Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 42. Proud of You


__ADS_3

Mendalami isi hati seseorang tidak semudah membalikan telapak tangan. semua membutuhkan proses dan ketuguhan hati. jika niat sudah menyulut hati maka akan hari terang menanti. Carolyn dan Xelino hanya ingin memastikan sikap di antara kedua belah pihak. bukan semata mata harus menyatakan semestinya tetapi lebih ke arah menilik perasaan masing masing terlebih dulu. bagaimana kisah selanjutnya? stay tune ...


...


Carolyn menarik diri dari pelukan Xelino dan menundukan kepalanya. Dia tersipu malu dengan sikap Xelino. Xelino menyadarinya dan dia hanya tersenyum lalu kembali merangkul Carolyn.


"Jadi, kau sudah memaafkan ku kan, Carolyn?" tanya Xelino memastikan.


"Tidak memaafkanmu juga akan terkesan memaafkanmu kan?" gumam Carolyn menoleh.


"Kau benar benar anak Tuan Gilbert, smart!"


"Kue dan kopi nya sudah habis, aku ingin pulang Xelino," kata Carolyn kemudian.


Xelino melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul setengah delapan malam.


"Kau benar nona, ups maksudku princess Carolyn, tapi kau tidak ingin menikmati cahaya indah malam hari taman ini? Katanya sekitar pukul delapan malam," ujar Xelino.


"Benarkah? Ini saja sudah indah Xelino," saut Carolyn yang tidak mengetahui ada jadwal pencahayaan ini.


Xelino menggeleng tersenyum.


"Em em, akan ada yang lebih indah lagi. Kau mau menunggunya sebentar?" tanya Xelino lagi.


Carolyn menarik napas tersenyum. Ini momen langka mereka bisa berlama lama begini. Dengan kata lain mereka sedang berkencan. Carolyn tersenyum tersipu malu. Xelino menoleh ke arahnya dan sedikit heran dengan tingkah majikannya itu.


"Mengapa kau tersenyum senyum?" Tanya Xelino dan Carolyn masih tertunduk malu.


Carolyn masih tidak sadar kalau Xelino menanyainya. Dia masih menunduk sambil melihat sepatunya menari nari di bawah sana.


"Carolyn, kudengar kalau seorang wanita tersenyum dan memain mainkan kakinya pertanda dia sedang senang atau sedang jatuh cinta, apa kau jatuh cinta padaku?" gumam Xelino memancing Carolyn sambil bergurau.


Saat itulah Carolyn tersadar. Dia menoleh ke arah pria itu dan berpikir banyak sekali cara rubah ini untuk memancingnya mengatakan cinta lebih dulu. Itu tidak akan mungkin. Carolyn pun memicingkan matanya. Sementara Xelino menunggu jawaban dari nya sambil menyunggingkan senyum menggoda.


"Jatuh! Ini jatuh namanya! Kau sudah menipuku lalu aku jatuh cinta padamu? Apa jaringan jaringan otak ku ini tersambung dengan benar atau tidak!" Decak Carolyn memukul kepala Xelino lagi.


"Aduh! Ohhh Nona! Eh, Carolyn! Keterlaluan! Bagaimana pria pria menyukaimu kalau kau galak seperti ini?!" saut Xelino memegang belakang kepalanya.


"Biar saja! Makanya bicara yang benar!!" bentak Carolyn yang jantungnya sudah tak karuan.


"Baiklah, aku hanya menggodamu!" Sungut Xelino mengusap usap kepalanya berpura pura hendak mencuri perhatian Carolyn. Dia menekuk wajahnya seperti sangat kesakitan.


Awalnya Carolyn tidak peduli lalu kembali menoleh. Di sana Xelino masih menunduk memegang kepalanya.


"Xelino? Kau baik baik saja?" selidik Carolyn cemas.


"Kepalaku sakit nona! Kau jahat sekali! Ini termasuk tindak penyerangan!" sungut Xelino meringis.


"Sok tahu! Aku hanya memukulnya pelan!" saut Carolyn mulai memegang kepala Xelino.


"Tapi kepalaku sakit, heeemm!"


"Oh Tuhan! Kau jangan menipuku!"


"Tidak! Ini sakit membuatku pening!" Keluh Xelino terus mengusap usap belakang kepalanya dan merintih.


"Aku memukulmu pelan Xelino,"


"Tapi mengapa sampai pening begini?" keluh Xelino memicingkan matanya agar menjiwai.


Carolyn mulai merasa bersalah. Dia lalu melihat lihat ke belakang kepala Xelino.


