Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 14


__ADS_3

Wow! Itulah kesan pertama Lexa menyaksikan pamandangan pantai pesiar malam hari. Dia baru tahu kalau ada tempat seindah ini ketika malam hari.


Lexa menyipitkan matanya ke arah Leon yang memancarkan arti kecurigaan.


"Baru kau yang kuajak, aku bersumpah!" Leon membentuk angka V pada jarinya seperti sudah membaca pikiran Lexa.


"Dari mana ku tahu?"


"Dan mengapa anda ingin tahu, Nona Luxurio?" Leon langsung menimpali dengan menoleh pada Lexa. Dia menyeringai mengharapkan jawaban yang menggodanya. Namun nyatanya tidak mungkin Lexa menggoda dirinya.


"Aku hanya tidak ingin diganggu oleh segelintir wanita sosialita kelas atas yang mengganggu makan malamku sehingga aku juga bisa memakan mereka, seperti ini roaaarr!!" Lexa menirukan seperti harimau siap menerkam mangsa.


Leon bergidik seraya menanggapi Lexa.


"Uuu, ternyata kau kelinci yang bisa berubah menjadi harimau ya? Aku musang apa? Tidak ada apa apa nya dengan harimau berwujud wanita cantik ini," Leon mencolek dagu Lexa membuatnya merona.


"Terus saja kau menggoda orang sampai urat malumu putus!!" Decak Lexa berjalan cepat menuju restoran satu satunya yang terdapat di pantai tersebut.


"Ya, aku memang suka menggodamu, lalu bagaimana? Kau suka?" Leon menyusul Lexa dan langsung merangkul leher Lexa.


"Sudah kubilang aku tidak menyukai lawan jenis, kau ini tidak percaya!" Lexa melepaskan tangan Leon dengan kasar. Leon terdiam tidak mengikuti Lexa. Dia berpikir sejenak.


~Kalau tidak suka mengapa dia selalu tersipu jika kugoda dan mengapa dia hendak terlena ketika kemarin aku mengecupnya.~ Leon menerka nerka dengan memegang dagunya.


"Leon, kau ini kesini untuk mentraktirku makan apa memikirkanku?!" Memikirkanku bisa dimana saja," suara Lexa menyadarkan Leon. Leon lalu menghampiri Lexa melupakan sesaat. Dia akan mencari tahu kemudian.


...


"Ini menunya Nyonya, Tuan, silahkan panggil kembali jika sudah siap memesan," sang pelayan mengarahkan sebuah buku menu.


"Tidak usah, aku pesan steak termahal di restoran ini, dua! Karna aku sangat lapar!" Leon masih berpikir dengan perkataan Lexa. Dia berkata kata seenaknya. Sang pelayan mencatat.


"Pppsssttt, Leon, harga steak ini mahal sekali 480ribu, kau gila ya memesan dua? Aku mau punyamu saja!" Bisik Lexa sambil menutup wajahnya dengan buku menu.


"Tidaaakk! Kau pesan lagi! Aku lapar, kau tidak dengar AKU LAPAAARR!!" Leon seperti orang tidak waras karna memikirkan seandainya Lexa benar benar penyuka sesama jenis.


"Apalagi Nyonya? Hanya Tenderloin steak import dua porsi?" Pelayan memastikan.


"Sepertinya begitu -- "


"Kau ini?! Hah apa? Kau suka sup kan? Pesankan sup asparagus termahal disini dan ah massed potato dengan keju ekstra!!! Minumnya ice lychee tea dan ice coffee . Kau minum apa?" Leon menyangkal dan memesan lagi.


"Perutmu terbuat dari apa? Ini banyak sekali!!!!" Lexa reflek memukul Leon dengan buku menu.


Sang pelayan melihatnya dengan sedikit terkekeh.


"Oh maaf, baik itu saja dan ice lychee tea tambah satu lagi," Lexa menyadari sang pelayan tertawa kecil melihat kekonyolan mereka.


"Segera kami antar Nyonya, Tuan!" Sang pelayan menunduk memberi hormat dan berlalu menyiapkan pesanan mereka.


Leon memandang ke arah laut dan mendengar desiran ombak. Wajahnya kalut. Dia sebenarnya sudah menyukai Lexa namun semua ini masih terasa singkat. Dia hanya takut keseriusan ini akan membawa petaka lagi bagi hatinya. Hatinya sudah membatu ketika Solane mengkhianatinya. Dia tidak pernah serius lagi dengan wanita sampai dia bertemu dengan wanita yang ada di depannya. Tapi perkataan Lexa malah membuat dia ragu kembali.


"Leon, kau ini kenapa? Tak biasanya aku melihatmu diam, marah, lalu menggodaku lagi, lalu diam lagi, aneh!" Dengus Lexa melipat tangannya di depan dadanya.


