
Sudah beberapa hari ini Lexa seperti terbayang bayang ayahnya. Namun, karna proyek iklan yang bertubi tubi dan intensitas Viena yang masih belum rutin masuk menyebabkan Lexa yang harus mengurusnya bersama Abby. Pagi ini sambil menyiapkan sarapan untuknya dan Leon dia harus menghubungi ayahnya atau Jerry. Dia sudah bergumam dalam hatinya.
Leon tiba tiba bertengger di bahuny, memeluknya dari belakang.
"Leon!" Pekik Lexa terkejut.
"Kau memikirkan apa?" Tanya Leon mengecupi sisi leher Lexa.
"Papiku Leon."
"Eemm, jangan lupa lagi, segera hubungi dia!" Leon mengingatkan.
"Iya sayang!"
"Kau masak apa?" Tanya Leon lagi mengendusi masakan Lexa.
"Hanya scrambled eggs dan sosis. Kau suka kan?" Jawab Lexa yang memiringkan tubuhnya untuk mengecup pipi suaminya.
"Pasti sayang, cup!" Leon juga mencuri kecupan pada pipi Lexa dan kembali ke meja makannya.
"Makanlah setelah itu kita berangkat. Aku masih harus ada pertemuan dengan klien otomotif dan siangnya dengan Belleza Hotel, argh rasanya aku mau menyerahkan pada Nyonya Viena saja!!" Dengus Lexa menyajikan sarapan bagian Leon.
"Kenapa?" Tanya Leon sambil menikmati makanan yang telah disajikan istrinya.
"Asistennya itu tidak jelas Leon! Sebentar dia menggodaku sebentar marah, seperti mu dulu!" Sungut Lexa juga menikmati sarapannya.
"Kau jangan sampai terpikat Lexa! Kau harus bersama Mike atau Abby, kuperingatkan ya jangan sampai aku meminta resign pada Nyonya mu!!" Leon menunjuk nunjuk Lexa dengan garpunya kesal.
"Hem, tumben kau marah!" Gumam Lexa menyeringai.
"Sepertinya kupikir pikir dia menggunakan caraku untuk mendekatimu!" Selidik Leon mengeluarkan tatapan lancipnya.
"Oohh jadi waktu itu kau sengaja?" Lexa memicingkan matanya menggoda.
"Buktinya sekarang kau menjadi istriku!" Dengus Leon memakan cepat sarapan.
"Tenang saja sayang, hatiku ini sudah hampir terpenuhi namamu." Kata Lexa mengelus pipi Leon sambil tersenyum.
"Aku tahu!" Balas Leon kembali tersenyum.
Lexa dan Leon pun kembali sarapan dengan serba serbi dan basa basi mereka. Leon pun seperti biasa mengantar Lexa terlebih dahulu. Ketika dia hendak menjalankan mobilnya menuju hotel, Dion memberi pesan. Dion mengatakan kalau dia harus ke Summer bersama ayahnya dan Ben. Leon dan Jimmy yang bertugas menemani Bella dalam penandatanganan kontrak kerjasama. Leon menyetujuinya karna dia juga tidak ada jadwal apa apa.
...
Lexa memasuki ruangannya. Benar dugaannya kalau ternyata hari ini Viena tidak masuk karna sedikit nyeri pada perutnya, mungkin karna kelelehan menjadi ibu baru. Lexa sangat memakluminya dan tidak pernah mengeluhkannya. Toh, Viena juga mengawasi dari tempat tinggalnya.
Dia sudah menyelesaikan brainstorming bersama team kreatif dan juga bebera orang dari klien otomitifnya yang hendak mengetahui gagasan yang tepat untuk iklan mereka. Karna seluruh team kreatif ikut, jadi brainstorming dapat selesai dengan cepat. Lexa tinggal menunggu Rico untuk datang. Mereka membuat janji setelah makan siang.
Lexa merasa ada yang hendak ia kerjakan namun sepertinya dia melupakannya lagi. Dia pun melihat lihat agenda jadwalnya. Semuanya sudah ia kerjakan pagi ini. Sampai ponselnya pun berbunyi. Angel yang menghubungi. Seketika jantungnya berdegup tak menentu dan dia mengingatnya kalau dirinya hendak menghubungi Jerry atau Alexis. Sudah 3 bulan ini Jerry dan Alexis pindah ke Springfield. Biasanya Lexa selalu rutin menanyakan kabar sang ayah namun kembali lagi karna banyaknya pekerjaannya. Lexa segera mengangkat panggilan Angel.
