Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
JERRY & ANGEL PART 8


__ADS_3

Angel terheran. Pasalnya dia sudah mengatakan pada kekasihnya, kalau dirinya ingin membeli pakaian fashion atau pakaian dirinya untuk merangkai bunga bukannya ke toko piyama. Angel belum bertanya karna Jerry sudah mengarahkan dirinya ke bagian piyama berlengan panjang dan celana panjang.


"Lihat Angel, warna ini warna kesukaanmu kan?" Tanya Jerry meraih sebuah piyama berbahan saten berwarna cream muda yang sangat manis. Angel mendelik. Angel sangat tidak menyukai bahannya. Sangat licin dan panas menurutnya.


"Tidak!" Jawab Angel kini melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya menekuk.


"Kenapa? Aku selalu melihat warna bajumu muda muda seperti ini." Kata Jerry lagi terus menawarkan.


"Tidak mau!" Jawab Angel singkat. Selera Angel berbelanja sudah hilang semenjak Jerry mengarahkan ke daerah bagian piyama piyama tertutup ini.


Jerry masih belum menyerah. Dia meletakan lagi piyama itu ke tempat semula dan meraih dengan yang memiliki motif.


"Kalau ini? Lihat motifnya bunga bunga Angel, waktu kemarin kau mengajakku ke rumah kaca, kau mengenakan dress bermotif bunga bunga kan?" Jerry kembali menunjukan piyama yang ia ambil.


"Tuan Jerry! Kau ini apa sih? Aku kan tidak mau membeli piyama. Aku membawa semua pakaian tidurku! Lagipula aku tidak suka piyama tertutup seperti ini." Dengus Angel.


"Kenapa tidak suka? Kan lebih hangat. Kadang tidak perlu menggunakan selimut. Aku juga memilikinya." Saut Jerry belum menyerah sama sekali.


"Kan ada dirimu yang menghangatkanku, untuk apa aku mengenakannya?!" Saut Angel asal dengan nada yang cukup keras sehingga beberapa orang yang juga mau membeli piyama menatap mereka.


Jerry merasakan semua pasang mata memperhatikan ke arah dirinya dan Angel.


"Angel! Kecilkan suaramu! Semua orang melihat kita!" Bisik Jerry menyampingkan piyama yang ia pegang.


Angel lalu melihat sekitarnya dan benar apa yang dikatakan istrinya.


"Ups, sory!" Angel menutup mulutnya. Sebenarnya dia mau berkata gombal namun malah dirinya yang terintimidasi. Tak lama dia tersadar akan sesuatu.


"Argh, lagian Tuan Jerry, kau ini kenapa hah? Aku tidak mau membeli piyama. Aku tidak akan memakainya!" Kata Angel dan kali ini dengan nada pelan.


Jerry menghela napas. Sepertinya usahanya tidak akan berhasil. Dia ingin mengatakan namun dia takut Angel malah kecewa padanya. Atau Angel akan merasa dirinya tak pantas memeluk meluk dirinya. Jerry tampak muram dan menaruh kembali piyama pilihan keduanya. Angel semakin terheran dan mendekatkan dirinya pada kekasihnya.


"Sebenarnya kau kenapa Tuan Jerry?" Tanya Angel masih terheran.


"Hem, aku hanya tersika." Saut Jerry muram.


"Tersiksa, maksudmu?" Selidik Angel lebih dalam.


"Iya, kau mengenakan pakaian pakaian tidur yang minim itu. Sementara kau adalah kekasihku. Kau terus saja menggodaku. Aku lelaki normal Angel!" Kata Jerry pelan.


Angel masih berpikir dan lama lama mengerti. Jerry sudah tergoda dengannya. Padahal dia tidak melakukannya. Angel lalu tersenyum.


"Tuan, kau tidak menyukai pakaian tidurku?" Tanya Angel menyeringai.


"Bukan tidak suka. Kalau kau sudah menjadi istriku, aku malah senang. Tapi baru saja kita berhubungan 2 hari, masa aku harus kembali menggodamu dan akhirnya menyuruhmu untuk memuaskanku?" Dengus Jerry dengan suaranya yang pelan. Dia menunduk seperti serba salah. Dia menggerak gerakan kakinya menyapu lantai toko itu dengan agak gusar.


