
Masa lalu ada kalanya dilupakan jika hal tersebut menyakitkan. Bahkan yang berlalu tidak mau bersama kita. Namun, bagaimana jika masa lalu terpaksa harus pergi? Sulitkah menerimanya atau berpura pura baik baik saja? Ada apa dengan Carolyn? Apakah Carolyn tetap fokus dengan pekerjaan baru dan cita citanya atau malah memikirkan masa lalunya? Apa dia masih mengharapkan Lionel? Seperti apa peran Xelino baginya?
...
Carolyn menarik diri dari pelukan Xelino. Dia akui pelukannya begitu hangat dan aroma tubuh Xelino seperti pria berkelas. Namun, bukan saat ini Carolyn memikirkan hal itu. Biar bagaimana pun Xelino adalah pria yang ia benci dan selalu mengesalkan dirinya. Carolyn berbalik dan kembali ke kolam renang. Dia berjalan dengan pelan dan Xelino tentu saja mengikutinya.
Carolyn duduk di sun lounger dan menutup wajahnya. Xelino mendekatinya dan duduk di depannya dengan bangku bangku kecil yang ada di sekitar kolam.
"Nona Carolyn, ada apa denganmu? Mengapa kau menangis?" Tanya Xelino mencari cari wajah Carolyn.
Carolyn menggeleng. Dia sedang tidak mau berdebat dan dia juga tidak mau bercerita.
"Hem, bagaimana jika Daddy dan mommy mu bertanya ketika pulang nanti? Aku harus menjawab apa?" Tanya Xelino lagi tidak menyerah. Sebenarnya dia tidak mau terlalu tahu sekali. Dia hanya hendak mengumpulkan jawaban jika tuannya bertanya nanti. Carolyn lalu membuka tangannya dan mendongakan sedikit wajahnya menatap Xelino. Lagi lagi entah mengapa Carolyn seperti terkesima dengan wajah santai Xelino. Walau lebih tegas dan dewasa Aciel baginya.
"Xelino, bisakah kau membantuku?" Pinta Carolyn sesaat.
"Untuk memiliki rumahku, aku tidak bisa membantu," saut Xelino menerka.
"Tidak! Untuk rumahmu aku pasti bisa mendapatkannya bukan darimu!" Balas Carolyn menatap tak suka.
"Dari siapa? Anaknya Tuan Janson?" Xelino kembali menerka.
"Mungkin, mungkin lebih bagus dari lahan rumahmu," cibir Carolyn.
"Oh, kalau itu aku juga bisa memberikannya padamu, nanti kalau aku gajian, haha!"
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada! Jadi kau perlu bantuan apa?" Tanya Xelino.
"Em, jangan katakan pada Daddy dan mommy ku kalau aku menangis, apalagi karena Kak Aciel," pinta Carolyn kini memasang wajah sedikit memelas.
"Memang ada apa kau dengan pria bernama Aciel?" selidik Xelino menaikan satu alisnya.
"Kau tidak perlu tahu, aku hanya butuh kau menyembunyikannya. Bisa tidak?!" saut Carolyn lagi dengan penekanan.
"Oohh iya iya, bukan hanya menyembunyikannya pada mom and dad mu, aku berjanji tidak akan memberitahu pada siapapun! Ini adalah sumpah seorang pria sejati!" Kata Xelino lagi dengan menaruh tanganbya di depan dadanya. Sesaat Carolyn terkekeh melihat gaya Xelino seperti ini. Seakan akan Carolyn pun melupakan kenangan masa lalunya.
Carolyn pun tersenyum melihat tanggapan Xelino. Dia mengusap wajahnya dan merasa lebih baik lagi. Tidak seharusnya dia memikirkan orang yang sudah tidak ada di dunia ini. Carolyn masih tersenyum dan Xelino menyadari kalau ternyata senyum Carolyn cukup manis juga. Dia pun terus memperhatikan nona nya itu.
"Sekarang, tolong ambilkan iPad ku, aku harus membalas pesan seorang pria," pinta Carolyn menengadahkan telapak tangannya. Namun, Xelino masih melamun memandangi Carolyn. Carolyn sedikit heran. Carolyn menjentikan jarinya di depan wajah Xelino.
"Hey, Xelino!" Panggil Carolyn. Xelino pun terkesiap dan menggelengkan kepalanya. Dia lalu menatap Carolyn lagi.
"Ada apa?!" tanya Xelino tak sadar.
"Kau melamun apa?" tanya Carolyn sedikit penasaran.
"Kecantikanmu,"
"What?!" Carolyn mengernyitkan dahinya.
