
Leon langsung membalikan badannya mengejar Lexa. Dia masih memiliki waktu hanya bertanya pada Lexa. Sementara Jerry masih di sana melihat betapa sigapnya Leon yang mungkin mencemaskan Lexa. Dia tak seharusnya berada di antara mereka. Dia menghela napas dan berjalan ke arah mobilnya.
"Kau kemana saja hah?" Leon menahan lengan Lexa.
"Lepaskan! Kau tidak mempunyai hak bertanya aku kemana dengan siapa sedang apa, kau tak punya hak!" Lexa menghempaskan tangan Leon dan sesaat menatap pria itu lalu kembali berjalan menuju kantornya.
"Baiklah baiklah, aku minta maaf, aku minta maaf membentak mu kemarin. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi denganmu Lexa!" Leon terus mengejar dan kini menahan tubuh Lexa dengan memegang kedua lengannya.
"Lalu kalau kau sudah tau bagaimana? Kau pun hanya menenangkan tanpa berbuat apa apa! Sudah Leon, kita bukan apa apa, kau bukan siapa siapaku dan aku juga bukan siapa siapamu, aku banyak sekali urusan, jangan mengangguku aku mohon!" Sekali lagi Lexa menghempaskan kedua tangan Leon.
"Oke aku menyerah, lihat saja Lexa, kau yang akan kembali menemuiku!" Decak Leon frustasi. Seketika Lexa berhenti menoleh lalu menatap tajam Leon sampai Leon agak terkejut dengan tatapan yang tak pernah menyerangnya. Lalu Lexa kembali berbalik dan menjauh dari Leon.
"Sial! Kenapa aku malah mengatakan itu padanya!!" Gerutu Leon. Dia hendak menyusul Lexa lagi namun Ben menghubunginya.
"Ben! Kau saja yang mengantar Tuan Jeremy, Lexa sangat marah padaku dan parahnya dia baru saja datang bersama Tuan Jerry, sial!!!!" Decak Leon mengangkat panggilan Ben.
"Tidak bisa Leon! Kau harus ikut, kita akan bertemu dengan orang pakar kembang api itu kan, kau lupa kau sudah membuat janji dan kebetulan kita mengantar Tuan Jeremy ke sana bukan?" Ben mengingatkan.
"Argh, kau benar juga! Tapi Lexa masih marah padaku!" Sungut Leon bingung. Dia benar benar dilema.
"Nanti kalau dia menerima apa yang kau siapkan untuknya dia tidak akan marah lagi dan malah menjadi milikmu kan? Sudah cepat kembali ke Hotel!" Ben membenarkan pikiran sahabatnya dan Leon menyetujuinya.
πLEONπ
Kali ini saja, aku minta maaf, jangan seperti ini denganku!
Akhirnya Leon mengirimi Lexa pesan yang entah kapan sampai ke penerima hatinya itu.
...
Lexa memasuki ruangannya. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Kepalanya pusing karna semalam kembali tidak bisa tidur memikirkan permintaan ayahnya yang tadi diingatkan lagi. Dia juga memikirkan Leon yang tidak menghubunginya dan sekarang muncul dengan wajah tak karuan seperti ini. Apa yang sebenarnya sedang dikerjakan Leon, pikir Lexa. Lexa malah berpikir Leon tidak memperdulikan perasaannya.
"Lexa?" Panggil Lucy di daun pintu ruangannya.
"Ada apa? Kalau ada client yang hendak bertemu, kau saja dulu atau Susan yang hadapi, aku sedang tidak mood. Untuk persetujuan biar aku yang menandatangan lalu kulaporkan pada Nyonya Viena." Jawab Lexa berceloteh dan menegakan tubuhnya.
"Tidak! Aku hanya ingin memberi tahu kalau kemarin ketika kau masih di Springfield, Tuan Jerry sudah tiga kali hendak menemuimu!" Lucy memberitahu.
"Ya, aku sudah tahu!"
"Jangan bilang kau berhubungan dengannya!" Selidik Lucy mengernyitkan aliasnya. Biar bagaimanapun dia tetap menyetujui temannya itu bersama Leon.
"Memang kenapa?" Lexa malah membuat Lucy semakin penasaran.
"Are you seriously, Lexa?" Lucy terbelalak lalu duduk di hadapan Lexa.
"Lalu, bagaimana dengan Leon mu. Tadi dia kesini menunggumu dan dia tampak frustasi Lexa, apakah dia sudah tahu?" Tanya Lucy.