Sementara lagi lagi Angel harus menyeimbangkan dirinya. Dia memang tak seharusnya agak dekat dengan Jerry. Sesaat Angel mendengar penuturan Jerry yang begitu menghargai hubungan mereka dan terlebih tubuhnya.


Kini, Angel ikut menunduk dan mencari cari wajah pria nya.


"Jangan bersedih Tuan, aku mengerti perasaanmu." Kata Angel dengan wajah manjanya membuat Jerry tak sanggup berlama lama menekuk wajahnya. Dia pun kembali mendongakan wajahnya.


"Yasudah Angel, kalau tidak ada yang kau suka kita pergi dari sini. Nanti malam aku akan menyewa satu kamar hotel untuk diriku tidur atau aku tidur di sofa saja. Sudah, begitu saja. Ayo kita ke tempat pakaian yang kau inginkan?" Jerry meraih tangan Angel untuk digandeng dan hendak keluar dari toko piyama ini.


Angel menahannya. Nampaknya, dia sudah membuat Jerry tidak selera sehingga memutuskan hal hal yang membuat dirinya malah berjauhan dengan pria nya itu.


"Baiklah, aku akan memilih piyama yang pertama kau ambil dan satu dress piyama di pojok sana ya?" Kata Angel membuat Jerry menoleh padanya.


"Tapi jangan tidur di tempat lain. Tetaplah tidur bersamaku. Plis!" Tambah Angel lagi menampilkan wajah manjanya lagi dan memohon.


Jerry benar benar sulit untuk marah dengan wanita kecilnya yang satu ini. Meskipun selalu timbul sifat kekanak kanakan Angel, Jerry tak bisa berlamaan kesal seperti ini dengan Angel. Wanita kecilnya selalu ada cara untuk membuatnya jatuh dan mencinta.


Dia menghela napas dan mengangguk tersenyum. Angel segera menyerahkan dirinya di pelukan kekasihnya setelah mencuri satu kecupan pada bibir pria ini.


Angel akhirnya sudah memiliki satu paper bag di tangannya. Dia menolak untuk Jerry yang membawakannya. Maka sampailah mereka di sebuah butik terkenal di pusat perbelanjaan terbesar dan termewah di Springfield ini. Karna terkenal dan merupakan barang branded nomor satu, hanya tak banyak orang yang memasuki butik ini. Meskipun begitu mereka adalah pelanggan loyal branded ternama butik ini.


Angel agak bergidik ketika dirinya akhirnya dapat masuk ke butik ini tanpa harus takut takut dengan harga barangnya yang cukup tinggi. Dia terus melingkarkan tangannya di lengan Jerry yang masuk percaya diri ke butik tersebut. Butik ini butik pakaian man and woman.


Semua pegawai yang menyambut manatap ramah dan senyum pada sepasang kekasih ini, khususnya pada Jerry. Mereka semua tertarik pada kerapihan dan mimik wajah Jerry yang sangat berwibawa namun tetap hangat dan ramah.


"Selamat siang Tuan, Nyonya." Sapa seorang p egawai.


"Ehem, aku baru saja menjadi kekasihnya!" Angel berdehem mendengar sebutan nyonya untuknya.


~Memangnya aku sudah tua sekali hah sampai dia memanggilku nyonya?!~ decak Angel kesal dalam hatinya.


"Oh, maaf Nona. Selamat siang Tuan dan Nona ada yang bisa kami bantu?" Sang pegawai menyapa ulang tanpa mempermasalahkan hal lainnya lagi.

__ADS_1


"Tidak usah, aku bisa mencarinya sendiri!" Dengus Angel melepaskan pegangan tangannya pada Jerry dan mulai mencari model baju yang sesuai dengannya.


Jerry hanya tersenyum juga menanggapi pegawai tersebut. Sementara sang pegawai malah menunjukan koleksi jas dan kemeja baru butik mereka kepada Jerry. Jerry diarahkan untuk duduk di sofa yang sudah mereka sediakan dan akan memanggil manager mereka.


"Jerry?" Panggil sang manager yang tampaknya mengenal Jerry. Jerry menoleh dan mencoba menerka nerka siapa gerangan yang mengenalinya ini. Sesosok wanita yang mungkin seumurannya namun masih terlihat sangat muda, enerjik dan cantik.


"Kau tidak mengenaliku?" Tanya wanita itu lagi menyunggingkan senyumnya.


