
Kebahagiaan sederhana namun memiliki arti yang besar adalah di mana kita melihat orang yang kita cintai tersenyum atau merasa sekedar dirindukan. Leon hanya berusaha menghadirkan hari hari yang nyaman dan bermakna bagi Lexa. Bagaimana dia mengartikan dan menjelaskan pada istrinya?
...
Angin semilir yang terasa sejuk malah membuat bulu bulu kuduk wanita berbaju terusan merah itu bergidik. Dia menoleh ke kanan ke kiri ke depan dan ke belakang mencari keberadaan suaminya. Dan tidak menutup kemungkinan, dirinya juga teramat penasaran dengan si pemberi kue ini. Kue di depannya satu round Japanis Chesse Cake Coffee yang kini menjadi seram dan misterius oleh kacamatanya. Selalu menghiasi hari hari nya setiap slice dikirim dengan kata kata yang dirangkai begitu bermakna dan berjalinan mesra.
"Ehem." Sebuah suara pun muncul dari arah kiri dan Lexa langsung menoleh. Di sana, pria yang bahkan sampai saat ini selalu membuat jantungnya berdebar bahkan tak karuan. Seperti pertama kali bertemu. Entah cinta yang seperti apa yang ada dalam hatinya. Selalu bersinar dan sumringah ketika melihat perawakannya, kepiawainya, caranya mengenakan jas yang walau mengenakan jas yang formil namun tidak kaku, senyumannya, rambutnya yang menegak ke atas seperti ciri khasnya namun tak bisa ia berkelit dan pungkiri. Ketika pertama kali melihat dan bertemu, pertama kali saling berhimpitan, hanya alis tebal dan mata lancip itu yang selalu menjadi perhatian dirinya. Sampai sekarang. Lexa sangat mengakuinya. Rasa cintanya, kasih dan sayangnya tidak pernah berkurang sedikit saja bahkan bertambah terus menerus.
Pria itu mendekatinya sambil menyunggingkan senyum dan menaruh satu tangannya di saku celana dan datu tangan lainnya memain mainkan jark telunjuknya ke arah istrinya.
"Leon, kau membuatku terkejut!" Pekik Lexa memegang dadanya.
Leon tampak diam dengan respon istrinya namun masih tetap tersenyum. Dia lalu berjalan mendekati meja makan yang hanya memiliki dua kursi itu. Lexa masih agak takut karna Leon akan melihat kue tersebut dan pasti akan memarahinya. Lexa dengan masih kepercayaannya kalau si pengirim kue itu bukan Leon .
"Leon, aku bisa jelaskan, aku juga tidak tahu mengapa kue itu ada di situ!" Lexa berkata kata lagi. Dia hendak membuat Leon menahan dirinya untuk tidak melihat kue tersebut. Tetapi Leon malah makin tersenyum dan akhirnya duduk di kursi makan tersebut.
Seketika kedua kaki Lexa agak melemah. Dia hendak tersungkur. Pikiran nya berkecamuk. Apa maksud dari Leon yang tak bergeming apapun?! Lexa menahan bobot dirinya. Dia masih agak menatap bingung suaminya.
"Lexa, mendakatlah sayang." Pinta Leon. Lexa kembali menoleh ke kanan ke kiri juga ke belakang memastikan tidak ada siapa siapa selain Leon.
"Leon, kue ini?" Lexa mencoba berkata kata dan tidak tahu apa kah dia harus menjelaskan atau mempertanyakan tentang kue ini.
"Ada apa? Kau terkejut ada kue ini di sini? Ini aku yang memberikannya satu kue ukuran besar Japanis Chesse Cake Coffee kesukaanmu kan? Tidak perlu lagi si pengirim kue itu mengirimi per satu slice. Miskin sekali dia!" Kata Leon masih menggoda Lexa.
Lexa masih terdiam dan pura pura tidak tahu penjelasan suaminya. Dalam hatinya dia yakin kalau Leon yang memang melakukannya.
"Ini ada kartu ucapannya juga! Bukalah!" Kata Leon memberikan kartu ucapan yang setengah tertindih oleh alas kue tersebut. Lexa meraihnya dan membacanya.
