
"Kakak! Kau sudah siap?" Tanya Angel memasuki apartemen Leon yang tidak terkunci.
"Aku di kamar! Kau dengan siapa? Kenapa kau yang menjemput?" Kata Leon masih mengancingkan kemeja putihnya.
"Denganku lah!" Saut Jerry ikut masuk ke apartemen mengikuti Angel ke ruang tengah.
"Ah Tuan Jerry, maaf merepotkan! Dimana Ben dan Jimmy, Angel?" Leon merasa tidak enak dengan Jerry dan kembali bertanya pada adiknya.
Jimmy akhirnya bekerja di Hotel Prime. Dia menggantikan posisi Ben dulu. Dengan upah cukup besar dan sedikit dilebihkan Leon, Jimmy sangat menikmati suasana kekeluargaan di Hotel Prime. Dion juga menerimanya dengan senang hati. Dan, Renzy yang selalu memperhatikan kondisi Solane. Solane sudah melahirkan seorang anak perempuan yang kini berusia 4 bulan. Namun, terkadang Solane dipanggil Lexa jika ia berkenan menjadi model iklan.
"Ben dan Kak Abby menjemput pengantinmu! Kak Jimmy membantu mantanmu mengurusi anaknya lah, kau ini. Anak mereka masih kecil tapi mereka tetap ingin menjadi bride maid mu!" Angel menjelaskan dengan sedikit penekanan.
"Angel, perhatikan kata mantan!" Jerry memperingatkan.
"Ups! Terlalu bersemangat Tuan!" Angel terkekeh sambil menutup mulutnya.
"Dia memang tak sopan Tuan, aku heran kau menyukainya!" Decak Leon masih di dalam kamar.
"Kekasihku ini memiliki selera yang tinggi kak Leonnn!! Sudah cepat keluar! Kau harus tiba lebih dulu lho!!"
"Lexa dimana?" Tanya Leon mengingat calon pengantinnya.
"Di flatnya lalu dimana?"
"Dia tidak jadi menginap di hotel prime?"
"Dia tidak mau, ya kan Tuan Jerry?
"Iya Leon, Lexa juga tidak ingin di rumahku. Dia mau di flatnya karna dia akan meninggalkannya. Dia juga mau berpesta lajang bersama papinya dan kedua orang tuamu. Sekarang Lexa bersama ibumu. Ayahmu dan dad ku sudah lebih dulu ke gereja." Tambah Jerry menjelaskan.
"Hem, entah mengapa akhir akhir ini Lexa menjadi sensitif sekali. Kemarin dia juga sempat memarahi Nyonya nya hanya karna jas si kecil Dior belum dibeli. Padahal Dior belum berusia 2 minggu!" Kata Leon dengan nada cemas.
"Kemarin saja bungaku dilempar, katanya dia mau semuanya putih, aku tidak sengaja meletakan bunga merah." Tambah Angel juga ikut cemas.
"Sudahlah, Lexa hanya tegang karna akan menerima serangan kakakmu, Angel!" Saut Jerry merangkul Angel.
"Tuan Jerry, kau ini!!" Angel sedikit menghempaskan wajah Jerry yang hendak ditempelkan pada pipinya.
"Hahaha, bisa saja kau Tuan! Kau belum menyerang adikku kan?" Balas Leon dan keluar dari kamarnya.
"Untuk sekarang belum, tapi kalau dia terus merayuku, aku tidak tahu!" Jerry terkekeh dan menoleh ke arah Leon.
"Waaahh Kak!! Kau tampan sekali!" Angel berdecak kagum.
"Benar Leon, kau tampak keren!" Tambah Jerry.
"Baiklah, aku sudah siap! Bagaimana dasi kupu kupu ku ini Angel?" Tanya Leon meminta saran adiknya.
"Keren! Pas!" Angel mengulurkan kedua ibu jarinya.
"Eng, tapi kau tumben sekali mau mengenakan dasi kupu kupu kak! Waktu itu kau sampai bertengkar dengan mom karna kau tidak mau mengenakan dasi kupu kupu ketika kau wisuda." Angel mencoba mengingat.
"Ya, karna Lexa ingin sekali aku mengenakan dasi kupu kupu, aku hanya ingin membuatnya terus tersenyum selama acara pernikahan ini." Ucap Leon sambil memegang dasinya.
"Luar biasa Leon! Aku bangga merestui hubunganmu dengan saudara angkatku! Baiklah, ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Jerry sudah berdiri dan menepuk bahu Leon. Leon mengangguk pasti dan mereka keluar dari apartemen menuju ke gereja.