Percakapan Lexa - Angel :
Lexa : "Angel? Apa kabar sayang?"
Angel : "Kak Lexa?! Akhirnya hanya satu kali saja aku bisa menghubungimu!"
Lexa : "Ada apa? Apa kau baik baik saja? Bagaimana keadaan mom, dad? Papiku, dan suamimu?"
Angel : "Oh Lord! Banyak sekali yang kau tanyakan, apa tidak bisa kau hanya menanyakan papimu sebagai hubungan ayah dan anak?"
Lexa : "Oh God! Ada apa dengannya? Dia baik baik saja kan? Pagi ini dia selalu ada dipikiranku. Dimana dia angel?" (Nada panik)
Angel : "Pagi ini papi mu harus dilarikan ke rumah sakit kak. Untung saja aku sedang mengawasi atkinson de angel jadi aku bisa menemani suamiku!"
Lexa : "Ada apa dengannya Angel? Katakan dengan jelas!" (Berdiri dari duduknya)
Angel : "Belakangan papimu ikut Tuan Jerry bekerja sampai rasanya dia kelelahan dan sekarang dia membutuhkan darah kak!"
Lexa : "Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?! Lalu bagaimana? Apa Jerry mendapatkan darahnya?"
Angel : "Dia sedang mencari kak dan menyuruhku memintanya padamu, karna hanya kau yang pasti bisa menolongnya!"
Lexa : "Aku anaknya! Baiklah aku akan segera melakukan transfusi darah dan segera mengirimnya ke Springfield. Namun, pastikan Jerry mendapatkannya dulu ya Angel? Papiku harus segera mendapatkan penanganan!"
Angel : "Iya kak dia sedang berusaha, kau cepat ya!"
Lexa : "Baiklah, terus kabari aku!"
Angel : "Pasti kak!"
Panggilan terputus. Lexa panik. Dia harus menghubungi Leon untuk menemaninya. Dia tidak bisa asal menjalankan transfusi darah. Dia pun menghubungi Leon namun Leon tidak mengangkatnya. Ah, dia sangat panik dan takut. Sekujur tubuhnya telah berkeringat dingin. Akhirnya dia memutuskan untuk tetap ke rumah sakit. Mungkin Leon sedang sangat sibuk sehingga tidak bisa menjawab panggilannya.
Lexa meraih tas dan coat panjangnya. Dia hendak menuju ke rumah sakit. Dia keluar dari ruangan.
"Lexa, kau mau kemana? Sebentar lagi Jerico Naraya, asisten dari Belleza Hotel akan datang. Kita harus tanda tangan kontrak pembuatan iklan." Tanya Lucy juga mengingatkan jadwalnya siang ini.
"Biarkan dia bersama Abby atau denganmu Lucy, aku ada keadaan mendesak. Papiku masuk rumah sakit dan membutuhkan beberapa kantung darah. Hanya aku yang bisa memberikannya Lucy!" Jelas Lexa seraya berjalan ke pintu keluar kantor.
"Oh my God! Kau serius Lexa!" Pekik Lucy ikut cemas.
"Iya, tolong ya Lucy? Aku pergi dulu!!" Pinta Lexa dan melambaikan tangannya.
"Baiklah, get well soon dan kau hati hati!" Lucy masih mengingatkan.
"Oke!"
Lexa segera menuruni gedung dan mencari taxi di luar gerbang. Dia sambil terus menghubungi Leon. Mungkin saja Leon mengangkatnya dan langsung bertemu di rumah sakit. Namun, Leon benar benar tidak mengangkat. Hatinya agak sakit. Tidak biasanya Leon tidak membawa ponselnya di saku celana atau saku jas nya.
Cast Jerico Naraya : Oh Sehun / Sehun EXO
__________________________
Lexa terus menghubunginya sampai sebuah mobil putih juga dengan seorang pria di dalamnya berjas putih menyapanya.
"Lexa? Kau mau kemana? Bukankah kita ada penandatanganan kerja sama?" Pria itu membuka kaca mobil untuk menyapa Lexa dan ternyata itu Rico.
"Kau bisa ke atas saja bersama Abby dan Lucy, aku harus ke rumah sakit." Jawab Lexa masih dengan ponsel di kupingnya.
