Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 1


__ADS_3

Pagi itu suasana angkasa raya agak menggelap. Sejak subuh tadi udara sudah mendingin dan matahari tak menampakan wujudnya. Langit mendung menghiasi mereka yang hendak melakukan aktivitas. Namun sepasang suami istri yang pekerjaan nya sama menjadi asisten ini tetap menjajakan kakinya menuju ke tempat kerja mereka masing masing.


Suatu dedikasi yang tinggi untuk bekerja dengan atasan atasan mereka yang selalu menghormati dan menghargai mereka. Sang istri tampak lesu kala itu. Kepalanya agak pening dan nafsu makannya berkurang akhir akhir ini. Dia menyandarkan kepalanya di sisi bangku mobil yang dikemudikan suaminya. Sebenarnya suaminya melarangnya untuk masuk. Namun, masa cuti atasan sang istri masih satu Minggu lagi dan dia harus mengikuti rapat iklan hari ini. Kalau sudah ada sebuah rapat pembuatan iklan dari klien inti dan kolega tetap, dia tidak boleh mangkir, sekalipun ada juga orang kepercayaan atasannya yang lain. Atasannya hanya paling mempercayakan dan memberikan harapan penuh padanya.


Sekitar setengah jam perjalanan dari apartemen mereka menuju tempat kerja sang istri terlebih dahulu ketimbang ke tempat kerja sang suami. Tempat kerja sang suami hanya memerlukan waktu sepuluh menit untuk tiba di sana. Di sebuah hotel bintang lima tersohor di kota Legacy. Hotel Prime. Ya, sang suami adalah asisten pribadi utama dari presiden direktur sekaligus pewaris tunggal hotel tersebut.


Sang suami sudah memarkirkan mobilnya ke basement gedung perkantoran sang istri. Dia menoleh ke arah istrinya yang ternyata tertidur di sisi belakang kursi mobilnya. Dia memegang dahi sang istrinya yang ternyata agak menghangat.


"Lexa, sayang, kau baik baik saja?" Tanya sang suami pelan. Sang istri yang bernama Lexa itu belum menyadari akan panggilan suaminya.


"Lexa, sayang? Kita kembali saja ya? Aku juga akan meminta ijin untuk libur menemanimu, bagaimana? Hem?" Tanya nya lagi mengelus pipi istrinya. Tak lama Lexa melenguh dan mencoba merenggangkan tubuhnya.


"Heemm, nyaman sekali Leon. Waktunya sangat tepat untuk bermalas malasan." Kata Lexa membuka matanya.


"Kau agak hangat Lexa, apa kita kembali saja ke ruamah?" Kata Leon agak cemas.


"Tidak Leon, aku harus mengikuti rapat. Katanya sih Nyonya Viena akan datang tapi belum ada kabar. Tuan Dion tidak memberitahumu?" Tanya Lexa kemudian.


"Dia tidak mengatakan apapun. Kau yakin akan baik baik saja?" Leon meyakinkan dengan memegang wajah istrinya.


"Yakin, kau tenang saja!" Lexa ikut membelai wajah suaminya.


"Yasudah, kalau terjadi apa apa segera hubungi aku ya?" Perintah Leon posesif.


"Iya Leon, kau khawatir sekali!" Decak Lexa tersenyum gemas pada suaminya yang akhir akhir ini memang sanga posesif padanya.


"Jaga dirimu ya? Cup!" Leon mendaratkan kecupan di kening Lexa.


"Kau juga ya? Cup!" Sedangkan Lexa mengecup pipi suaminya. Lexa pun keluar dari mobil dan menuju ke kantornya yang berada di lantai tiga dan empat.


Lexa memasuki ruang kantornya dengan agak lesu. Dia juga melipat tangannya merasakan sejuk yang menyengat tubuhnya dari pendingin ruangan yang menyala di setiap sisi kantor. Dia hendak menuju ke ruang atasannya untuk mengambil berkas berkas bahan rapat dan memeriksanya terlebih dahulu. Sudah beberapa bulan ini, Lexa bolak balik bekerja di ruangannya lalu kembali ke ruang kerja atasannya.


"Lexa, kau telat lima menit! Kau tak lihat mesin absen bersinar merah?" Kata sahabatnya, Abby, yang juga merupakan orang kepercayaan Viena, atasan mereka. Di menunjukan ke mesin absen.