...
"Lexa! You great! You like queen! Fabulous!" Puji Abby menautkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Kau berlebihan Abby, kau membuatku tambah gugup!" Balas Lexa dengan wajahnya yang menegang.
"Aku serius, ya kan Bibi Jane. Calon menantumu sungguh menakjubkan kan?" Abby meminta Jane memberi saran.
"Benar sayang. Kau begitu cantik. Pasti ibumu senang sekarang melihat dirimu dengan paras seperti bidadari dan gaun pengantinmu yang begitu serasi dengan tubuhmu. Aku sungguh terkagum Lexa." Jane mendekatkan dirinya pada Lexa dan memegang kedua pipi Lexa.
"Thankyou mom! Aku gugup, aku gugup sekali! Leon pasti juga sangat tampan, aku tak kuasa hendak melihatnya mom!" Lexa memegang pergelangan tangan Jane.
"Tenanglah, semua akan terjadi. Restu Tuhan ada pada kalian." Jane memegang dahi Lexa.
"Baiklah Bibi, Lexa, ayo kita ke gereja!" Sela Abby karna melihat Lexa sudah siap dan bergegas menjuju gereja.
"Tunggu Abby, aku benar benar tak kuasa. Seluruh telapak tanganku berkeringat. Bagaimana kalau aku lupa mengucap janji pernikahannya?" Lexa menunjukan telapak tangannya yang basah.
__ADS_1
"Kau kan bisa membaca teks!" Abby mengingatkan.
"Oh iya! Ah aku benar benar gugup mom!" Lexa menatap sayu Jane.
"Sebut nama ibumu. Itu yang dipesan ayahmu padaku kemarin. Dia khawatir akan dirimu jadi dia memesankannya padaku." Kata Jane mengelus lengan Lexa.
"Oh benar. Sebentar mom, Abby, one minute!" Pinta Lexa dan dia mulai menyatukan kedua tangannya berdoa.
"Mami Rose. Plis dampingi aku. Aku akan menyatu dengan pria yang sangat kucintai selama ini. Dia mengubah pandangan dan kehidupanku. Dia selalu memperhatikan setiap kelemahan dan kekuranganku. Dia menerima dengan sepenuh hati maka restui kami mami. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Tuhan lindungi kami. Amin!" Lexa agak sedikit tenang. Dia mendongakan kepalanya dan menatap pasti Jane dan juga Abby.
Abby dan Jane lalu membantu Lexa keluar dari butik pengantin itu. Mereka akan mengadakan pemberkatan di Gereja dan mengadakan resepsi di pantai tempat pertama kali Leon mengajak Lexa kencan.
Lexa sudah menaiki mobil. Dia duduk di belakang bersama Jane sedangkan Abby dan Ben di depan. Namun, sebelum Ben menjalankan mobilnya, Leon menghubunginya. Entah perasaan dari mana, Leon ingin sekali mendengar suara Lexa sebelum mereka bertemu di altar.
Leon : "Lexa?"
Lexa : "Ya Leon?"
Leon : "Kau baik baik saja?"
Lexa : "Sedikit gugup. Bagaimana denganmu?"
Leon : "Aku sungguh merindukanmu. Cepatlah sampai aku menantikanmu!"
Lexa : "Kau ini Leon, kau membuatku hendak menangis!!"
Leon : "Tenanglah, kita akan segera menikah dan tidak lagi terpisah seperti ini. Selalu melihatmu ketika aku membuka dan menutup mata untuk mengawali dan mengakhiri hari. Aku mencintaimu."
Lexa : "Musang gombal!"
Lexa mencoba menghela napasnya.
Lexa : "Baiklah, kelincimu akan datang. Tunggu ya?"
Leon : "Ya, hati hati dijalan, katakan pada Ben agar mengemudi dengan benar!"
Lexa : "Baiklah, sampai jumpa!"
Lexa mematikan panggilan dan memberikan ponsel Ben pada Abby karna Ben sudah menjalankan mobilnya. Kini perasaan Lexa semakin tenang dan tidak merasa gugup lagi karna telah mendengar suara calon suaminya, calon teman hidupnya selamanya.
...
"Biarkan dia satu hari ini menjadi pangeran Dion, kau jahat sekali!" Kata Viena memukul kecil pipi suaminya.
"Aku ingin muntah Viena, lagaknya itu benar benar seperti siapa tuh, rapper kesukaannya, yang sering dia nyanyikan di kantor dengan tidak jelas!!" Decak Dion belum terima.
