
Pagi menjelang. Akhirnya Lexa menginap di hotel bersama Leon dan Angel. Lexa tidur bersama Angel di kasur hotel, sementara Leon di sofa besar ruangan itu. Mawar merah masih menghiasi tempat itu. Aromanya juga masih semerbak.
Lexa membuka matanya dan tersenyum melihat suasana merah yang masih melekat di ruangan ini. Dia menoleh ke samping melihat Angel masih tertidur pulas. Dia tersenyum menghela napas. Dia mengerti, Angel pasti sangat lelah karna kakaknya menyuruhnya membuat semua ini. Lexa mengusap halus dahi Angel dan dia beranjak duduk dari kasurnya. Dia juga memandang pria yang kini menjadi kekasihnya bahkan calon suaminya. Lexa tersenyum lagi. Dia lalu beranjak. Leon tidur benar benar pulas dan nyaman. Tampak wajahnya tersirat ketenangan mendalam. Lexa menjadi merasa bersalah. Pasti Leon memikirkannya setiap malam.
Dia mengusap puncak kepala Leon perlahan lalu menuju ke kaca jendela besar ruangan itu. Dia membuka dan berdiri di halaman jendela itu. Lexa melihat keindahan gedung gedung di pusat kota Legacy. Dia menghirup udara segar yang mengalir pagi itu disekujur tubuhnya. Dia merasakan angin semilir yang menyapu nyapu rambutnya. Lexa memegang lengan lengannya karna dress yang ia kenakan tanpa lengan.
Tak lama sebuah tangan menelusup ke pinggangnya dan kepalanya bertandang di pundak Lexa. Lexa terkesiap. Dia agak terkejut namun kembali normal ketika mengetahui Leon yang berada disini.
"Kau mengangetkan ku saja!" Decak Lexa namun malah ikut menyandarkan tubuhnya di depan dada Leon.
"Heeemm, mengapa bangun begitu cepat?" Tanya Leon masih sedikit mengantuk.
"Ya, memang kenapa?" Lexa kembali bertanya.
"Tadinya aku yang mau membangunkanmu mengecup ngecup pipimu, sayang!" Guman Leon memandang wajah Lexa.
"Nih kecup saja!" Lexa menyodorkan pipinya.
"Eeemmmuuaacchhh!!!" Leon mencium pipi Lexa dengan sangat gemas sampai Lexa sedikit menahan tubuhnya.
"Lexa, terimakasih ya mau mendengarkan semua pengakuanku kemarin, kalau sebentar saja kau tak mendengarkanku, pasti sekarang aku sudah tiada." Kata Leon lagi membuat hati Lexa meluluh.
"Kau mau kemana? Katanya nyawamu ada di tanganku!" Gumam Lexa menggoda Leon.
"Ya maka dari itu, untung saja kau tak mengusirku Lexa ku sayang.." saut Leon dengan sangat lembut.
"Uuuww nada panggilanmu sekarang berbeda padaku, lebih lembut. Tidak ada kelinci lagi?" Ledek Lexa.
"Sewaktu waktu, tunggu saja, itukan panggilan sayang ku yang mendalam." Leon mengingatkan dan tersenyum.
"Hem, musang tengik!" Umpat Lexa ikut tersenyum.
"Tapi kau mencintaiku kan?" Leon seperti ingin mendengar kata kata manis dari Lexa.
"Mencintaimu dengan semua kekuranganmu Leonku sayang!!" Lexa ikut mengecup pipi Leon. Dia sangat senang tidak harus merasa kecanggungan lagi.
Leon tersenyum dan mengecupi leher Lexa. Lexa menikmatinya sampai ponsel Leon bergetar. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi.
"Angkat dulu ponselmu aku mau membersihkan diri!" Kata Lexa melepaskan pelukan Leon dan hendak menuju kamar mandi.
"Aku sudah menyediakan beberapa baju di dalam lemari Lexa. Semua seusai ukuranmu Lexa!" Leon mengingat sudah membeli beberapa baju untuk Lexa di hari hari lalu.
"Kau serius Leon? Kau benar benar sudah memperhitungakannya ya?" Lexa agak mendelik senang.
"Ya begitulah!" Saut Leon lalu meraih ponselnya sementara Lexa menuju ke lemari dulu.
Ben yang menghubungi Leon.
Leon : ada apa Ben?
Ben : kau harus ke kantor polisi sekarang, kau harus membantuku!
Leon : kau konyol sekali Ben! Aku dan Lexa baru saja menjadi sepasang kekasih, masa kau mau aku membawa Lexa ke kantor polisi?!
Seketika Lexa menoleh pada Leon karna menyebut kantor polisi. Lexa pun menghampiri Leon yang masih menelepon.
Ben : kau tidak tahu kan kalau kau membuat kekacuan di barku lusa kemarin!! Bar ku tidak dapat dibuka, sekarang aku harus mengurusnya dan kau harus memberi penjelasan Leon!!
Leon : kenapa aku? Aku sudah membayar semua minuman mu kemarin dan aku pulang!
