Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 41


__ADS_3

Semua menjadi sangat tegang ketika akhirnya Rika, ibu dari Dion, Nyonya besar Leon menghampiri Dion dan Viena yang sedang bersih tegang di sebuah kamar. Leon pun ikut khawatir karna tidak biasanya Nyonya besarnya benar benar ikut campur dalam urusan anaknya.


"Leon, ikuti Nyonya besar, perhatikan saja dari luar kamar kalau kalau terjadi sesuatu kau langsung bertindak." Perintah Jeremy yang akan salah jika dia yang menghampiri istrinya. Rika pasti akan melarang dirinya untuk mendampinginya.


"Baik Tuan Besar!" Jawab Leon menundukan badannya dan mengikuti Rika.


Sementara Lexa yang berada di samping Egnor sudah menyatukan tangannya panik. Dia menundukan kepalanya pasrah melihat apa yang akan terjadi dengan majikannya.


"Lexa, ikuti!" Perintah Egnor singkat.


"Ah iya Tuan, ta - tapi?!" Kata Lexa terbata agak takut mengikuti Nyonya besarnya Leon itu.


"Kau mau terjadi sesuatu dengan bos mu hah? Kau mau bertanggung jawab?" Egnor memberikan sebuah pertimbangan yang berakibat.


"Ti - tidak Tuan, tapi itu privasi mereka. Aku aku --"


"Ada Leon di sana, bukankah dia pacarmu? Dia yang akan bertanggung jawab atasmu, sudah sana cepat!!" Paksa Egnor mengarahkan kepalanya ke Leon yang sudah berjalan makin menjauh.


"Tuan Egnor, dia bukan pacarku.."


"Lantas? Calon suamimu? Cepaaattt!!!!" Egnor sudah tidak sabar.


"I - iya Tuan!!" Lexa lalu menundukan badannya ke arah Egnor dan Johanes yang ada di samping Egnor. Dia lalu menyusul Leon untuk melihat keadaan majikannya..


Leon sudah berada di koridor hotel yang dekat dengan kamar pribadi Dion. Dia melihat Nyonya besarnya di depan kamar pribadi Dion dan mendengarkan beberapa teriakan cacian yang mungkin keluar dari mulut Viena atau Dion. Teriakan teriakan cacian tidak jelas itu cukup terdengar keluar. Untung saja kamar pribadi itu terdapat di pojok ruangan lantai 1 jadi tidak banyak orang yang melewati dan tidak banyak kamar yang bisa di sewa.


"Hosh, hosh! Mengapa kau berjalan cepat sekali?! Aahh, gaun ini benar benar membuatku sulit berjalan!" Lexa menepuk pundak Leon dan merutuki gaun barunya itu.


"Lexa? Mengapa kau mengikutiku? Baru sebentar saja aku meninggalkanmu, kau sudah rindu seperti ini.." kata Leon menaik turunkan alisnya menggoda.


"Rindu apa?! Ini perintah, sama saja sepertimu menjalankan perintah, entah kapan kita akan memberikan perintah! Argh, aku tidak mau menguntit seperti ini Leon! Ini menganggu privasi! Biarkan saja mereka berbincang bincang dulu. Mereka pasti tahu apa yang mereka putuskan, kadang kadang Tuan Egnor itu keras hati sekali! Pantas saja sampai sekarang dia belum mendapatkan pacar! Huh!!!!" Lexa merutuki dirinya dan juga orang yang sudah menganggapnya menjadi anak angkatnya.


"Tit! Sudah kurekam semua yang kau ucapkan Lexa, kalau suatu saat kau tidak menurutiku, aku akan adukan pada pengacara sangar itu kalau kau ini selalu mengatainya!" Kata Leon yang malah membuat Lexa semakin geram.


"Musang tengik! Kau seharusnya membelaku, bukannya malah mau menyerangku!" Lexa memukul punggung Leon.


"Aku memang selalu ingin menyerangmu kelinci makanan malam ku." Leon lalu menempelkan diri pada Lexa dan menyandarkan tubuh wanita itu ke tembok.


"Apa yang mau kau lakukan?!" Selidik Lexa.


"Menciummu karna kau sangat berisik! Aku akan menyadarkanmu kalau beginilah pekerjaan kita Lexa. Apa kau tidak menyadari kalau Nona Viena sudah seperti kakak atau ibu kandungmu hah? Ini bukan masalah privasi, ini masalah empati Lexa. Lebih baik kau diam di belakangku dan bersiaga jika terjadi sesuatu yang sangat memgkhawatirkan, oke?" Kata Leon lalu kembali ke posisi awalnya.