"Ya, biar saja! Aku agak lemas Abby jadi aku telat bangun dan kau tahu kan Leon sekarang harus aku yang bangun terlebih dahulu!" Sungut Lexa memijit pelan bahunya.


"Hem, bilang saja Leon terlalu lelah memberikan wortel pada kelincinya, tapi seharusnya kau yang lelah kan? Agak pegal lho!" Kata Abby lagi membuka mulutnya membentuk huruf O


"Sinting! Sepagi ini kau sudah sangat mesum Abby! Kapan Ben akan menikahimu hah?! Pikiranmu semakin liar!" Umpat Lexa sembari melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Viena.


"Hey, kami sudah bertunangan, kau tunggu saja. Pernikahan ku di Padang gurun pasir, hah bagaimana? Pernikahanmu di tepi pantai itu tidak ada apa apanya Lexa!" Sindir Abby yang sebenarnya juga ingin resepsi meriah seperti Lexa.


"Ya sana kau di Padang gurun semoga tidak ada angin tornado sehingga kau tetap menatap oase sampai kau mati berdua. Jadi kalian akan tetap bersama seperti romeo dan Juliet! Tenang saja Abby, pamor ku pasti terkalahkan!" Celetuk Lexa berjalan ke arah kantor Viena.


"Cih, sombong sekali kau!" Abby menekuk wajahnya dan melipat tangannya di depan dadanya.


"Abby, Lexa, kalian berisik sekali, cepat ke ruang rapat. Team kalian sudah menunggu!" Lucy yang meja nya terdapat di samping ruangan Viena mengingatkan. Abby dan Lexa pun berpisah. Abby menuju ruang rapat sedangkan Lexa mengambil bahan bahan rapat terlebih dahulu.


Ketika Lexa hendak membawa bahan bahan rapatnya, Lexa merasa kepalanya agak pening. Dia duduk sejenak untuk menormalkan tubuhnya agar tidak terjatuh ketika berjalan lagi.


"Ada apa denganmu Lexa?" Tanya Lucy yang agak curiga Lexa agak lama keluar ruangan.


"Kepalaku agak pusing." Jawab Lexa memegang pelipisnya.


"Kau hamil?" Lucy menerka.


"Hamil? Entahlah, memang bagaimana sewaktu kau awal hamil Lucy?" Tanya Lexa pada Lucy yang lebih dulu menikah waktu itu dan tak berapa lama dia mengandung. Sekarang usia kandungannya menginjak enam bulan.


"Pusing, tidak enak badan dan yang pasti telat datang bulan." Jawab Lucy. Seketika hati Lexa sumringah. Mungkin bisa saja dirinya hamil. Dia juga sudah telat datang bulan.


"Begitu ya. Bisa saja ya? Haha. Sudah sudah aku tidak apa apa. Aku akan segera ke ruang rapat." Begitulah kata Lexa kemudian.


"Cepatlah, mereka sudah menunggu sejak tadi." Kata Lucy lagi meninggalkan Lexa.


Lexa sedikit tertegun dengan perkataan Lucy. Dia memang sudah mendambakannya. Dia ingin anak laki laki seperti Dior, anak atasannya. Dia lalu mengelus perutnya dan tersenyum. Dia harus lebih memastikannya lagi dan bertanya pada Viena. Lexa pun berjalan perlahan menuju ruang rapat.


Sekitar pukul jam 12 lebih beberapa menit rapat selesai. Lexa pun hendak kembali ke ruangan Viena. Ketika hendak melewati pintu masuk ruang kantor, sebuah kereta bayi memasuki ruangan tersebut dengan ibunya yang mendorong kereta bayi tersebut.


"Nyonya?" Panggil Lexa dan dalam sekejap, beberapa teman Lexa sudah memenuhi kereta bayi tersebut untuk melihat Dior.


"Hey hey hey, kalian sudah cuci tangan belum?" Lexa memperingati.


"Hanya melihat momxa!" Kata salah satu teman Lexa.


"Nyonya, aku pikir kau tak jadi datang." Sapa Lexa pada nyonyanya.