Ben : kau mengigau ya?! Kau yang membuat kekacauan itu Leon! Kau jangan setega ini aku mohon cepat datang!
Leon : tidak mau!
"Apa yang kau perbuat?!" Tiba tiba Lexa bertanya dan mencubit pinggang Leon. Ben di sebrang sana mendengar suara Lexa.
Ben : Lexa!! Leon menghancurkan bar ku karna memikirkan mu kemarin, sekarang aku butuh pengakuannya! Suruh dia datang ke kantor polisi Lexa!!
Leon : Ben! Kau ini!
"Sini ponselnya!" Lexa merebut ponsel Leon karna dia merasa ada yang tidak beres.
Lexa : ada apa denganmu Ben?
__ADS_1
Ben : Lexa, kau tak tahu kan Leonmu sangat frustasi ketika mengetahui dirimu akan bertunangan dengan pria lain. Dia lalu membuat onar di barku sampai polisi datang. Seharus ya dia di bawa saat itu namun aku yang membayar uang jaminannya dan bar ku untuk sementara ditutup. Sekarang, aku hendak membukanya lagi. Aku membutuhkan pengakuan Leon, Lexa. Suruh dia membantuku. Aku sudah membantunya. Mengapa dia jahat sekali!!
Lexa : tunggu sebentar Ben
"Leon, benar kau melakukannya?" Selidik Lexa namun hatinya agak senang karna Leon memikirkannya.
"Aku tidak sadar Lexa, aku begitu karnamu! Aku frustasi tidak melihatmu kemarin, maafkan aku!" Leon mulai mengingat dan merasa bersalah.
"Terimakasih musangku, kau benar memikirkan ku ya?" Lexa mengusap lagi kepala Leon. Leon mengangguk angguk manja.
Lexa : Ben, kami akan kesana. Satu jam lagi ya. Kami ingin membersihkan diri dulu
Ben : ya, kalian bersihkan diri bersama saja supaya cepat
Lexa : bersama? Kau mau kami datang atau tidak?
Ben : haha, bercanda Lexa. Kalian ini sudah menjadi kekasih kan?
Lexa : kau mau kami datang atau tidak?
Ben : iya iya! Kau tidak bisa kuajak bercanda!
Lexa : tunggu kami ya ben?
Ben : baiklah, terimakasih Lexa
Lexa : ya, sama sama
Lexa mematikan panggilan dan sangat terkejut karna Leon sudah memeluknya lagi dari belakang.
"Lexa, saran Ben untuk mandi bersama sepertinya sangat bagus, bisa mempercepat waktu, ayo!" Leon hendak mendorong tubuh Lexa namun terdengar dari kasur Lexa tidur suara suara Angel hendak bangun.
"Kak Leon, kalian jangan melupakanku di sini!!" Suara Angel hendak menyadarkan dirinya dari tidurnya.
"Hah, dengar ada adikmu!" Lexa mengusap punggung tangan Leon.
"Sial! Baiklah aku juga masih ingin tidur!" Leon melepaskan pelukannya dan kembali ke sofa besarnya.
"Kau harus membantu Ben, Leon! Kau harus mandi setelah ku!!" Lexa menunjuk nunjuk kekasihnya itu.
...
Leon telah mengambil mobilnya di apartemennya. Mereka lalu bergegas ke kantor polisi. Angel terpaksa ikut karna dia tidak mau bosan di hotel.
Sesampainya di kantor polisi Leon menjelaskan semuanya dan semua terasa mudah karna yang mengurus surat pembukaan kembali Ben adalah kepala polisi kenalan akrab Leon. Ben merasa lega karna prosesnya tidak berjalan lama sejak Leon datang. Ben lalu menceritakan semuanya ke Lexa. Namun, bukannya marah, Lexa malah menangis lagi.
"Ben, kau sangat berlebihan, lihat Lexa kembali menangis!" Decak Leon merangkul kekasihnya.
"Iya kak Ben kau sangat berlebihan, tidak perlu juga kau mengatakan biaya periksa lebammu itu!" Tambah Angel sambil menyendok ice cream yang sudah ia pesan.
"Oh my God! Anak kecil! Leon dia mirip sekali denganmu! Menyebalkan!" Umpat Ben terkejut mendengar Angel bersuara seperti Leon.
"Sudah sudah! Ben, aku akan mengganti semua kerugianmu, ini semua salahku!" Kata Lexa sesenggukan.
"Tidak usah sayang, aku sudah memberikan uang padanya lebih, dan lagi pula dia sudah menjadi asisten inti Tuan Jeremy. Dia saja tidak memberiku komisi!" Dengus Leon membalikan.
"Leon! Kau masih saja membahasnya!" Gerutu Ben.
"Itu perlu! Begini saja, kau harus mengurus acara pernikahanku nanti!" Pinta Leon memaksa.
"Ya, memang kau akan menyusahkanku lagi!" Sungut Ben.
"Tenang saja, sekarang kau akan dibantu Renzy dan Elsa!" Tambah Leon.
