Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 35. Sorry


__ADS_3


Kalau masing masing sudah memiliki perasaan, jika sedikit saja mengalami masalah akan berpengaruh kemanapun. Tak peduli sedang melakukan apa dan bagaimana. Nama dan hati akan terus terngiang dipikiran atau sampai terbawa mimpi. Xelino dan Carolyn berusaha menjaga jarak. Khususnya Carolyn. Dia merasa Xelino sudah merendahkannya. Dia hanya ingin menunjukan kalau sebenarnya Carolyn menerima semua perlakuan manis Xelino karena memang dia memiliki rasa bukan hanya semudah itu. Apakah Xelino berhasil membentengi diri akan Carolyn atau sebaliknya? Dan bagaimana mereka berdua menghadapi sisa sisa masalah untuk mengasingkan mereka?


...


Jennifer berjalan menuju ruang kerja suaminya. Casey baru saja menghubunginya dan sepertinya dia harus memberitahu suaminya. Bukan sebuah kebetulan atau sengaja Casey hendak ke Springfield secara tiba tiba.


"Gilbert, sayang, Casey akan datang kemari," tutur Jennifer dengan wajah sedikit was was.


"Kemari? Ada apa dengannya?" Selidik Gilbert lagi memastikan.


"Entahlah, katanya dia merindukan kita," saut Jennifer sudah duduk di sofa ruang kerja suaminya.


"Biarkan saja Jen, semoga dia benar benar hendak merindukan dan menemui kita," balas Gilbert menghampiri istrinya.


"Kita harus tetap berjaga jaga sayang, aku tidak mau kalau dia berkata kata macam pada Carolyn dan coba kau tegaskan untuk pembagian harta yang menjadi bagian Casey agar dia bisa mencari keluarganya sendiri sayang," ujar Jennifer mengingatkan suaminya.


"Ya, aku akan membicarakan itu padanya ketika dia sampai,"


"Kudengar perusahaannya sedang menurun sayang, ada apa? Kau mengetahui sesuatu?" Tanya Jennifer pada Gilbert yang sudah duduk di sampingnya.


"Tidak! Lucas tidak mengatakan apapun, tapi sepertinya sifat lamanya kembali lagi. Dia pasti berfoya foya bersama teman temannya. Oleh sebab itu aku ragu kalau dia berdekat dekatan dengan Carolyn," keluh Gilbert mengusap wajahnya. Sejatinya dia tetap menganggap Casey ada


"Kita harus menasehatinya. Ini semua untuk masa depannya, Gilbert," saran Jennifer.


"Aku paham Jen,"


"Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi nya dan bertanya kapan dia tiba. Setidaknya kita harus menyambutnya. Dia tetap anak kita Gilbert," kata Jennifer lagi yang sejak dulu tidak pernah mau membanding bandingkan Casey dan Carolyn.


"Benar, aku tetap mencintainya, begitu juga denganmu kan?"


Jennifer mengangguk. Dia mengecup pipi suaminya sebelum pergi dari ruangan itu untuk mempersiapkan kedatangan Casey.



Sementara itu, seperti biasa Xelino menjemput Carolyn. Belum ada kata maaf yang ia katakan pada wanita yang sebenarnya ia cintai itu. Tapi biar bagaimanapun dia masih harus bekerja pada Carolyn. Mana mungkin dia keluar dan meninggalkan pujaan hatinya apalagi harus bersanding bersama Ansel. Mungkin Xelino akan membiarkan mereka bertunangan tapi selanjutnya Xelino akan merambat ke hatinya perlahan lahan.


Tampak Carolyn keluar dari rumah dengan wajah yang datar dan dingin. Xelino yakin kalau semua ini adalah karena ulahnya.


"Tuan Xelino," panggil Laila sesaat.


Xelino menoleh dan cukup terkejut melihat Laila sudah di sampingnya.


"Tuan, aku minta tolong untuk membujuk nona Carolyn makan hari ini. Semalam dia belum makan sementara Nyonya dan Tuan tidak tahu. Aku hanya takut dia sakit lagi. Tolong tuan," pinta Laila memohon karena cemas pada Carolyn.


"Begitu ya? Baiklah Laila serahkan padaku," balas Xelino tersenyum ramah.


"Terimakasih tuan," dan Laila kembali ke mansion sebelum Carolyn mencurigainya.


Carolyn berjalan ke arah Xelino tanpa kata kata sedikitpun. Hatinya masih sakit. Tadi malam dia hanya mendengarkan lagu dan melihat foto dirinya bersama Xelino. Chat dari Lionel dia abaikan. Dia hanya ingin Xelino tapi nyatanya Xelino seperti tidak peka padanya.

