
"Selamat siang Tuan Dionisius Eltima Prime." Sapa Bella memasuki ruangan Dion bersama Leon dan Rico.
"Maaf sebentar!" Kata Dion menahan Bella sesaat karna dirinya ternyata sedang mengangkat panggilan dari Viena.
"Kolegaku datang, Nanti kuhubungi lagi sayang -- ya, kau kemari saja -- love you too!" Ucap Dion dan mematikan panggilan. Dia lalu beranjak menghampiri Bella.
"Selamat Siang Nyonya Mauren! Silahkan duduk! Leon, suruh Renzy menyiapkan minuman." Kata Dion berjabatan tangan Bella dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Selamat siang Tuan Prime, saya Rico asisten Nyonya Mauren." Rico juga menjabat tangan Dion.
Dion mengangguk tersenyum hangat.
"Kalian pasangan pengantin yang sudah memiliki anak masih sangat romantis Tuan Dion. Saya jadi iri." Kata Bella memuji Dion yang sehabis menutup panggilan Viena tadi.
"Kau bisa saja Nyonya. Aku memang menyuruhnya untuk selalu mengabari posisinya karna pasca melahirkan dan tidak mau menggunakan pengasuh." Pekik Dion ramah.
"Bagus sekali! Titip salam saya pada Nyonya Prime itu. Perusahaan iklan nya sungguh menjanjikan. So, bagaimana kerja sama kita Tuan Prime?" Tanya Bella kemudian.
"Ya, saya akan menjelaskan pada anda melalui asisten saya. Leon, segera presentasikan apa yang sudah menjadi ketentaun pangsa pasar kita!" Perintah Dion pada Leon.
Di ruangan Dion memang ada seperti layar proyektor mini dimana Dion dan Leon menggunakan hanya untuk rapat pribadi seperti ini. Leon lalu menyalakan laptop dan layar proyektor tersebut. Leon menjelaskan dengan sangat baik seperti biasanya. Dengan lugas apa yang dimaksudkan saham dan apa saja keuntungan jika bergabung dengan grup Prime. Terkadang malah Leon tidak melihat laptopnya karna sudah seperti makanan sehari hari nya. Dion terlalu mempercayainya sehingga keahlian Leon pun terkadang terlihat sama dengan Dion. Oleh sebab itu, Dion terlalu menyayangkan Leon untuk kemana mana. Dion selalu memberikan apa yang dibutuhkan Leon sehingga Leon malaj menganggap atasannya itu seorang kakak laki lakinya.
Dengan kecakapan, ketegasan dan kewibawaan Leon menjelaskan malah membuat Bella tidak memperhatikan inti presentasi Leon. Dia malah memperhatikan Leon. Memperhatikan setiap katupan bibir Leon yang terus berucap dengan sangat baik. Sehingga Bella menjadi menganguminya. Dia menopang dagungnya dengan tangannya yang ia sandarkan pada sisi sofa. Dia memandangi Leon sambil tersenyum.
Rico tampak menyadari kebiasaan majikannya. Dia sedikit mendekatkan dirinya pada Bella.
"Nyonya, perhatikan dengan benar!" Bisik Rico. Bella lalu menoleh pada Rico. Dia hanya mengedipkan matanya pada Rico dan kembali memperhatikan Leon dengan seksama.
Selang beberapa menit, Leon menghentikan presentasinya.
"Sampai disini, apakah ada pertanyaan, Nyonya Mauren atau Tuan Rico?" Tanya Leon kemudian.
Bella masih menatap Leon tersenyum. Leon agak terheran. Leon agak berdehem namun Bella belum menggubrisnya. Sampai Rico lagi yang berbisik pada atasannya.
"Nyonya! Tuan Leon bertanya!"
Bella tersadar.
"Ah Leon, kau tampan sekali!" Kata Bella kemudian membuat Dion menoleh kearahnya agak terkejut dan berharap ia salah dengar.
"Em, maaf Nyonya, bagaimana?" Leon pun ikut memastikan. Rico sudah memukul dahinya.
"Bukan bukan, maksudku, Leon menjelaskannya dengan sangat baik. Jangan salah paham!" Bella agak menegakan tubuhnya.