Air mata nya langsung menetes dan tangannya menutup mulutnya.
-- HAPPY FIRST ANNIVERSARY --
with big LOVE ♥️
SOMEONE LOVE YOU - Leon
Begitulah isi pesannya. Pecahlah tangisan Lexa.
"Leeooonnnn!!!" Teriak Lexa namun ia menghamburkan diri memeluk Leon. Leon juga mendekapnya sampai memejamkan mata merasakan kehangat tubuh istrinya.
"Leon, kau yang melakukan semua ini? Mengapa kau jahat sekali hah?" Tanya Lexa dalam pelukan dan tangisnya. Dia tidak tahu harus marah, kesal atau malah bahagia dengan perlakuan manis suaminya. Suaminya memang tergolong pria yang asal bicara dan tidak terlalu perhatian jika bertemu langsung, namun suaminya juga merupakan pembuat rencana terbaik. Dia dapat membuat hal hal romantis yang tidak terpikirkan oleh istrinya sendiri.
"Ini hanya bentuk rasa cintaku padamu Lexa sayang bahwa perasaanku terus mendalam setiap saat. Aku hanya ingin membuatmu merasa kalau banyak orang yang mencintai dan memperhatikanmu. Aku senang ketika melihat wajahmu menikmati kue ini. Kau seperti memiliki kelegaan meski aku tahu kau benar benar menikmati kue itu dan tidak mempedulikan orang yang mengiriminya." Jawab Leon mengelus lembut punggung istrinya.
"Aku sudah merasa itu dirimu Leon! Aku sangat berharap kau yang melakukannya walaupun kau terus memarahi ku masalah kue ini." Saut Lexa seturut hati kecilnya.
"Kalau tidak begitu kau pasti sudah menerka kan? Marah saja kau tahu!" Gumam Leon menaikan alisnya.
"Leon, kau memang musang terlicik yang pernah ku tahu! Kau ber peran sebagaimana suami yang di pojoki istrinya padahal kau yang menjadi dalang dari semua ini!!" Lexa menarik diri yang mengumpat pada Leon apa yang menjadi maksud hatinya. Dia memukul mukul kecil suaminya. Leon terkekeh dan merengkuh kembali pinggang Lexa. Dia menempelkan telinganya pada perut Lexa.
"Lexa, kau ingin perut ini kembali membuncit kan? Tenang saja ini tidak akan lama, sekalipun lama kita harus bersabar, nikmati hari hari berdua kita. Jangan terlalu memikirkan masa suburmu. Kita jalani hidup ini bersama oke sayang?" Tutur Leon mendongakan kepalanya.
Lexa mencengkram lembut kepala Leon. Dia menunduk menatap Leon dan tersenyum.
"Aku sangat mengerti sayang, maafkan aku karna terlalu menggebu gebu dan memaksakanmu. Hari ini aku mengerti apa kau maksudkan selama ini. Aku mencintaimu Leon." Balas Lexa tersenyum dan memegang wajah Leon.
Posisi mereka Leon duduk sedangkan Lexa berdiri di hadapannya. Leon pun tersenyum.
"Kiss me, Lexa!" Pinta Leon dan Lexa menundukan lagi kepalanya agar bisa meraih bibir Leon. Mereka berciuman sebentar karna tak lama sebuah alunan musik terdengar. Lexa terkesiap dan menoleh ke belakang. Seseorang memainkan piano dengan sangat syahduh. Sebuah instrumen lagu My Heart Will Go On by Celine Dion dimainkan oleh sang pianis membuat Lexa harus memegang dadanya. Lagi ini merupakan lagu yang mengiringi mereka ketika acara dansa pernikahan mereka.
Leon lalu berdiri, dia mengulurkan telapak tangannya dan satu tangannya lagi di belakang pinggangnya. Leon hendak mengajak Lexa berdansa. Lexa tentu dengan senang hati menerima ajakan suaminya. Memang sudah lama sekali, mereka tidak melakukan ini.
"Leon, mengapa kita hanya berdua, tadi kata Rico dia hendak menghadiri acara anniversary koleganya?" Tanya Lexa di sela sela dansa mereka.