"Choi Seung Hyun!"
"Bukan! Nama panggungnya!"
"Kau sering mendengarkan lagunya juga ya? Aku lupa siapa namanya, aku hanya menonton filmnya!" Koreksi Viena.
"Eennggg Top Viena!" Akhirnya Dion mengingat nama singkat itu.
"Oh iya, lihatlah dia benar benar top Dion, haha!" Saut Viena sekenanya.
"Kau jangan memuji di depannya Viena, dia bisa terus mengucapkan terimakasih padamu!" Dion memperingatkan.
"Iya kau tenang saja! Kalian ini asisten dan bos seperti kucing dan tikus!" Viena mengelus pipi Dion karna merasa lucu melihat wajah suaminya yang meggemaskan jika sedang menghina Leon.
"Dia yang selalu mengesalkan!" Dengus Dion.
Hahaha! Viena tertawa dan menunggu kedatangan Lexa.
Leon sudah berdiri di sana dengan tangannya berpautan satu sama lain. Dia menunggu memepelainya. Ada sedikit rasa gugup. Dia membayangkan Lexa bak ratu kerajaan yang begitu anggun dengan wajahnya yang sederhana dan pasti sangat merona pikirnya. Tak berapa lama sebuah iringan piano telah berdentum. Instrumental lagu Endless Love mengalun lembut menyambut kedatangan Lexa dan ayahnya.
Selama ini ayahnya, Alexis sudah berlatih berjalan agar ia kuat ketika pernikahan Lexa dan dapat mengiringinya sampai depan altar. Di sanalah saat di mana dia harus menyerahkan anaknya kepada lelaki yang akan menggantikan tugasnya.
Lexa sudah di daun pintu bersama Alexis. Dari kejauhan Leon sudah tersenyum sangat manis. Leon benar benar tak sabar. Sementara Lexa dengan gaun indahnya dan begitu royal masih menunduk. Dia kembali gugup.
"Leon mencintaimu Nak, jangan gugup. Tunjukan wajahmu! Aku disini memegang tanganmu!" Kata Alexis mencoba menenangkan anaknya. Lexa lalu menoleh sedikit ke ayahnya. Ayahnya benar, Lexa harus tersenyum karna ini yang diinginkan Leon. Leon sudah menuruti semua keinginannya. Akhirnya Lexa siap. Mereka berdua berjalan menyusuri jalan antara kursi tamu menuju ke altar.
Semakin dekat dan dekat. Akhirnya Alexis menyerahkan tangan anak semata wayangnya pada Leon. Pria yang menggantikan tugasnya dan istrinya ketika Lexa sendiri.
__ADS_1
"Leon, ini tangan putriku. Tolong, jangan pernah lepaskan genggaman tanganmu pada tangan anakku ini atau aku yang tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri!" Kata Alexis menyatukan tangan Lexa dan Leon. Lexa sudah meneteskan air matanya.
Di sisi lain dia tidak menyangka kalau dirinya akan benar benar didampingi oleh ayahnya sendiri. Padahal dia sempat berpikir Larry atau Jeremy atau Johanes yang akan mendampinginya sampai ke altar.
"Pasti Dad! Aku akan berjanji di hadapan Tuhan!" Pekik Leon yakin dan membantu Lexa menaiki altar.
Kini mereka berdua berdampingan. Mereka saling bertatapan. Leon menyapukan pipi Lexa yang sudah meneteskan air mata dengan ibu jarinya dan dia tersenyum. Lexa akhirnya juga tersenyum dan matanya melirik ke arah dasi kupu kupu yang Leon kenakan.
"Dasimu sungguh membuatku semakin terpesona dan sepertinya aku tidak mau mengenal pria lain lagi Leon." Ucap Lexa pelan. Leon semakin melebarkan senyumnya.
"Apapun untukmu hari ini aku ingin kau terus tersenyum Lexa. Pada akhirnya aku bisa memberikan keluarga yang lengkap untukmu." Balas Leon tak kalah mengungkapkan kata kata indah yang membuat Lexa semakin tenang mengikuti upacara pemberkatan pernikahan ini.
Sang pendeta sudah hadir di antara mereka. Ayat ayat suci sudah beliau kumandakan. Lexa dan Leon sudah meresapinya dalam hati mereka. Di mana suami istri harus saling menghormati satu sama lain. Lexa menggenggam tangan Leon dengan sangat erat. Leon merasakan kalau Lexa terbawa perasaan mengenai ayat tersebut. Leon pun menepuk nepuk punggung tangan Lexa agar tidak menangis.