"Wajahmu cantik masa wajahku, kau ini! Sudah, kau mau apa?!" Saut Xelino tetap dengan karismanya walau memuji Carolyn dia tidak boleh terlihat terkesima.
"Ambilkan ipadku, aku ingin membalas pesan seseorang, aku melupakannya karena nenek sihir padahal aku baru saja memulai hubungan dengannya," kata Carolyn lagi.
"Dengan siapa maksudmu?" tanya Xelino lagi lagi penasaran. mengapa wanita ini memiliki banyak sekali teman pria.
"Kau tidak perlu tahu, cepat ambilkan iPad ku!" perintah Carolyn lagi.
Xelino menyerah dan tidak mau tahu. Dia lalu menuju loker Carolyn dan mengambil tasnya. Xelino memberikannya pada Carolyn dan tidak menyadari apa yang hendak Carolyn lakukan. Carolyn meraih tasnya dan merogoh ke dalam mengambil ipadnya.
📝carolyn@delinsgroup.com
Tentu aku pekerja keras. Aku seorang arsitek tapi demi membuat perusahaan sendiri, aku rela menjadi asisten terlebih dahulu. Padahal kau tahu kan ayahku seorang Presdir agriculture Delins Group. Semoga kau bisa menyempatkan dirimu secepatnya. Ngomong ngomong di mana kau tinggal? Ikut papimu atau di mana? Em, bisakah kita bertukar nomor ponsel?
Tersungging guratan lebar pada bibir Carolyn ketika mengetik pesan untuk Lionel yang tadi belum sempat ia balas.
Kling!
Sebuah suara berbunyi pada ponsel Xelino mendandakan muncul sebuah pesan email atau pasan chat. Xelino terkesiap begitu juga dengan Carolyn. Carolyn langsung menoleh ke arah saku jas Xelino. Xelino sedikit salah tingkah namun tetap tenang meraih ponselnya dan melihatnya dengan santai.
"Mengapa aku mengirim email ponselmu berbunyi?" tanya Carolyn sedikit curiga. Namun, dia tidak mau mengakui kalau misalnya benar Xelino merupakan anak dari Leon atau anak lainnya.
"Memang hanya pesan darimu! lagi pula kau ada di depanku, mengapa kau mengirim pesan padaku?! kau ini lulusan akselerasi kan tetapi otakmu kecil sekali, aku jadi curiga! Ini pesan dari pacarku di Legacy!" jawab Xelino panjang lebar mengalihkan kecerobohannya.
"Hah? Pacar? Kau mempunyai pacar?" Carolyn memicingkan matanya kurang percaya.
"Punya! Dia seorang penyanyi yang lebih cantik darimu dan sangat manis! Sudah cepat ganti pakaianmu, sebentar lagi waktu kerjaku habis, kau juga harus makan malam!" Decak Xelino benar benar salah tingkah dan menjauh dari Carolyn. Carolyn menekuk bibirnya kesal. Bisa bisanya Xelino yang malah mengatur dirinya.
...
__ADS_1
Keesokan harinya setelah Xelino mengantar Carolyn, dia langsung menuju ke kantor. James melaporkan kalau Gilbert menyetujui untuk dirinya juga Xelino bisa mengambil alih masalah panen yang ternyata terdapat sebuah kecurangan. Namun, sepertinya beberapa dari pegawai yang dicurigai pihak kantor menjadi membenci Xelino karena Xelino yang melaporkan semuanya. Ketika, Xelino memasuki pabrik untuk melihat hasil terkini, seseorang meraih jasnya dan membawanya ke belakang pabrik. James sedang mengurus laporan untuk rapat nanti siang jadi dia tidak menemani Xelino.
"Ada apa dengan kalian?" bentak Xelino.
"Ada apa kau bilang! Mengapa urusan panen kau yang menangani?" tanya pegawai tersebut menunjuk nunjuk Xelino.
"Karena perintah Tuan Gilbert lalu apa?" Xelino menantang kembali.
"Kau jangan serakah anak muda! Bukankah tugasmu juga sebagai asisten Nona Carolyn, lalu untuk apa lagi kau bekerja di sini? Bahkan kau menganggu rencana kami," ujar mereka.
"Heng, rencana kalian bilang. Untung saja aku dan James tidak memberitahu kalian tapi kalian malah menantang ku!" Balas Xelino dengan tetap tenang dan perlahan meraih ponselnya di saku jasnya. Dia sedikit melirik ke bawah dan menekan tombol merekam lalu ia kembali memasukan pada sakunya.