"Kolega? Aku bukan koleganya?" Jawab Leon tersenyum usil.
"Oh God! Dia juga suruhanmu?" Pekik Lexa melebarkan kedua matanya.
Leon mengangguk menatap Lexa dan tersenyum.
"Kau benar benar Leon. Kau memang sudah merencanakan serinci mungkin?" Lexa mengakui kelihaian semua pikiran suaminya.
"Aku tidak mau kau sendirian naik taxi dengan perjalanan yang cukup jauh juga kalau kau kenapa kenapa bagaimana? Lebih baik aku meminta tolong pada kolega ku itu kan?"
"Haha! Lalu di mana mereka?" Tanya Lexa lagi penasaran karna restoran ini hanya dia, Leon dan si pianis di dalam sana.
"Makan malam di tempat lain." Jawab Leon singkat.
"Kita tidak merayakannya bersama?"
"Aku ingin terlebih dulu bersamamu Lexa. Hem, kau merusak semua rencana ku kali ini kelinci kecilku!" Kata Leon yang sebenarnya masih merupakan puncak rencananya.
"Aku hanya penasaran." Lexa tersenyum kecil.
__ADS_1
"Aku sudah memesan semua restoran ini untuk anniversary kita, jadi tidak akan ada yang menganggu." Kata Leon memberitahu.
"Hem, Leon, kupikir kau benar benar melupakannya. Aku sudah sangat sedih sekali. Aku merasa makan malam ini ya menganggap kau mengingatnya." Ujar Lexa memberitahu isi hatinya.
"Aku ingat! Tetapi dengan cara yang berbeda. Hem, kau cantik sekali hari ini Lexa. Lehermu terlihat lebih jenjang dengan dress merah ini. Dan kau terlihat eksotis. Nanti malam kau harus melayani ku sayang!" Saut Leon malah membicarakan penampilan Lexa yang cukup mempersiapkan juga. Dia mengelus leher Lexa lalu menyapukan bibirnya.
"Setiap kau meminta aku memberikannya dengan tulus dan selalu tulus tidak pernah berbohong!" Balas Lexa sedikit menyindir tingkah konyol Leon beberapa Minggu lalu.
"Sstt, jangan bahas lagi, aku sudah menyesal. Kini aku akan selalu memberikanmu dengan sangat tulus. Kau tenang saja. Kau akan kubuat tak berdaya Lexa." Leon menyeringai kan senyuman khas nya.
Lexa tersenyum dan kembali menyenderkan kepalanya ke bahu Leon. Tak berapa lama Leon merasa ada sebuah getaran pada perut Lexa. Lexa pun melupakan sesuatu kalau dari siang sampai sekarang dia belum makan sesuatu. Hanya minum air putih dan vitamin tadi.
"Kau lapar, Lexa?" Leon menerka.
"Sepertinya tapi aku tidak begitu merasa haha. Aku terlalu senang dengan semua rencana Anniversary mu ini." jawab Lexa tertawa kecil.
"Kita makan ya? Kau tidak boleh telat makan dan udara di sini agak dingin. Kau kenakan jas ku ya?" kata Leon melepas pelukan mereka dan hendak membuka jas nya.
"Aku membawa Coat, tapi tidak akan cantik lagi jika mengenakan Coat Leon!" keluh Lexa menahan Leon untuk membuka jasnya.
"Kau selalu cantik sayang di mataku, karna aku sudah merapal bentuk tubuhmu dari yang kecil dan sampai yang tidak terlihat." puji Leon lagi dan lagi.
Lexa hanya bisa tersenyum . Dia sudah tidak bisa menanggapi kata kata manis suaminya yang pintar sekali dilontarkan padanya.
Leon lalu menggiring Lexa kembali duduk di kursi makan khusus untuk mereka berdua itu. Leon lalu menaikan satu tangannya seperti memberi kode.
"Apa yang kau lakukan Leon?" tanya Lexa.
"Memanggil pelayan. Malam ini kita raja dan ratu nya Lexa, Ting!" Leon mengedipkan matanya pada Lexa.