__ADS_1


"Selamat pagi Nona," sapa Xelino dan Carolyn hanya melirik penuh kesedihan dan langsung masuk ke dalam mobil di tempat duduk belakang.


Xelino tahu dirinya sudah keterlaluan. Xelino menarik napas dan kembali ke bangku pengemudi.


"Apa hari ini ada pengawasan pembangunan, nona?" Tanya Xelino mengarahkan kaca depan mobil ke arah Carolyn.


Carolyn bahkan tidak melihatnya. Carolyn menggeleng dan terus melihat ke luar jalan.


"Nona," panggil Xelino.


Carolyn tak bergeming dan melihatnya. Xelino tahu kalau Carolyn pasti sangat kecewa padanya. Akhirnya Xelino memberhentikan mobilnya di pinggir jalan masih di area komplek mansion Carolyn yang tidak begitu ramai jika pagi seperti ini. Xelino turun dari mobil dan masuk ke dalam kursi mobil belakang.


Dia menarik tangan Carolyn tapi Carolyn menepisnya. Xelino kembali meraih lengan Carolyn.


"Apa apaan kau?! Kenapa kau berhenti? Cepat jalan! Aku akan telat!" Pekik Carolyn akhirnya menatap Xelino tetapi air matanya terjatuh.


Xelino menghapusnya tapi lagi lagi Carolyn menepisnya.


"Maafkan aku nona," ucap Xelino dengan suara rendah.


Carolyn menggeleng melihat ke arah luar. Xelino menarik napas dan kembali meraih dagunya tapi kembali Carolyn memukulnya. Xelino akhirnya memaksa agar Carolyn menatapnya.


"Nona," panggil Xelino lagi menatap dalam Carolyn.


"Apa?! Aku tidak ingin kau memegangku lagi, menciumku, memelukku, aku tidak mau! Keluar dari sini dan jalankan mobilnya, cepat!" pekik Carolyn sekali lagi meneteskan air matanya.


"Tapi kau harus makan," kata Xelino memohon .


"Untuk apa? Biar saja aku tidak mau makan dan melakukan apapun! Untuk apa aku di dunia ini? Bahkan mommy and daddyku saja menyerahkan padamu dan sebentar lagi akan disuruh menjadi tunangan Ansel. Kau puas kan?!" balas Carolyn dalam tangisnya.


"Kau menganggapku rendah jadi untuk apa kau terus menyentuhku! Kalau kau berpikiran seperti itu sekalian saja aku tidak mau kau sentuh, kau peluk, aku tidak mau, kau menjijikan Xelino!!! Lepass!!!" Kata Carolyn mengeluarkan semua tenaganya tapi Xelino lebih kuat. dia terus memeluk Carolyn. Xelino tahu semua kata kata Carolyn karena kekesalannya saja.


"Maafkan aku nona! Aku, aku hanya tidak ingin kau bersama Ansel. Ansel bukan orang baik," tutur Xelino merasakan kehangatan tubuh Carolyn. Dia sebenarnya sangat merindukan wanita ini dan merasa menyesal.


"Kau tahu dari mana? Semua pria memang tidak baik, seenaknya memberi harapan lalu pergi sesuka hati. Sepertimu yang menciumku, memelukku semaumu lalu kau mengatakan hanya memberikan ku ketenangan! Sudah Xelino aku lelah, aku tidak memaksa kau menyukaiku atau tidak. Mungkin aku yang salah karena menyukaimu!" balas Carolyn juga merasakan tubuh Xelino dan bersandar di sana. dia menundukan kepalanya.


Deg!


Degup jantung Xelino berdetak tak menentu. Apa benar yang dikatakan majikannya itu.


"Apa kau bilang Nona? Kau menyukaiku?" tanya Xelino mencari cari wajah Carolyn.


"Ya, sebagai asisten, aku lebih menyukaimu ketimbang Lucas, puas? Sekarang lepaskan aku!" Carolyn sekali lagi berusaha melepas pelukan Xelino.


Entahlah Xelino harus sedih atau tidak. Xelino memang masih harus terus membuat cinta yang banyak di hati Carolyn. Sekarang memang harus dia yang berjuang. Xelino pun menarik dirinya. Memegang wajah Carolyn dan menatapnya. Carolyn menunduk menghapus air matanya.


"Nona, dengarkan aku,"


Carolyn terdiam.