"Tadinya, tapi asi booster ku habis, jadi aku ke department store dekat ujung jalan sana untuk membeli pistachio cookies ku." Viena menaik turunkan bahunya.


"Memang di dekat apartemenmu tak ada?" Selidik Lexa.


"Tak ada, hanya di departemen store itu." Kata Viena seraya berjalan ke ruang kerjanya. Lexa pun mengikutinya.


Mereka berdua memasuki ruang kerja Viena. Viena mencuci tangannya terlebih dahulu di washtafel kevil samping jendela. Sejak melahirkan Dior, washtafel itu sudah terpasang. Lexa pun juga membasuk tangannya. Dia segera meraih Dior karna sudah berangsur lama dia tidak menemuinya.


"Bagaimana rapatnya Lexa?" Tanya Viena setelah menduduki singgah sana nya.


"Lancar mem! Em, kita akan melakukan shooting mulai lusa!" Jawab Lexa pelan sambil tersenyum senyum pada Dior.

__ADS_1


"Perusahaan apa?"


"Em, ini Hotel mem. Em Belleza Hotel. Kau tahu kan hotel terbaik di Honolulu setelah Dimitri Group Apartemen. Kini dia sudah membangun hotel di Legacy dan membutuhkan promosi kita." Lexa menjelaskan singkat.


"Begitu ya? Kau kerjakan dengan benar, aku akan mencari tahu dari Dion. Dia pasti tahu atau mungkin koleganya." Saut Viena hendak berperan.


"Tenang saja! Em, nyonya, ada yang ingin kutanyakan!" Tanya Lexa yang membuat dirinya gelisah sejak tadi.


"Apa?"


"Sepertinya aku sudah telat datang bulan. Sejak pagi tubuhku tidak enak, kepalaku pening dan aku tidak nafsu makan." Kata Lexa bak berbicara pada dokter.


"Kau hamil?" Viena juga menerka percis seperti Lucy.


"Mungkin? Menurutmu?" Lexa malah bertanya kembali karna dia kurang paham.


Viena menarik laci kecil mejanya dan mengambil satu testpack portable berbentuk persegi.


"Periksa sana!" Perintah Viena menyerahkan testpack di atas mejanya.


"Apa itu?" Lexa mengernyitkan alisnya.


"Testpack. Aku punya banyak, mau lihat?" Viena kembali membuka laci kecilnya memperlihatkan kumpulan testpacknya yang masih bersegel.


"Kenapa kau menyimpannya sebanyak itu?" Lexa agak terkejut.


"Haha, sejak aku kembali bertemu Dion, aku sudah menyediakannya, aku takut kalau kalau aku hamil sebelum dia menikahiku. Jadi, untuk antisipasi dan tidak perlu ke dokter." Kata Viena jujur dan tertawa kecil. Dia merasa lucu mengingat sepulang dari kepergian ibunya, Viena langsung ke apotek dan membeli semua stok testpack. Dia ingat sudah melakukan hubungan intim dengan Dion dan takut akan terjadi lagi.


"Ya Tuhan, jadi kau sudah punya insting kalau Tuan Dion akan menyetubuhimu? Iya?" Lexa benar benar terkejut dengan keliaran atasannya yang sangat tak ia duga. Pasalnya Viena memang selalu dingin dan diam diam saja.


"Itu sudah pasti! Sejak kau memberitahukan kalau Hotel Prime hendak membuat iklan, aku sudah yakin kalau si Dion mesum itu pasti akan kembali bertekuk lutut di bawahku!" Saut Viena lagi penuh percaya diri.


"Cih, mom mu begitu percaya diri Dior!" Cetus Lexa meletakan Dior kembali ke kereta bayinya.


"Buktinya sudah kau gendong dan menjadi anak angkatmu, kau tidak usah berdecih, sudah sana, gunakan testpack ini, aku tidak sabar!" Kata Viena lagi menyodorkan testpacknya lagi.


"Aku tidak mengerti menggunakannya Nyonya." Tutur Lexa meraih testpack tersebut.


"Kau bisa membaca kan? Baca petunjuknya dan ikuti Lexa! Kau ini bagaimana?!"


"Baiklah baiklah. Aku akan melakukannya." Kata Lexa dan dia keluar dari ruangan atasannya menuju ke kamar kecil.


