Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 34


__ADS_3

Leon mengerjapkan matanya perlahan. Dia memegang dahinya yang cukup berat. Semua tubuhnya sakit. Dia menoleh ke arah nakas dan melihat jam yang tak kunjung berbunyi. Dia lalu menyadari sesuatu. Kemarin dia mabuk? Dia melihat di balik selimut dan tidak mengenakan pakaian sedikitpun. Dia belum menyadari kalau ini di apartemennya. Dia takut terjadi sesuatu pada dirinya sehingga dia bangun dari tidurnya dengan posisi duduk.


"Apa yang terjadi padaku? Di mana ini?" Leon masih menerka nerka. Tidak ada Lexa di sampingnya. Dia mengucek matanya dan mencoba menyadarkan dirinya.


Sedikit perasaan lega dan menghela napasnya karna melihat foto pernikahannya di meja tv terbingkai frame kecil. Tak lama dia merasa mendengar Isak tangis dari kamar mandinya.


"Itu pasti Lexa! Semoga aku tidak berbuat apa apa!" Decak nya dan menuju ke kemar mandi.


"Lexa?" Panggil Leon dan di sana Lexa dengan cepat mengusap wajahnya dan menegakan tubuhnya.


"Ada apa denganmu?" Tanya Leon memegang lengan Lexa. Lexa menggeleng.


Leon lalu malah memeluknya.


"Kau kenapa sayang?" Tanya Leon mengelus punggung Lexa.


"Perutku sakit Leon! Daerah keintimanku juga sakit." Keluh Lexa menekuk wajahnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Leon lagi memastikan yang terjadi.


"Semalam kita melakukannya." Jawab Lexa pelan.


"Oh Lord! Maafkan aku Lexa, aku benar benar .." Leon menarik dirinya menatap istrinya.


"Sssttt!! Tidak apa apa, aku juga senang." Lexa memotong ucapan suaminya dengan menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Leon.


"Lalu perutmu?" Selidik Leon memegang perutnya.


"Ayo kita ke rumah sakit, jangan sampai semuanya terlambat!" Tutur Lexa menghela napas dan tersenyum.


"Ya ya benar! Aku akan membersihkan diriku!" Kata Leon dan Lexa keluar dari kamar mandi sedangkan Leon membersihkan dirinya.


Lexa menghela napas lagi. Leon tidak boleh melihat nya menangis. Dia harus merubah pikirannya. Sekarang dia masih bersama Leon, jangan sampai Leon malah berpaling darinya. Dia harus lebih bisa mengkondisikan diri. Dia tersenyum kalau ternyata Leon sudah tidak seperti samalam. Semalam seperti bukan Leon. Pria itu begitu kasar dan Lexa tidak ingin terjadi lagi. Dia harus bisa merubah semua suasana duka ini. Lexa percaya kalau Leon juga kehilangan.


Lexa lalu menuju ke dapur dan menyiapkan sarapan. Dia sudah menghubungi Viena kalau hari ini dia tidak masuk. Dia ingin menciptakan perasaan baru dengan Leon dan Viena menyetujuinya. Lexa juga sudah menceritakan semua masalah semalam dengan atasan rasa teman itu. Lexa juga sudah meminta tolong pada Viena untuk mengatakan pada Dion kalau Leon juga tidak bisa masuk.


Lexa sudah menghangatkan steak semalam. Setelah Rico menghubunginya, Lexa terlebih dulu memasukan steak dan sausnya ke kulkas agar tidak basi dan besok bisa kembali di santap.


"Wwahhh Lexa, kenapa sarapan kita mewah seperti ini? Kau bangun pukul berapa?" Decak kagum Leon sambil mengeluarkan lidahnya merasa lezat.


"Perut dan ****. * ku sakit bagaimana bisa aku bangun pagi untuk membuat semua ini, belum lagi permainan mu semalam! Ah sudahlah, kau memang yang terbaik Leon!" Decak Lexa bergurau. Dia lalu mengambil air untuknya dan Leon.


"Maaf sayang, aku hilang kendali, setelah sarapan kita akan ke rumah sakit ya. Apa sangat sakit?" Leon kembali memastikan dan sudah duduk di kursi makan.