"Aku hendak membuktikan sesuatu, tapi kau harus menunggu, kalau kau sekarang menganggapku asisten begitu juga denganku menganggapmu majikan, maka aku akan membuat kita menganggap diri kita masing seperti pria dan wanita. Aku yang akan memperjuangkannya," tutur Xelino membuat Carolyn bertanya tanya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Tidak ada, kau tunggu saja. Kali ini aku minta maaf, aku minta maaf, semoga kita bisa terus berteman," kata Xelino lagi menggeleng dan tersenyum.


"Aku tidak paham maksudmu, terserah apa yang mau kau lakukan aku tidak peduli, sekarang kemudikan mobil ini!" decak Carolyn yang masih tidak mau merubah sikapnya lagi.


Xelino mengangguk tapi meraih sebuah roti di tempat di antara kursi mobil depan.


"Ini untukmu nona, Granny ku yang membuatnya tadi pagi, masih hangat! Dia menyuruhku memberinya padamu, roti isi cream cheese, kau pasti suka, kau mau menerimanya kan?" kata Xelino menyerahkan roti bulat itu.


Carolyn memperhatikan roti bulat kecil itu. Tampak menggeliurkan tapi dia harus jaga harga dirinya.


"Taruh saja di situ, aku tidak lapar," dengus Carolyn berpura pura berdalih.


"Baiklah, aku akan memberimu dua, nanti dimakan ya?"


"Hem,


Xelino tersenyum. Wajah Carolyn sangat menggemaskan. Tanpa sadar Xelino ingin mengecup dahinya tapi Carolyn memalingkan wajahnya tak ingin. Cukup sudah semua kata kata merendahkan dan meremehkan itu. Xelino paham dengan prilaku Carolyn. Dia tidak mempermasalahkan dan kembali ke kursi depan.


...


Sesampainya di Venta Property, Carolyn langsung turun dari mobil. Xelino melihat ke belakang dan sepertinya roti ya ia berikan dibawa oleh Carolyn. Xelino sedikit lega dan menjalankan mobilnya ke kantornya. Dia tidak boleh terlalu memaksa Carolyn, nanti sore dia akan mengajak Carolyn makan di Atkinson de Angel dan sudah mengatur pertemuan dengan Claudia dan Lexa.


Tadi malam, Claudia dan Lexa sudah kembali dari desa. Lexa secara terang terangan menyuruh Xelino berkata jujur mengenai pekerjaannya. Akhirnya Xelino sudah mengatakannya. Claudia yang membelanya ketika Lexa mengungkapkan kekecewaannya. Namun, mereka sudah kembali berbaikan. Pagi pagi sekali Claudia dan Lexa membuat roti untuk Xelino dan Carolyn. Xelino juga sudah menceritakan pertengkaran kecilnya dengan Carolyn jadi mereka berdua hendak berpura pura bertemu secara tidak sengaja di Atkinson de Angel untuk membuat Carolyn bahagia.


Carolyn sampai di ruangannya dan sudah membasahi wajahnya. Wajahnya memerah dan dia sangat mengantuk juga sedikit lapar. Dia tersenyum tipis melihat roti pemberian Xelino. Carolyn meraih dan memakannya. Dia senang kalau ternyata Xelino masih sangat memperhatikannya.


"Rubah jahat, baiklah, aku yang akan membuatmu mengatakan cinta padaku lebih dulu!" Dengus Carolyn sambil memakan kedua roti itu.


"Carolyn!" Panggil Grizel dan Lila tiba tiba.


Carolyn menoleh dan dua temannya itu terkejut melihat wajah Carolyn yang agak membengkak akibat menangis.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Grizel.


"Tidak apa apa, apa yang kalian inginkan?" Carolyn kembali bertanya.


"Hari ini kita ke pembangunan klien pertama. Kita bertiga harus ikut. Apa Xeli oppa bisa mengantar?" selidik Grizel.


"Mengapa harus bersamanya?! Kita naik taxi atau meminjam mobil bibiku saja!" decak Carolyn menutupi kesedihannya karena Xelino.


"Ada apa kau dengan Xeli oppa?" tanya Grizel lagi curiga.


"Bukan urusan kalian! Sudah sana, aku sedang tidak mood!"


Ketika itu, Rietha baru saja tiba dan mendengar rencana kegiatan mereka. Rietha pun memberitahu Ansel agar bisa mengantar Carolyn ke area kontruksi. Setelah itu Rietha sengaja tidak menampakan dirinya pada Carolyn dengan alasan rapat dengan team lain.


...


lanjut di bawah ya 😁

__ADS_1


tetap LIKE dan KOMEN yaa 😊


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2