"Mereka sudah menyediakan nya?" Lexa benar benar sangat penasaran dengan rencana detil apalagi yang Leon sediakan untuknya. mengingatkan dirinya ketika Leon melamarnya.
"Ya, sebentar lagi mereka akan membawa makanannya untuk kita. sementarasementara kau mau kue ini?" Kata Leon hendak memotong Japanis Chesse cake Coffee nya.
"Sedikit saja Leon, aku belum makan."
Leon mengangguk dan memotong kue keju kopi tersebut.
"Em Leon ??" panggil Lexa pelan.
Leon agak melirik sedikit
"Mengapa kau memberikan ku tiap satu slice setiap hari?" tanya Lexa yang masih menyimpan sejuta rasa penasaran pada maksud kue tersebut.
"Hati?" Lexa mengerutkan dahinya.
"Benar. Kau bisa lihat kue ini? Aku sedang memotongnya. Hatiku ini seperti kue ini yang jika dipotong akan menghasilkan delapan slice yang sesuai dan sama bagian. Setiap hari aku mengirimkan hatiku untuk bisa kau nikmati dan rasakan sehingga ketika hari ke delapan, hati ku dapat berkumpul menjadi satu seperti kue sekarang ini. Tetapi hati ku yang sebenarnya telah merasuk ke dalam hatimu dan itu akan terjadi selamanya. Kau hanya milikku Lexa! Tidak boleh ada yang lain! Jangan salahkan aku jika aku membunuh orang yang juga hendak memilikimu!" kata Leon memeragakan caranya memotong kue dan pada akhirnya mengancam Lexa dengan pisau untuknya memotong kue itu.
"Jahat sekali kau! Lagipula siapa yang berani mendekatiku jika ada musang berotak licik dan panjang sepertimu! Serigala dan Singa pun takut, takut kau serang dengan ide ide gila mu. Mereka sudah frustasi lebih dulu!" decak Lexa mencibirkan bibirnya.
"Kau tahu kan? Jadi jangan macam macam, cukup aku saja!" gumam Leon menyeringai.
"Tapi kau bilang hatimu, tapi kau juga yang memakan kue nya, kau ini memang sudah gila kan?!" dengus Lexa yang mengingat Leon hanya memberikannya satu sendok padahal kue ini lembut sekali.
"Tapi kau memakannya kan satu sendok? Dan waktu Sherry juga memakan, kau juga disendokinya kan satu suap? Aku sebenarnya sengaja memakannya karna aku tahu besok pasti kau tidak akan membawanya pulang sehingga kau yang menghabisinya. Dan benar kan kau jarang membawanya pulang?" jawab Leon dengan sangat santai. seperti sudah melatihnya saja.
"Benar benar otak mu ini bukan pintar Leon tetapi sangat brilian. Kau sudah memikirkan sebab akibatnya!" balas Lexa dengan wajah terkagum namun tetap mengesalkan.
"Kurasa itu lebih bisa kau tunjukan pada ayah angkatmu!"
"Kau belajar dari dia?"
"Sedikit dari Tuan Egnor, sedikit dari Tuan Dion, sedikit dari Tuan Jerry, sedikit dari Rico, sedikit dari Manuel dan semua pria pria hebat itu kujadikan satu di dalam otakku sehingga kau memiliki pria yang sempurna dan tak tertandingi, HAHAHAHAHAHA!!! aku memang hebat Lexa kau tidak usah memuji atau mengakuinya. Berbanggalah kau memiliki Danteleon Janson, hihi!" Leon terkikik sambil memotong sedikit lagi bagian yang Lexa inginkan.
"Cih, asisten paling percaya diri di dunia! Ya ya aku harus mengakuinya Leon! Kau membuatku terpana!" Lexa harus memuji suaminya agar cepat selesai kalau tidak mungkin Leon bisa terbang ke angkasa memetik satu bintang untuknya.
Leon tersenyum dan memberikan potongan bagian Lexa.
"Makanlah, lebih enak dari slice slice yang kemarin." kata Leon menyarankan.
