Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 36


__ADS_3

Lexa memain mainkan pensilnya. Dia hendak membuat kerangka cerita pada iklan yang hendak ia jalankan. Viena yang menyuruhnya karna terkadang kreatifitas Lexa di atas rata rat dan client menyukainya. Namun, nampaknya hari ini, otaknya sedang tidak berjalan dengan baik. Dia memikirkan Leon.


Sudah beberapa hari ini Leon sangat sibuk karna mengantar jemput Dion dan Pevi. Hanya sesekali aja Leon bisa mengajak Lexa makan malam. Tapi, Lexa semakin merindukannya. Dan lagi Lexa memikirkan ajakan Leon untuk ikut bersamanya ke kampung halamanya, Springfield.


Drrt, drrt, ponsel Lexa berbunyi dan Egnor yang menghubunginya. Lexa membicarakan prihal masalah Gabriel. Awalnya Egnor menolaknya karna dia mengingat kejadian buruk yang pria muda itu lakukan pada Lexa. Namun, Lexa menyakinkan kalo Gabriel sudah berubah. Akhirnya Egnor menyetujuinya. Lexa disuruh untuk menemui Gabriel dan menyediakan persyaratan yang dibutuhkan jika ingin mengajukan banding atas sengketa rumahnya. Egnor mau membantu Gabriel karna Lexa dan sebenarnya karna pendapat Claudia, asisten barunya yang masuk akal.


Sebenarnya Egnor bersih keras tidak akan menjadi pengacara dari seorang Gabriel yang prilakunya sangat minus minus ketika di universitas. Tapi Claudia menasehati, jika diinya tidak mau membantu Gabriel, bisa saja ada kemungkinan kalau dia akan terus mengejar Lexa atau bahkan kembali menyakiti Lexa. Dan, Egnor merasa hal ini benar. Oleh sebab itu Egnor mau membantunya.


Lexa yang sudah mengetahui nomo ponsel Gabriel melalui ponsel adiknya segera menghubungi Gabriel. Dia menentukan waktu dan tempat pertemuan mereka setelah jam kerja Lexa selesai. Lexa berusaha menghubungi Leon tapi ponsel pria bermata lancip itu tidak aktif. Lexa tidak mau lagi ada kesalah pahaman dan pada akhirnya dua pria kekanak kanakan itu bertengkar karna tidak bisa menahan ego masing masing.


Dia mengusap dahinya.


"Orang itu mati atau apa sih?! Nanti kalau tiba tiba bertemu dia akan marah marah seperti musang yang baru keluar dari kandang! Lagipula sebenarnya dia tidak boleh marah, memang dia itu siapa?! Leon aneeeehhhh kau di mana? Akan kupatahkan ponselnya ketika bertemu nanti!" Lexa merutuki Leon habis habisan.


"Lexa, mengapa kau marah marah sendiri di sini? Di mana musang cintamu itu hah?!" Lucy yang melihat Lexa di daun pintu utama gedung menyapanya.


"Dia sudah mati ditikam pemburu, hah rasakan!" Decak Lexa sudah sekesal kesalnya.


"Halah, kalau benar itu terjadi kau pasti akan menjadi gila. Kau mau ke mana? Mau bersama ku?" Lucy menawarkan tumpangan.


"Ya, aku mau ke Restoran Plaza menemui temanku. Bukankah kau se arah kesana Lucy? Aku ikut denganmu." Kata Lexa seraya mengalungkan tangannya pada lengan Lucy.


"Temanmu wanita atau pria?" Tanya Lucy penasaran sambil mereka menuju mobil Lucy.


"Pria dan bersama adiknya wanita." Jawab Lexa.


"Hati hati kalau dia tidak membawa adiknya dan Leon melihat, habislah dia, Leon mu itu kan musang yang menggila gilai kelinci buruk sepertimu. Aku heran mengapa dia tidak menyukaiku ya?" Lucy berceloteh.


"Ya, karna dia tahu kalau kau lebih buruk rupa dariku, hahahahaa!"


"Kurang ajar!" Lucy melayangkah pouch kecil yang dipegangnya pada dahi Lexa.


Mereka lalu menuju ke Restoran Plaza. Ternyata di restoran itu sedang ada sebuah acara makan malam para petinggi perusahaan. Lexa agak khawatir kalau kalau Leon ada di sini. Tidak menutup kemungkinan kalau semua orang di sini orang orang yang memiliki perusahaan terkenal.



"Lexa, sini!" Gabriel melambai lambaikan tangannya ke atas untuk memanggil Lexa. Gabriel ternyata bersama Mitha.


Lexa menghela napas. Agak aman tampaknya.