"Aku Lidya, sudah ingat?" Wanita itu menjelaskan.


"Lidya Cassandra?" Selidik Jerry mencoba mengingat nama panjangnya.


"That's right! Kau tidak pernah berubah, selalu rapi, memukau dan tampan. Apa kabar?" Lidya segera menjabat tangan pria yang nampaknya adalah teman lamanya.


"Aku baik. Kau bagaimana? Sekarang kau mengurus butik ini?" Jerry juga menjabat tangannya.


"Masih manager dan supervisi. Belum mengarah ke bisnis pusat." Saut Lidya melepaskan jabatan tangan mereka dan duduk di sofa bersamaan.


"Itu pasti bisa digapai oleh seorang wanita karir sukses dan terpandang seperti dirimu." Puji Jerry menunjukan pesona senyumnya yang malah membuat Lidya tak tahan untuk melihatnya sehingga dia tersipu dan menundukan kepalanya.


"Em, jadi apa yang bisa kau tunjukan padaku, Lidya?" Tanya Jerry kemudian karna merasakan Lidya tampak diam.


"Oh iya sorry! Aku jadi mengingat masa masa kuliah dulu. Kau selalu menyemangati ku agar berhasil mengikuti ujian akhir kelas bisnis itu." Lidya mendongakan kepalanya tersenyum tipis mengingat kedekatannya dengan Jerry. Dia sempat menyukai Jerry namun dia merasa Jerry tak pernah merespon dirinya yang terkagum padanya.


"Ah iya benar, kau masih saja mengingatnya. Kau sudah berhasil sekarang, em jadi apa yang bisa membuatku tertarik, Lidya?" Kata Jerry tetap seperti dulu tidak pernah mau membahas perasaan padanya.


Lidya mencoba netral dan ini merupakan pekerjaan. Lidya akhirnya menunjukan majala terbaru dari butiknya ini. Dia menunjukan sebuah setelan jas dengan bahan katun import dan warna warna seorang business man yang cocok untuk Jerry. Jerry lalu menunjukan sebuah jas bercorak kotak kotak berwarna biru dongker yang warna warna garis nya itu tidak terlalu terlihat karna tersamar dengan warna dasar hitam jasnya.


Lidya segera menyuruh bawahannya untuk mengambil jas yang diinginkan Jerry sehingga bisa dicoba olehnya. Tak berapa lama pegawainya datang membawa jas yang diinginkan dengan berbagai jenis ukuran.


Lidya membantu Jerry untuk mengenakannya. Mereka berdua pun saling berbincang dan terlihat tampak akrab. Sampai ketika Jerry sudah mencoba sampai 2x dan belum ada yang sesuai bentuk tubuhnya.


"Apa kau agak gemukan Jerry? Kurasa bentuk tubuhmu agak membesar setelah terakhir aku melihatmu." Kata Lidya menerima jas awal yang dipaskan pada Jerry.


"Haha, kurasa juga begitu. Baiklah aku mencoba ukuran M slim saja." Jawab Jerry meminta ukuran yang lain .


"Atau mungkin ada seseorang yang membuatmu bahagia sehingga nafsu makanmu meningkat." Lidya terus menerka nerka mencairkan suasana setelah lama tak bertemu.


"Haha, itu juga bisa. Kau memang selalu tahu Lidya." Saut Jerry terkekeh ringan.


Dan, brak! Angel menjatuhkan baju dengan hanger yang sudah ia pilih.


"Tuan Jerry?" Panggil Angel kemudian. Dia agak terkejut melihat pemandangan di depannya yang seperti seorang istri sedang membantu suaminya hendak berangkat bekerja.


Lidya dan Jerry menoleh. Jerry tampak tenang sedangkan Lidya sudah memerah. Dia langsung menarik tangannya untuk tidak lagi mengelus dada Jerry dengan telapak tangannya.


"Angel? Kau baik baik saja?" Kata Jerry kemudian menghampiri Angel dan meraih baju baju pilihannya.


"Siapa dia?" Tanya Angel dengan tatapan tajam dan menunjuk.


"Dia Lidya. Manager butik ini, Angel. Ayo ku kenalkan?" Jerry sebenarnya tahu kalau Angel tampak cemburu, namun dia tetap berusaha membuat Angel setara dengannya.