"Sudah tahu apa belum itu bukan urusanku! Dia sudah seenaknya denganku, aku lelah jika tidak jelas seperti ini Lucy! Rasanya terlalu sakit! Aku menyesal telah mencintainya, seharusnya aku menjauh darinya sejak awal sehingga tidak sebesar ini perasaanku dengannya. Sedangkan apa yang dia perbuat padaku? Tidak ada selain membuatku selalu berharap!" Dengus Lexa.
"Lalu, kau menyukai Tuan Jerry!"
"Haiz, dia hanya seperti kakakku, seperti nyonya Viena tidak lebih! Aku tidak mau mencintai orang lagi, aku tidak mau!!! Sekarang kau sudah tau kan Lucy? Sekarang tolong keluar, aku mau sendiri, semua ini membuatku lelah!!!" Perintah Lexa dengan sedikit penekanan. Dia meraih tas nya untuk menyalakan ponselnya yang sejak semalam mati dan ia hanya mengisi energinya.
"Baiklah, kau tahu apa yang kau lakukan Lexa. Tapi, perasaanmu yang sebenarnya yang harus kau perhatikan Lexa, jangan sampai menyesal. Selama ini kau bersama siapa dan melakukan apa." Lucy beranjak dari duduknya dan berpesan pada Lexa. Lexa hanya mengangguk. Perasaannya perih.
Dia sebenarnya merindukan Leon dan dia cukup senang melihat wajahnya, namun Lexa juga tidak bisa memendam kekesalannya pada Leon yang selalu seenaknya. Dia melihat ponselnya terdapat pesan dari Angel yang menanyakan dirinya sudah tiba apa belum karna ponsel kakaknya tidak aktif. Lexa tersenyum melihat foto Angel dengan Juan.
Dan yang membuat hati Lexa hendak menghubungi Leon saat itu juga adalah pesan singkat dari Leon.
πLEXAπ
Seharusnya kau berpikir apa yang sudah kau lakukan selama ini denganku, kau jahat Leon!
Bukannya melakukan panggilan, Lexa malah membalasnya dengan kata kata itu. Lexa melempar ponselnya ke meja dan dia melihat agenda perusaha iklannya untuk pelaporan pada Viena.
__ADS_1
Ketika jam pulang bekerja berakhir, Jerry memberikan pesan pada Lexa kalau dirinya sudah menunggu di basement parkirnya. Lexa menuju ke basement parkir dan di sana Jerry sudah menunggunya. Dengan jas abu muda agak keunguan dan kaos putih di dalamnya, Jerry tampak menawan namun Lexa tidak merasakan apa apa hanya sekedar menawan tanpa terpesona.
cast Jerry : Lee Dong Wook
___________________________________________
"Kita ke rumah?" Tanya Jerry ketika Lexa sudah ada dihadapannya.
"Ya." Kata Lexa menuju ke kursi penumpang yang didahulukan oleh Jerry yang membantunya hendak menaiki mobil.
"Lexa!" Panggil seorang pria yang sangat Lexa kenal.
Leon dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya di Summer dan langsung pulang hendak menjemput Lexa namun dia kembali didahulukan Jerry yang sangat memiliki waktu luang karna dia seorang pemilik dan presiden direktur.
Lexa menoleh dan kembali terkejut melihat Leon dengan penampilannya yang agak lelah. Jerry merasakan tatapan Lexa yang mencemaskan asisten Dion Prime itu.
"Lexa, sebaiknya kalian berbicara, sebentar saja. Kau juga memikirkannya kan?" Kata Jerry memberi saran.
Leon sudah di depan mobil Jerry. Dia sebenarnya sudah sampai dan melihat Jerry pasti menunggu Lexa. Dia pun melihat Lexa menatap Jerry yang dia anggap Lexa menatap Jerry seperti punya arti padahal Lexa hanya lelah sehingga tatapannya sendu. Leon sudah ingin mengalah namun hatinya berkecamuk ingin berbicara pada Lexa.
Lexa menghela napas yang akhirnya menghampiri Leon dan menarik tangan pria itu.
"Kau mau apa?!" Tanya Lexa setelah agak menjauh dari Jerry.
"Kenapa kau seperti ini Lexa? Aku terus memikirkanmu, aku mohon maafkan aku!" Leon memohon.
"Kau mau sebuah maaf?" Tanya Lexa dengan wajah sinis.
Leon mengangguk.
"Baiklah aku memaafkanmu, sudah jangan mengangguku, aku masih banyak urusan, kau juga kan? Lakukan pekerjaan kita masing masing oke?" Kata Lexa ketus.
"Mengapa kau bersama Tuan Jerry?" Bisik Leon di depan wajah Lexa.
"Lexa! Kau sudah melupakanku?