Dia membaca dan mengikuti petunjuknya perlahan dan menggunakannya. Setelah itu dia kembali menyimpannya di dalam wadahnya untuk diperlihatkan pada nyonya nya. Dia berharap benar benar bertanda (+). Begitulah petunjuk jika sedang hamil akan menampilkan tanda (+).


Dia lalu memberikannya pada Viena. Viena membuka wadah tersebuh dan hasilnya ternyata negatif (-).


"Sayang sekali Lexa, kau harus kembali merasakan serangan dari musang liar mu itu!" Kata Viena muram dan meletakan testpack itu di atas meja.


"Ini. Kau bisa melihatnya sendiri." Viena melirik ke arah testpack.


Lexa melihatnya dan dia tampak muram. Ternyata dia belum hamil. Dia memegang megang dan terus memperhatikan testpack berbentuk kotak itu dengan wajah kecewa. Viena merasakannya.


"Lexa! Kau baru saja menikah, jangan bersedih seperti itu!" Viena berusaha menyemangati.


"Kau bisa langsung mendapatkannya, kenapa aku tidak?" Sungut Lexa menundukan kepalanya dan berjalan duduk di sofa.


"Hem, tidak semuanya sama Lexa sayang! Aku juga mendapatkan Dior setelah beberapa kali aku berhubungan dengan Dion. Sebelum menikah aku pun sudah melakukannya tanpa pengaman dan nyatanya aku tidak hamil sampai menikahkan kan? Itu semua sama saja Lexa, sudahlah jangan bersedih! Tuhan yang menentukan, kita hanya berencana! Kau pegang kata kataku! Jangan kau suruh suruh Tuhan, Dia punya takdirmu sendiri!" Viena mengingatkan.


"Hem, iya nyonya aku mengerti. Aku akan memberitahu Leon." Kata Lexa.


"Ya, Leon juga pasti tidak akan keberatan." Saut Viena.


Lexa mengangguk dan meraih tas serta berkas berkasnya menuju ke ruangannya. Lexa lalu menghubungi suaminya. Dia mengambil gambar testpack nya dan memberikannya pada suaminya.


Sementara itu di sebrang sana, Leon baru saja selesai makan siang. Tak lama dia mendapat pesan gambar dari Lexa berisikikan foto testpack hasil negatifnya.


💌LEXA


Aku pikir, aku hamil, namun nyatanya begini hasilnya sayang :(


Leon tersenyum membaca dan melihat pesan itu. Dia tidak terlalu berpikir banyak tentang semua ini. Dia hanya ingin Lexa bahagia, namun kenyataannya dia belum bisa membuat istrinya hamil.


💌LEON


Sabar sayang! Waktu kita masih sangaat sangat banyak. Jangan khawatir. I love you ❤


Hanya itu balasan Leon. Sebenarnya hatinya bergetir. Dia merasakan apa yang istrinya rasakan. Memang pernikahan mereka baru saja beberapa bulan, tapi rasanya mereka ingin segera mempunyai momongan. Ingin segera terbeban dan lebih bertanggung jawab. Begitulah yang Leon tangkap dari setiap perbincangan yang Lexa lontarkan.


"Ada apa? Mengapa setelah makan jadi tidak enak begini?" Tanya Dion yang melewati ruangannya setelah dari ruangan ayahnya. Leon mendongakan kepalanya melihat tuannya.


"Ah, ini Tuan, Lexa mengirimi foto testpack negatif." Jawba Leon sedikit muram.


"Cih, lalu kalian berpikir?" Tanya Dion lagi terkekeh.


"Begitulah, kau seperti tidak tahu Lexa saja, selalu sensitif dengan hal hal kecil." Saut Leon berbohong.


"Bagi dia itu hal besar Leon!" Dion mengingatkan.

__ADS_1


"Ya Tuan, tapi dia memang menginginkannya, dia selalu merindukan Dior dan malah kadang mau bermain ke tempatmu. Aku jadi tidak enak. Apa yang salah dari ku ya?!" Leon jadi ikut berasumsi akan dirinya.


"Apa yang salah bagaimana? Tidak ada yang salah! Seharusnya kalian nikmati kebersamaan kalian ini! Leon, kau tak suka jika harus menyetubuhi istrimu terus hah?" Dion mencoba membicarakan realistis.