"Siapa yang sakit? Suamimu?" Tanya Rico penasaran.
"Papiku. Sudah kau sana ke atas. Aku sedang menunggu taxi!"
"Yasudah, aku antar saja, penandatangan kontrak bisa nantinsaja. Ayo masuk!" Ajak Rico menawarkan.
"Tidak usah! Kau ke atas saja, aku bisa naik taxi atau sebentar lagi mungkin suamiku mengangkat panggilanku!" Lexa menolak.
"Mungkin kan? Sudah ayo cepat tidak apa apa, kau tidak usah gugup begitu, aku memang tampan!" Saut Rico yang kini beranjak sedikit dari bangku pengemudinya untuk membuka pintu penumpang di sampingnya.
~Ya Tuhan! Pria ini memaksa sekali! Yasudalah, aku diantar dia saja, lagipula ini jam makan siang, pasti para supir taxi sedang mengisi perut mereka.~ pikir Lexa dalam hati. Dia lalu menaiki mobil Rico.
__ADS_1
"Cepat jalan! Aku sangat terburu buru! Rumah Sakit Legacy Pusat Kota ya?" Pinta Lexa dengan menggenggam erat ponselnya.
"Siap bos!"
Rico pun akhirnya mengantar Lexa. Sepanjang perjalanan Rico tidak ada kesempatan untuk berbicara pada Lexa karna Lexa sibuk terus menghubungi Leon. Dia terus menekan nekan ponselnya untuk menghubungi dan memberi pesan
💌LEXA
Leon! Kau kemana? Papi masuk rumah sakit dan membutuhkan darah. Aku harus tramsfusi darah dan membutuhkan dirimu
💌LEXA
Leon! Kau ini kemana? Aku tidak bisa melakukannya sendiri
💌LEXA
Sayang! Ya Tuhan?! Dimana kau meletakan ponselmu?! Aku membutuhkanmu! Cepat ke rumah sakit pusat kota legacy LEON!!!
💌LEXA
Baiklah MUSANG JELEK TENGIK BUSUK KAU DIMANA?!!! KAU BENAR BENAR YA, TIDAK ADA JATAH STEAK MALAM INI DAN KAU TIDUR DI LUAR, KAU JAHAT!!!
"Argh! Musang tengik! Kau dimana aaarrgghh!!!" Lexa berteriak di dalam mobil sambil melempar ponselnya ke dashboard. Rico terkejut sangat terkejut. Ternyata wanita yang disukainya ini sangat menyeramkan.
"Lexa? Kau kenapa? Ponselmu rusak kalau kau lempar begitu!" Kata Rico dengan nada cukup tinggi.
"Biar saja! Biar aku tidak memiliki ponsel dan tidak bisa dihubungi orang orang, SIAL!!!!" Decak Lexa mengusap dahinya frustasi.
Rico agak terkesiap terkejut melihat wanita disampingnya marah marah seperti ingin memakan manusia.
"Kau ini sebenarnya kenapa? Suamimu tidak bisa dihubungi?" Tanya Rico kemudian. Kali ini agak pelan.
"Iya! Begini lah! kalau sedang dibutuhkan seperti di telan bumi sementara kalau aku tidak mencarinya, setiap detik menghubungiku, seperti tidak ada kerjaan lain saja! Tapi sekarang! Argh, sudahlah! Kau punya air mineral? Aku haus sekali!" Pinta Leda akhirnya sambil mengipas ngipas dirinya.
"Di belakang kusi penumpang sepertinya ada." Rico sedikit menoleh ke belakang menunjukan letak air mineral botol kecil.
"Kau kan sudah kuantar, untuk apa kau menghubunginya?" Kata Rico mencoba menenangkan.
"Aku mau melakukan transfusi darah, aku takut disuntik dan melihat darah, oleh sebab itu aku membutuhkannya. Lagi pula, jam segini biasanya dia santai kok!" Dengus Lexa.
"Kau tidak menghubungi kantornya?" Rico menyarankan. Seketika mata Lexa membelalak dan pikirannya kembali terang.
"Oh iya Renzy! Kau cerdas sekali sir!" Puji Lexa membungkukan tubuhnya ke bawah hendak meraih ponselnya.
"Hem, kelinci putih ini sangat meremehkanku!" Rico berdecih.
