
"Dapat! Jovancy Advertising? Bukankah ini perusahaan iklan nomor satu di Legacy? Apakah Leon akan mengikuti suatu rapat atau dia mau menemui seseorang? Apa dia berpacaran dengan CEO nya? Kudengar CEO Jovancy sangat cantik dan seksi, heemm, aku akan mengikutinya dan membuat sebuah pertunjukan," Solane menyeringai melihat mobil sport Leon memasuki gedung Jovancy.
Solane yang juga mengendarai mobil ikut masuk ke gedung Jovancy. Dia mengikuti Leon sampai lobby parkir. Dia juga turun mengikuti kemana Leon melangkah.
"Hemm, Leon menunggu di lobby tunggu? Apa benar dia ada hubungan dengan CEO Jovancy? Tidak menutup kemungkinan karna sekarang dia semakin tampan dan aku ingin menerkamnya. Wajahnya semakin menggoda dan gagah." Ucap Solane lagi merasa bergairah.
Dia terus mengamati Leon. Lima menit, sepuluh menit, Leon masih menunggu dan Solane merasa bosan tapi dia punya niat untuk kembali bersama Leon. Karna ayahnya hanya ingin dia menikah dengan Leon, dengan begitu Solane akan mendapatkan semua harta ayahnya.
Lima belas menit berlalu dan Solane melihat Lexa menuruni anak tangga lalu mendekati Leon.
"Aha, mari kita buat pertunjukan. Jadi selera Leon sudah menurun? Ya, sedikit menawan, tapi hanya sedikit! Karna Leon adalah milikku wanita kampungan!" Mata Solane tiba tiba berubah nanar dan menghampiri Leon dan Lexa.
........
"Jadi kau yang bernama Lexa? Leon sering menceritakannya padaku, katanya kau teman yang sangat baik," kata Solane lagi tidak membiarkan Leon bicara.
Dia lalu menggandeng pergelangan tangan Leon lagi. Tapi lagi lagi Leon melepasnya.
"Lexa, bukan dia bukan pacarku, dia hanya wanita gila!" Leon membela diri.
Lexa hanya tersenyum. Dia tidak berhak untuk marah atau pun kesal terhadap Leon. Namun hatinya terasa perih dengan semua perilaku lembut Leon padanya.
~Jika dia memang sudah mempunyai pacar, seharusnya dia tidak bersikap ini padaku~ gumam Lexa dalam hati.
"Jadi, Leon kita akan berjalan jalan bersamanya? Aku tidak sabar makanya aku menjemputmu.
"Diam! Kau bukan siapa siapaku dan aku tidak mau mengenalmu lagi. Lexa percayalah padaku aku tidak punya kekasih sama sekali." Leon terus berbicara kebenarannya pada Lexa. Lexa masih tertegun namun bibirnya tersenyum, tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Oh, kalau begitu aku tidak mau menganggu kalian, sebaiknya aku pulang dulu, kalian bersenang senang lah, lain kali kita pergi bersama ya?" Akhirnya kalimat itu yang dikatakan Lexa. Lexa lalu membalikan badannya menunju pintu utama kantor.
"Lexa, biarkan aku menjelaskannya, aku mohon," Leon menahan tangan Lexa dan berbicara lembut.
"Kau mau menjelaskan apa sayang? Kalau dia tidak mau bergabung dengan kita, lain kali saja, lepaskan tanganmu," lagi lagi Solane memotong sikap lembut Leon pada Lexa.
Dengan beraninya Solane juga membuat Leon tidak boleh memegang tangan Lexa.
"Leon, aku tidak suka jika kau memegang tangan wanita lain, aku bisa cemburu sayang," Solane dengan sangat sengaja meraih tangan Leon dan dia menyenderkan kepalanya ke dada Leon.
Lexa hanya menunduk melihat Solane bermanjaan dengan Leon. Dia lalu memutuskan untuk berlalu. Dia sama sekali tidak berhak untuk marah pada Leon maupun pada Solane. Leon tampan, dia pantas mempunyai kekasih secantik Solane. Gumam Lexa dalam hati.