Lexa lalu menyendoki sedikit demi sedikit kue kesukaan nya itu. Dia terlalu senang sampai lupa dan tidak merasakan rasa lapar. Leon memandangi istrinya itu. Akhirnya dia bisa membawa kembali ketulusan senyum istrinya. Sebenarnya sudah terukir satu Minggu ini tetapi ini puncak kebahagiaan mereka. Walau belum memiliki keturunan, Leon senang karna dirinya dan Lexa tidak mengalami perpecahan yang membuat mereka harus berpisah. Tidak. Leon bersyukur atas segala bentuk perhatian yang Lexa berikan. Semoga ini terus berlanjut sampai maut memisahkan mereka.
Dan tak lama makanan mereka datang. Makanan tersebut merupakan lobster besar dengan berbagai bumbu yang bisa dicicipi. Lexa sangat mengingat makanan ini. Makanan ini bisa membuat dirinya dan Leon bertengkar karna hanya ingin daging di dalamnya. Leon memang sengaja memilih semua yang menjadi kenangan mereka.
"Leon, terimakasih ya? Aku bahkan belum menyediakan kado untukmu. Tapi tenang saja aku pasti memberikanmu sesuatu yang wah seperti apa yang kau berikan padaku." gumam Lexa di sela sela makan malam mereka.
Leon malah menggeleng sambil mengupasi kulit lobster tersebut.
"Kenapa menggeleng? Kau tidak yakin aku akan memberikan mu sesuatu yang wah." sungut Lexa merasa diremehkan.
"Cukup kau terus mencintaiku saja, itu sudah merupakan hadiah Lexa. Aku serius!" Leon menaikan alisnya meyakinkan pada Lexa.
"Ahh, itu pasti selalu ada, maksudku kenangan yang bisa kuciptakan." Lexa memaksa dan dia akan tetap membelikannya nanti. Lexa bertekad.
__ADS_1
"Kau sudah merupakan kenangan terindah ku Lexa! Apa kau tahu, aku sempat takut kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi karna kau terlalu menginginkan seorang anak! Aku takut mungkin karna kesalahan ku yang tidak bisa membuahi mu dengan cepat. Kalau sampai itu terjadi mungkin kau akan meninggalkanku. Aku juga takut cintamu berkurang padaku oleh sebab itu aku melakukan semua ini. Kan sudah aku bilang, aku sudah menitipkan hatiku padamu jadi kalau kau pergi jauh dan aku tidak bisa menemukanmu, untuk apa lagi aku hidup!" Leon berkata kata tanpa bosan.
Lexa terenyuh. Semua kata kata Leon keluar begitu saja namun betapa indah di dengar. Rasanya Lexa ingin merekamnya namun dia tidak ada kesiapan.
"Sudahlah Lexa, kau terus membangunkanmu, memaksakanmu makanan, membuatku tertawa dan tersenyum atau terus memarahiku dan selalu ada untukku juga selalu melayaniku sudah merupakan hadiah terbesar di hari jadi satu tahun kita ini. Oke? Ini makanlah, kau tidak boleh sakit, masih ada hal yang harus kita lakukan tengah malam nanti, hihi!" Leon terkikik dan memakan bagian lobsternya.
"Kau tetap tidak jauh jauh dari hal hal tersebut musang mesum!" decak Lexa sambil memakan lobster bagiannya.
"Itu bentuk hadiah Lexa." saut Leon mengedipkan matanya.
"Bagaimana bisa aku menjauh darimu jika kau terus menyerangku dengan panah asmara seperti ini? Kata kata mu tepat menusuk jantung hatiku dan sudah tumpah ruah semua untukmu Leon!" Balas Lexa yang sudah kehabisan kata kata. Entah apa yang suaminya makan sehingga mempunya kata kata yang bisa memabukannya. Dan ini terjadi sejak awal bertemu dan entah mengapa Lexa merasa semua ini adalah hal yang tulus yang hanya ditunjukan padanya. Lexa jadi agak curiga kalau suaminya memiliki kekuatan menyerap keahlian orang sehingga dia merasa semua lengkap pada diri Leon.
Mereka pun kembali makan dan tak lama kemudian puncak acara Leon berdatangan. Teman teman Leon yang diminta olehnya memberikan Lexa bunga satu per satu. Mulai dari Viena datang dengan menggendong Dior memberikan bunga pada Lexa.