Baru saja Lexa mencari ponselnya di dekat kakinya, dia tersentanh mendengar panggilan Rico.
"Kau bilang aku apa?" Tanya Lexa mengintimidasi.
"Kelinci putih, lalu apa? Kulitmu putih sekali, kau tahu kelinci putih kan?" Jawab Rico sekenanya dan tersenyum.
"Jangan pernah kau memanggilku dengan sebutan itu karna mungkin kau akan diterkam musangku!" Lexa memperingatkan dengan menunjuk2 ponselnya.
"Oh, suamimu memanggilmu kelinci juga? Baiklah kuganti saja menjadi kucing putih, karna kau galak sekali!" Rico langsung mengerti maksud Leda jadi tak suka.
"Tidak usah! Memang kau siapaku?! Namaku Lexa!! Sudahlah, diam dulu aku akan menghubungi teman suamiku!" Decak Lexa. Rico lalu terus memperhatikan jalan sambil bersenandung.
Lexa pun menghubungi Renzy namun dia kembali kecewa karna Leon sedang rapat bersama Jimmy dan kolega Dion. Ponselnya tertinggal di meja kerjanya.
"Baiklah Renzy, katakan padanya aku di rumah sakit." Kata Lexa kembali muram.
"Oke Lexa, hati hati ya?" Pesan Renzy.
Panggilan terputus. Lexa kembali muram. Dia pasrah. Sepertinya dia harus sendiri di ruangan itu dan mencoba membayangkan Leon di sampingnya nanti. Sementara, Rico merasakan hawa kekecewaan dalam diri Lexa. Dia menjadi kasihan dan tidak mau menganggunya dulu. Mereka pun dalam diam sampai ke rumah sakit. Karna kesedihan Lexa yang masih berangsur, Rico akhirnya menemaninya ke dalam rumah sakit.
Ketika Lexa sudah mengisi lembar transfusi dan menunggu giliran bersama Rico, Leon menghubunginya. Lexa langsung mengangkatnya dengan nada sedih.
"Lexa, aku minta maaf sayang, aku meninggalkan ponselku di meja kerja. Aku baru saja ke toilet dan Renzy memberitahuku." Kata Leon di sebrang sana dengan nada cukup panik.
"Ya, kau sudah selesai?" Tanya Lexa pelan.
"Belum, masih ada beberapa berkas yang harus ku jelaskan. Tuan Dion pergi ke Summer bersama Tuan Jeremy, jadi pekerjaannya disini, aku yang menjalankan." Leon berusaha menjelaskan apa yang benar benar terjadi.
"Ya aku tahu, yasudah aku tidak apa apa, sebentar lagi aku masuk." Gumam Lexa mencoba mengerti.
"Kau yakin bisa sendiri? Apa tidak bisa menunggu sekitar dua jam lagi?" Kata Leon masih mencoba membuat kenyamanan dalam hati istrinya.
"Betapa dua jam terbuang begitu sia sia sementara papiku sedang melawan maut, kau ini keterlaluan!" Lexa menjadi geram.
"Bukan begitu Lexa, aku juga memikirkan ketakutanmu!" Saut Leon benar benar cemas, pasalnya hanya dia yang dapat membuat Lexa tidak merasa tangannya disuntik sampai transfusi selesai.
"Tidak apa. Aku pasti bisa. Aku akan membayangkan dirimu!" Kata Lexa lagi sudah menurunkan nada bicaranya.
"Benar tidak apa apa? Lebih baik Begini saja, aku sangat mengcemaskanmu! aku akan cepat menyelesaikan rapat ini setelah itu aku akan menjemputmu di rumah dakit. Bagaimana?" Leon menawarkan karna dia benar benar khawatir.
"Ya, terserahmu saja!" Decak Lexa menyerah.
"Kabari aku sayang!"
"Iya"
"I love you!"
"Heeemm"
Lexa mematikan panggilan. Dia sudah sebal setengah mati dengan Leon. Rico memperhatikannya agak kasihan.
"Eemm, Lexa, biar aku saja yang menemanimu di dalam agar kau tidak terlalu takut sendirian!" Kata Rico kemudian mencoba membantu Lexa yang tampak gusar sejak tadi.
Lexa menoleh memandang wajah Rico yang tersenyum tipis. Seketika dia mengingat Leon lagi. Dia ingin Leon namun dia menghargai usaha Rico yang hanya mau membuatnya tenang.