"Tidak begitu, tadi pagi aku hanya terkejut saja kalau aku kembali mengeluarkan darah dan aku ingat kejadian waktu itu Leon!" Dengus Lexa ikut duduk di samping Leon.


"Sudahlah jangan diingat!" Leon memulai makannya.


"Iya, tenang saja! Mulai sekarang aku benar benar akan melupakan semuanya. Kalau perlu kita harus program Leon." Saut Lexa mencoba bersemangat.


"Tidak usah !! Anggap saja kita belum menikah dan terus berpacaran sayang." Balas Leon tersenyum tipis.


"Aku tidak mau! Aku tidak mau pisah rumah denganmu Leon!" Lexa menanggapinya sampai harus pisah rumah seperti dulu.


"Siapa yang bilang pisah rumah? Otak mu Lexa kenapa sangat kecil ? Memang seperti kelinci!" Decak Lexa mendelikan alisnya menatap Lexa.


"Kau, musang paling liar!" Umpat Lexa lagi yang agak risih sudah menjadi istri masih memanggilnya kelinci.


"Ya, kau sudah merasakannya kan jika di ranjang!" Leon malah menanggapinya seperti ciri khasnya.


"Mesum! Sudah makan! Aku sudah meminta tolong pada Nyonya Viena untuk memberi tahu bos mu kalau hari ini kau ijin!"


"Serius sayang?"


"Ya! Kita harus ke rumah sakit dan mungkin bisa berjalan jalan di mall, bagaimana Leon?"


"Siap!" Leon tampak bersemangat dan terus menyantap steakmya. Sesekali dia melihat istrinya yang tampak ceria. Istrinya juga menyantap steaknya dengan lahap. Leon tersenyum. Semoga ini akan terus berlangsung. Leon sudah berserah saja pada yang kuasa. Jika diijinkan lagi, pasti Lexa akan kembali mengandung dan saat itulah Leon akan benar benar menjaganya. Tidak boleh kesalahan yang sama terulang lagi. Sebenarnya bukan kesalahan, semua sudah takdir yang di atas. Dia dan Lexa hanya pemeran dari semua skenario kehidupan ini.


Tak berapa lama mereka menyantap makanan, ponsel Leon berbunyi. Ibunya yang menghubungi mereka.


"Yes mam!" Lexa yang mengangkat. Dia dengan cepat meraih ponsel suaminya lebih dulu ketika mengetahui ibu mertuanya yang menghubungi.


Lexa tampak bersemangat membuat Leon mendelikan alisnya tak percaya. Ya, sepertinya Lexa sudah kembali seperti semula.


"Hay Lexa! Apa kabarmu?" Tanya Jane di seberang sana dan dia sudah tahu kalau ini suara menantunya.


"Baik mam!"


"Kau sudah baikan?" Jane kembali memastikan. Sejatinya dia mencemaskan menantunya itu.


"Sudah mom! Bagaimana kabarmu?" Lexa bertanya kembali.


"Aku luar biasa baik. Aku baru saja tiba dari kota. Angel terus menyuruhku datang ke apartemennya. Karna dia hamil jadi Jerry menginginkannya ada di kota." Jawab Jane menjelaskan apa yang sudah terjadi selama ini.


"Oh bagus mom! Memang seharusnya dia dekat dengan suaminya!" Saut Lexa menyetujui maksud saudara angkatnya.

__ADS_1


"Ya begitulah! Em, Lexa, dimana Leon? Dia bersamamu kan?" Jane menanyakan anaknya.


"Yes mom, aku akan loud speaker!"


Lexa lalu menekan tombol loud speaker agar dapat di dengar keduanya.


"Ada apa mom? Apa kabarmu dad dan Juan?" Seru Leon cukup senang dan rindu pada keluarganya.


"Yes i am fine. Dad fine dan Juan dia ribut sekali ingin sekolah." Jawab Jane agak mendengus ketika menceritakan Juan.


"Ya, dia memang sudah seharusnya sekolah mom!"


"Ya aku akan menyekolahkannya! Em begini! Aku ingat sesuatu Leon. Aku akan membuatkan kalian obat herbal untuk daya tahan tubuh dan seperti obat penyubur. Aku ingin seluruh tubuhmu dan Lexa segar dan fit sehingga tidak ada lagi kendala seperti ini untuk kalian memiliki keturunan." Kata Jane kemudian masuk ke dalam inti dia menghubungi anak anaknya.