Lexa sangat terkejut dan tidak enak dengan Viena. Namun Viena hanya memberikan dan tersenyum lalu Viena menuju ke restoran yang sebenarnya. Disusul lagi Dion dengan wajahnya yang tak enak!
"Hari ini aku harus merendahkan martabatku karna suamimu Lexa! Dia terus memohon padaku seperti anak anjing!" decak Dion sedikit sebal dan kesal juga matanya yang tajam dan sinis.
"Sebenarnya dia yang merendahkan dirinya Tuan!" bisik Lexa.
"Tidak usah diperpanjang! Ini bungamu agak patah karna Dior hendak mengambilnya!" Dion memberikan bunga pada Lexa.
"Kau sengaja Tuan!" dengus Leon.
"Agar kalian tahu, suatu saat rumah tangga juga bisa mengalami kepatahan atau kerengganagan. Kalian harus waspada!" Pesan Dion dan memang tidak salah. Leon menaik turunkan bahunya.
Dan semua berdatangan satu persatu dilanjutkan Ben, Abby, Rico, Solane, Manuel, Renzy, Ruben, Reginald, Susan, Delon dan pada akhirnya Sherry memberikan bunga berwarna putih.
"Baiklah Lexa, nikmati semua mawarmu itu dan kita harus mengambil gambar karna mawar itu kiriman Angel. Seharusnya aku juga menyuruhnya kesini dengan Tuan Jerry tapi kondisinya semakin tidak memungkinkan. Dia hendak melahirkan sepertinya
"Benarkah Leon? Mengapa hatiku sedikit sesak? Aku kasihan. Tapi, bukankah masih 28 Minggu Leon?" Lexa sangat hafal semua pertanggalan masa suburnya dan kehamilan Angel. Angel selalu menghubunginya.
"28 Minggu?" Leon agak tidak mengerti .
"Ya, 7 bulan." Lexa mengoreksi.
"Aku tidak mengerti. Tapi begitulah kata Tuan Jerry. Jadi Angel hanya bisa mengirimkan Bunga ini pagi tadi."
"Baiklah ayo kita mengambil gambar. Em Leon mereka yang kau undang tidak makan?" Lexa masih tidak enak dengan teman teman mereka apalagi ada atasan mereka yang sudah seperti teman.
"Sudah makan di restoran lain, kan sudah ku bilang! Kau terlalu salah tingkah dengan apa yang kulakukan jadi kau pelupa begini sayang!" dengus Leon.
"Hahaha, iya mungkin juga.!"
Mereka pun mengambil gambar secara bergantian. Ben mengambil gambar Lexa dan Leon terlebih dahulu. Lalu mereka bergantian berfoto dengan Lexa Leon. Dan akhirnya Lexa dan Leon berfoto dengan Dior dan Sherry. Lexa menggendong Dior dan Leon memangku Sherry.
"Kita pasti akan menggendong anak kita yang sebenarnya Lexa, trust me!" Bisik Leon sambil mengecup pelipis Lexa. Lexa tersenyum menyandarkan kepalanya ke dahi Leon. Dan Ben berhasil mengabadikan gambar diri mereka berempat dengan sangat dekat dan penuh kehangatan cinta.
...
...
...
...
...
happy anniversary gaes Lexa Leon kuu ..
sukses aku ngejabarin makan malam mba Lexa dan bang Leon dengna semua percakapannya 😅😅
mon maap ya tingkat kehaluan penulis, maap kalo membosankan 😭😭
.
next part 53
mau lihat kondisi Angel dan Jerry dulu yuks skalian responnya dikirimin gambar sama Lexa dan Leon ..
semoga menjadi penyemangat mba Angel dan mas Jerry wkwkkw 😍😍
.
Beb, rekomen Novel Baper romance dari ku nii judulnya LOVE IN FRIENDSHIP , ketika sebuah persahabatan akan dikorbankan atau cinta yang dikorbankan untuk semuanya berjalan dengan baik?? cus diintip ya 😁
.
pada akhirnya Jangan lupa LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha
Jangan lupa juga kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍
.
__ADS_1
Thanks for read .. happy read and i love youu 💕