"Hem, tidak bisakah kau menjadi wanita yang lembut hah? Hem, ini sakit!" kata Xelino lagi.


"Mana yang sakit, biar kupijat," tanya Carolyn.

__ADS_1


"Yang ini ..." Ujar Xelino menunjukan kepalanya.


Tangan Carolyn memegang kepala belakang Xelino. Xelino tersenyum tipis.


"Maaf ya?" Ucap Carolyn sambil memijat mijat kepala belakang Xelino.


"Hem, sakit sekali Carolyn! Kau kasar sekali!!" Tutur Xelino terus mengerjai Carolyn. Carolyn malah juga senang karena memegang belakang kepala Xelino.


"Sudah kan?"


"Ya, sudah membaik, tanganmu sebentar kasar tapi sebentar sangat menggugah hati!" Puji Xelino berhasil mengambil perhatian Carolyn.


Dan cahaya cahaya taman itu menyala pada akhirnya tepat pukul 8 malam. Carolyn benar benar terkesima. Cahaya cahaya itu muncul dari bawah tanaman sehingga terlihat seperti aurora di langit karena pantulan cahaya yang tinggi.


"Indah sekali Xelino, mengapa aku baru mengetahuinya?" kata Carolyn bertanya tanya.


"Special for you, Carolyn!" ujar Xelino.


"Kau yang menyiapkan ini?"


"Tidak! Aku baru mengetahuinya beberapa hari lalu dan memang ingin memperlihatkannya padamu,"


"Terimakasih, Xelino!" Ucap Carolyn memegang lengan Xelino. Xelino tersenyum dan malah menarik Carolyn lebih dekat dengannya. Dia merangkul Carolyn layaknya seorang kekasih. Carolyn lagi lagi tidak boleh melewatkan kesempat ini. Dia mengambil iPad dan kembali mengambil gambar dengan Xelino.


"Suatu saat kita bisa mengenang ini," gumam Carolyn.


"Mengenang bersama dan ikatatan bersama," balas Xelino tersenyum tipis dan Carolyn sekali lagi tidak paham dengan apa yang pria ini bicarakan. Dia tidak peduli dan memasukan foto tersebut pada akun sosial medianya dengan caption snapshot with fox ❤️. Xelino hanya tersenyum melihatnya.


Akhirnya mereka meninggalkan taman itu. Xelino dan Carolyn jalan berdampingan keluar menuju ke parkiran gereja. Tak lama Xelino mendapat panggilan dari Allegra. Tentu dia tidak boleh dekat dekat dari Carolyn. Xelino meminta ijin sebentar mengangkat telepon sementara Carolyn berjalan perlahan menuju parkiran.


Namun, baru saja Carolyn berjalan ke arah depan taman, dia melihat di seberang jalan sana kedai kue ikan yang masih buka. Carolyn jadi ingin membelinya lagi dan menunjukan pada ayah dan ibunya. Carolyn semakin mendekat dan hendak menyebrang. Dia memicingkan matanya dan seperti mengenal dua orang tua wanita yang berada di depan kedai tersebut.


Ketika Carolyn mau menyebrang, muncul lagi seorang wanita dan memarah marahi dua wanita paruh baya itu. Carolyn pun menyebrang dan tidak salah lagi kalau dua orang tua itu adalah Claudia dan Lexa. Carolyn tersenyum. Kebetulan sekali dia kembali bertemu dengan dua orang tua ini. Tak lama Carolyn juga kesal karena seorang wanita yang baru datang itu memarah marahi Lexa dengan sangat tidak sopan. Carolyn jadi menghampirinya.


"Selamat malam Nyonya Janson dan Nyonya Jovanca, ada apa ini?" Sapa Carolyn langsung bertanya dengan masalah yang terjadi.


"Benar nyonya! Ada apa ini?!" tanya Carolyn lagi.


"Wanita tua ini menabrakku sehingga ponselku terjatuh. Dia terus berjalan dan tidak peduli! Sekarang aku meminta ganti rugi!" Decak wanita itu.


"Aku tidak sengaja, nak, kan kau bisa berkata baik baik," balas Lexa menundukan kepalanya dan sedikit melirik Carolyn.


"Tidak bisa! Aku sudah memanggilmu tapi kau tidak peduli! Kau sombong sekali Nyonya!" bentak wanita itu lagi.


"Aku sudah tahu jadi aku tidak begitu mendengar panggilanmu, maafkan aku," ucap Lexa lagi melemah dan menunggu respon Carolyn.


"Banyak alasan! Cepat sekarang juga berikan uangmu 5 juta untuk penggantian ponselku!" teriak wanita muda itu lagi..