"Tidak usah Rico, aku bisa, terimakasih ya?" Jawab Lexa tersenyum.
"Jangan sungkan Lexa, kita kan berteman. Kau cukup melihatku saja dan kita bicara apa saja, bagaimana?" Rico memaksa dan Lexa sudah lelah dengan semua pertanyaan bagaimana, kau dimana, kenapa, dia sudah pusing memikirkan ayahnya.
"Terserah lah!" Balas Lexa akhirnya.
Tak berapa lama, giliran Lexa untuk melakukan transfusi darah. Lexa telah berbaring dan di sampingnya Rico sudah duduk menatap Lexa tersenyum. Lexa diam saja dengan wajahnya yang datar dan tidak tersenyum sama sekali. Dia hanya gugup.
"Tenanglah, perawat belum melakukannya." Kata Rico memukul pelan lengan Lexa.
"Selamat siang Nyonya Lexa? Sudah siap?" Tanya sang perawat di sampingnya. Lexa mengangguk namun tangannya secara tak sadar malah memegang tangan Rico dengan sangat kencang. Rico tersentak dan menyadari kalau Lexa sudah mulai takut.
"Eh, maaf Rico!" Kata Lexa hendak melepaskan tangannya namun Rico menahannya.
"Pegang saja, tidak apa apa. Kalau begini lebih tenang kita berpegangan tangan. Tenang saja, aku yakin suami mu tak akan keberatan. Dia pasti mengerti." Kata Rico dan sesaat Rico melirik sang perawat memberi kode untuk segera melakukannya.
"Maaf ya. Aku benar benar takut tapi kalau bukan aku yang memberikan darah ini pada papiku, dia akan kekurangan darah dan penyakitnya tidak membaik!" Sungut Lexa.
"Iya, jangan sungkan Lexa. Kita kan teman. Em, jadi konsep iklan ku sudah kau buat?" Tanya Rico mencoba mengalihkan.
"Sudah, Abby dan team lain yang mengerjakannya. Sepertinya akan seperti dunia dongeng seperti konsep taman di samping hotel kalian itu." Kata Lexa yang tempaknya dia melupakan transfusi ini sudah dimuali.
__ADS_1
"Begitu ya? Baguslah. Nyonya Bella suka sekali dunia dongeng. Dia mengingat anaknya Athena." Kata Rico.
"Dia sudah menikah?" Lexa agak terkejut ternyata dugaannya benar kalau nyonya Bella sudah bersuami.
"Sudah tapi suaminya sudah meninggal, sekarang dia janda beranak perempuan satu. Namanya Athena." Kata Rico yang memangku satu tangannya lagi menopang dagunya. Dia sembari memperhatikan Lexa yang begitu manis. Dia juga senang akhirnya dia bisa dekat dengan Lexa dan mereka berpegangan tangan.
Setelah sekitar lima belas sampai dua puluh menit dan semua percakapan basa basi mereka, sang perawat memberesi semua peralatannya. Disinilah Lexa tersadar dan melepas paksa tangan Rico.
"Oh my God! Sejak tadi kau sudah melakukannya suster?" Kata Lexa berbalik menatap suster dan melihat tangannya, juga dua kantung darah yang sudah terambil.
"Tentu Nyonya, suamimu yang memberi kode!" Kata sang suster membuat Lexa mengernyitkan dahinya tak suka sementara Rico tersenyum bangga.
"Suamiku? Dia temanku! Kau jangan asal bicara!" Decak Lexa agak menunjuk sang suster.
"Oh, maaf nyonya, kalian begitu serasi. Maaf maaf. Baiklah nyonya, transfusinya sudah selesai. Mendapat dua kantong sesuai permintaan anda. Kalau anda fit, anda bisa melakukannya dua hari lagi mengingat kebutuhan Tuan Alexis agak meningkat. Dan di sini sudah kami sediakan susu dan roti. Sekali lagi saya mohon maaf, permisi." Kata sang perawat dan meninggalkan Lexa dan Rico. Lexa segera beranjak dan kini sudah dalam posisi duduk.
"Hihi, andai saja aku benar suamimu Lexa!" Bisik Rico mendekatkan wajahnya pada Lexa.
"Jangan mimpi kau! Suamiku lebih hebat dari padamu!" Lexa memalingkan wajah Rico.