"Solane, kau ini kenapa?! Mengapa kau mengangguku?!" Lagi lagi Leon menghempaskan tangan Solane.
__ADS_1
"Tidak bisakah kau lembut sedikit seperti kau kepada wanita kampungan itu?!" Bantah Solane.
"Tidak! Dia wanita paling cantik yang pernah kutemui, kecantikannya melebihimu bahkan melebihi hatimu! Kau tidak ada apa apa nya, permisi!" Kata Leon lalu mengejar Lexa.
"Aku pasti mendapatkanmu lagi Leon!" Solane mengepalkan tangannya melihat kepergian Leon.
Leon terlambat, Lexa sudah menaiki sebuah mobil berwarna silver yang dia pastikan adalah mobil Viena.
Leon kembali memasuki gedung untuk menuju lobby parkir. Solane masih disana memandangnya tersenyum namun Leon tidak menghiraukannya dan dia melewati mantan kekasihnya itu dengan pandangan ke depan yang tajam. Dia benar benar tidak mau ada urusan apapun sedikitpun dengan Solane. Tidak mau termakan rayuannya dan akhirnya terjebak pada pesona Solane yang dia akui sekarang semakin mempesona. Namun, Leon sudah sangat kecewa dengan Solane yang tidak menghargai ketulusannya waktu itu.
.......
Viena melajukan mobilnya membiarkan asistennya tenang dan berharap memulai pembicaraan. Dia tidak tahu percis apa yang terjadi, namun yang pasti asistennya memancarkan wajah yang cukup kecewa.
Lexa terus diam di dalam mobil sampai dia benar benar tidak menyadari kalau bos nya mengantarnya sampai flat nya bukan halte bus sesuai permintaannya. Yang Viena perhatikan, pandangan Lexa kosong, mimiknya sedih dan muram. Beberapa lagu mungkin bisa mencairkan hati Lexa namun nihil. Lexa tetap diam.
"Kalau kau mencintainya, beri dia kesempatan, jika kesempatan itu tidak ada, lupakan, its so simple!" Kata Viena pelan mematikan mesin mobilnya.
"Hey, turunlah, bersihkan dirimu dan makanlah lalu tidur. Meski menangis tetaplah lapar dan pasti mengantuk," kata Viena lagi menepuk paha kaki asistennya.
"Untuk apa aku menangis untuknya, dia bukan siapa siapa ku!" Decak Lexa ketus dan memandang keluar.
"Ada lagi yang mau kau keluarkan? Lebih baik kau teriak atau menangis sekarang sebelum aku meninggalkanmu. Kalau dia bukan siapa siapamu, anggap dia temanmu dan cukup menjadi pendengar yang baik. Mengalah bukan berarti kalah, kata kak Egnor. Ingat dia ayahmu!" Viena terus memberi pesan agar Lexa tidak terlarut karna seorang pria.
Entah mengapa Viena senang kalau Lexa dekat dengan Leon, bukan karna Leon asisten mantannya tapi Viena merasa Leon benar benar menyukai Lexa dengan tulus.
"Madam, terimakasih. Maafkan aku merepotkanmu mengantarku sampai ke rumah. Apa kau mau masuk dulu? Kita makan malam bersama?" Akhirnya nada suara Lexa dapat setenang air.
"Tidak, Greta bilang dia mau ke rumahku, aku harus ada di apartemenku secepatnya," kata Viena tersenyum.
"Baiklah Nyonya, kau potong saja setengah gajiku bulan ini untuk membayar konsultasi percintaanku pada pakar cinta sepertimu," gurau Lexa membuka seat beltnya dan pintu mobil.
"Dasar gadis bodoh, pulang sana!" Tawa kecil Viena menghantar Lexa turun dari mobil atasannya dan menuju masuk flatnya.
"Lexa," suara seorang pria yang sudah menunggunya di kursi depan pekarangan flat yang di sebelah flat Lexa.
Lexa terkesiap menoleh ke arah asal suara. Itu Leon. Leon sudah menunggunya.