"Hey!" Pekik Carolyn kemudian. Wanita itu menoleh ke arah Carolyn dan menatapnya tajam.


"Apa kau tidak bisa melihat kalau nyonya ini seorang wanita paruh baya? Kau bisa melihat tidak! Jangan hanya berteriak teriak! Kalau kau mau berteriak teriak, di depanku jangan di depan orang tua!" kata Carolyn menantang. dia risih sekali melihat pemandangan ini.


"Hey, kau tidak usah ikut campur, ini masalahku dengan wanita tua ini!" decak wanita itu.


"Nah! Kau sangat mengatakan dia wanita tua jadi mengapa kau bilang dia banyak alasan dan tidak mau mendengarkannya? Dia juga sudah minta maaf! Kau bisa berkata sopan dan meminta baik baik! Mengapa wanita sekarang tidak bermoral!" balas Carolyn sudah meluap luap.


"Kalian semua tidak usah balik menyerangku, apalagi kau nona! Bilang saja kalian tidak bisa mengganti ponsel Mahalku ini kan?!" tantang wanita itu meremehkan Carolyn dan Lexa.


"Tidak bisa mengganti kau bilang? Berapa harga ponselmu?!" Carolyn menantang kembali.


"Lima juta!"


"cih, Jangankan lima juta, seluruh tubuhmu saja bisa kubeli! Sekarang, kau minta maaf dulu pada nyonya ini setelah itu baru aku akan mengganti ponselmu!" perintah Carolyn tetap tidak terima wanita itu membentak bentak Lexa.


"Bagaimana bisa kau menyuruhku meminta maaf pada wanita tua ini sementara dia yang menabrakku?!" pekik wanita itu tidak mengerti apa yang dimaksud Carolyn.

__ADS_1


"Dia sudah minta maaf, kau ini sudah buta, juga tuli yaa?!!!" Decak Carolyn lagi sudah sangat kesan dan hendak menyerangnya tapi Lexa menahannya.


"Sudah sudah nak, biarkan saja, aku memang yang salah, biar aku ganti ponselnya," kata Lexa memegang lengan Carolyn.


"Tidak bisa nyonya! Dia harus meminta maf padamu karena membentakmu! Aku tidak terima! Aku saja sangat menghormati ibuku! Memang kau tidak punya ibu, hah?" Banyak Carolyn lagi pada wanita muda itu.


"Carolyn! Ada apa ini? Nyonya Janson, Nyonya Jovanca, kita bertemu lagi. Ada apa ini?" tanya Xelino tiba tiba sudah menghampiri mereka.


"Lihat wanita ini Xelino, dia membentak bentak Nyonya Janson seperti orang gila padahal nyonya Janson sudah minta maaf! Aku hanya menyuruhnya meminta maaf pada Nyonya Janson tapi dia malah marah marah!" decak Carolyn mengadu pada Xelino.


"Ada apa sebenarnya?"


Claudia pun berbisik pada Xelino dan dia sangat paham.


"Yasudah yasudah Carolyn biarkan saja. Jangan ribut ribut di depan gereja!" kata Xelino menenangkan .


"Nyonya Janson hampir menangis, bagaimana aku bisa diam saja?!!!" saut Carolyn masih tidak terima.


"Yasudah, tenanglah dulu!" Kata Xelino lagi menarik tangan Carolyn untuk menjauh dari wanita itu. Lexa juga mengikutinya.


"Nona, berikan nomor rekening dan kartu namamu, aku akan menghubungimu segera! Maaf atas keributan ini," kata Xelino kemudian mengakhiri semua keributan ini.


"Xelino ... Dia yang membentak bentak Nyonya Janson, dia yang datang lebih dulu!" ujar Carolyn membuat Xelino mengerti.


"Sudah diamlah, aku mengerti sudah!"


"Ini kartu nama dan nomor rekeningku! Aku juga harus meminta kartu nama dari nyonya Janson ini. Mana aku tahu, nyonya janson ini benar atau gadungan," kata wanita itu menyerahkan kartu nama dan nomor rekeningnya di belakang kartunya.


"Kau! Bisa bisanya kau bilang lagi nyonya Janson berbohong! Dasar gadis ulaarr!!!" Pekik Carolyn lagi karena wanita itu masih mengatai Lexa.


"Carollyynnn!!! Tenang! Plis, aku mohon diam atau akan menciummu di sini, kau tahu seberapa nekat diriku kan?" Kata Xelino menahan Carolyn memeluknya dan memegang wajah wanita itu. Xelino mengelus wajah Carolyn agar dia terdiam.