"Lebih baik kau tidak usah bekerja di sini lagi, kau urus saja Nona Carolyn! Jangan urusi apa yang kami lakukan! Kau telah mencuri penghasilan kami, Xelino!" bentak salah satu dari mereka bertiga.
"Hasil penyelundupan itu tidak benar!" Xelino mencoba memberitahu.
"Kenapa kau banyak omong sekali hah?"
"Sudah habisi saja dan kita lempar dia keluar dari kantor! Kita bertiga dia sendiri!" kata temannya lagi.
"Heng, kalian memang seorang pecundang!" desis Xelino sedikit menyeringai.
"Kurang ajar sekali kali! Baru saj masuk ke sinis udah membuat banyak ulah, rasakan ini!" Pekik seorang dari mereka. Dia sudah membawa sebuah balok dan hendak memukul Xelino tapi Xelino dengan cepat menahan dengan tangannya.
Xelino masih memegang balok tersebut dan menatap mereka bertiga dengan mata lancipnya. Seketika mereka bertiga bergidik melihat tatapan Xelino yang begitu tajam dan menusuk.
"Kalian sungguh membuang buang waktuku!" Xelino berdecih dan dan menghempaskan balok tersebut yang juga diikuti oleh seorang yang memegang balok itu. Xelino juga mengenai dua pekerja lainnya dan mereka bertiga pun tersungkur.
"Aku tidak mau bermain main, aku kemari untuk bekerja bukan meladeni pekerjaan picik kalian!" Kata Xelino lagi mengebaskan jas dan celananya. Xelino pun meraih ponselnya lalu memperdengarkan apa yang sudah ia rekam.
"Dengar, aku sudah merekam pembicaraan kita. Kalian harus segera kulaporkan pada Tiam Gilbert! Aku sudah sabar dengan kalian tapi kalian malah menantang ku, Heng serakah! Bye!" Tutur Xelino dan hendak pergi meninggalkan mereka, tapi mereka malah menjadi jadi. Salah satu dari mereka menahan kaki Xelino.
"Tunggu! Kalau kau melaporkannya, aku tidak akan menjamin hidupmu di luar, sir!" Ancamnya.
Xelino tersenyum kecut.
"Aku tidak takut!" Kata Xelino dan mengangkat kakinya lalu meninjak tangan pegawai itu. Xelino pun segera pergi dari sana. Pertama tama dia kembali memeriksa hasil panen terbaru yang sudah di seleksi dan memantau pengemasannya. Setelah itu barulah Xelino melaporkan dalang dari kecurangan hasil panen ini.
Tentu saja Gilbert semakin bangga pada Xelino dan berterimakasih padanya. Dia juga semakin mempercayai Xelino. Tidak salah dia mempekerjakan Xelino juga sebagai asisten pribadi anaknya.
Sementara di Venta Property Delins Group, Carolyn ditugaskan Deborah untuk menentukan ukuran skala denah yang sudah ia buat kemarin sesuai anggaran yang ditetapkan dari klien. Carolyn menemukan sebuah masalah di mana ukuran yang ada di anggaran tidak sesuai dengan ukuran pada denah. Ukuran pada anggaran lebih besar ketimbang ukuran yang diinginkan.
"Ini namanya curang! Hem, dasar orang miskin! Bisa bisa nya membedakan ukuran di anggaran pada ukuran yang diinginkan!" Decak Carolyn mengamati lebih jeli lagi dan dia yakin, dia tidak akan salah.
Selang setengah jam kemudian, mereka pun mengadakan presentasi. Carolyn sudah siap dan kali ini Rietha juga Deborah akan mengakui keahliannya. Seorang arsitek harus mementingkan kejujuran. Selain itu jarusbteliti dalam melakukan tindakan kecil sekalipun. Satu cm saja bisa menentukan bentuk dari bangunan atau ruangan itu sendiri.
Namun, ketika Carolyn mempresentasikannya, Deborah menyuruhnya berhenti melanjutkan. Rietha sedikit bingung. Klien mereka juga sudah memancarkan wajah yang tidak enak. Klien tersebut seperti ketahuan oleh Carolyn tapi mereka berusaha tenang dan malah ingin menyalahkan Carolyn.
"Carolyn! Ada apa dengan rancangannya? Mengapa jadi sebesar itu?!" Tanya Deborah mengernyitkan dahinya..
"Memang bagaimana proposalnya, Deborah?" Tanya Rietha.
"Carolyn yang mengetahuinya tapi ukurannya tidak akan sebesar ini. Ini akan mengubah semua bahan baku juga lama pengerjannya," decak Deborah mencoba memeriksa sketsa, denahnya dan denah Carolyn.