"Siapa yang melupakan dan dilupakan, kau harus memikirkannya Leon!" Decak Lexa. Lexa sudah sangat lelah membicarakan hal yang itu itu dan selalu terulang lalu dia harus menunggu lagi entah sampai kapan. Sementara Leon belum bisa mengatakan apa yang sedang ia persiapkan. Ini semua tidak mudah baginya. Bukan hanya sekedar kata kata menurut Leon.
Lexa hendak berbalik namun Leon menahannya. Bersamaan dengan itu Jerry malah menghanpiri mereka.
"Leon, Lexa maaf menganggu pembicaraan kalian, tapi dad Lexa. Dia tak sadarkan diri, Jim memberitahuku." Kata Jerry menarik lengan Lexa.
"Papi? Ayo kita pulang Tuan, ayo!!!" Lexa sangat panik sampai tidak sempat ijin dengan Leon dan meninggalkan Leon yang sangat sangat bingung.
Leon berusaha menetralkan diri dan menahan tangan Jerry.
"Maaf, apa maksudnya dengan dad, papi?" Tanya Leon penasaran apakah Lexa sudah menemukan ayahnya? Mengapa sangat kebetulan pikirnya.
"Iya Leon, Tuan Alexis, daddy ku adalah papinya Lexa. Ayah kandungnya. Aku harus bergegas, permisi!" Kata Jerry singkat dan membuat hati Leon semakin terkubur. Rasa rasanya dia seperti tidak ada harganya lagi bagi Lexa. Leon masih terpaku di sana melihat kepergian Lexa dan Jerry.
...
Lexa memasuki rumah Jerry dengan sangat cepat sampai ke kamar ayahnya. Alexis terbaring lemah dengan selang infus yang sudah direkatkan pada tangannya. Jim mengatakan Alexis terjatuh dari kursi rodanya ketika dia sedang membaca seperti biasa di perpustakaan. Alexis membaca buku kenangannya dengan istrinya. Kata Dokter kondisi Alexis semakin memburuk. Dia seperti membutuhkan orang orang yang sangat ia kasihi. Emosinya naik turun dan tak menentu. Alexis memang hanya ingin kebahagiaan bagi kedua orang anaknya itu.
"Papi, bangunlah, aku sudah di sini!" Kata Lexa mencoba berkata kata pada ayahnya. Alexis sedikit mengernyitkan dahinya dan membuka matanya.
"Alexa, kau sudah datang? Jerry di mana?" Tanya Alexis pelan dan sedikit serak.
"I'm here, Dad!" Jerry mendekati Alexis.
"Alexa, secepatnya lah kalian bertunangan dan menikah. Aku ingin melihat kau sudah dimiliki pria yang akan menjaga mu dengan baik nak. Setidaknya sampai kau tunangan, Alexa. Aku hanya ingin ketenangan di sana ketika bertemu ibumu aku bisa mempertanggung jawabkan semuanya!" Kata Alexis kemudian dengan dangat terbata dan sedikit lemah.
"Papi, jangan seperti ini, kau pasti sehat. Kita baru saja bertemu, mengapa kau malah ingin meninggalkanku dan bertemu mami? Aku tidak rela papi. Kumohon bertahanlah untukku, aku akan selalu ada untukmu merawatmu!" Lexa sudah menitikan air matanya.
Tak lama Jim datang dan memberitahukan pada Jerry kalau kamar rawat vvip rumah sakit telah siap digunakan dan darah yang dibutuhkan yelah tersedia.
"Lexa, sebaiknya kita pindahkan Dad ke rumah sakit. Darah yang dibutuhkan dad sudah tersedia." Jerry menarik Lexa sesaat.
__ADS_1
"Benar Jer, di sana papiku pasti lebih terawat dengan intensif kan? Dan, biarkan setiap harinya aku yang merawatnya. Aku akan meminta cuti pada Nyonya Viena atau kalau perlu aku berhenti saja. Em, sepertinya aku mau menjadi istrimu Jerry.." kata Lexa akhirnya menundukan kepalanya dan menangis. Dia menjadi mengingat Leon. Mengingat masa masa manis bersama Leon dan mengingat kali terakhir dia hanya ingin menjadi istri dari Leon. Dia juga sudah berjanji pada Jane akan menjadi anak kandungnya, menantunya, namun dia tidak mau menyesal. Dia hanya ingin berbakti pada keluarga sedarahnya satu satunya dan ayahnya mempercayakan Jerry, orang yang sudah merawat ayahnya dengan ketulusan yang luar biasa.
"Lexa, jangan pikirkan itu dulu. Aku akan mengatasinya. Sekarang, ayo kita bawa Dad ke rumah sakit." Ajak Jerry berusaha mengesampingkan semua perasaannya. Perasaannya yang sebenarnya sangat memiliki kesempatan mendapatkan Lexa. Kalau pun pada akhirnya dia bisa bersama Lexa, dia akan membuat Lexa mencintainya.