"Mom!" Seketika Leon berteriak.


"Kenapa kau berteriak?!" Jane cukup terkejut mengingat usianya yang semakin lanjut.


"Kau meremehkanku?" Bisik Leon padahal Lexa mendengarnya di belakangnya. Lexa menempuk pundak suaminya. Leon menoleh ke arah Lexa dan Lexa sudah tersenyum di sana.


"Lexa, mommyku meremehkanku!" Leon juga berbisik pada Lexa dengan sangat kesal.


"Tidak! Dia hanya mau memberi obat." Lexa meluruskan sambil terus tersenyum.


"Nah, istrimu memang pas sekali untukmu! Dia selalu melengkapi otakmu yang hanya separuh berpikir. Aku heran kenapa Dion begitu memujamu!" Decak Jane menyetujui maksud yang dikatakan Lexa.


"Tapi mom obat yang kau berikan obat penyubur! Apa maksudmu?! Dan kau mengatakan ini di depan istriku !!" Wajah Leon sudah memerah dan tatapannya pada ponselnya sudah sangat tajam.


"Memang bagaimana permainan nya Lexa?!" Tanya Jane menggoda anaknya lagi seraya ingin bergurau. Begitulah ibu dan anak tidak jauh berbeda.


"Liar seperti musang mommy!" Lexa terkekeh merasa menang karna mertuannya membelanya untuk menggoda Leon.


"Tidak waras kalian semua! Baiklah terserah lah! Lexa, kau saja yang bicara pada mom, kurasa aku ini anak tiri!" Decak Leon kesal dan meninggalkan istrinya yang tersenyum puas.


Leon menuju ke ruang tamu dan Lexa masih berbicara pada ibu mertuanya.


"Jadi Lexa, kau mengerti maksud ku menghubungi kalian kan? Aku juga tidak meremehkanku. Aku hanya khawatir dengan kalian. Angel saja kubuatkan selalu minuman tradisional dan memang dia menyukainya. Jadi obat herbal yang akan kubuat ini juga selalu diimbangi dengan usaha dan berdoa. Kedua hal itu yang paling penting Lexa. Kau dan Leon harus selalu berolah raga, makan makanan yang teratur dan jangan melulu memikirkan pekerjaan. Jagalah kesehatan kalian dan jangan lupa berdoa. Minta restu pada yang kuasa, niscaya semua akan berjalan dengan lancar." Tutur Jane lagi memberi pesan yang begitu bermanfaat bagi Lexa. Lexa seharusnya memang membutuhkan banyak nasihat untuk kekuatan hidupnya.


"Yes mom! Aku tahu, aku akan selalu semangat dan menjaga kesehatan. Aku sangat berterimakasih karna kau begitu perhatian padaku!" Balas Lexa merespon semua perhatian mertuanya.


"Tentu sayang! Aku begitu mencintai anak ku yang tertua itu! Dia adalah tulang punggung kami, aku tidak bisa membebani semua pada Angel, apalagi dia sudah memiliki suami. " Kata Jane lagi.


"Ya mom aku sangat mengerti. Aku harap kau juga menjaga kesehatanmu mam! Jangan terlalu lelah. Jangan memikirkan penghasilan kebun. Aku akan selalu mengirimi yang menjadi kewajibanmu!" Kata Lexa juga memberi perhatian pada mertuannya.


"Baiklah mom, terimakasih mom, sampai jumpa, Tuhan memberkati."


"Yes, God bless you too!"


Panggilan dimatikan. Lexa tersenyum mendengar suara ibu mertuanya. Dia bersyukur mendapat ibu mertua yang begitu pengertian dan seperti ibu kandungnya. Karna dia sempat memikirkan Abby dan Solane juga Lucy. Mereka bertiga mendapat ibu mertua yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Hem, Lexa begitu menikmati hal yang sederhana ini.


Dia lalu menuju ke ruang tamu. Di sana Leon malah sedang merebahkan tubuhnya dan mendengarkan musik kesukaannya.


"Leon!" Panggil Lexa.


"Ada apa?!" Dengus Leon menutup wajahnya .


"Kau benar benar seperti anak kecil! Ibumu bermaksud baik!" Lexa berusaha menjelaskan.


"Tidak! Dia merendahkan ku!" Dengus Leon memiringkan tubuhnya.