"Duduklah Lexa!" Gabriel mempersilahkan duduk dan menengok nengok ke belakang Lexa.


"Lexa, bodyguard mu yang mengerikan itu tidak ikut kan?!" Bisik Gabriel. Lexa tersenyum, pasti yang dimaksud Gabriel adalah Leon.


"Aku tidak tahu dia di mana, sudahlah, aku agak aman kau mengajak adikmu, hay Mitha!" Lexa segera duduk.


"Hay kak! Selamat datang. Siapa bodyguard yang Kak Gabe maksud? Pacarmu ya?" Tanya Mitha penasaran.


"Masa iya dia mempunyai pacar seperti musang gila itu!" Celetuk Gabriel terkekeh.


Lexa langsung memukul lengan Gabriel.


"Maaf maaf, Lexa, kau mau memesan sesuatu?" Gabriel menawarkan. Lexa tidak langsung menjawab karna matanya sejak tadi bertanya tanya mengapa Mitha berpakaian putih hitam seperti pelayan di restoran ini.


"Lexa? Kau mau pesan sesuatu?" Tanya Gabriel lagi.


"Ah iya, Gabe, adikmu?" Tanya Lexa menunjuk ke Mitha yang sedang memainkan ponselnya.


"Ya, dia bekerja di sini makanya aku mengajakmu ke sini." Kata Gabriel.


"Ah iya, aku mengerti. Sudahlah, tadi aku sudah makan." Kata Lexa mengangguk anggukan kepalanya. Dia berbohong karna Lexa tahu harga makanan di sini mahal, dia sering ke sini bersama nyonya nya.


"Benarkah? Aku juga sudah makan sih!" Kata Gabriel lagi juga ikut berbohong. Dia agak lega karna Lexa tidak memesan makanan.


"Jadi, apa yang diminta Tuan Egnor, Lexa?" Tanya Gabriel menuju inti pertemuan mereka. Sementara Mitha masih memainkan ponselnya, seperti ada sesuatu yang mendesak. Lexa terus memperhatikannya sesekali.

__ADS_1


"Em iya, dia meminta ktp mu, akta lahirmu, kartu keluarga, akta tanah rumahmu dan seperti iuran pajak. Ya kurang lebih seperti itu, Gabe." Kata Lexa sambil mengusap usap kedua tangannya dan terus memperhatikan Mitha yang semakin gusar.


Tak lama, seorang teman Mitha menghampiri Mitha. Dia membisikan sesuatu dan pergi. Mitha lalu meminta ijin pada Gabriel dan Lexa untuk ke belakang restoran. Katanya mereka kekurangan pegawai. Gabriel menyetujuinya. Namun, insting Lexa mengatakan lain. Dia merasa ada yang tidak beres dengan Mitha.


"Em, Gabe?" Kata Lexa kemudian. Gabriel menoleh setelah memastikan Mitha yang sudah hilang ke belakang restoran.


"Sudah berapa lama adikmu bekerja di sini? Dia bekerja sebagai apa?" Tanya Lexa basa basi.


"Lulusan SMA seperti dia mana bisa mendapat pekerjaan tinggi di Legacy, Lexa.. Di sini dia bekerja sebagai pelayan. Sepertinya sejak tadi kau terus memperhatikannya. Ada apa? Kau malu memiliki teman sepertiku yang adiknya seorang pelayan?!" Tiba tiba Gabriel seperti tersinggung dengan pertanyaan Lexa. Dia mengernyitkan dahinya menunggu jawaban Lexa.


"Ada apa denganmu? Aku hanya bertanya, mengapa kau jadi sensitif seperti ini?!" Lexa tidak kalah sensitif seperti Gabriel.


"Maaf Lexa. Lagipula mengapa sejak tadi kau memperhatikan adikku?" Tanya Gabriel kembali melunak.


"Sepertinya adikmu ada masalah Gabe. Dia tampak gusar memainkan ponselnya." Bisik Lexa.


"Ya, aku juga merasakannya. Nanti ketika pulang akan kutanya. Kau sangat perhatian dengannya, andai kau menjadi kakak iparnya, dia pasti senang mempunyai kakak wanita sepertimu Lexa.." Gabriel mulai menggoda. Lexa mendengarnya dengan jelas.


Lexa jadi mengingat Leon. Lexa tidak ada rada yang bagaimana bagaimana ketika Gabriel menggodanya. Berbeda dengan Leon yang menggodanya. Sepertinya hatinya muncul getaran yang hendak kesal bercampur senang dan sumringah. Namun dengan Gabriel biasa biasa saja. Lexa malah memasang wajah malas dan terkesan mengintimidasi.


"Bicara yang benar, kau bukan tipeku, Gabe, maaf." Kata Lexa acuh tak acuh. Dia lalu melempar pandangannya ke arah belakang restoran.