Akhirnya tibalah mereka mengatakan janji pernikahan mereka. Abby sudah memberikan cincin pada Leon terlebih dulu untuk dipasangkan pada jari Lexa sambil mengatakan janjinya.
"Di hadapan Tuhan, orang tua, saksi dan para hadirin yang terkasih, saya Danteleon Janson dengan niat yang suci dan ketulusan hati, menerima engkau, Alexa Luxurio, menjadi istri saya. Saya akan melindungi dan menjaga engkau dan selalu beriringan dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, untung maupun malang dan akan menjadi ayah yang baik untuk anak anak yang Tuhan percayakan pada kita. Maka dari itu, kenakanlah cincin ini sebagai tanda cinta kasihku padamu." Kata Leon tanpa mengalihkan pandangannya pada mata Lexa. Dia mengatakannya dengan mata yang berbinar binar dan akhirnya dia mengenakan cincin pernikahan itu pada jari manis Lexa.
Lexa benar benar tak kuasa. Dia kembali menangis. Dia merasa ini mimpi karna pada akhirnya dia menikah dengan Leon.
"Nona Alexa, sekarang giliranmu!" Kata Pendeta yang melihat Lexa masih tertegun. Sementara Leon sudah mengeratkan pengangan tangannya lagi ke Lexa agar tersadar dari keterharuannya.
Abby kembali menyerahkan cincin pada Lexa.
"Di hadapan Tuhan, orang tua, saksi dan para hadirin yang terkasih, saya Alexa Luxurio dengan niat yang suci dan ketulusan hati, menerima engkau, Danteleon Janson, menjadi suami saya." Seketika hati Lexa bergetir mengatakan Leon sudah menjadi suaminya. Dia terdiam dan akhirnya menangis. Dia tak sanggup. Jiwanya benar benar sensitif.
"Lexa, tenanglah!!" Leon menggerak gerakan tangan Lexa namun Lexa malah menutup mulutnya. Semua hadirin agak cemas.
"Aku tidak kuat Leon! Sudahlah, kau kita sudah menjadi suami istri!" Lexa sesenggukan.
"Sedikit lagi Lexa. Cincin itu belum kau kenakan padaku! Ayolah.." bisik Leon. Lexa melihat cincinnya. Dia harus bisa. Hanya sebentar lagi.
"Saya akan melindungi dan menjaga engkau dan selalu beriringan dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat, untung maupun malang dan akan menjadi ibu yang baik untuk anak anak yang Tuhan percayakan pada kita. Maka dari itu, kenakanlah cincin ini sebagai tanda cinta kasihku padamu." Kata Lexa akhirnya meskipun agak lama karna Lexa mengatakannya sambil menangis tersedu.
Lexa pun mengenakan cincin itu pada jari manis Leon dan dia langsung memeluk Leon padahal sang pendeta belum memberkati mereka.
"Leon, aku takut!!" Bisik Lexa pada pelukannya.
"Tenanglah, aku akan melakukannya dengan pelan!" Leon masih sempat menggodanya agar Lexa tidak terlalu tegang dengan semua upacara resmi ini.
"Musang mesum!" Decak Lexa pelan.
"Maka dari itu jangan memelukku dulu. Pendeta akan memberkati kita!" Bisik Leon lagi dan akhirnya Lexa melepaskan pelukannya.
"Baiklah para hadirin sekalian. Atas nama gereja dan nama Tuhan, aku memberkati kedua mempelai ini resmi menjadi sepasang suami istri. Maka kalian bukan hanya dua melainkan sudah menjadi satu dan apa yang disatukan Tuhan, hanya maut yang dapat memisahkan kalian. Silahkan cium pasangan kalian." Ucap sang pendeta.
Kini Leon sudah memegang leher Lexa dan juga pipi istrinya itu. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium Lexa dengan seksama. Lexa juga mengimbangin ciuman pria yang kini menjadi suaminya sambil menangis.
...
Gambaran Resepsi Pernikahan Lexa Leon ya besok tayang ceritanya. Nebeng visualnya dulu di sini 😁😁
...
Jiahahahaha nikah juga itu si musang dan kelinci 😁😁
Hanya di novel ini, seekor musang dan kelinci bersatu hahahay ..
.
Next part 81
Siapkan hati resepsi and first night, lho?
Wakakakakak 😍😍
.
Jangan lupa kasih LIKE dan KOMEN nya ya
Kasih juga RATE dan VOTE di depan profil novel okok??
.
__ADS_1
Thankyou for read and i lap yoouuy 💕💕