"Mohon maaf Nyonya Deborah dan Bibi Rietha. Jadi begini, aku melihat ada ketidak sesuaian antara ukuran di anggaran dengan ukuran bangun ruang yang sudah kau perkirakan Nyonya Deborah. Untuk masalah ini silahkan kalian tanyakan pada klien kita. Bagaimana bisa mereka membuat ukuran yang di anggarkan menjadi besar? Mereka ingin mengambil keuntungan dari perusahaannya! Ya, aku paham itu tidak akan mempengaruhi kinerja kita sebagai arsitek, TAPI KALIAN TELAH MEMANFAATKAN KAMI! Dan, parahnya lagi kalian memanfaatkan nama perusahaan property bibiku!" Kata Carolyn membuka suara dengan sedikit membentak.
Semua yang di sana terkejut terutama Rietha. Rietha mencoba sabar karena itu keponakan tercintanya tetapi Deborah tampak begitu kesal karena Carolyn mengubah denahnya tanpa sepengetahuan dirinya.
Brak!
Deborah berdiri sambil memukul mejanya.
"CAROLYN! KAU BENAR BENAR TIDAK SOPAN! KAU TIDAK TAHU ETIKA SAMA SEKALI! BAGAIMANA KAU MENGUBAH UKURAN YANG SUDAH SEHARUSNYA HANYA KARENA INGIN MENYESUAIKAN UKURAN ANGGARAN?!!! Rietha, mengapa kau mempekerjakan gadis yang sangat tidak tahu estetika sebuah bentuk ruang yang semestinya?! Masalah ini bukan masalah kita, lagipula kita sudah bekerja sama dengan klien ini tidak satu dua kali! Aku benar benar kecewa! Dia bukan seorang arsitek! Dia hanya anak manja yang berangan angan menjadi seorang ahli arsitektur yang menurutku jauh dari profesi itu!" bentak Deborah sekaligus mengumpat Carolyn.
"Mohon maaf juga Nyonya Rietha Delinsky! Lagipula mana mungkin ukuran anggarannya bisa sebesar itu, ini pasti salah pengetikan dan bisa dibicarakan , mengapa gadis itu yang jadi memutuskannya?!" sambung klien Rietha.
"Sudahlah Rietha, aku tidak tahu bagaimana ini, gadis itu harus mengembalikan ke ukuran yang sebenarnya! Dan kau Carolyn, jangan dulu menampakan wajahmu padaku! Ah, mengesalkan!" Decak Deborah lagi dan keluar dari ruang meeting itu.
Carolyn jadi terheran dan bingung, sebenarnya mereka yang bodoh atau memang tidak mengerti. Rietha merasa ini merupakan kesalahpahaman. Rietha mencoba bijak. Dia pun mengalah terlebih dulu dan meminta maaf pada klien mereka. Rietha membuat kembali jadwal pertemuan dan dia juga harus meredakan emosi Deborah. Deborah pasti salah mengira.
Setelah semua hal itu, Rietha menatap Carolyn yang hanya memainkan jarinya. Dia hanya melakukan sebuah kenyataan. Rietha menggeleng gelengkan kepalanya.
"Carolyn Carolyn ..." seru Rietha menepuk dahinya.
"Kau juga mau menyalahkanku dan tidak percaya padaku bi?" selidik Carolyn.
"Bukan begitu, tapi seharusnya kau mengerti sifat Deborah. Dia sangat tidak suka seseorang mengubah rancangannya apapun alasannya. Seharusnya kau bicarakan dulu dengannya. Sudahlah ..."
"Haiz, bibi bibi, sebuah inisiatif itu lebih diperlukan," balas Carolyn memotong perkataan bibinya.
"Carolyn! Jangan memotong perkataanku! Besok kau harus meminta maaf padanya dan mengkonsultasikan semuanya mulai dari sekarang dengannya, oke?" bentak Rietha tetapi kembali normal dan tidak menerima sangkalan keponakannya.
__ADS_1
"Tapi Bi ..."
"Tidak ada tapi tapian atau aku akan mengadu pada daddymu kalau kau masih mementingkan egomu!" kata Rietha lagi dan meninggalkan Carolyn.
Carolyn tertegun dan sedikit kecewa dengan bibinya. Rietha tidak mempercayainya. Carolyn akhirnya jadi terdiam dan memikirkan dirinya. Mengapa dia seperti terpojoki dan tidak ada gunanya? Padahal dia hanya menghindari kecurangan tapi ternyata malah dirinya yang terjebak. Carolyn memutuskan harus menjelaskan besok pada Deborah. Dia harus kuat pada pendiriannya. Dia tidak ingin kebohongan!