Claudia dan Lexa membelalakan matanya . Mereka mengingat beberapa kejadian lalu yang sama seperti ini. Ternyata Xelino menang tidak jauh dengan sifat pria mereka. Ama Mona yang melihat drama itu di dalam kedai juga sudah tersipu malu. Begitu juga wanita muda penodong itu . Untung saja Xelino tidak menciumnya dan Carolyn langsung terdiam.


"Sudah diam dulu," kata Xelino lagi merasa Carolyn sudah tenang. Xelino tahu perasaan Carolyn, begitu juga dengannya. Anak mana yang rela mendengar ibunya dihina seperti ini. Namun, Xelino menghargai dia sebagai wanita juga mereka sedang ada di depan gereja.


"Nyonya Janson, berikan kartu namamu!" pinta Xelino.


"Ah iya, ini," kata Lexa tersadar mengambil kartu namanya dan memberikan pada Xelino.


"Nona, kau bisa menghubungi perusahaan iklan ini jika kau tidak percaya pada nyonya Janson. Vice President and private assistant Jovancy Advertising, Legacy. Kau bisa membacanya? Kau tahu Viena Jovanca dan Dion Prime? Apa kau kurang tahu kalau di sampingku ini Nyonya Claudia Jovanca, istri dari Lawyer Egnor Jovanca? Ibu dari Tuan Muda Willy Jovanca, kau tahu? Kau pernah mendengarnya kan? Jadi jangan khawatir dan jangan sesuka hatimu menghina orang tua! Beliau orang tua, sama seperti ibumu! Untuk ponselmu, beliau pasti menggantinya. Kau bisa pergi dan jangan memulai keributan lagi!" kata Xelino dengan penuh kebijaksanaan.


"Hem, aku akan membuktikan kalian, sekarang banyak penipu!" Saut wanita itu berbalik dan meninggalkan mereka dengan wajah cukup ngeri. Dia tahu kalau orang orang itu orang baik tapi tidak menutup kemungkinan dirinya akan dituntut. Sebaiknya dia pergi lebih dulu dari sana.


Carolyn masih terdiam di pelukan Xelino dan kembali merasakan aroma pakaian Xelino yang begitu menenangkannya. Carolyn semakin yakin kalau dia begitu menyukai pria ini. Cara Xelino menahannya dalam kemarahan dan menenangkannya. Carolyn ingin selalu seperti ini seterusnya. Tapi sampai kapan mereka berdua tidak mengakuinya. Carolyn jadi berpikir apa harus dia yang mengatakannya lebih dulu. Carolyn semakin tidak mengerti dengan suratan cinta ini.


"Nyonya Janson, Nyonya Jovanca, masalah selesai, maafkan aku jika Nona ku membuat hal ini menjadi panjang," ucap Xelino pada Lexa, ibunya.


"Ahh tidak apa apa Xelino, aku malah ingin berterima kasih pada Carolyn Karena telah membelaku," balas Lexa dan dia menarik tangan Carolyn. Carolyn yang masih terbuai dengan aroma tubuh Xelino mengikuti tarikan Lexa yang lalu memeluknya.


"Nona Carolyn, terimakasih kau telah membelaku, aku semakin yakin satu hal," ucap Lexa.


"I i iya nyonya sama sama, aku hanya melihat kau sebagai ibuku, tapi apa maksudmu tentang yakin?" tanya Carolyn menarik diri.


"Ya, aku tidak memiliki anak perempuan, kalau aku memilikinya pasti dia mirip sepertimu, " saut Lexa berdalih, padahal dengan maksud yakin menjadi menantunya.


"Oh iya Nyonya, kalau kau tidak keberatan, anggap saja aku anak perempuanmu," gumam Carolyn.


"Oh, itu pasti, tunggu saja tanggal mainnya. Baiklah, aku dan Nyonya Jovanca pergi dulu, sudah terlalu malam kami ada di sini. Sampai jumpa!" Saut Lexa lagi menarik tangan Claudia menuju mobil mereka.


Carolyn kembali dibuat bingung dan sedikit merasa kalau ada sedikit aroma tubuh Lexa mirip dengan Xelino. Carolyn masih terdiam. Sementara Xelino memperhatikan wanita di sampingnya ini. Dia bangga melihat perubahan Carolyn dan dia juga semakin yakin menyukai Carolyn yang begitu perhatian pada ibunya. Carolyn mungkin memang belum tahu, Xelino jadi harus mempersiapkan semuanya ketika dirinya memberitahu hal yang sebenarnya.


...


next part 43

__ADS_1


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2