"Jangan bilang dia mantan kekasihmu, atau wanita yang pernah menyukaimu atau malah wanita yang kini menyukaimu namun tak terbalaskan olehmu? Masih ada waktu untuk dirimu tidak bersamaku Tuan!" Angel menahan dirinya untuk tidak mengikuti Jerry. Dia sudah cemburu. Pasalnya Jerry menyebutkan nama Lidya seperti memiliki kenangan tersendiri.


Jerry menghela napas dan tersenyum tenang.


"Bukan! Dia hanya temanku sewaktu kuliah, ayo!" Kata Jerry masih berusaha mengenalkan Angel dengan Lidya. Sementara Lidya yang mendengarnya agak kecewa kalau ternyata benar, selama ini Jerry hanya menganggapnya teman. Dan dia sangat yakin kalau Angel adalah kekasihnya. Angel pun merasakan aura ketidak sukaan Lidya terhadapnya ketika dia sedikit melirik ke arah wanita dewasa itu.


"Tidak mau! Aku mau pulang saja!" Angel melepaskan tangan Jerry yang memegang pergelangannya. Dia lalu berbalik menuju keluar butik. Jerry menjadi bingung dan akhirnya membayarkan dulu jas beserta baju yang dirinya dan Angel inginkan lalu membayarkannya baru menyusul Angel. Angel pasti tidak akan jauh dari tempat ini menunggunya.


Angel terus berjalan menuju keluar dengan mimik wajahnya yang agak garang sampai dia menahan tubuhnya sesaat untuk tidak melangkah dulu. Dia mendengar sesuatu.


"Cih, gadis itu sangat tidak tahu malu! Dia sangat tidak cocok dengan Tuan Jerry Atkinson. Dia masih muda dan tidak tahu sopan santun!"


"Ya benar, dia seraya kesal ketika memilih oakaian, aku sampai pusing mendengar celotehan nya yang tak karuan!"


"Tadi saja aku dibentak hanya karna aku memanggilnya nyonya. Harusnya dia bersyukur karna orang menganggapnya menjadi istri Tuan Jerry."


"Tuan Jerry terlihat cocok dengan Nona Lidya yang membantunya mencoba jas itu."


"Iya benar, mereka sangat serasi. Sama sama pembisnis."


Angel mengepalkan tangannya namun percuma juga. Dia memang harus tau diri. Seharusnya dia melihat posisinya sebagai apa dan Jerry seperti apa. Tidak seharusnya dia bermimpi terlalu banyaj untuk mendapat gelar Nyonya Atkinson. Dikatakan nyonya saja dia marah. Seharusnya dia bangga. Ahh, terlalu banyak perbedaan antara dirinya dan Jerry. Dia menunduk masih mendengar celotehan pegawai dari Lidya itu sampai Lidya lah yang menegur mereka.


Lidya mendekati Angel dan memegang bahu Angel nàmun Angel menghempaskannya. Dia segera keluar dari butik itu dan menuju ke basement parkir. Seleranya sudah sangat hancur dan ingin segera kembali ke desa nya.


"Lidya? Kau melihat Angel?" Tanya Jerry.

__ADS_1


"Apa dia kekasihmu?" Selidik Lidya dengan wajah agak datar.


"Iya. Kemana dia?" Jawab Jerry pasti.


"Dia berjalan ke arah basement parkir Jerry." Lidya memberitahu.


"Oh iya baiklah Lidya, maafkan akan sikapnya. Dia belum berusia 25 tahun." Jerry menggaruk garuk kepalanya tak enak.


"Tapi kau menyukainya?"


"Ya, dia apa adanya dan sangat tulus Lidya. Baiklah, sampai jumpa. Aku akan mengirim undangan pernikahan kami padamu. Bye!"


Dan Lidya memang harus merelakan perasaannya yang tak pernah berbalaskan.


...


Jerry berjalan perlahan mendekati mobilnya. Tampak Angel di pinggir mobilnya menangis. Angel tak kuasa mendengar penuturan pegawai pegawai itu.


"Sayang, aku tak ada hubungan apapun dengan Lidya. Percayalah." Kata Jerry memegang wajah Angel. Angel menggeleng. Dia tidak mau membahasnya.


"Aku mau pulang ke desa." Kata Angel masih dalam tangisnya. Jerry lalu memeluknya.


"Angel tenanglah, maafkan aku ya? Aku tidak menyukainya. Kita hanya teman kuliah. Hanya itu!" Jerry berusaha menjelaskan dan menenangkan.