"Em, baiklah Nyonya Mauren. Sebelum Leon melanjutkan, ada yang ingin kau tanyakan padaku atau pada Leon?" Kata Dion kemudian yang tidak mau bertele tele dan basa basi. Sudah agak banyak memang koleganya jika dia wanita yang suka melirik atau terpesona pada Leon, jadi Dion tidak mau malah mengakar dan melenceng.
"Iya Tuan Prime, sebenarnya kalian tidak memberitahuku seperti ini saya sudah sangat tertarik. Karna hotel anda sudah berdiri belasan tahun dari kakek anda. Jadi saya sangat percaya jika saja menanam modal dan bergabung bersama anda. Hotel kita bisa sama sama berkembang dengan baik. Bukan begitu Rico?" Tutur Bella yang sudah sangat yakin dengan kinerja kepemimpinan Dion ini.
"Benar Tuan Prime! Kami selalu melakukan hal ini seperti di Honolulu bersama Dimitri Group." Tambah Rico yang sudah lama menjadi asisten Bella.
"Oh, baiklah, jadi lebih baik semua bahan presentasi lainnya bisa dikirim saja lewat direct ya Nyonya Mauren?" Saran Dion.
"Benar sekali Tuan Prime. Bisakah Leon yang mengurusnya untukku?" Tanya Bella dengan wajah menggoda menatap Leon yang tampak biasa saja. Memang inilah pekerjaan dirinya. Leon tetap dalam wajah serius tanpa ada respek sedikitpun.
"Memang dia yang akan menyampaikan secara lugas tentang semuanya sampai pengesahan dan perjanjian kita. Selain dengan Leon, bisa juga dengan Jimmy Choi, rekan dari Leon." Kata Dion kemudian.
"Baiklah. Kalau tidak bisa menemui saya bisa langsung bersama Tuan Rico. Saya masih ada urusan mengenai promosi dan sebagainya. Jadi, saya undur diri dulu Tuan?" Bella bersiap berdiri.
"Oh tentu Nyonya Mauren." Saut Dion juga berdiri. Mereka pun kembali berjabat tangan.
"Panggil aku Bella, Tuan Dion. Mauren hanya nama keluarga yang agak formil dan terkesan kaku." Pinta Bella menaik turunkan alisnya.
"Baiklah Nyonya Bella. Semoga kerja sama kita berjalan dengan baik." Kata Dion lagi.
"Terimakasih Tuan Dion." Ucap Bella menepuk bahu Dion dan menuju ke Leon.
"Terimakasih Nyonya Bella, sudah memilih grup saham kami untuk mengembangkan usaha kalian." Kata Leon menjabat tangan Bella. Bella pun juga menjabat tangan Leon.
"Saka sama Leon. Segera hubungi aku ya? Aku sangat menantikanmu." Kata Bella masih memegang tangan Leon dan sesaat dia menyentuh cincin yang Leon kenakan di jari tengahnya.
Bella agak tersentak. Dia reflek langsung mengangkat tangan Leon.
"Oh Lord! Kau?" Tanya Bella terheran.
"Ada apa dengan tangan saya Nyonya?" Leon malah bertanya kembali.
"Kau sudah menikah? Atau bertunangan?" Tanya Bella memastikan.
"Dia sudah menikah Nyonya Bella. Sudah sekitar tiga bulan yang lalu." Dion yang menjawab.
"Oiya? Sayang sekali." Sesaat Bella kecewa dan sedih.
Leon lalu menarik tangan nya.
"Maaf Nyonya Bella, apa ada yang salah?" Selidik Leon menangkap wajah tak suka Bella.
"Oh tidak, maksud ku sayang sekali kalau waktu itu aku belum rutin ke Legacy jadi belum mengenal kalian dan tidak bisa mengikuti acara pernikahan mu Leon. Sayang sekali ya Rico?" Bella mengalihkan mimik wajahnya ke asistennya. Rico hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Oh tidak masalah Nyonya." Kata Leon tersenyum. Bella juga kembali menoleh kepada Leon dan malah jadi tak karuan melihat senyum Leon yang cukup manis.
"Oke oke, baiklah Leon salam untuk istrimu dan aku menantikan kiriman direct mail mu untuk kelanjutan kerjasama ini." Bella mengelus lengan Leon. Seketika membuat Leon agak risih namun dia tidak memikirkannya.