"Heng, kau Tuan!" Decak Leon terkekeh.


"Berpikirnya seperti itu maksudku! Kalau belum hamil, lanjutkan, kalau hamil, bagus kan? Sudahlah, sekarang tugasmu tetap memberikannya dukungan. Begitu saja!" Kata Dion lagi melangkahkan kakinya ke ruangannya namun Renzy membuka sedikit pintu ruangan Leon.


"Tuan Dion, pemilik Hotel Belleza sudah datang." Kata Renzy menghentikan langkah Dion.


Dion menoleh


"Oh iya, suruh masuk Renzy! Leon, sambut dia!" Perintah Dion.


"Baik Tuan!" Kata Leon beranjak dari duduknya dan membenarkan jas nya.


Tak berapa lama seorang wanita berusia sekitar 38 tahunan dengan dandanan yang sangat sosialita memasuki ruangan Leon terlebih dahulu yang didampingi oleh Renzy dan seorang asistennya.


"Leon, ini Nyonya Isabella Mauren." Kata Renzy memperkenalkan pada Leon


"Bella, Renzy sayang." Wanita itu menoleh anggun pada Renzy.


"Oh maaf, ini Nyonya Bella, Leon dan Tuan Rico asistennya." Kata Renzy lagi juga mengenalkan asisten Bella seumuran Leon. Rico sedikit melihat Leon dan seperti pernah melihat dirinya.


"Selamat Siang nyonya Bella dan Tuan Rico, saya Leon asisten Tuan Dion. Silahkan masuk. Kita bicarakan semuanya di ruangan tuan Dion." Leon membungkukan tubuhnya memberi salam pada Bella dan juga Rico. Dia lalu tersenyum kepada mereka. Leon pun seperti pernah mengenal Rico.


Bella melihat Leon sesaat. Dia membuka setengah kaca mata hitamnya dan memperhatikan penampilan Leon dari bawah sampai atas.


"Perfect!" Gumamnya tersenyum tipis dan berjalan ke ruangan Dion dengan sangat elegan.


...


...


...


...


...


Jeng jeng jeng .. siapa wanita separuh tua ini? Hahaha separuh tua jahat bat lu vii, tante tante juga! Waahahahah itu lebih parah sobb 😝😝


.


Okeh, aku menyapa ya gaess 😁😁


Jadi kemarin AnJer dah merid gaes!!


Terus Vii memutuskan kisahnya Abby dan Ben terus Solane dan Jimmy bakal muncul asal asal aja di Lexa Leon ini ya? Yang jdinya nanti Lexa atau Leon bantuin mereka dah gitu 😝😝


Nah sekarang kita masuk ke ASSISTANT LOVE ASSISTANT : After Marriage yaa 😁😁


Bukan season 2 . Masih season 1 😁😁


Bagaimana kisah mereka? Yang pasti seperti biasa tetap akan ada komedi komedi, umpatan umpatan garing receh haha, romantis jelass kudu ada itu hehe pokoknya semoga vii menghadirkan sesuatu yang luar biasa dari penulis yang biasa ini 😍😍


Stay tune yaa 😊😊


.


Next part 2


Ada apa dengan lirikan Nyonya Bella?


Bella twilight vii, bukan!!!


Bella isabella mantan revo? Ya bukan lah, dia mah seumuran kali sama dion masih kece badas .. ini new karakter yang akan membombardir kancah persilatan asisten after marriage ini 😝😝


Rico siapa nya Leon nii 😁😁


Siapa y visualnya kira kira nanannanannnnaa 😍😍


jadi inget lagu LOVE SHOT EXO lagi aku haha


Duan, kapan Lexa hamil?


.


Jangan lupa kasih LIKE dan KOMEN yang banyak .. kasih juga RATE dan VOTE di depan profil novel yaa.. masuk grup viiyovii di noveltoon ini dong hhehe 😍😍


.


boleh juga mampir yuk ke karya aku yang lain


- MANTAN TERINDAH (VIENA ❤ DION)


- SATU SATUNYA YANG KUINGINKAN (EGNOR ❤ CLAUDIA)

__ADS_1


.


thanks for read and sarangeo, aisiteru, lop yu pull ❤❤


__ADS_2