"Gabe, aku mau ke toilet dulu ya?" Ijin Lexa dan Gabriel menyetujuinya.


Lexa menyusuri koridor menuju toilet. Namun, ketika dia melewati sebuah ruangan seperti ruangan beristirahat, dia mendengar suara teriakan wanita yang sepertinya dia mengenalnya.


Lexa mengintip sedikit tirai yang terbuka sedikit di jendela yang ada di ruangan itu. Lexa menganga bukan main di sana Mitha sedang meronta ronta karna dirinya sedang dilecehkan. Mitha mencoba melepaskan diri tapi kedua lelaki hidung belang itu tampak lebih besar. Tanpa berpikir panjang. Lexa menggedor dengan keras ruang beristirahat yang lampunya tampak remang remang itu.


"Hey, buka pintunya dan hentikan perbuatan bejat kalian! Hey! Buka!" Lexa tanpa takut sedikitpun menggedor pintu itu terus menerus.


Akhirnya seorang pria membuka pintu tersebut dan menatap Lexa dengan sangat tajam.


"Lepaskan perempuan itu!" Lexa menunjuk nunjuk Mitha.


"Kau mengganggu saja? Atau kau juga ingin ikut di dalam hah?!" Kata pria tersebut dengan geram dan nada yang melecehkan.


"Cuih! Sialan!" Lexa meludahi pria itu dan menendang sesuatu yang ada di antara paha pria itu. Pria itu menjerit dan memegang sesuatu yang berharga kepunyaannya itu sambil merintih.


"Tolong! Di sini terjadi pemerkosaan! Tolong!" Lexa berteriak sebelum ia masuk ke dalam menyelamatkan Mitha.


"Kak, kau pergi saja kak, mereka manager di sini kak, pergi kak!" Perintah Mitha khawatir. Lexa terus mendekati pria yang masih di dalam.


"Lepaskan perempuan itu!" Kata Lexa bengis.


"Kalau tidak kau mau apa hah?! Hey Bob, tutup pintunya!" Jawab Pria itu dan menyuruh pria yang tadi ditendang oleh Lexa masuk. Beberapa pelayan sudah mengerubungi ruang peristirahatan itu. Lexa benar benar salah langkah. Seharusnya dia mengajak Gabriel. Dia sudah terlanjur panik.


Pria tersebut mendekati Lexa. Lexa hendak memukulnya namun Pria itu dapat menangkisnya lalu memegang pergelangan tangan Lexa.


"Tuan, aku mohon jangan sakiti dia! Aku rela kalian apakan asal jangan dia, tolong Tuan!" Mitha bersujud memohon.


Pria yang bernama Bob sudah bergabung bersama mereka. Bob lalu menghampiri Lexa. Dia sangat kesal dengan Lexa yang menganggu kesenangan mereka.


"Kalian semua bedebah! Kalian berani dengan perempuan! Lepaskan aku!" Lexa berteriak dan menggerak gerakan kakinya. Namun Pria itu lebih kuat karna Lexa hanyalah wanita.


Ketika kedua pria itu fokus hendak melucuti pakaian Lexa, Mitha berinisiatif. Dia lalu mengambil sapu yang tadi dia bawa dan memukul mukulnya pada kedua pria tersebut. Mereka berdua berbalik dan mendorong Mitha sehingga Mitha tersungkur dan kepalanya terbentur ujung meja. Pria tersebut kembali ke arah Lexa yang mana Lexa sedang merogoh seuatu di saku celananya.


Sementara itu para pelayan terus mengerubungi ruang istirahat itu hendak mengetahui namun mereka tidak dapat berbuat apa apa karna pintu terkunci di dalam dan mereka terlalu takut.


Seorang pria yang ditakuti Lexa untuk datang ke restoran ini ternyata memang ada di sini. Karna Dion tidak dapat menemani ayahnya, jadi dialah Leon yang harus menemani Jeremy dan diharuskan sebagai hukuman karna Leon seenaknya sewaktu hendak berdansa dengan Lexa. Leon hendak ke kamar kecil namun melihat sekerumunan pelayan sedang menyaksikan sesuatu. Saat itu juga Gabriel menabraknya dari belakang.


Gabriel merasa ada yang aneh karna Lexa lama kembali. Jadi dia menyusulnya tak menyangka lagi mereka bertemu.


"Kau!" Kata Leon ketus.


"Leon?" Panggil Gabriel agak ketakutan karna dirinya sedang bersama wanita incarannya.

__ADS_1


"Sepertinya kasusmu sudah berhasil ya makanya kau bisa makan di sini?!" Decak Leon menyindir membuat Gabriel yang memiliki tempramen sama seperti Leon kesal.