Bella lalu berjalan ke luar sementara Rico masih menyalami Dion dan Leon pada akhirnya.
"Terimakasih Tuan Leon. Tapi sepertinya aku pernah mengenalmu." Tanya Rico ketika mereka kembali berjabat tangan.
"Benar! Aku juga pernah mengenalmu. Di mana ya?" Tanya Leon juga.
Mereka berdua mencoba mengingat, dan ..
"Universitas Bisnis Springfield?" Mereka lalu berkata bersamaan.
"Apakah kau Danteleon?"
"Benar, memang siapa lagi? Kau Jerico Naraya?"
"Thats right!"
Mereka berdua tertawa ringan lalu berpelukan ala sahabat lama yang kembali bertemu. Ternyata mereka pernah satu universitas dan satu angkatan.
"Wah, dunia ini memang sangat sempit. Kalia bertemu dan sama sama menjadi asisten
"Benar Tuan! Ini sungguh sangat kebetulan. Baiklah, Leon, kapan kapan kita bertemu dan berbincang bincang. Aku masih harus menemani Nyonya Bella." Kata Rico mengingat nyonya nya sudah lebih dulu keluar ruangan..
"Benar benar, sampai jumpa ya?" Leon menepuk bahu Rico.
"Sampai jumpa. Permisi Tuan Prime." Rico membungkukan tubuhnya ke Dion dan dia segera menyusul Bella.
Sementara Leon merapikan proyektor dan laptopnya.
"Leon, kau harus berhati hati dengan Bella Mauren itu!" Tiba tiba Dion memperingati.
"Kau belum mengetahuiku sebelumnya, jadi aku belum mencari tahu." Saut Leon menghentikan aktivitasnya.
"Ya, dia adalah janda dengan satu anak perempuan di Honolulu. Almarhum suaminya meninggal karna sebuah kecelakaan yang cukup misterius namun sejak itu dia menjadi pewaris tunggal Belleza Hotel. Dia agak antusias terhadap pria kecuali asistennya itu, karna asistennya adalah keponakan adik tirinya. Sudah sekitar 10 tahun, suaminya meninggalkannya. Jadi kau mengerti apa yang kumaksud kan?" Dion memberitahu dan memperingati asistennya.
"Mengerti Tuan!"
"Jangan terlalu baik dan tetap dalam ranah pekerjaan. Segera kau selidiki lebih lanjut. Jangan sampai ada sebuah kesalah pahaman. Aku perhatikan, dia selalu memperhatikanmu dengan berlebihan." Tambah Dion lagi.
"Mengerti Tuan, lagipula kau ini, masa kau sandingkan diriku dengan wanita tua itu!" Dengus Leon sedikit tak terima.
"Bukan kau! Aku takut dia yang berulah, karna sudah banyak berita miring dirinya di Honolulu sana. Oleh sebab itu dia juga mengembangkannya di Legacy!" Dion memberitahukan maksud sebenarnya.
"Baiklah, aku menghubungi Viena dulu. Dia akan kemari bersama Dior." Kata Dion lalu meraih ponselnya.
Leon pun kembali merapikan semua peralatan presentasi tadi. Dia juga segera ke ruangannya untuk kembali menyelidiki apa yang dikatakan atasannya. Dia tidak boleh melakukan kesalah sekecil apapun baik untuk pekerjaannya maupun untuk kehidupan berumah tangganya bersama Lexa yang sangat ia cintai.
...
Sore harinya Leon segera menjemput Lexa. Dia sangat khawatir karna siang tadi Lexa tidak lagi membalas pesannya dan menjawab panggilannya. Apalagi, ketika Viena datang bersama Dior dan mengatakan Lexa terus berbaring di sofanya.
Leon memarkirkan mobilnya di basement. Ketika dia memberhentikan mobilnya, dia melihat seperti sosok Rico menaiki mobilnya. Namun, katika Leon turun dari mobilnya, Rico sudah melajukan mobilnya.
"Seperti Rico, apa yang dia lakukan disini?" Gumam Leon dan menuju ke kantor Lexa.