Seketika Lexa terperangah dengan perkataan Leon yang sangat dewasa.


"Sepertinya musang ini salah makan mangsanya, otaknya agak encer, hihihii!!" Lexa terkekeh pelan. Dia akhirnya mengikuti Leon melihat situasi yang ada.


Sepertinya keadaan masih belum terlalu mencekam. Rika masih bertandang dalam diam di depan kamar Dion yang membawa Viena. Sementara Lexa mengendusi indera penciumannya pada punggung Leon yang malam itu tampil cukup menawan dan fashionable. Leon mengenakan setelan jas berwarna biru dongker bermotif kotak kotak bergaris hijau. Leon memang selalu tampil percaya diri dan memukau selain pekerjaannya yang patut diacungi jempol.


"Leon, kau menggunakan parfum apa?" Tanya Lexa kemudian.


"Tak tahu." Jawab Leon sekenanya dan masih memperhatikan Rika.


"Bagaimana kau tidak tahu parfum sendiri yang kau gunakan musang busuk?! Tidak masuk akal!" Decak Lexa yang kini berdiri tegap melipat tangannya di depan dadanya kesal mendengar ucapan masa bodoh pria idamannya.


"Aku memang tidak tahu, aku tidak punya parfum, harum jas ku karna pewangi laudry kau tahu?! Seorang pegawai wanita cantik yang memilihkannya untukku. Katanya cocok untukku. Bagaimana, kau suka?" Leon menoleh sesaat ke arah Lexa yang sedang cemeberut.


"Tidak! Kampungan!" Jawab Lexa yang sebenarnya ia merasa cemburu dengan perkataan Leon.

__ADS_1


"Halah, bilang saja kau cemburu. Sudahlah Lexa bisa tidak kita melanjutkannya nanti? Aku akan menyewa satu kamar malam ini untuk kita berbicara sepuasnya, sekarang lihat dulu Nyonya Rika sudah masuk ke dalam kamar.." kata Leon yang mulai panik karna Rika sudah memasuki kamar anaknya.


Leon dan Lexa terus memperhatikan. Pintu kamar tidak tertutup sehingga Lexa dan Leon pun dapat mendengar apa yang Nyonya besar itu katakan. Setelah mendengar kata kata yang dikeluarkan dari mulut Rika, Lexa meneteskan air matanya.


"Lexa? Kau jangan menangis!" Leon yang menyadiri air mata Lexa yang turun langsung merangkul lehernya.


"Mengapa Tuan mu begitu jahat Leon? Apakah nyonya ku sehina itu? Nyonyaku bahkan melebihi malaikat. Aku belum pernah bertemu wanita sebaik dan setulus dirinya. Aku pun tahu kalau tuanmu itu sudah mengambil mahkotanya kan? Tuan mu malah memilih wanita jalang itu, bahkan dia tidak mau mendengarkan ibunya. Kasihan sekali Nyonya Viena." Lexa menangis.


Lexa sangat mengerti kalau Viena begitu mencintai bahkan mengasihi Dion. Kata Viena, kasih merupakan segala galanya dari hanya sebuah cinta. Kasih itu rela berkorban dan memberi secara tulus iklas. Begitu yang nyonya nya katakan padanya. Lexa tidak akan pernah melupakan kata kata bijak majikannya itu.


"Tenanglah Lexa. Percaya padaku Tuan Dion juga mencintai nyonya mu. Dia begini karna Nyonya Pevi sakit. Itu saja.."


"Dia tidak sakit! Buktinya dia selalu berjalan jalan dengan Tuan Anthony, aku pernah melihatnya. Dan, lagi mengapa Tuan Anthony yang begitu mengagumkan itu menyukai si jalang itu?!! Dunia ini tidak adil!!" Decak Lexa mencoba menghapus perlahan air matanya yang jatuh dengan tangannya agar tidak melunturkan riasan wajahnya.


"Mengagumkan apa? Tidak ada yang perlu kau kagumi dari pria itu, buktinya dia memilih nyonya jalang itu kan?!" Lagi lagi Leon sedikit kesal dengan Lexa yang memuji pria lain.