Leon hanya menggeleng.


"Leon, kau suka laut ya?" Tanya Lexa kemudian.


"Hehem. Di kampung halaman ku sangat jauh jika melihat laut karna mereka daerah dataran tinggi. Ketika aku melihat laut, aku seperti bersatu dengan air air itu dan mengikuti kemana arah air itu mengalir. Bukankah menyenangkan? Kita tidak harus mengikuti aturan, ya kan?" Leon kemudian menoleh.


Lagi lagi Lexa terpaku mendengar penuturan Leon. Leon seperti pujangga cinta, sangat menawan.


"Dulu kau ikut jurusan sastra ya?" Lexa menerka bercanda.

__ADS_1


"Tidak, tapi hal ini yang kugunakan untuk mendapatkan wanita, kau puas!" Lexa gagal menggoda Leon. Leon malah makin kesal dan dia kembali menatap laut.


"Argh kau ini, ada apa denganmu?! Bicara sekarang juga atau aku pergi!!!" Akhirnya Lexa berkata tegas. Ini bukan seperti Leon.


"Lexa, dengarkan aku, aku tidak perduli kau menyukai sesama jenismu, aku tidak perduli! Aku akan terus mendekatimu, merangkulmu, memegang tanganmu, menemanimu, dan menjagamu, sampai kau merubah kesukaanmu yang tak masuk akal itu!" Leon menatap Lexa dan berbicara lebih tegas dari Lexa.


"Memangnya enak dia punya jeruk di dekatkan dengan jeruk? Bukankah pisang lebih baik?" Gumam Leon pelan.


"Kau bicara apa? Jeruk dengan jeruk lalu pisang?" Lexa mengintrogasi.


"Iya pisang! Kau mau pisang?! Suatu saat akan kutunjukan pisangku!" Dengus Leon mencak mencak.


"Kau benar benar menjijikan!" Lexa balik mendengus.


"Kebun pisang Lexa, aku punya perkebunan pisang terbaik di Springfield. Kau terlalu banyak berpikir, aku jadi curiga sebenarnya kau tahu kan?" Emosi meluap luap Leon kian memudar karna Lexa mengerti apa yang ia maksudkan.


"Leonnnn, aku benci padamu! Hem!" Lexa melempar wajahnya ke arah laut.


"Benci, benar benar cinta, haha!" Leon tertawa pecah. Lexa menoleh, dia tersenyum kecil.


Akhirnya Leon sudah tidak marah marah lagi. Sebenarnya dia senang dengan Leon yang selalu menggodanya seperti ini. Sepertinya Leon memiliki sejuta amunisi perkataan gombal yang sebelumnya dia tidak pernah mendengarnya.


Tidak ada seorang pria yang berani mendekatinya. Beberapa temannya mengatakan kalau dirinya pendiam, dingin, dan tegas. Namun, Leon secara terang terangan mendekatinya dengan rayuan yang hampir membuatnya mati.


"Kau sudah tidak marah?" Lexa lalu menundukan tubuhnya sampai dagunya mengenai meja dan menatap Leon.


"Tidak! Tapi kau ingat kata kataku yang tadi ya, jangan membuatku menjauhimu, titik!" Leon menghentak hentakan jari telunjuknya ke meja. Lexa hanya tersenyum dan berpikir ingin menguju Leon.


...


"Ah Leon, semua ini sangat enak!! Lain waktu aku akan membuatkannya untukmu!!" Ujar Lexa di tengah tengah makannya.


"Benar ya?! Aku sangat menyukai steak, steak disini paling enak di Legacy. Ada lagi satu kedai, nanti kuajak ya? Tapi hanya kedai kecil di pinggir jalan yang banyak menjual makanan, kau tidak apa ku ajak kesana"


"Kau main di tempat seperti itu juga Leon?" Tanya Lexa memberhentikan makanannya sejenak.


"Ada masalah?" Leon terus makan.


"Tidak, kupikir gaya sok bersih mu ini tidak mau pergi ke tempat kumpulan kuliner itu," Lexa melanjutkan makannya.


"Sok bersih itu untuk mendapatkan wanita, wanita senang yang bersih bersih kan? Termasuk kau! Aku tahu itu!!" Leon sesaat mengarahkan garpu kepada Lexa.


"Kasihan sekali wanita wanita itu, tertipu dengan akal bulusmu, untung aku tidak menyukai lawanku!! Selamat!!" Lexa menghembuskan napasnya bertujuan membuat Leon kembali kesal. Dan benar saja!


Brak! Leon membanting garpu dan pisaunya ke meja.


"Aku sudah selesai makan! Cepat kau selesaikan makanmu, kita pulang!" Leon sedikit kesal mendengar perkataan yang dia benci dari wanita yang sedang ia dekati.