Lexa mengangguk dan menangis tersedu.
Alexis sudah dibawa sebuah ambulans bersama Lexa di dalamnya. Sedangkan Jerry mengendarai mobil.
Setelah Lexa dan Jerry memastikan Alexis sudah dalam keadaan normal karna darah yang sudah mengalir ke tubuhnya, Lexa meminta ijin pada Jerry untuk menemui majikannya. Dia hendak meminta ijin setidaknya satu minggu ini untuk merawat ayahnya. Karna, hanya ini yang Lexa dapat lakukan di sisa hidup ayahnya. Dulu, dia tidak bisa berbuat apa apa pada ibunya karna dia juga belum bisa mencari nafkah. Sekarang dia ingin melakukan yang terbaik. Dia berpikir mungkin saja dia malah bisa menyelamatkan ayahnya dan kembali menjadi sehat. Sehingga dia masih bisa merasakan memiliki seorang ayah.
Jerry hendak mengantarnya namun Lexa menolak. Dia ingin ayahnya selalu ada yang menemani karna Jerry juga anaknya. Lexa akhirnya pergi ke apartemen Viena dan Dion.
"Nyonya, aku sudah menemukan ayahku. Tuan Alexis Atkinson." Kata Lexa dengan nada bersedih.
"Kau serius Lexa?" Dion tersentak karna dia mengenal beliau.
"Ya Tuan, ternyata Tuan Jerry mengganti namanya karna waktu itu ayahku depresi dan tidak bisa berkata banyak. Namun dia sudah mengingatnya dan mengatakan pada Tuan Jerry." Jawab Lexa.
"Ya, Jerry temanmu itu memang orang yang baik, suamiku." Tambah Viena.
"Ya, dia memang baik dan juga dermawan. Kau harus banyak mengucapkan terimakasih padanya Lexa." Kata Dion mengingatkan.
"Ya Tuan. Oleh sebab itu aku mohon ijin untuk satu minggu ini merawat papiku, Nyonya!" Lexa sudah menundukan kepalanya bersedih.
"Apakah ayahmu masih sakit Lexa?" Tanya Viena memastikan keadaan ayahnya Lexa.
"Ya Nyonya, dia terlalu banyak berpikir. Dia merasa karna sudah bertemu denganku jadi dia hendak pergi saja dan menemui ibuku di surga. Jadi kondisinya semakin melemah. Dia sekarang di rawat di rumah sakit pusat kota. Aku hanya ingin menemaninya sampai dia pulih, dan aku ingin dia kembali sehat. Dan, mungkin aku akan menuruti permintaannya." Lexa meneteskan air matanya. Dia benar benar memikirkan Leon namun sampai saat ini dia tidak tahu perasaan Leon.
"Ya aku mengijinkan kau menemani ayahmu sepuasmu Lexa. Kau tenang saja. Kau tetap bekerja di tempatku, aku tidak akan memecatmu. Kau harus bisa menuruti permintaan ayahmu jika dia ingin selalu di dekatmu. Kau jangan menyesal." Tutur Viena bijaksana.
"Ya, aku tidak mau menyesal, ini kesempatan terakhirku menjadi anak yang berbakti, Nyonya." Lexa mencoba menghapus air matanya dan hal ini disadari oleh Dion.
"Lalu kenapa kau menangis Lexa? Viena dan aku pasti mengijinkanmu. Kau baik baik saja?
"Sebenarnya, aku akan bertunangan dengan Tuan Jerry. Itu yang diinginkan papiku Tuan, Nyonya!" Akhirnya Lexa mengatakan pada kedua majikannya dengan mendongakan kepalanya dan meneteslah lagi tangisnya di depan kedua majikannya.
Dion pun mengerti. Dia berdiri. Dia tak kuasa mendengarnya, sementara Viena menutup mulutnya. Dion sudah menolak satu tangannya ke pinggang dan satu tanganya ke dagunya. Dia memikirkan asistennya.
...
...
...
...
...
Aiiggooo Leon lu lama banget sumpahh gua jadi nangiss ngeliat majikan lu mikirin lu aja gua nangis begini, hadeeehhh !!!! Ups maap reader kebawa perasaan πππππ
.
Next part 73
Apa yang dilakukan kedua majikan Lexa dan Leon sekarang?
Apa Jerry juga akan menuruti permintaan ayahnya untuk menjadi suami Lexa?
Leon nii lagi ngapain sih? Heran gua ππ
.
Plis plis LIKE KOMEN yang banyak yaa karna semua yang kalian pesankan ke aku merupakan semangat aku ππ
Kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa ππ
.
Thanks for read and i love youu π
__ADS_1