"Ya benar Leon! Dia sudah tidak mengagumkan lagi, dia hanya pria bodoh yang menyukai wanita bodoh, ya kan?!" Akhirnya Lexa menyadari.


"Ya benar pria bodoh! Lebih baik aku kan?!" Kata Leon lagi menyeringai.


"Jauh Leon. Kau yang terbaik, tenang saja!!" Lexa menepuk nepuk lengan Leon yang mana dia juga menyadari kalau pasangan asistennya itu mulai kesal lagi dia memuji pria lain. Lexa lalu mengutuki kepala Leon setelah Leon kembali melihat ke arah kamar.


"Sudah kau jangan menangis!!" Perintah Leon dan mereka kembali mengawasi.


Tak berapa lama Rika keluar dan memergoki Leon dan Lexa yang mengawasi dari kejauhan. Leon dan Lexa langsung menundukan badan mereka memberi hormat pada Rika.


"Leon, kau urus majikan mu jangan sampai melakukan hal yang gegabah!" Perintah Rika dan menundukan kepalanya ke arah Lexa bermaksud ijin pergi. Lexa dan Leon pun juga menundukan badannya lebih rendah lagi menghormati kepergian Rika.


Tak berapa lama setelah kepergian Rika, Viena pun keluar dari ruangan. Lexa hendak menghampiri dan melihat Viena yang menahan satu tangannya pada daun pintu karna hendak terjatuh. Lexa dan Leon langsung menghampirinya.


"Nyonya, kau baik baik saja?" Tanya Lexa memegang lengan Viena.


"Tentu tentu Nyonya, ayo Nyonya kubantu.." kata Lexa dan mulai memapah Viena.


"Leon aku antar Nyonya dulu.."


"Ya ya sudah sana, nanti aku akan menjemputmu di aparteman Nyonya Viena."


"Ya ya kau hati hati juga ya, urus tuanmu dengan benar!" Lexa memperingati dan Leon memasuki kamar hotel.


"Lexa!" Viena menegur.


"Biar saja Nyonya, kalau Leon berani, biarkan dia memukul kepala tuannya biar otaknya benar, ayo Nyonya .. " decak Lexa dan memapah Nyonya nya menuju ke mobilnya.


Lexa sudah memberitahu Egnor kalau dia sudah lebih dulu di mobil bersama Viena. Sesampainya di mobil, Viena langsung menyandarkan kepalanya di sisi kaca mobil. Tak lama Egnor datang dan melihat keadaan Viena yang terdiam di kursi belakang mobil. Dia hanya mengelus puncak kepala adiknya dan tidak mau menanyainya dulu.


"Lexa, kau antar Nyonya ya? Aku menggunakan mobil lain. Tuan Jeremy meminjamkannya. Sepertinya Viena butuh sendiri dulu. Aku jadi bingung aku harus bagaimana. Bertindak gegabah pun tidak ada gunanya. Mereka berdua saling menginginkan tapi tidak bisa meruntuhkan ego mereka masing masing." Kata Egnor mengusap dahinya sedikit frustasi mengenai adiknya.


"Ya Tuan, mau bagaimana lagi, begitulah percintaan mereka sangat rumit. Kau harus hati hati Tuan membina sebuah hubungan ini.." Lexa menepuk nepuk pelan punggung ayah angkatnya itu untuk memecahkan kepeningannya.


"Kau benar Lexa. Aku memang sedang membina sebuah hubungan tapi aku harus berhati hati kalau kalau dia kabur lagi dari genggamanku, rasanya sungguh menyiksa." Jawab Egnor mulai memberithu kisah cintanya.


"Nyonya Claudia?" Lexa menerka.


"Kau tahu dari mana?" Egnor menoleh tajam.


"Lewat novel yang kubaca dengan judul Satu Satunya yang Kuinginkan." Lexa bergurau.

__ADS_1


"Bicara apa kau? Bicara yang benar siapa yang memberitahumu? Viena?"


"Eng eng," Lexa menggeleng dan Egnor menunggu jawaban.


"Calon ibu angkatku sendiri yang mengatakannya padaku. Waktu dia menghubungiku soal kasus Gabriel, dia membicarakanmu dengan semua kekagumannya kepadamu. Sepertinya dia juga menyukaimu. Jadi kau harus menjaganya." Lexa memberi pesan dengan lagi lagi menepuk punggung Egnor.