"Aku masih lama, kau tunggu saja, nyam nyam, steak ini enak sekali, kupotongkan sedikit untukmu ya Leon.." Lexa terkekeh dan memotongkan steak untuk Leon.


"Ayo buka mulutnya musang, ini daging terbaik, aaaa ... " Lexa mengarahkan potongan steaknya ke Leon yang kembali menatap laut. Leon lalu menatap Lexa dari samping dengan tatapan khasnya yang tajam.


Leon meraih tangan Lexa dan memakan steak tersebut.


"Suatu hari nanti aku akan menerkammu dan kau tidak akan menyukai sesama jenis mu lagi! Kau malah akan memintanya lagi padaku, uhuk uhuk uhuk!" Leon terbatuk karna dia makan sambil berbicara.


"Ahh rasakan! Makan dulu baru bicara, kau baik baik saja? Apa tersedak dalam? Minum dulu," Lexa lalu meletakan alat makannya dan mengambil minum. Dia berdiri menuju Leon mengusap usap bahu Leon lalu menyodorkan minum pada pria itu.


Leon meminumnya perlahan dan meraih tangan Lexa. Dia menatap wanita itu lekat lekat.


"Lexa, apa kau tidak merasakan hatiku?" Tiba tiba Leon berkata lembut.


"Hatimu kenapa?"

__ADS_1


"Hatiku yang sepertinya sudah mencin -- "


Suara ringtone panggilan masuk di ponsel :


*i hate this love song, i hate this love song, i hate this love song, i hate this love song..*


"Sial!" Leon merogoh kantong celananya. Lexa tersenyum dan kembali duduk. Di dalam hatinya, Lexa berkata dia selamat karna sepertinya Leon akan berkata kata hal yang membuatnya bingung.


"Halo?!" Leon tidak melihat siapa yang menghubunginya. Dia mengangkatnya dengan suara yang cukup tinggi.


"Sejak kapan kau bernada tinggi seperti ini padaku?!" Suara disebrang sana lebih menyeramkan dari sapaan halo nya.


"Ah Tuan Dion, maaf, aku tidak melihatnya," Leon lalu melihat siapa nama pemanggil ponselnya dan menggaruk garuk kepalanya.


Lexa terkekeh:


"Rasakan!"


Percakapan telepon Leon - Dion :


Dion : kau mau kupecat, hah?


Leon : tidak tuan, nanti aku tidak kaya lagi


Dion : hah, kau tahu kan?


Leon : iya tuan, ada apa tuan?


Dion : dengarkan! Pesankan pesawat pribadi untuk 15 penumpang. Kita akan melakukan penerbangan ke Honolulu. Aku dan kau harus ikut pembuatan iklan di sana. Dan suruh Ben mengatakan pada pihak Viena kalau bos nya harus ikut! Kalau tidak batalkan kerjasama! Mengerti?


Leon : asistennya juga kan tuan? (Sesaat Leon menyeringai, kesempatan bagus menghindar dari Solane dan membawa Lexa dalam pelukannya,)


Dion : tidak, dia tidak usah, nanti kau akan pacaran terus!!


Leon : kau ini Tuan, tidak asik!


Dion : baiklah terserahmu! Pesankan sekarang untuk dua hari lagi, mengerti?!


Leon : siap Tuan!


Panggilan berakhir. Leon makin menyeringai.


"Seringaian apa itu? Apa yang bos mu katakan?" Tanya Lexa.


Belum Leon menjawab menggoda, hujan rintik turun. Rintik yang lalu berubah menjadi bulir bulir air membasahi setiap orang di bawah langit.


"Leon hujan, kau tidak merasa?! Ayo kita ke dalam," ajak Lexa yang sudah menutupi kepalanya dengan tangan. Mereka makan malam di sisi restoran bagian luar seperti pinggiran dermaga dan tidak terjangkau atap.


Leon dengan sigap membuka jas nya dan mengalungkannya ke sisi belakang Lexa. Seketika Lexa terenyuh melihat wajah Leon dari samping.


Mereka berlari sampai pinggir restoran dengan berpelukan karna hujan semakin besar. Sesampainya di pinggir restoran mereka melepaskan diri dan tampaklah wajah merona Lexa karna merasakan kehangatan dekapan tubuh Leon.


"Leon, tadi bos mu mengatakan apa?" Lexa mengalihkan rasa tersipunya dengan menanyakan kembali bos nya.


"Bersiaplah Lexa, karna aku akan merubah pikiranmu mengenai menyukai sesama jenis dalam perjalanan kita ke Honolulu!" Seringaian Leon membuat seluruh tubuh Lexa merinding.



...


Next next thor


next part 15

__ADS_1


__ADS_2