"Kau? Mengapa kau seperti patung disitu?!" Decak Lexa kesal. Sebenarnya dia mau menghiraukan Leon namun dia harus netral dan memposisikan diri bukan siapa siapa Leon. Ya memang dia bukan siapa siapa Leon namun Leon selalu memperlakukannya dengan lembut. Seolah olah Lexa adalah wanita incarannya.
"Aku mau kau hanya menjadi pendengar. Aku akan menceritakan semuanya agar kau percaya. Namun, jika di akhir cerita kau tidak percaya, aku akan menjauhimu dan tidak akan menyakitimu. Aku terlalu tersiksa melihat wajah muram mu tadi. Aku minta maaf," jelas Leon panjang lebar dengan suara nya yang mengecilkan nada bicaranya. Dia pun memegang pipi Lexa.
__ADS_1
Seketika wajah Lexa memerah dan rasa cemburu yang sempat timbul hilang. Kehangatan meliputi tubuh dan hatinya.
~apa pria ini yang diutus mama untuk menghangatkan hidupku?~ tanya Lexa dalam hati mengingat sehari sebelum ibunya meninggal, ibunya mengatakan : "Nak, suatu saat nanti akan ada orang yang dapat menghangatkan kehidupanmu. Siapa orangnya, hati kecilmu dan tubuhmu yang akan merasakannya."
"Masuklah," akhirnya Lexa menyadarkan dirinya dan berbalik arah. Dia membuka pintu flatnya membiarkan Leon masuk.
Sebelum masuk, Leon memperhatikan sekitar takut Solane mengikutinya lagi. Namun, sejak di Jovancy dia sudah memperhitungkan. Akhirnya dia memutuskan meninggalkan terlebih dulu mobilnya lalu memesan mobil online dan berpenampilan cukup tertutup untuk mengelabui Solane. Dia harus segera menjelaskan pada Lexa sebelum penyesalan datang.
Tanpa gangguan Solane dia berhasil menuju rumah Lexa dan akhirnya masuk ke dalam flat rumah Lexa.
"Kau kenapa? Kau mau masuk tidak?" Tanya Lexa yang bingung melihat Leon seperti orang ketakutan.
"Aku hanya memastikan ular betina itu tidak mengikutiku," kata Leon memasuki flat Lexa dan menutup pintu serta menguncinya.
"Hey, kenapa kau menguncinya, kau tidak berniat berbuat macam macam kan?" Selidik Lexa masih menatap Leon. Leon lalu menatapnya tajam.
Dia sudah sangat tidak tahan. Melihat Lexa yang hari ini sangat menawan, dengan pipi nya yang cukup tebal, bibirnya pink merona serta penampilannya yang cukup feminim membuat Leon semakin mabuk kepayang.
Dia mendekati Lexa dengan langkah yang cepat, meraih wajah Lexa lalu mencium bibir Lexa. Satu kecupan, hanya satu kecupan membuat Lexa diam tak berdaya. Seluruh tubuhnya memanas dan wajahnya memerah. Lagi lagi ini adalah kali pertama dia merasakan dicium seorang pria di bibir.
"Kalau aku menerkammu, kau tidak masalah bukan?" Kata Leon kemudian.
Tanpa kesadaran yang mendalam, Lexa mengangguk. Dia juga terpesona dengan gagahnya Leon hari ini dan tentu matanya yang lancip mematikan.
"Tidak, kau terlalu indah untuk kuterkam sekarang, Lexa," kata Leon lagi lalu mencubit pipi Lexa.
"Dasar musang liar! Minggir, biarkan aku mengganti baju. Jangan ikuti! Tunggu disini! Dasar Musang Liar!" Deretan makian Lexa yang sudah tersadar. Leon tersenyum melihat salah tingkah yang mungkin dia telah mencintainya.
Leon menaik turunkan bahunya menandakan setuju, sepertinya dia sudah mencintai gadis itu.
.......
Next part 12
Cinta mereka diuji 😍
i
ini ya cast Lexa yang baru, wajahnya lebih datar, mari kita sambut artis korea: Shin Se-kyung 🤗
__ADS_1