"Begitu baru benar Leon! Baiklah, aku pergi dulu, aku harus bertemu Abby. Memang kalian saja yang pacaran! Lexa, terimakasih ya?" Ucap Ben berdiri.
"Samaku?" Leon menaik turunkan alisnya.
"Kau menyebalkan!" Umpat Ben.
Dan Ben pun pergi menemui Abby. Sementara mereka bertiga masih menikmati makan siang mereka. Leon lalu mengajak Lexa dan Angel kembali ke rumah Jerry. Leon sudah berjanji akan membawa pulang Lexa lagi untuk menemui ayahnya.
"Kak, aku ke hotel saja dan cepat pesankan tiket pesawat, aku harua pulang memberitahu kabar bahagia ini. Aku juga perlu menyiapkan bunga lagi untuk kalian. Untuk pernikahan kalian." Pinta Angel ketika Leon sudah melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak ikut ke rumah papiku dulu, Angel?" Tanya Lexa sedikit bingung.
"Aku ngeri dengan senyuman anak angkat papimu, Kak Lexa!" Angel tersipu mengingatnya.
"Aaahhh, kau menyukainya kan, Angel! Ada apa kau dengan Nigel!" Selidik Leon.
"Mereka sudah putus!" Saut Lexa.
"Benarkah?"
"Tidak usah membahas bajiingan itu kak!" Angel mengingatkan.
"Kau diapakan?" Leon agak curiga.
"Tidak apa! Sudahlah aku ke hotel saja, aku tak kuasa melihat Tuan Jerry kak Leon!!"
"Tidak peduli, kau ikut saja! Tuan Jerry itu baik!" Leon memastikan.
"Kak, jangan membuat ku tersiksa!" Angel merasa dirinya benar tak pantas dengan Jerry.
"Kau lucu sekali Angel, hahaha!" Lexa tertawa kecil.
"Heng, sepertinya adikku memang sudah dewasa Lexa!"
"Iyalah, kau terlalu meremehkanku Kak Leon!"
Akhirnya Angel ikut bersama Lexa dan Leon ke rumah Jerry. Jerry sangat senang atas keikut sertaan Angel. Dia menjadi tidak seperti manusia yang sulit mempunyai pasangan. Mereka semua tertawa mendengar pernyataan Jerry. Sejatinya memang Jerry sangat memilih wanita yang hendak menjadi pasangan hidupnya. Dia tidak mau salah melangkah.
Leon lalu membicarakan rencana pernikahannya yang akan ia adakan tiga bulan lagi. Leon mau mempersiapkan semuanya dengan baik dan tanpa bur buru. Semua alasan yang Leon berikan pada Alexis sangat terinci sehingga Alexis dapat menerimanya. Lagipula, Leon dan Lexa juga ingin menikmati masa berpacaran terlebih dulu mengingat kebersamaannya hanya seperti teman kekasih. Begitulah yang Angel katakan. Angel jadi membicarakan kemesraan Leon dan Lexa ketika di Springfield pada Jerry. Beberapa kali Jerry tertawa mendengar semua yang diceritakan Angel. Angel juga jadi menikmati kebersamaannya dengan Jerry. Jerry pun meminta nomor ponsel Angel meskipun Angel sudah mengatakan kalau signal di tempat nya kurang begitu bagus.
"Kalau aku ada waktu, aku akan main ke tempatmu minggu depan Angel, boleh kan?" Kata Jerry tersenyum hangat.
"Hah, kau mau ke rumahku Tuan?"
"Ya, aku akan ke rumahmu dan juga bertemu dengan keluargamu. Tidak keberatan kan Leon?" Jerry juga meminta saran pada Leon.
Seketika Angel bergidik dan tersipu malu, Jerry begitu membuatnya terpesona. Belum ada pria yang mau merelakan sesuatu untuknya, bahkan hanya sekedar waktu.
Lusa kemudian Angel pun segera kembali ke Springfield. Angel diantar Lexa dan Leon. Ketika mereka sudah tiba di bandara, Leon hendak memarkirkan mobilnya. Namun, suatu kejadian terjadi.
"Leon awas!" Lexa berteriak. Leon hendak menabrak seorang ibu hamil. Leon dan Lexa juga Angel segera turun dari mobil setelah Leon meminggirkan mobilnya. Ibu hamil itu sudah tersungkur setengah berlutut.
"Nyonya, kau baik baik sa-ja? Solane?" Lexa terkejut. Leon hendak menabrak Solane yang saat itu sedang mengandung.
...
...
...
...
...
Ketemu Solane lagii???
Ada apa nii vii?
Aku ga tau, kan dia tiba tiba nyebrang tuh, aku mah ngetik doang 😝😝
.
Next part 78
masih beberapa part menuju wedding ya 😁😁
pasti kondangan kita tenang aja 😝😝
.
Gaes gaes jangan lupa lhoo beneran aku ga akan bosen mengingatkan kalian tolong kasih jempol LIKE nya dan KOMEN yang buanyaak hihii akutu semangat baca komen klean sumpe dehh 😍😍
Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil novel yaa 😘😘
__ADS_1
.
Thanks for read and i love youuu alll 🌹🌹