"Aku bersama Lexa, kau mau apa?!" Balas Gabriel dan memastikan pasti Leon kesal melebihi dirinya.


"Kau?! Dimana dia!?"


Benar dugaan Gabriel. Leon meraih kerah baju Gabriel dan hendak menghajarnya.


Namun, sebelum Gabriel berusaha melepas cengkraman tangan Leon, seorang perempuan berusia sama dengan Mitha menghampiri Leon.


"Hem, mohon maaf Tuan Asisten Prime. Maaf saya selalu melihat anda bersama Tuan Prime. Tuan tolong selamatkan teman saya di ruangan itu. Dia dilecehkan oleh manager kami hendak memperkosanya. Kami semua terlalu takut Tuan. Tolong Tuan! Kalau anda yang membantu tidak akan ada yang berani, Tolong Tuan!" Kata perempuan itu membungkuk bungkukan badannya.


Tanpa banyak bertanya Leon berlari ke arah kerumunan itu.


"Siapa nama temanmu?" Tanya Gabriel karna dia langsung berpikir tentang adiknya.


"Mitha Tuan, temanku Mitha, tolong dia Tuan!" Jawab perempuan itu terbata.


"Bajingan!" Umpat Gabriel dan menyusul Leon.


Leon mencoba mendobrak namun sangat sulit. Leon terus berusaha dan akhirnya terbukalah.


Jantungnya benar benar tak karuan. Kemeja luaran yang digunakan Lexa sudah terkoyak karna di tarik oleh Bob. Sementara pria satunya sedang meringis karna tangannya terkena sayatan pisau lipat yang Lexa gunakan untuk bertahan diri.


Amarah Leon menyeruak masuk ke dalam tubuhnya. Lexa ada di sana. Seorang wanita yang sangat ia cintai juga sedang dilecehkan demi menolong adik dari pria yang sangat ia kesalkan.


"Keparat kalian semua!!" Teriak Leon menghampiri Bob yang sedang memegang satu tangan Lexa yang memegang pisau lipat.


Leon lalu menarik tangan satunya Bob yang belum melakukan penyerangan. Leon menghajarnya dengan membabi buta. Dia memukul habis habisan wajah Bob sampai Bib tidak dapat membalasnya lagi.


Ketika pria yang satunya hendak memukul punggung Leon yang menunduk, Gabriel datang dan ikut menghajar pria satunya.


Lexa terkejut bukan main atas kehadiran Leon. Dia lalu menyuruh Leon berhenti. Leon masih sangat mendidih. Namun Lexa berusaha mengangkat Leon dari belakang untuk berhenti memukul karna takut pria tersebut akan tidak bernyawa lagi.


"Leon sudah, Leon sudah sudah!" Lexa melingkarkan tangannya ke pinggang Leon dari belakang.


"Leon sudah! Aku tidak apa! Gabriel berhenti kau juga!" Perintah Lexa dan dia masih memeluk Leon dari belakang.


"Aku akan membuat hidupmu menderita melebihi ini, aku bersumpah, brengsek!" Leon mengumpat dengan menunjuk nunjuk kepala Bob.


Lexa lalu mengubah posisinya memeluk Leon dari depan.


"Leon sudah, sudah tenang!" Lexa memeluk sambil mengelus punggung Leon. Leon lalu menarik pelukan Lexa. Dia memegang kedua lengan wanita itu. Sesaat dia menatap Gabriel yang hendak menggendong adiknya, lalu kembali menatap Lexa.


"Kau tidak pernah mendengarkanku! Kau terus bersama dengannya sampai seperti ini! Padahal dia sudah sering melecehkanmu sampai membawamu juga dilecehkan oleh orang lain! Kau tidak menghargai kerja kerasku untuk terus bersamamu! Kau tidak menghargai!" Kata Leon penuh kekecewaan. Leon menghempaskan tubuh Lexa ke sampingnya. Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Restoran Plaza rest area. Dua wanita dilecehkan oleh manager restoran ini. Segera tangkap dua manager ini. Laporan atas nama Danteleon Janson, asisten utama Tuan Dion Prime!" Kata Leon dengan penuh amarah dan ketegasan.



Dia lalu menatap sebentar Lexa yang juga menatapnya dengan guratan penyesalan dan pergi meninggalkan tempat itu.


...


Jiaellaaahh ada aja lu neng lexaaa 😭😭


Babang leon soo coolll bad dah ahhh 😎😎


Kalem bang jan marah marah 😝😝


.


Next part 37 yuk cus


Seru seru .. baru kali ini Leon yang ngambek coyyy 😂😂

__ADS_1


__ADS_2