Akhirnya Carolyn kembali mengerjakan denah dari beberapa sketsa yang ada di buku jadwal Deborah. Paginya Deborah sudah memberi tahu beberapa klien lagi yang harus ia urus. Ada sekitar tiga klien yang menjadi pegangan Deborah dan bekerjasama dengan Venta Property milik Rietha.
Dan ketika Carolyn melihat sebuah sketsa dari klien yang ketiga yang belum ia ketahui, Carolyn merasa pernah melihatnya. Sketsa itu sebuah rumah bergaya istana kecil yang terdapat di pinggir ladang dan di sampingnya juga terdapat taman bunga yang begitu rimbun dan berwarna warni.
"Caroliciel house? No! Dia sudah tidak ada, tidak, tidak usah dipikirkan lagi, Carolyn plis! Dia sudah tenang di sana," gumam Carolyn seketika menundukan kepalanya. Bersamaan dengan itu sebuah pesan balasan dari Lionel masuk.
📝lionel@janson.com
Ya aku di Legacy. Mungkin Minggu depan aku akan ke Springfield melihat lokasi lahan papiku. Nanti aku akan mengabarimu lagi. Baiklah save nomorku : +5638***
Btw, don't forget to smile :)
Lagi lagi entah mengapa ketika mendapat atau membalas pesan Lionel, hati Carolyn jadi berbunga bunga. Seperti berhubungan jarak jauh dan tidak menyangka kalau Lionel cukup menyenangkan.
"Mungkin aku harus kembali membuka hatiku untuk pria lain. Lionel? Xelino? Eh, kenapa jadi Xelino si rubah jalanan itu?!! Tidak benar! Haizzz, kalau nanti sore dia telat menjemputku, akan kupangkas rambut tegaknya itu, mengesalkan! Mengingatnya kepalaku jadi pusing!!" Sungut Carolyn melanjutkan membuat denah klien ketiga itu tanpa memikirkan apapun.
Jam kerja Carolyn pun berakhir. Dia menuruni gedung itu dan ketika keluar dari lift, jantungnya kembali berdegup tak karuan. Pria yang perawakannya agak mengarah ke Aciel datang dengan seorang pria lagi di belakangnya. Pria itu berjalan tepat mengarah dan berhenti ketika melihat Carolyn.
"Em, selamat sore, Nona, bukankah kita pernah bertemu kemarin?" kata Ansel, pria kemarin itu menyapa Carolyn.
Carolyn hanya diam padahal hatinya meronta merasa berbicara pada Aciel.
"Kau bekerja di sini? Apa kau tahu ruangan Nyonya Rietha?" tanya Ansel lagi.
Carolyn hanya menunjukan lantai atas.
"Oh baiklah," kata Ansel lagi tersenyum dan mengulurkan tangannya hendak berkenalan.
"Aku belum mengetahui namamu, nona. Siapa namamu?" Tanya Ansel.
"Mengapa kau ingin tahu sekali namanya?! Dia tidak punya nama, lihat saja, dia diam saja kan?!" Kata seorang pria yang tiba tiba datang dan kembali memukul tangan Ansel.
Carolyn langsung menoleh ke arah pria yang tak lain Xelino.
"Kau sudah datang?" kata Carolyn pelan.
"Sudah, SEJAK TADI! Kau lama sekali! Pulang sekarang!" decak Xelino dan menarik tangan Carolyn tetapi kembali tertahan oleh Rietha yang ternyata hendak pulang namun berpapasan.
"Oohh, Tuan Muda Ansel Gellarmo, kau sudah datang? Aku pikir, kau tidak jadi datang! Carolyn, kau sudah berkenalan? Ansel Gellarmo, anak dari perusahaan agrobisnis terkenal di Nederland? Dia hendak tinggal di sini dan menjadi klien kita, Deborah dan kau yang akan mengurusnya," kata Rietha kemudian membuat Carolyn juga Xelino terkejut mendengarnya.
"Hem, jadi namamu Carolyn? Beautiful name!" Gumam Ansel tersenyum manis nan hangat pada Carolyn yang degup jantungnya mulai tak stabil.
...
...
...
...
...
Ada apa neehh??
.
Next part 11
ya biarkan guratan sketsa dan pesan email juga sebuah ajaran hidup yang menyaksikan kisah mereka 😁😁
guratan sketsa dari masa lalu 💔
pesan email dari masa depan 😎
atau
ajaran hidup di masa sekarang 😍
aku sih maunya yg sekarang mba olyn, lebih fact 😝😝
.
pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