"Jadi kau tidak mau meminum obatnya?" Selidik Lexa membalikan kembali tubuh Leon.


"Tidak! Kau lihat saja Lexa, bulan depan aku akan membuatmu hamil!" Jawab Leon menekuk wajahnya namun sangat menggemaskan bagi Lexa.


"Hahahaha! Kau ini lucu sekali! Ibumu yang berkata kata bukan Ben atau Manuel atau Rico!" Lexa mencubit pipi Leon.


"Kalau sampai mereka berkata, aku akan memecat mereka semua!"


"Cih, Rico sekarang direktur hotel, kau hanya asisten! Hahahaha!! Sudah ayo cepat ke rumah sakit! Kau ini seperti musang di siram air cucian beras! Ciut hanya dibilang soal kesuburan padahal miliknya sangat besar!" Lexa terus menggoda Suaminya sambil menuju kamarnya hendak bersiap.


"Leeexxxaaaaa!!!!" Leon benar benar sangat malu karna di goda oleh dua wanita yang paling ia cintai di dunia.


Lexa sudah bersiap dan akhirnya Leon kembali berselera setelah Lexa terus mengecupi pipinya. Mereka menuruni apartemen dan menunggu taxi. Mobil Leon masih bersama Manuel dan Reginald.


Leon dan Lexa menuju ke rumah sakit. Di sana Lexa langsung masuk karna ini masih hari Jumat dan jarang sekali mereka memeriksakan kandungan pada hari biasa. Lexa senang karna semua tidak terjadi apa apa. Sakit yang ditimbulkan pada perutnya hanya karna sudah lama tidak bersetubuh. Sehingga ketika mendapat tekanan dia menjadi sakit. Rahim Lexa nampaknya sangat bersih karna pemulihan di Springfield begitu steril dan Leon memang menunggu Lexa sampai pulih benar. Untuk darah yang keluar adalah normal karna baru saja keguguran sehingga hormon dalam tubuh meningkat. Faktornya juga karna Lexa terlalu lelah dan berpikir.


"Aku sudah mengatakannya dokter Reanne. Tapi dia terus memikirkan kegugurannya itu. Aku bahkan tidak apa apa karna dengan begitu aku bisa selalu bermain dengannya." Dengus Leon mengadu pada dokter mereka.


Dokter Reanne terkekeh.


"Sangat wajar Tuan Leon. Sepertinya janin kalian sudah ingin terbentuk jadi mungkin dia sering mendatangi istri anda, benar bukan begitu nyonya Lexa?" Reanne memberitahu.


Lexa mengangguk dan matanya mulai berkaca kaca kembali namun dia segera menghilangkannya.


"Itu sangat wajar. Tuan Leon, saya harap kau bisa menjadi kekuatan istri anda karna hanya kau yang sangat ia butuhkan." Pesan Reanne mengenai peran penting suami paska istri keguguran.

__ADS_1


"Tentu dokter!"


"Baiklah aku hanya memberikan vitamin untuk daya tahan tubuh Nyonya Lexa takut kalau kalau terjadi pendarahan kecil lagi. Dan juga obat penghilang sakit jika perut anda keram nyonya." Kata dokter lagi untuk menunjang kesehatan Lexa ke depannya.


"Baik dokter terimakasih!"


Setelah menebus obat dan meninggalkan rumah sakit, mereka menuju ke pusat perbelanjaan. Di sana mereka menghabiskan waktu mereka dengan makan cemilan, bermain game dan akhirnya Lexa ingin membeli pakaian baru. Leon menyetujuinya. Leon mengantar Lexa memilih milih pakaiannya. Dia terus memandang istrinya itu dan merasa sangat beruntung karna bisa menjadi suami dari wanita yang ketulusannya tidak dapat diukur. Mungkin di luar sana ada yang lebih hebat dari Lexa seperti istri tuannya dan ibu angkat Lexa, tapi Tuhan sudah menciptakan wanita ini untuk memenuhi hatinya . Leon tersenyum memandangi Lexa.


"Kadang dia bisa menjadi musang liar, tapi juga bisa menjadi musang tak waras. Terus tersenyum hanya melihatku!" Gumam Lexa dan meraih dua warna pakaian yang membuatnya agak bingung.