"Cih, buktinya saja dia tidak menemanimu!" Rico berdecih.
"Ya, karna pekerjaan hebatnya dia tidak bisa menemaniku. Kau ini! Memang tidak ada wanita lain hah? Aku sudah bersuami, tidak tahu malu!!" Lexa mulai merapikan dirinya dan menyantap asupan yang sudah disediakan.
"Yang sepertimu tidak ada Lexa!" Guman Rico.
"Cih, mulutmu jangan terlalu manis, nanti dikerubungi semut baru tau rasa!" Kata Lexa beranjak dari duduknya dan menuju ke luar ruangan dengan roti dan susu di tangannya.
"Kalau semutnya dirimu aku mau!" Saut Rico.
"RICO! KAU!"
Belum saja Lexa terus memarahi Rico, Leon menghubunginya.
"Nah, suamiku menghubungiku, sana kau?!" Usir Lexa dan mereka sudah berada di tempat tunggu tadi.
"Halo!" Saut Lexa dengan nada lemah.
"Lexa? Kau masih di rumah sakit?" Tanya Leon di sebrang sana.
"Ya!""
"Aku akan menjemputmu, tunggu ya?"
"Baiklah!"
Lexa tersenyum. Ternyata suaminya tidak sepenuhnya memikirkan pekerjaan seperti yang dibilang Rico.
"Apa kata suamimu?" Rico penasaran.
"Dia akan menjemputku!"
"Oh baiklah kalau begitu aku juga sudah harus menjemput Nyonya ku. Tanda tangan kontraknya besok saja. Atau kau saja ke kantorku Lexa!" Kata Rico kembali mendekatkan dirinya.
"Malas! Besok saja di restoran plaza karna sekalian aku bertemu dengan klien ku yang lain!" Saut Lexa.
"Ah kau benar ..baiklah sampai jumpa, em sebaiknya kau tidak usah mengatakan pada suamimu kalau kita bergadengan tangan, aku takut suamimu akan membunuhku!" Rico masih menggoda.
"Hem, bisa jadi! Sudah sana kau, eh tapi terimakasih ya telah mengantarku!" Ucap Lexa.
"Sama sama kelinci putihku!"
"Diam kau! Tidak lucu!
Rico mengedipkan matanya dan segera berlalu menuju ke Hotel Prime.
cast Isabella Mauren : Lee Mi-Sook
_____________________
Sementara Leon hendak bersiap menjemput Lexa. Bella yang sedang menunggu Rico di lobby melihat Leon. Dia pun memanggilnya.
"Leon, kau mau kemana?" Tanya Bella kemudian.
"Aku mau menjemput istriku di rumah sakit, Nyonya. Kau, mengapa masih disini? Rico belum menjemputmu?" Tanya Leon kembali.
"Iya, tapi tadi katanya dia sedang mengantar pacarnya. Mungkin akan lama. Em, apa aku tidak bisa menumpang bersamamu? Aku masih harus menghadiri rapat di kantor." Pinta Bella karna ini kesempatannya untuk bisa bersama Leon.
"Em, bagaimana ya?" Leon berpikir. Kalau dia mengantar Bella dulu ke Belleza Hotel, dia harus melewati sebuah jalan yang agak padat baru dia bisa sampai ke rumah sakit.
"Kau keberatan ya Leon? Kan ke rumah sakit akan melewati hotel ku dulu." Gumam Bella memohon.
Leon benar benar bingung namun memang tidak ada salahnya jika dia mengantarnya. Lagipula satu arah meski harus berbelok sedikit.
"Bukan. Em, baiklah. Silahkan Nyonya!" Kata Leon akhirnya terpaksa.
~hem, aku harus memberi pesan pada Lexa. Dia pasti mengerti.~ gumam Leon dalam hati.
...
nebeng visual buat next episode 😁😁
Leon dan Bella satu mobil 😁😁
...
...
...
...
...
Oh no!! Mengapa smuanya kebetulan begini??
.
Next part 5
Apakah Leon dan Lexa akan bertengkar?
Bella jahat bener bilang bilang Rico sama pacarnya heemm..
.
Dukung terus diriku dengan memberikan LIKE dan KOMEN di setiap episode..jangan lupa kasih RATE dan VOTE juga di depan profil novel yaa 😍
.
__ADS_1
thanks for read and i love you 💕💕