belum. Aku bersama Abby dan Ben ada di pusat kota Legacy sedang melihat pesta dansa jalanan. Kau masih pada rapat saham mu?


-LEON-


Mengapa kau tak mengajakku? Kau bersama pria lain ya? Ya aku masih dalam rapat


-LEXA-


Aku tahu kau sibuk! Jangan sok cemburu, kita tidak ada hubungan apa apa! Semangatlah bekerja Leon Musang ku ❤


Lexa memberanikan diri mengatakan kalau Leon adalah miliknya dan memberikan simbol love agar dia tidak merajuk dan mengabaikan pekerjaannya. Leon tersenyum melihat pesan dari Lexa. Dia tidak membalas pesan Lexa dan menyimpan ponselnya ke sakunya. Dia harus melakukan sesuatu untuk meninggalkan rapat membosankan ini.



...


Next part 34


Leon mau ngapain ya?


Demi mba Lexa nii 😍💕👍


Jangan lupa like komen kasih rate kasih tip monggo 💋❤


Staytune guys


Thankyou laf you all ..


Info: Ngomong Tuan Egnor, novelnya sama Claudia uda tayang ya.. Tuan Egnor siapa? kakaknya Viena lhoo yang sok sok cool kas sama asistennya di pernikahan Viena hehe .. intip ya di karya ku kasih like n komen yang banyak juga hihi 😎👍

__ADS_1


__ADS_2