"Leon?" Panggil Lexa hendak bertanya.


"Hem?"


"Bagus mana? Merah atau biru?" Lexa menunjukan blouse kerja berwarna merah dan biru.


"Putih." Jawab Leon singkat.


"Aaarrgghhh!! Kau ini kebiasaan! Aku mau warna merah atau biru ini kenapa jadi putih?" Dengus Lexa sangat kesal dengan sikap seenaknya Leon.


"Ya memang lebih cocok warna putih! Nah lihat wajahmu lebih bersinar dan seksiii!! Ting!" Leon meraih blouse warna putih itu dan menempelkan ke tubuhnya sehingga Lexa memegangnya.


Lexa memandanginya dan memang lebih soft ketimbang dua warna yang ia inginkan. Lexa tersenyum, suaminya memang mengetahui apa yang cocok untuk dirinya.


...


Keesokan harinya seperti biasa, Leon mengantar Lexa ke kantornya. Lexa segera menuruni mobil setelah memberikan kecupan pada suaminya tanpa memeriksa apapun lagi. Leon senang akhirnya Lexa kembali bersemangat dan cukup lincah. Rencananya, sesuai dengan jadwal pekerjaannya membuat iklan motel Prime di Honolulu, bulan depan mereka akan ke Honolulu. Ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi mereka. Lexa juga bisa bertemu dengan suster yang mengurusnya sejak kepergian ibunya, Suster Regina dan ayah dan ibu angkatnya, Egnor dan Claudia.


Lexa segera menaiki kantornya. Namun ketika sampai di daun pintu, dia melihat Ben sedang memeluk Abby dari belakang dan mengusap usap perut sahabatnya. Seketika perasaan Lexa kembali lagi ke masa itu. Dia ingat ketika Leon terus mengelusi perutnya.


"Lexa, kau meninggalkan bekalmu! Kau bilang kau tidak mau ke mana mana!" Kata Leon tiba tiba muncul di belakangnya. Lexa meninggalkan bekalnya jadi Leon dengan cepat menyusulnya. Karna Lexa terlampau sedih, dia tidak menyadari kedatangan suaminya. Leon mencoba melihat arah mata istrinya yang ternyata sedang melihat Ben dan Abby. Ben memang berkata pada Leon akan beberapa menit menemani Abby dulu di kantor setelah itu dia baru ke kantor.


Leon jadi mengerti mengapa Lexa jadi melamun. Leon tersenyum. Dia lalu memeluk Lexa dari belakang dan memegang perut istrinya itu. Dia juga menenggerkan kepalanya di pundak Lexa.


"Sayang!" Panggil Leon dan Lexa begitu terkejut ada Leon di belakangnya. Dan dia bingung karna Leon mengetahuinya sedang bersedih lagi.


"Ah, Leon? Mengapa kau di sini?" Lexa benar benar terkesiap.


"Kau meninggalkan ini!" Leon menunjukan bekal makannya yang tadi ada di depan perut Lexa karna tangannya memeluk istrinya itu.


"Oh God! Terimakasih sayang, aku benar benar melupakannya." Jawab Lexa agak terbata.


"Tidak apa apa. Hem, perutmu ini tidak boleh telat makan siang, oke?" Kata Leon mengelus lembut perut Lexa. Lexa tersenyum dan benar benar tidak boleh melamun lagi. Dia jadi tidak enak lagi dengan Leon. Lexa lalu menoleh ke arah Leon.


"Kau selalu ada untukku! Bagaimana jadinya jika kau tak ada Leon!" Gumam Lexa memegang wajah Lexa.


"Maka kau akan menjadi kelinci kelinci kesepian!" Leon masih bergurau namun Lexa malah menyukainya dan tersenyum.


"Hem, musang, i love you!"


"I love you too.."


Leon kembali mengeratkan pelukannya sampai tidak menyadari kalau Viena sudah ada di belakang mereka.


...


...


...


...


...


Nah lhooo yang punya kantor Dateng 😅😅


.


Next part 35


Ada apa dengan obat herbal yang dibuat oleh ibunya Leon? 😂😂


Mampukah Lexa benar benar keluar dari lingkup trauma kegugurannya?


Dan, kenapa si angel suka manggil Mak nya yaa 😭😭


.


Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟


Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍


.


Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕

__ADS_1


__ADS_2