"Aku mau pulang." Tapi begitulah respon Ang yang masih terngiang dengan kata kata pegawai tadi.


"Baiklah baiklah, kita kembali ke hotel dulu ya?" Jerry tidak memaksa dirinya. Dia menuruti apa keinginan Angel. Dia menggiring wanita kecilnya masuk ke dalam mobilnya.


Di perjalanan Angel sudah tidak menangis lagi namun masih menundukan kepalanya kalut. Sesekali Jerry memegang tangannya. Angel tetap diam. Sampai mereka pun tiba di basement parkir hotel.


"Angel, kau sudah membaik? Kita tidak boleh tampak bertengkar di depan dad. Dia akan mengkhawatirkan kita." Tutur Jerry memegang punggung tangan Angel. Angel menoleh dalam kesedihannya.


"Tuan Jerry, kita putus saja." Kata Angel kemudian. Jerry menghela napas. Dia sudah tahu, mungkin Angel akan mengatakan ini.


"Aku sudah tahu kau akan mengatakan ini. Hanya karna kau melihat hal yang tak sesuai pikiranmu. Baiklah kalau itu maumu. Aku tidak akan memaksa, tapi katakan alasannya kenapa kau mengatakan kata kata itu dengan mudah? Baru saja semalam kau mengatakan tidak mau meninggalkanku dan kehilanganku, tidak mau mengenal pria lain lagi selain diriku, tapi sekarang kau dengan gampangnya mengatakan kata putus." Sungut Jerry menatap serius Angel.


"Aku tidak pantas untukmu. Aku tak sebanding denganmu. Aku hanya tamatan menengah atas sementara dirimu sangat pintar dan terpandang. Jangan sampai kau malu karnaku Tuan." Jawab Angel menautkan tangannya takut. Jerry kembali menghela napas dan kini mendekatkan wajahnya. Dia lalu mendongakan wajah Angel untuk menatapnya.


"Sekali lagi, aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin meyakinkan dirimu, kau mencintaiku atau tidak? Jika kau mencintaiku sangat dan mendalam bahkan sampai memberi kasih sayang padaku, cium aku! Tapi jika tidak. Silahkan keluar dari mobilku menuju kamar hotel. Kemasi kopermu dan aku akan mengantarkanmu pulang. Lakukan Angel apa yang menjadi keinginanmu!" Ucap Jerry. Angel kembali meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka Jerry mengatakan ini. Mungkin dirinya yang terlalu kekanak kanakan. Tapi semuanya sudah terlanjur. Dia pun juga sudah mengecewakan pria nya itu.


Angel lalu berbalik hendak membuka pintu mobil dengan menangis. Namun, Jerry sangat tahu apa yang ada di hati wanita kecilnya. Angel hanya tidak ingin menyusahkannya terus. Jerry menarik tangan Angel dan mencium bibir wanita kecilnya itu. Dia mencium dengan bersemangat sambil satu tangannya mencengkram lembut buah dada Angel.


"Aku sudah merelakan semua perasaanku untuk mu, sudah berjuang dan mendapatkanmu. Kau tidak bisa lepas dariku Angel! Selamanya, kau milikki dan aku milikmu!" Kata Jerry menghentikan sejenak kecupan bibir mereka dan melanjutkannya lagi. Angel terus mengikuti apa yang Jerry lakukan. Angel menangis namun dia senang kalau ternyata Jerry tidak membiarkannya begitu saja. Meskipun apapun jawaban atas pertanyaannya tadi, Jerry hanya tau satu. Angel sudah menjadi miliknya.


...


...


...


...


...


lah neng, kang jerry uda jauh jauh jadian dirimu maen putus putus aja, dikata layangan 😂😂


maklum bang adenya leon 😝😝


.


next part 9


menuju ending gaes 😁😁


.


jangan lupa penuhi LIKE dan KOMEN yang banyak 😘😘


kasih VOTE DAN RATE JUGA DI DEPAN PROFILE NOVEL YAA 💕💕


.


oiya, Vii mau ngucapin 🧧🎐HAPPY CHINESE NEW🎐🧧 YEAR yaa bagi yang merayakannya . boleh kasih vii angpau di bagian TIP koin wakakaka 😁😁


.


thanks for reaf and i love youu ❤

__ADS_1


__ADS_2