Lexa belum menjawab panggilan Leon dan menghubungi suaminya itu. Leon menyeruak masuk ke kantor dan sudah agak sepi. Hanya Susan dan Delon yang masih di sana. Susan baru saja keluar dari ruangan Lexa.
"Leon? Kebetulan sekali kau sudah datang. Lexa sepertinya harus di bawa ke rumah sakit." Kata Susan.
"Ada apa dengannya?" Leon segera mendekati ruangan Lexa.
"Baru saja dia muntah dan aku sudah memberikannya teh hangat." Jawab Susan juga cemas.
Leon menghampiri Lexa yang sedang bersandar di sofa.
"Ada apa denganmu sayang?" Leon langsung duduk di samping Lexa.
"Entahlah, sepertinya aku akan sakit." Lexa kini menyandarkan dirinya ke dada Leon.
"Kita ke rumah sakit?" Leon menawarkan.
"Tidak, aku mau tidur saja di rumah bersamamu." Jawab Lexa memanjakan dirinya pada suaminya.
"Ya Leon, sejak tadi dia terus berbaring di sofa. Setelah tadi ada klient yang datang, dia seperti ini, jadi aku dan Delon yang melayaninya. Setelah aku selesai, dia lalu memuntahkan semua yang ia makan di toilet. Dan sekarang wajahnya jadi memucat seperti ini. Untung masih ada aku dan Delon. Dia tidak mau pulang kalau tidak bersamamu." Ujar Susan agar Leon tahu kondisi istrinya.
"Baiklah Susan terimakasih. Kau bisa pulang sekarang dengan Delon. Aku juga akan membawa Lexa pulang." Kata Leon kemudian dan malah mengelusi perut Lexa.
Susan dan Delon pun pulang lebih dulu.
"Di bagian mana perutmu yang sakit?" Tanya Leon.
"Semua Leon, tapi aku tidak hamil." Sungut Lexa muram.
"Ya Tuhan! Kau pasti memikirkan kehamilan iya? Jangan seperti ini Lexa. Percayalah kau pasti akan mengandung. Aku akan membuahi nya terus. Kau lupa suamimu siapa hah?" Leon jadi bergurau agar istrinya tidak banyak berpikir.
__ADS_1
"Hemm Leon, tapi aku sudah tidak sabar.." Lexa mengeratkan pelukan Leon dan memeluk pinggang suaminya.
"Yasudah, kalau kau kuat, ayo kita pulang dan segera kita hilangkan ketidaksabaranmu ini!" Kata Leon mencium puncak kepala Lexa. Lexa mengangguk.
"Gendong aku Leon!" Pinta Lexa mendongakan wajahnya dan menampilkan wajah manjanya. Membuat Leon sangat gemas sehingga menyetujuinya setelah Leon mencium lembut bibir Lexa.
Leon pun menggendong Lexa di belakanngnya sampai ke mobil. Akhir akhir ini Lexa memang agak manja padanya.
Sesampainya di apartemen, hujan kembali mengguyur kota Legacy. Ketika pasangan pengantin itu menyusuri koridor apartemen menuju ke kamar apartemen mereka, Leon sudah terus merangkul Lexa sambil sesekali mengecup leher Lexa. Mereka bercanda sampai mereka akhirnya berciuman selama menuju ke kamar mereka.
Dan ketika memasuki apartemennya, Leon sudah terpancing. Dia lalu menciun kasar Lexa. Sebenarnya perut Lexa agak mual namun dia juga ingin mendapat belaian dari Leon. Tangan Leon sudah menjalar hampir ke semua sisi sisi tubuh Lexa. Dia membuka jasnya juga sweater yang Lexa kenakan. Dia membaringkan Lexa di tempat tidur dan kembali mengecupi Lexa dari bibir, dagu dan leher. Lexa pun tak tinggal diam. Dia pun hendak membuka kancing kemeja Leon, namun ketika dia duduk, perutnya bergejolak. Dia hendak mengeluarkan sesuatu lagi di dalam perutnya. Dia menutup mulutnya.
"Ada apa Lexa? Kau baik baik saja?" Tanya Leon memegang wajah Lexa. Lexa tidak menjawab dan segera ke kamar mandi untuk memuntahkan semuanya.
Leon mengikuti Lexa. Dia memijit mijit leher belakang Lexa dan membantunya kembali ke tempat tidur ketika Lexa sudah agak legaan.