"Sejak mengenal Leon kau menjadi lebih pintar ya Lexa? Baiklah, kau terus lah dekat dengannya. Kalau jodoh tak akan mana." Kata Egnor yang kini menghadap ke Lexa.


"Mari kita berjuang untuk cinta kita, Dad?" Kata Lexa menyemangati.


"Ya!" Egnor mengelus puncak kepala Lexa. Egnor tersenyum bangga dengan anak angkatnya. Tidak salah dia memberikan wanita ini untuk menjadi tangan kanan Viena.


"Sudah, antar calon Nyonya Prime itu. Aku juga yakin dia akan tetap bersanding dengan pria bodoh itu. Hati hati!" Pesan Egnor dan Lexa mengangguk. Egnor lalu kembali menuju Hotel untuk mengantar ayah dan aunty nya. Sementara Lexa beranjak mengantar Viena.


Ketika mobil melaju, Viena tertidur dan Lexa memang tidak berniat mengajaknya bicara. Sudah cukup kepenatan yang dialami tuannya. Dia melajukan mobilnya dengan sedikit lambat karna gaun yang ia gunakan juga agak menganggu. Dan akhirnya mereka tiba di apartemen dengan Leon yang sudah ada di lobby apartemen Viena.


"Lho? Leon? Mengapa kau sudah ada di sini?" Tanya Lexa membantu Viena yang berjalan dengan gontai.


"Tuan Dion tidak mau pulang, dia mau di sana saja lalu dia mengusirku. Dia ingin sendiri jadi aku kesini saja. Tuan Jeremy mengemudikan mobilnya sendiri katanya ingin menenangkan Nyonya Rika. Jadi, selanjutnya urusan hatiku padamu."


"Cih, hati! Sudah Lexa, aku bisa jalan sendiri ke kamar. Kau lebih baik bersama asisten si tuan bodoh itu. Kurasa asistennya lebih pintar darinya. Hem!" Viena menyela pembicaraan Lexa dan Leon lalu menuju ke kamar apartemennya.


"Tidak Nyonya! Aku akan mengantarku, Tuan Egnor sudah memerintahkan kepadaku." Lexa menyusul Viena setelah memberikan umpatan pada Leon.


"Lexa! Aku mau jalan sendiri! Lebih baik kau hargai hati pria itu kalau tidak dia akan menjadi pria yang bodoh seperti majikannya, sudah sana!" Perintah Viena dingin. Lexa akhirnya menyerah. Dia membiarkan majikannya jalan menuju kamar apartemennya sendirian.


"Hah liat perbuatanmu, wanita malang itu menjadi sedih! Untuk apa kau membicarakan hati hati cinta cinta di depannya?! Dasar musang bodoh bodoh!!! Aku gemas sekali padamu!!!" Decak Lexa dan memukul mukul lengan Leon.


"Aku tidak sengaja Lexa, maaf. Dan lagipula dia tidak membenciku, dia malah memujiku. Hatiku terasa sejuk mendengarkan pujian dari wanita sebaiknya." Kata Leon dengan tersenyum sumringah.


"Jadi sana, kau dekati saja Nyonya ku itu, jangan mendekatiku! Lama lama otakku ikut memanas!" Lexa merajuk sambil berjalan menuju keluar apartemen, namun nampaknya dia terlalu gegabah sehingga hells yang tak seberapa tingginya itu menginjak sibakan gaun bawahnya sehingga ia hendak terjatuh.


Leon menyadarinya dengan sigap menarik tangan Lexa dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Hati hati!" Kata Leon kemudian ketika Lexa mendongakan kepalanya menatap wajah Leon yang penuh tanggung jawab dan kesigapan. Rasanya Lexa ingin berada dalam pelukan itu selamanya.


...


...


...


Tbc.


Next part 42 tapi sebelumnya akan ada giveaway ya memperingati kesuksesan dari novel ini yang sudah RESMI DI KONTRAK oleh MANGATOON yeaayy 🎉🎉🎉🎉 xie xie trimakasih trimakasih kangsahamida (ga bs nulisnya) harigato gozaimaass wakakk mas leon? Wakakak


.


Oke ditunggu postingan selanjutnya ya 😁😁


.


Silahkan tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE (pengguna Noveltoon)


Kasih rate di depan profil novel dan tip juga boleh


.

__ADS_1


Thanks for read and love youu alll 💕💕


__ADS_2