"Maafkan aku Leon." Lexa menyesal karna merusak momen romantis kemesraan mereka.
"Jangan meminta maaf, kau hanya tidak enak badan. Sekarang berbaringlah. Aku akan membuatkanmu minuman hangat." Kata Leon.
Dan malam itu, Leon memesan makanan dari luar. Mereka berada di tempat tidur semalaman sampai pagi menjelang. Lexa terus tertidur di dalam pelukan Leon. Leon pun tak keberatan terus memeluk Lexa agar istrinya jauh lebih baik.
...
Keesokannya, seperti biasa Leon mengantar Lexa. Lexa sudah agak membaik. Tadi malam Leon juga memberikan pijitan lembut di sekitar punggung Lexa. Hari ini Lexa harus masuk karna harus bertemu dengan klien baru mereka. Belleza hotel.
"Lexa, pukul 10 pagi kita harus bertemu dengan asisten pemilik Belleza Hotel." Kata Abby ketika melihat Lexa memasuki kantor.
"Oke! Dimana Abby?" Tanya Lexa sambil menuju ke ruangan Viena karna dia harus menyusun laporan yang harus Viena telaah.
"Di taman kecil Belleza Hotel." Jawab Abby mengikuti Lexa.
"Oh, di hotelnnya?"
"Ya benar."
Sekitar pukul setengah sepuluh, Lexa dan Abby menuju ke hotel itu. Mereka tiba tepat waktu. Mereka segera menuju ke taman dan di sana sudah ada Rico, asisten Bela.
"Selamat pagi Tuan Rico." Sapa Abby sementara Lexa ada di belakang Abby.
"Selamat pagi Nona?" Jawab Rico dengan nada bertanya karna belum mengetahui nama Abby.
"Abigail Tristan, panggil saja Abby. Dan ini asisten utama Nyonya Viena Jovanca, Alexa Luxurio. Mungkin kemarin anda sudah bertemu?" Abby lalu membimbing Lexa yang masih takjub dengan taman kecil yang menawan ini. Taman kecil ini di rancanh seperti taman di dongeng alice and wonderland yang terdapat hiasan kartu kartu remi.
"Belum. Kemarin kata temannya Nona Alexa, dia tidak enak badan." Kata Rico dan akhirnya mereka saling bertemu dan berhadapan.
Lexa tersenyum memandang Rico.
"Mohon maaf Tuan Rico. Kemarin saya benar benar tidak bisa bertemu dengan anda. Perkenalkan, saya Alexa Luxurio, panggil saja Lexa." Lexa memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tanganny hendak berjabat tangan.
Seketika Rico malah terperangah dengan Lexa. Dia terpesona dengan paras cantik Lexa yang manis dan menggelitik hatinya. Dia pun mengulurkan tangannya berjabat tangan.
"Nama yang sangat cantik Lexa. Aku Jerico Naraya, kau bisa memanggilku Rico." Kata Rico menepuk nepuk punggung tangan Lexa yang berjabatan tangan dengannya. Lexa agak terheran karna dia seperti mengingat seseorang pernah seperti ini padanya.
~hem, like Leon, tapi tetap suamiku paling tampan dan mempesonaku! Dia ini sangat memanfaatkan tanganku!~ gumam Lexa agak risih dengan jabatan tangan Rico yang sepertu melebihi perkenalan.
"Sudah cukup berjabat tangannya Tuan Rico. Jadi, apa yang bisa kami bantu?" Tanya Lexa melepaskan jabatan tangan itu dan kembali ke inti pembuatan iklan.
...
...
...
...
...
Lah lah jd bgiini vii? Jiahahaha mantab kan 😎😎
silahkan kalian berkelan dalam tebak tebakan kalian hahaha 😁😁
.
Next part 3
Babak baru dimulai!!!
Semua pekerjaan pun dipertaruhkan untuk sebuah keluarga yang damai dan tentram 😍😍
.
Jangan lupa ya cin kasih LIKE, KOMEN, VOTE sama pemikiran aku yang uda aku tuangkan di novel ini untuk kamyuh smuaa hehe 💕❤👍
.
Terimakasih .. sayang kalian semuaa 😘😘
__ADS_1